Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 49 (Di revisi)


__ADS_3

Ellen yang melihat kepulangan suaminya terperanjat kaget. Dia tidak sangka jika hari ini adalah hari kepulangnya raja Aldrich.


Sh**kapan dia sampainya?! Kenapa tidak ada satupun yang memberitahuku jika dia sudah pulang?! Bagaimana aku harus menjelaskan situasi ini??


Ellen berusaha mengontrol kepanikannya. Ellen kemudian berdiri untuk menyambut kepulangan suaminya.


"Yang mulia? Anda...sudah kembali ternyata. Maaf Saya sungguh tidak tahu jika anda pulangnya hari ini! Tidak ada yang memberitahu saya kapan anda kembali..."Ucap Ellen kemudian dia menghampiri Aldrich. Dia memegang tangan Aldrich bermaksud meminta salam lalu mengecupnya.


Aldrich yang melihat tindakan istrinya hanya bisa diam.


"Kenapa bisa tidak ada yang memberitahumu? Apa semua orang sesibuk itu hingga tidak ada satupun yang memberitahumu?"Tanya Aldrich masih marah.


"Entahlah, saya rasa karena mereka juga lupa yang mulia...tapi saya mohon jangan hukum mereka, mereka bisa saja melakukan kesalahan..."Ucap Ellen memohon.


Aldrich tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan istrinya itu.


"Lalu siapa dia? Kenapa kau bisa-bisanya berduaan dengannya? Jelaskan semuanya!"Ucap Aldrich tidak sabar.


Ellen hendak menjelaskan situasinya namun Theo langsung angkat tangan untuk menjelaskannya sendiri.


"Saya mohon maaf yang mulia, perkenalkan nama saya Theo Davidson. Saya adalah seorang dokter yang saat ini sedang memeriksa permaisuri Ellen."Ucapnya.


"Dokter? Kau sakit Ellen?"Tanya Aldrich mengernyitkan alisnya.


"T-tidak yang mulia...saya..."Ellen entah kenapa sedikit ragu untuk memberitahunya.


"Selamat yang mulia. Permaisuri Ellen sedang hamil. Saat ini usia kandungannya sekitar 2 minggu."Ucap Theo pada akhirnya.


Aldrich sempat mematung tidak percaya dengan informasi yang di dapatnya. Dia kemudian memandang ke arah istrinya yang sedang menunduk.


"Ellen...apa itu benar yang dikatakannya? Kau sedang hamil?"Tanya Aldrich pada istrinya.


Ellen mengangguk. "Iya yang mulia, saya sedang mengandung anak kita."Ucap Ellen kemudian memandang Aldrich dan tersenyum ke arahnya. Senyumnya terlihat tidak tampak senang melainkan sedih dan Aldrich tahu hal itu.


Aldrich kemudian memeluk Ellen merasa begitu bahagia. Ellen begitu terkejut dengan perlakuan Aldrich yang tidak biasa. Dia menenggelamkan wajahnya ke leher Ellen.

__ADS_1


"Terima kasih, istriku."Bisiknya.


Ellen yang mendengarnya mematung sejenak. Entah kenapa air matanya bisa jatuh lagi. Mungkin karena dia merasa begitu terharu saat mendengar Aldrich membisikkan kata terima kasih untuknya.


Aldrich kemudian melepaskan pelukannya. Ekspresinya kembali diawal masih penuh tanda tanya tentang keberadaan dokter yang bukan dokter kepercayaan istana.


"Ellen, aku masih butuh penjelasan kenapa dia yang memeriksamu? Dimana rupanya Lizzy?"Tanya Aldrich yang langsung membuat mood Ellen turun lagi.


Sialan. Baru saja merasa senang malah muncul nama wanita itu lagi...


"Begini yang mulia...bla..bla..bla..."


Ellen mulai menjelaskan dari awal dia bertemu dengan Lizzy sampai dia harus diperiksa oleh Theo. Aldrich sempat tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dengan fakta yang sesungguhnya dilakukan oleh Lizzy untuk menggugurkan pewarisnya. Matanya langsung berapi-api ingin membalas dendam dengan apa yang telah dilakukan orang kepercayaannya.


"Anda percayalah sama saya yang mulia. Saya tidak berbohong! Obat ini adalah semua buktinya!"Ucap Ellen menunjukkan obatnya kepada Aldrich.


"Kenapa dia begitu kurang ajar? Kenapa dia berani melakukan hal ini?"Tanya Aldrich masih tidak mengerti.


"Saya pikir Anda tahu yang mulia...dia jatuh cinta kepada Anda dan tidak ingin membiarkan saya hidup bahagia."Ucap Ellen lagi.


