Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 21 (Di revisi)


__ADS_3

Kira-kira dia mau membawaku kemana ya?


Ellen terus mengikuti Aldrich di balik punggungnya. Selagi berjalan, Ellen melihat ke kanan kiri tentang desain pada sepanjang ruangan di istana itu.


Bruk! Ellen menabrak punggung Aldrich yang berhenti dan itu membuat Ellen kaget. Ada dua pengawal yang berjaga di kanan kiri pintu yang akan mereka masuki.


Salah satu pengawal membukakan pintu mempersilahkan kedua pasutri itu untuk masuk. Sang Raja duduk di sebuah kursi singgasana tapi itu bukanlah ruang utamanya.


"Duduk disitu."Ucap Aldrich sambil menunjuk ke arah kursi di sebelahnya. Ellen mengangguk dan duduk di kursi itu.


"Kau belum menjelaskan yang kemarin."Ucap Aldrich tiba-tiba dan itu membuat Ellen mengernyitkan alisnya heran.


Penjelasan apa?


Ellen berpikir sejenak berusaha untuk mengingat apa yang lupa. Dan ternyata dia ingat sesuatu.


"Oh! Apakah Yang mulia menanyakan tentang Nona Viona yang ingin aku bawa kabur?"Tanya Ellen.


Aldrich mengangguk.


"Begini Yang mulia, saya bukan bermaksud untuk membela orang jahat. Beberapa hari yang lalu Nyonya Helen dari Kastil Zion meninggal. Dan pembunuhnya adalah putrinya sendiri yakni Nona Viona. Tapi itu ada penyebabnya. Nona Viona mengalami depresi berat dan dia tidak tahan dengan perlakuan ibunya yang selalu memberikan kekerasan padanya. Dan saya merasa dia masih bisa diberikan kesempatan untuk hidup bebas. Dia akan dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak dia sukai dan orang itu sudah berani melecehkannya. Jadi saya ingin membawanya ke suatu tempat agar dia bisa memilih kehidupannya sendiri."


"Jadi saya mohon yang Mulia berikan dia kesempatan untuk hidup dan jangan hukum mati dia..."Ucap Ellen memohon.


"Bagaimana denganmu sendiri? Apa kau terpaksa melakukan perjodohan ini? Bukankah kau dengan temanmu itu sama?"


Ellen tersentak mendengar pertanyaan Aldrich. Sebenarnya dia juga terpaksa menikah dengan orang yang belum di cintainya. Tapi dia teringat lagi dengan perkataan kakaknya dan juga Maya. Ellen pun tersenyum seolah sudah mendapat jawabannya.


"Semua wanita yang dijodohkan dengan seseorang yang belum dikenalnya pasti akan merasa takut. Begitu juga dengan saya. Tetapi saya merasa beruntung karena berjodoh dengan Anda yang mulia. Saya bersyukur karena menikah dengan seorang Raja perkasa seperti Anda. Anda cukup memperlakukan saya dengan baik untuk saat ini."Ucap Ellen masih dengan senyuman.


Untuk saat ini puji saja dia dulu...


Aldrich memandangi Ellen. Dia semakin tertarik dengan wanita yang sifatnya belum pernah dilihatnya.


Ellen tadinya ingin menunggu jawaban Sang Raja namun daritadi Sang Raja hanya diam dan menatap terus ke arah wajahnya.


Astaga, bisa tidak sih kau tidak membuat diriku tidak nyaman?

__ADS_1


"Yang mulia...ngomong-ngomong Anda membawa Nona Viona kemana?"Tanya Ellen.


"Ke pemukiman terpencil."Jawab Aldrich singkat.


"Dimana itu Yang mulia? Apakah disana aman? "


"Untuk sekarang cukup aman. Jangan pikirkan dia. Lebih baik kau pikirkan aku dan melayaniku dengan baik."Ucap Aldrich. Seketika itu membuat Ellen memicingkan matanya.


Heh, Dia berani melotot kearahku seperti itu.


"Apa kau tidak penasaran dengan wanita yang dibawa Kath?"Tanya Aldrich.


Sejujurnya aku penasaran. Tapi karena aku tidak peduli jadi aku tidak ingin bertanya!


"Bukankah Nona Anna sudah menjelaskan tentang dirinya? Putri Kath juga sudah bilang kalau Nona Anna sudah berteman dengan yang mulia sejak kecil."Jawab Ellen.


"Kau tidak penasaran tentang hubunganku dengannya?"Tanya lagi Aldrich memancing Ellen.


"Jika Yang mulia tidak merasa keberatan, Anda bisa menjelaskan tentang hubungan Anda dengannya."Ucap Ellen pasrah.


