Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 48


__ADS_3

Keesokan paginya, seseorang tiba-tiba mengetuk kamar kedua pasutri itu di saat mereka berdua masih terlelap dalam tidur mereka. Ketukan itu berbunyi dengan tidak biasa dan terdengar sangat mendesak.


Yohannes yang mendengar pun menyipitkan matanya dan merasakan kepalanya yang pusing. Dia melihat ke arah istrinya yang masih tidur di sebelahnya menghadap membelakanginya.


Yohannes mendudukkan dirinya dan menoleh ke arah pintu yang telah membuatnya terbangun.


Ck, siapa sih yang mengganggu pagi-pagi buta seperti ini?!


Yohannes beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu bermaksud untuk membukanya dan melihat siapa yang sudah membangunkannya di jam setengah empat pagi ini.


"Ada apa?"Tanya Yohannes kepada seorang pengawal yang mengetuk pintu kamarnya sambil melipat kedua tangannya merasa kesal. Pengawal itu terlihat gemetaran dan sedih.


"T-tuan, ada berita buruk...yang mulia baginda raja..."Ucap Pengawal itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena terlalu gemetaran.


Yohannes yang mendengar jawaban pengawal itu membulatkan matanya karena dia langsung mengerti dengan maksud ucapan pengawal itu. Tanpa persiapan apapun Yohannes langsung berlari menuju kamar ayahnya. Pengawal yang tadi pun melanjutkan untuk membangunkan Lydora yang masih tidur.


Pengawal itu sedikit takut untuk masuk ke kamar Yohannes karena dia juga tahu bahwa dia tidak boleh masuk ke kamar Raja dan Ratu dengan sembarangan.


Pengawal itu sempat menengok ke arah tempat tidur, dimana Lydora masih tidur dengan nyenyak. "Y-yang mulia Ratu...! Yang mulia Ratu!" Panggil Pengawal itu dari lubang pintu saja.


Lydora yang sempat terganggu mengernyit dan membuka matanya perlahan. Dia menoleh ke arah samping dan suaminya sudah tidak berada di sampingnya.


Lho, kemana Yohannes? Lalu apakah Yohannes tadi yang memanggil--?


"Yang mulia Ratu!"Teriak pengawal itu lagi.


Lydora pun segera menoleh ke arah sumber suara. "Eh, ada apa?"Tanya Lydora yang kaget dan heran apalagi melihat Pengawal itu yang terlihat sedih dan gemetaran.


Lydora dengan cepat langsung beranjak dari tempat tidur meskipun dirinya masih merasa pusing dan lemas.


"I-itu yang mulia baginda Raja, yang mulia...anda sebaiknya datangi beliau secepatnya...!"Ucap Pengawal itu.

__ADS_1


"Eh? Ba-baiklah! Tolong antarkan aku kesana!"Ucap Lydora yang jadi panik.


Pengawal itu pun mengangguk dan segera mengantar Lydora yang masih mengenakan piyamanya.


Sesampai di kamar Sang baginda, Lydora dapat menyaksikan suara tangisan Ibu Ratu begitu juga dengan Yohannes. Mereka meringkuk merasa begitu sedih saat melihat Raja Peter yang terbaring sudah tidak bernyawa. Lydora dengan cepat menghampiri dan air matanya juga seketika jatuh begitu saja.


"Ibu...ayah...?"Tanya Lydora kepada ibu mertuanya masih belum percaya


Ratu Edna hanya menangis dan menangis. Dia tidak sanggup berbicara untuk saat ini. Sementara Yohannes, pria itu memegang erat lengan baju tidur yang dikenakan ayahnya sambil menyembunyikan wajahnya yang sedang menangis di lengan ayahnya itu.


Lydora juga ikut mendekati ayahnya dan menggengam tangan ayah mertuanya itu.


Ayah...aku tidak percaya ayah akan pergi secepat ini...padahal aku masih belum memperkenalkan diriku dengan baik di depan ayah...


Saat matahari sudah naik, para pengawal memberitahu semua orang dan masyarakat bahwasanya ada berita duka meninggalnya Raja Peter. Tentu saja semua orang yang mendengarnya tidak percaya dan sedih. Mereka semua tahu jika Raja Peter adalah seorang pria yang sangat baik dan bijaksana.


Setelah Raja Peter diletakkan di dalam peti, para keluarga dan semua orang mengenakan pakaian serba hitam. Saudara dari belah pihak sang Raja semuanya datang termasuk keluarga dari belah pihak sang Ratu.