Aldrich mengakui jika dirinya dulu pernah jatuh cinta kepada Lizzy karena Lizzy adalah wanita yang hebat. Dia sudah bisa mengobati dirinya yang terluka di usianya yang muda. Namun dia juga tahu jika itu mustahil untuk bersama Lizzy karena status mereka. Dan dia tidak pernah terpikir jika Lizzy juga mencintainya.


"Aku akan menangani gadis itu. Kau tidak perlu khawatir. Dan kau, sekarang sudah bisa keluar."Ucap Aldrich kepada Theo.


"Ah baik yang mulia. Terima kasih atas waktu anda dan juga yang mulia permaisuri..."Ucap Theo memberi salam kemudian berjalan keluar untuk pulang.


Aldrich langsung menarik tangan Ellen dan segera membawanya ke kamar.


"Kau kenapa? Apa lagi yang mengganggu pikiranmu? Karena hamil?"Tanya Aldrich yang peka.


"Maafkan saya yang mulia...saya hanya takut. "Ucap Ellen.


Aldrich kemudian menarik Ellen lagi kali ini untuk duduk di pangkuannya. Dia menyibak rambut Ellen yang menutupi wajah kecilnya. Menyentuh bibir ranum istrinya dengan jarinya dan mengusapnya.


Cup! Aldrich menciumnya dan Ellen hanya bisa diam dan menikmati apa yang dilakukan suaminya. Mereka cukup lama berada di posisi itu. Rasanya seperti waktu berhenti hanya untuk mereka berdua rasakan bersama.

__ADS_1


Aldrich lalu melepaskan ciumannya dan memandang wajah Ellen. Ellen juga jadi ikut memandang suaminya.


"Kau jangan cemas. Aku akan selalu bersamamu. Kau hanya perlu percaya padaku."Ucap Aldrich kemudian tersenyum ke arah Ellen.


Apa dia sungguhan mengatakannya...? Apakah aku sedang bermimpi...? Kenapa rasanya seperti tidak nyata...? Aku masih tidak percaya jika dia tidak seperti yang di novel.


Ellen tiba-tiba tersipu merasa malu saat melihat senyuman Aldrich. Dia sungguhan tersenyum kali ini! Rasanya jantungnya akan meledak saat itu juga.


"T-terima kasih yang mulia...."Ucap Ellen salah tingkah.


Dia imut sekali...


Aldrich jadi gemas melihat tingkah istrinya yang sedang tersipu malu. Rasanya ingin terus digodai sepanjang waktu. Namun mengingat kedatangan Theo di kamarnya membuatnya masih kesal.


"Aku masih butuh penjelasan soal pria itu tadi. Jika dia adalah pengganti Lizzy, kenapa tidak ada yang menemanimu saat dia memeriksamu? Apa kau tidak berpikir apa yang akan dilakukannya terhadapmu?!"Tanyanya marah.


"Maaf yang mulia, saya juga kurang tahu. Dokter Theo adalah kenalannya Jiya dan Rina, dua orang pelayan yang berteman denganku. Mereka tidak bisa ikut menemani karena mereka juga memiliki pekerjaan. Ratu Irene juga tadi sedang keluar karena ada urusan mendadak. Dan Putri Kath juga sedang belajar. Lagipula dia seorang dokter, dan dia tidak mungkin berani melakukan sesuatu kepada saya yang seorang permaisuri."Ucap Ellen.


"Kau bodoh atau apa? Kalau dia tidak bisa melakukan sesuatu yang buruk kepadamu sedangkan Lizzy saja bisa? Bagaimana jika kau benaran meminumnya? Sekarang saja rasanya aku ingin memotong kepalanya."Ucap Aldrich masih dendam.


Glek, Ellen menelan salivanya merasa takut. Apa yang dikatakan Aldrich benar. Dirinya memang kadang bodoh untuk melakukan sesuatu. Tapi saat dia melihat Theo, dirinya tidak ada merasakan niat jahat Theo.


"Maafkan saya yang mulia. Saya tidak akan melakukan hal yang sembarangan lagi..."Ucap Ellen.


"Kau akan terus seperti ini jika tidak aku awasi."Ucap Aldrich.


Dia masih belum sadar jika banyak pria yang ingin mengambil kesempatan kepadanya.


Ellen semakin merasa terpojok.


"Saya bersumpah akan selalu mendengarkan kata-kata anda yang mulia. Saya berjanji!"Ucap Ellen sambil menyembah.


Ellen tiba-tiba mendengar suara tawa Aldrich yang kurang jelas. Tapi dia yakin jika suaminya itu baru saja tertawa. Ngomong-ngomong dia juga belum pernah mendengar suara tawa Aldrich sejak menikah dan dia juga sempat bertanya-tanya tentang itu dipikirannya.


"Yang mulia tadi tertawa ya?"Tanya Ellen.

__ADS_1


"Siapa yang tertawa?"Tanya Aldrich balik.


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)


__ADS_2