
Hari ini dan di bulan ini, adalah hari ulang tahun Sang Raja Aldrich. Sebenarnya dia tidak suka acara pesta maupun perayaan tentang dirinya karena itu membuatnya tidak nyaman.
Tapi mau tidak mau dia lagi-lagi harus memasang topeng untuk orang-orang yang akan dihadapinya. Ellen bahkan belum tahu jika Aldrich hari ini berulang tahun karena dia sempat tidak mengingat ataupun menanyakan hari lahir suaminya sendiri.
Saat dia bangun, dia tidak melihat Aldrich yang biasanya masih tidur di sampingnya. Dia bangun dan para pelayan seperti biasa menghias dirinya namun kali ini stylenya berbeda dari hari biasanya.
"Rina...kenapa hari ini pakaiannya berbeda dari biasanya? Apa nanti ada acara?"Tanya Ellen.
Rina dan Jiya yang mendengar sama-sama kaget. Mereka tidak sangka jika Sang permaisuri akan melupakan hari ulang tahun suaminya.
"Yang mulia...apa anda lupa?"Tanya Rina.
"Hm? Memangnya ada apa?"Tanya Ellen semakin bingung.
Jiya kemudian membisik ke arah Rina.
"Kak, sebaiknya kau tidak perlu memberitahu yang mulia permaisuri sampai dia ingat sendiri."Bisik Jiya.
"Ah, iya benar juga...."
Ellen merasakan firasat tidak enak apalagi kedua pelayan itu sudah berani berbisik di belakangnya.
"Apa yang kalian bicarakan dibelakangku huh?"Tanya Ellen.
"Eh! Saya bilang pada kak Rina bahwa masakan kepala koki kali ini rasanya kurang enak, benar kan kak?"Ucap Jiya beralasan sambil menyikut lengan Rina.
"Eh, iya betul yang mulia permaisuri! Tolong jangan salah paham dengan kami...!"Ucap Rina sedikit panik.
Jelas-jelas mereka sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Mungkin lebih baik memang aku cari tahu sendiri...
Setelah Ellen siap di dandan, dia terlihat anggun dengan gaun yang simpel berwarna biru muda yang lembut. Perutnya yang sudah semakin besar menunjukkan bahwa Ellen benar-benar seorang ibu yang perkasa.
"Anda sungguh sangat cantik yang mulia permaisuri..."Puji Jiya terpesona.
"Terima kasih!"
Ellen keluar sambil dibantu oleh Rina. Karena kehamilannya sudah membesar, Ellen jadi kesulitan untuk berjalan maupun bergerak.
Wah...ada apa ini? Apa akan ada mengadakan acara pesta lagi? Cantik sekali...
Ellen terpesona melihat seluruh dekorasi di dalam ruangan yang terlihat gemerlapan. Para koki juga mulai menghidangkan begitu banyak makanan dan yang paling mengejutkan kue tar ulang tahun yang sangat cantik.
__ADS_1
Tak lama Ellen bertemu dengan Katherine yang hendak masuk ke kamarnya.
"Ah, tuan putri!"Panggil Ellen.
"Ya? Ada apa kak? Wah, perutmu semakin hari semakin besar saja. Apa kakak tidak kesulitan saat berjalan?"Tanya Kath khawatir dan agak takut.
"Siapa sih yang tidak kesulitan saat hamil besar begini? Anda juga pasti bakalan hamil, putri."Ucap Ellen dengan wajah terlihat lelah.
"Ah....benar juga. Ada apa kakak memanggilku? Bukankah kakak harus bersiap-siap?"Tanya Katherine.
"Bersiap-siap?"Tanya Ellen balik merasa bingung.
"Iya, hari ini kan pesta ulang tahun kak Rich. Kenapa kakak seperti orang bingung begitu?"
"Apa?"
Ellen melongo sejenak dan dia tidak tahu sama sekali jika hari ini adalah hari ulang tahun suaminya.
"Oh ya Tuhan! Jadi hari ini hari ulang tahun yang mulia raja?!"Tanya Ellen sangat syok.
"Jangan bilang kakak tidak ingat hari ulang tahun suami sendiri?"Tanya Katherine balik tidak habis pikir dengan kakaknya yang terkadang bodoh.
