
Setelah mandi, Ellen dikejutkan dengan suara tendangan pintu kamarnya. Ternyata Aldrich yang menendangnya karena emosi. Dia menghela napasnya berusaha meredam amarahnya duduk di atas ranjang.
Sementara Ellen kembali menutup pintu dan menghampiri sang Raja.
"Yang mulia, anda sebaiknya tenang dulu. Saya sepertinya mulai mengerti kenapa Putri Kath mau melakukan hal ini, karena dia takut."Ucap Ellen menenangkan Aldrich.
Aldrich tidak meresponnya dan dia justru memejamkan matanya merasa frustasi. Namun dia tak lama menarik tangan Ellen untuk duduk di pangkuannya.
Padahal mereka sudah sering diposisi seperti ini, namun Ellen tetap tidak terbiasa duduk di atas pangkuan Aldrich.
"Aku ingin tahu, apa yang mau kau lakukan jika Kath sudah kembali. Hukuman apa yang cocok untuknya?"Tanya Aldrich.
"Kenapa...saya yang mulia? Bukankah hukuman itu lebih pantas anda yang berikan?"Tanya Ellen balik.
"Kali ini aku memberimu kesempatan untuk kamu yang menentukan hukumannya. Kau akan merengek lagi jika aku yang menghukumnya karena rasa kasihanmu itu."Ucap Aldrich.
Apa yang dikatakannya benar. Aku takut jika Aldrich menghukum adiknya sampai lewat batas. Aku tetap tidak bisa melihat orang disiksa walau sebesar apapun kesalahannya...
"Baiklah yang mulia. Hukuman yang anda serahkan ini adalah janji. Anda harus menerima apapun yang saya putuskan."Jawab Ellen.
Aldrich akhirnya tersenyum. Senyumannya membuat candu hingga Ellen sampai grogi.
"Ehm...yang mulia, sudah kan? Saya harus pergi ke suatu tempat..."Ucap Ellen hendak bangun.
Namun pinggang Ellen dipegang erat oleh Aldrich hingga Ellen tidak bisa bangkit.
"Selama ini aku yang selalu berinisiatif denganmu. Aku ingin kau yang sekarang gantian berinisiatif denganku."Ucap Aldrich mendekatkan bibirnya kearah telinga Ellen.
Ellen merasa merinding sekaligus berdebar saat suaminya itu mulai meminta hal mesum kepadanya.
"Yang mulia...saya tidak bisa. Maafkan saya...karena berapa kalipun anda memaksa saya...saya tetap tidak bisa."Ucap Ellen.
"Ah!"Ellen kaget karena Aldrich mengigit telinganya.
"Kau memang tidak punya pengalaman apapun soal menghibur suamimu, hm?"
"Tidak yang mulia...saya bersumpah anda yang pertama kali menyentuh saya."Ucap Ellen dengan wajah yang sudah merah.
Entah kenapa Aldrich semakin bersemangat untuk mengganggu istrinya itu. Dia senang saat Ellen mengatakan dia yang pertama kali menyentuhnya.
"Lalu hal apa yang bisa kau lakukan untuk menghiburku? Aku benar-benar dalam suasana hati yang buruk."
Ellen berpikir sejenak cara menghibur suaminya tanpa melakukan hal mesum. Untungnya Ellen memiliki cukup banyak keahlian.
__ADS_1
"Bagaimana kalau saya nyanyikan satu lagu untuk anda? Anda punya gitar?"Ucap Ellen.
"Kau bisa nyanyi dan main gitar?"Tanya Aldrich balik.
Ellen mengangguk. "Mungkin tidak akan terdengar begitu bagus, karena saya sudah lama tidak memainkannya. Tetapi saya rasa anda akan suka."Ucap Ellen kali ini bersemangat.
Aldrich berdiri dan Ellen juga ikut berdiri dengan cepat. Aldrich menyuruh pengawal untuk membawakan gitar kuno yang mereka punya.
Pengawal itu pun membawakan gitarnya kepada Ellen dan Ellen kemudian duduk di atas ranjang mulai untuk memainkan satu lagu.
Sementara Aldrich duduk di sampingnya melihat cara istrinya memetik gitar.
Ellen mulai bernyanyi. Itu adalah lagu yang ada di masa depan. Lagu dengan tema ceria yang menghangatkan hati. Dia sering menyanyikan lagu itu saat sekolah, karena lagu itu bisa membangkitkan semangat belajarnya.
Aldrich sempat mengernyitkan alisnya heran karena dia belum pernah mendengar lagu yang dinyanyikan Ellen. Namun lagu itu tetap terdengar enak dan liriknya yang begitu sederhana. Aldrich pun merasa tenang saat lagu itu dinyanyikan oleh istrinya.
"Lagu apa yang kau nyanyikan itu? Aku belum pernah mendengarnya."Tanya Aldrich.
Sial, kupikir dia tidak pernah mendengar lagu sebelumnya.
"Ehm...ini lagu ciptaan saya sendiri yang mulia. Saya yang menulisnya..."Ucap Ellen terpaksa berbohong.