Aldrich tersenyum. "Wanita itu dulunya sangat menyukaiku. Tapi dia hanya bertepuk sebelah tangan karena aku tidak pernah tertarik dengannya. Dia mungkin masih berusaha untuk mendapatkanku lagipula dia sudah mendapat hati ibu dan adikku."


"Oh begitu ya Yang mulia. Kalau begitu Terima kasih karena sudah mau menjelaskannya kepada saya."


Aldrich tiba-tiba menarik tangan Ellen yang membuat Ellen terkejut. Ellen jatuh di pangkuan Sang Raja dan itu membuatnya langsung panik.


"Ya...yang mulia...? Emh!"


Cup! Lagi-lagi Aldrich mencium Ellen dengan tiba-tiba. Dia melahap bibir gadis itu dengan rakus sampai Ellen kesulitan bernapas.


Aldrich sebenarnya ingin melakukannya lagi dengan istrinya itu. Namun dia menyadari situasinya yang lagi tidak pas. Ruangan itu adalah ruangan rahasia pribadi milik Aldrich. Belum pernah ada seorang pun yang berani memasuki ruangan itu bahkan Ratu Irene dan Putri Kath sekalipun. Dan beruntungnya Ellen yang sudah memasuki ruangan itu untuk pertama kalinya. Meskipun Ellen belum tahu kalau itu adalah ruangan rahasia milik Aldrich.


Setelah puas, Aldrich akhirnya melepaskan ciumannya dan Ellen segera beranjak dari pangkuan Sang Raja. Dia merasa perasaannya campur aduk.


"Setelah ini kita punya banyak pekerjaan. Kita harus melakukan observasi yang diminta oleh rakyat. Beberapa orang juga mengeluh bahwa ada beberapa pemerintah yang sudah berani suap uang."


"Ah...baik yang mulia."Jawab Ellen.

__ADS_1


"Dan satu hal lagi yang perlu kau ketahui, ini adalah ruangan pribadiku. Jangan ada seorangpun yang berani masuk kesini."Ucap lagi Sang Raja.


"Ah tentu saja yang mulia. Lalu bagaimana dengan saya? Bukankah saya sudah masuk ke ruangan pribadi anda?"


"Kecuali kau. Itupun jika aku mengajakmu atau aku memanggilmu kemari."Ucap sang Raja.


"Baik yang mulia saya mengerti."


Ellen kemudian mengitari ruangan itu sekedar melihat-lihat. Tidak ada yang menarik ataupun spesial benda-benda yang ada di dalam ruangan itu. Tapi ruangan itu tampak tenang dan suasananya tidak membosankan. Dan ada satu foto dinding yang besar menunjukkan gambar Sang Raja ketika kecil bersama seorang pria yakni ayahnya.


Ellen menilai foto itu bahwa wajah Sang Raja lebih ke dominan ibunya daripada Sang Ayah. Sang Ayah matanya abu-abu dan rambutnya berwana biru gelap.


"Yang kau lihat itu adalah ayahku."Ucap Aldrich.


"Iya yang mulia, saya tahu. Saya mendengar banyak sejarah tentang betapa hebatnya mendiang ayah Anda. Dia sudah menjadi pahlawan tokoh publik yang dikenang semua orang."Ucap Ellen tersenyum terlihat bahwa dia mengagumi foto itu.


"Kau tahu siapa ayahku?"Tanya Aldrich.


Ellen mengangguk. "Dia sudah melakukan banyak jasa dan berkorban demi kepentingan orang lain. Saya ikut merasa sedih karena dia sampai mengorbankan nyawanya demi orang lain. Saya tidak heran jika sifat itu diturunkan oleh putranya yakni Sang Raja, suami saya yang hebat."Ucap Ellen.


Duh, aku sebenarnya ngomong apa sih?


Aldrich sempat tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Aldrich tadinya tidak tahu harus bereaksi apa namun di hatinya dia sangat ingin memeluk istrinya itu.


Tok, tok, tok. Seseorang mengetuk pintu dari luar yang mengejutkan kedua pasutri itu.


"Maaf mengganggu yang mulia Raja dan Yang mulia permaisuri, tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan yang mulia Raja."Sahut seorang pengawal dari balik pintu.


"Katakan padanya bahwa aku akan datang sebentar lagi."Jawab Aldrich.


"Baik yang mulia."


"Ellen, ayo ikut aku menemui orang itu."


"Baik yang mulia."Jawab Ellen. Entah kenapa Ellen merasa senang karena Sang raja memanggil namanya.

__ADS_1


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa tekan tombol like 👍)


__ADS_2