Kembali di istana Lilwest, Peti Raja Peter dimakamkan di kuburan khusus keluarga Lilwest yang terletak di bagian barat istana. Sejak Raja Peter meninggalkan semuanya, suasana istana itu menjadi suram dan tidak bercahaya.


Lydora melihat suaminya yang terpuruk kesedihan dan Lydora hanya bisa menenangkannya dengan cara menepuk-nepuk punggung Yohannes.


Acara pemakaman itu lumayan panjang. Setelah semuanya selesai dan orang-orang sudah pada pergi, Yohannes memilih untuk menyendiri di dalam kamarnya. Lydora sendiri juga menjadi tidak bersemangat apalagi melihat Ratu Edna yang masih setia duduk di sebelah makam sang suami hampir selama setengah jam.


Felice lalu mendatangi majikannya yang tengah melamun di samping pintu kamar. "Yang mulia, saya sangat sedih atas meninggalnya Raja Peter...saya tahu anda semua pasti merasakan kesedihan yang begitu dalam. Beliau adalah orang yang sangat baik, jadi dia pasti akan masuk surga."


"Iya, Felice. Aku bahkan belum sempat memperkenalkan diriku dengan baik di hadapan ayah mertua. Sejak menikah dengan Yohannes, aku belum memiliki kesempatan bertemu dengan ayah lagi. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat aku baru pertama datang kemari untuk tinggal disini."Ucap Lydora menunduk.


"Saya tahu apa yang anda rasakan Yang mulia. Kita doakan saja yang terbaik agar beliau bisa tenang di sana. Lalu apa yang anda lakukan disini sendirian Yang mulia? Anda tidak masuk untuk beristirahat?"Tanya Felice melihat Lydora yang hanya berdiri di samping pintu kamar.


"...Yohannes, dia mengunci pintunya dari dalam dan aku tidak bisa masuk. Kurasa dia membutuhkan waktu sendiri sebentar..."Jawab Lydora.

__ADS_1


"Ah...kalau begitu anda istirahat di kamar lain saja dulu. Anda pasti kelelahan. Atau kalau anda mau, anda bisa menempati kamar saya."Ucap Felice menawarkan.


"Tidak usah Felice. Terima kasih, tapi aku ingin tetap disini sampai Yohannes membuka pintunya. Dia tidak mungkin membiarkan istrinya di luar terus kan?"Ucap Lydora menolak.


Felice pun hanya bisa menghela napasnya."Baiklah, Yang mulia. Tapi jika anda butuh apa-apa, saya siap membantu. Saya juga akan ikut menemani anda, tapi sebaiknya kita cari tempat duduk dulu untuk beristirahat."Ucap Felice lagi.


"Baiklah, terima kasih Felice."Ucap Lydora akhirnya menurut. Lydora pun mengikuti Felice mencari tempat untuk duduk. Di samping itu Pelayan Sandy mengintip mereka berdua barusan dan dia tadinya ingin menyapa Lydora, namun niatnya terurungkan karena Felice muncul. Dia merasa sedikit takut dengan Felice.


Sorenya di dalam kamar, setelah menangis selama berjam-jam, Yohannes baru kepikiran dengan istrinya. Seburuk apapun perasaannya saat ini, dia tetap kepikiran tentang Lydora dan bagaimana keadaan wanita itu sekarang.


Yohannes sempat merasa bersalah karena sudah mengunci pintunya segala. Akhirnya dia membuka pintu itu dan berniat mencari istrinya.


Aku hampir lupa jika aku sudah punya istri, meskipun saat ini perasaanku belum jelas kepadanya, tapi tetap saja dia wanita yang harus kuperhatikan. Apa yang dilakukannya sekarang? Apa dia sudah makan?


Yohannes melihat kesekeliling memastikan keberadaan istrinya. Tak lama dia melihat seorang pelayan melewati dan tunduk hormat kepadanya.


"Tunggu, apa kau tahu dimana Lydora?"Tanya Yohannes.


"Yang mulia Ratu sedang duduk di taman bersama Nona Felice, yang mulia."Jawab Pelayan itu.


"Oh, baik terima kasih sudah memberitahuku."


Pelayan itu hanya membalas dengan anggukan kemudian dia lanjut pergi begitu juga dengan Yohannes yang berjalan menuju taman.


Sesuai yang dikatakan pelayan, Yohannes melihat Lydora yang sedang menyenderkan kepalanya di bahu Felice.


"Lydora--"


"Shhh...maaf yang mulia, tapi Yang mulia Ratu sedang tidur..."


Next....

__ADS_1


__ADS_2