"Kau bisa menulis lirik lagu juga?"
"Hm. Kalau begitu aku minta kau menulis lagu romantis. Aku ingin mendengarnya langsung darimu."
WTF?! Aku tidak bisa! Apa kau sengaja mau menyiksaku yang mulia raja??
"Ta-tapi...saya tidak pandai menulis kata-kata manis seperti itu..."Ucap Ellen.
"Aku tidak peduli. Kau harus menciptakan lagu baru dengan tema romantis untuk menghiburku. Aku beri waktu kau seminggu untuk membuatnya."
"Saya bukan penyanyi yang mulia, saya hanya iseng bernyanyi untuk menghibur anda...saya kan juga tidak memiliki banyak waktu?"
"Kalau begitu aku beri kau dua pilihan. Aku ingin kau yang berinisiatif kepadaku setiap malam, atau menciptakan lagu romantis untukku."Ucap Aldrich.
Sialan kau Aldrich!
"Ah baiklah, saya memilih untuk berinisiatif saja yang mulia. Masih banyak kejutan yang akan saya tunjukan kepada anda."Ucap Ellen tersenyum.
Aldrich tidak sangka bahwa istrinya itu akan memilih hal inisiatif duluan.
"Oh, kalau begitu aku akan menunggu malam ini istriku."Ucap Aldrich tersenyum tidak sabar dengan penantiannya.
__ADS_1
Aldrich keluar lagi untuk memeriksa kabar tentang adiknya yang masih menghilang. Sementara Ellen sudah merasa kakinya lemas dan tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Tapi menciptkan lagu romantis jauh lebih sulit karena dia tidak memiliki cukup waktu untuk membuatnya.
Sudahlah Ellen, dia tetaplah suamimu. Kan memang tujuannya untuk mendapatkan hatinya.
Aldrich mencari para pengawalnya dan juga Ravin.
"Ravin, apa kau sudah menemukan tanda keberadaan Kath?"Tanya Aldrich.
"Sudah yang mulia. Saya rasa dia pasti ikut dengan Nona Anna. Kami sudah mengunjungi kastil Fernandez, mencari ke semua tempat dan bertanya kepada semua keluarga Nona Anna. Tetapi mereka semua tidak ada yang tahu meskipun kami sudah memaksa mereka untuk mengatakannya."Ucap Ravin.
"Wanita itu ternyata mau main-main denganku. Aku tahu mereka pergi kemana. Tempat itu satu-satunya pelarian yang paling aman."Ucap Aldrich.
"Dimana itu yang mulia?"Tanya Ravin.
"Hutan Emerald. Jaraknya lumayan jauh dari sini. Kalian semua harus berangkat mulai besok pagi. Hari ini aku beri kesempatan untuknya bersenang-senang dulu disana."
"Baik yang mulia."Ucap Ravin.
Hutan Emerald adalah hutan terbesar di negara mereka. Biasanya itu tempat persembunyian para perampok karena tempat itu memiliki begitu banyak persembunyian misalnya goa. Anna pernah mengajaknya kesana sewaktu mereka kecil. Katanya itu tempat pelariannya saat dia sedang sedih. Mereka hampir tidak bisa kembali karena tersesat dan baru bisa ditemukan selama berhari-hari.
Malamnya, Ellen sudah berkali-kali mengelilingi kamarnya berusaha mempersiapkan diri untuk menghibur suaminya itu. Ini adalah hal yang paling memalukan untuknya.
Tak lama Aldrich pun masuk ke kamar yang membuat Ellen terlonjak kaget.
Kaget aku. Kenapa dia cepat sekali masuk ke kamar sih??
"Mana hiburannya? Kau sudah mempersiapkannya iyakan?"Tanya Aldrich dengan senyuman sambil berjalan mendekati Ellen.
"Itu benar yang mulia. Malam ini saya berniat untuk memijit anda. Anda pasti sangat lelah seharian ini."Ucap Ellen tersenyum lebar.
"Memijitku? Kau sekarang jadi tukang pijat?"Tanya Aldrich mengernyitkan alisnya.
"Terserah yang mulia menganggapnya apa. Tapi saya akan memijit anda sampai anda tertidur nyenyak."
Ellen mulai membantu membukakan pakaian suaminya itu hingga Aldrich terkejut dengan perlakuan istrinya. Dia pun diam saja dan terus memandangi apa yang istrinya itu lakukan.
"Nah, sekarang anda berbaringlah. Saya akan mulai memijit anda."
Aldrich pun menurut. Ellen memijit punggungnya yang hanya tertutup kain kemeja sutra.
Benar-benar enak hingga Aldrich benaran ketiduran dibuatnya. Ellen merasa lega dia berhasil. Dia memandang wajah suaminya itu dari dekat dan terpesona dengan ketampanannya. Tanpa sadar Ellen mengelus rambut Aldrich dan ikut tidur di sampingnya.
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa tekan tombol like 👍)
__ADS_1