"Daripada lupa, lebih tepatnya aku sama sekali tidak tahu hari lahir yang mulia raja..."Ucap Ellen mengaku dengan wajah penuh malu dan penyesalan.
Ellen sepertinya mengerti apa yang dimaksud adik iparnya. Dia mengangguk dan pelayan Rina membantu memapah Ellen lagi untuk menemui Sang Raja.
Sesampai menemukan Sang Raja, Aldrich sedang berdiri melamun disana sambil menatap pemandangan di bawah dari atas balkon.
"Sayang...!"Panggil Ellen sedikit ngos-ngosan.
Aldrich berbalik mencari ke arah sumber suara. Dia pun mendatangi istrinya yang terlihat kelelahan.
"Kenapa kau kemari? Lihat, keringatmu banyak sekali...kau tidak mendengar perintahku huh?"Tanya Aldrich.
"Sayang...maaf. Maaf aku tidak tahu kalau hari ini hari ulang tahunmu. Aku tidak bermaksud untuk tidak mempedulikannya...Selamat ulang tahun suamiku..."Ucap Ellen.
Aldrich terdiam dan dia sempat merasa terharu dengan ucapan pertama kali oleh istrinya di hari lahirnya. Dia tersenyum dan mengelus kepala Ellen.
"Terima kasih."Ucapnya.
"Maaf juga karena aku tidak bisa memberikan apa-apa sebagai hadiah ulang tahunmu..."Ucap Ellen kembali sedih.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Calon anak kita sudah menjadi hadiah terbesar yang paling indah untukku."Ucap Aldrich.
Mata Ellen seketika berkaca-kaca mendengarnya.
"Iya ya, benar juga. Tak lama lagi anak kita akan lahir..."Ucap Ellen.
Aldrich kemudian menundukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke perut Ellen. Dia mengelus dan menciumnya. Tak lama dia menempelkan wajahnya ke perut Ellen untuk mendengar suara tendangan seorang bayi di dalamnya.
"Sayang...kenapa kau tidak memberitahuku hari lahir ulang tahunmu? Sepertinya kau juga tidak terlalu suka acara ulang tahun ya?"Tanya Ellen yang peka.
Aldrich terdiam sejenak kemudian berdiri lagi menghadap istrinya.
"Kau mau duduk dulu?"Tanya Aldrich.
"Ah iya..."Ellen menurut dan Aldrich memapahnya masuk ke dalam ruangan untuk duduk di sofa.
"Aku bukannya tidak suka. Hanya saja...aku merasa aku harus mengingat berbagai kenangan gelap yang seharusnya tidak ku ingat. Aku juga minta maaf mengenai hari pesta ulang tahunmu waktu itu...karena tidak datang. Hari itu..."
"Aku tahu. Hari kematian mendiang ayah kan? Aku mengerti. Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku juga tidak terlalu suka dengan acara pesta ulang tahun. Rasanya tidak nyaman."Ucap Ellen.
Aldrich kaget karena pikiran mereka hampir sama.
"Tapi kuharap saat hari ulang tahunku mendatang, kau tidak boleh bersedih. Kau harus bahagia karena hari bahagia istrimu harus dirayakan dengan penuh suka cita. Aku yakin kalau ayah juga pasti akan bahagia melihat anaknya bahagia."Ucap Ellen tersenyum.
Aldrich memeluk Ellen. Ellen benar-benar seorang istri yang bisa memahami dirinya tanpa diminta.
"Kalau begitu ayo kita nikmati pestanya. Para tamu juga pasti sudah menunggu kita."Ucap Ellen sambil mengulurkan tangannya.
Aldrich dengan suka cita pun menerima uluran tangan Ellen dan mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
Meskipun kedua pasangan itu sudah menyadari akan perasaan mereka masing-masing, namun mereka tetap tidak ada yang berani saling menyatakan. Tapi sepertinya keduanya sudah sama-sama menyadari bahwa pasangan mereka mencintai dan menyayangi mereka.
Mereka dihadiri banyak tamu dari berbagai ibukota bahkan negara. Meskipun sedikit lelah, tapi mereka berdua masih bisa menyempatkan diri untuk bersenang-senang.
Tiba-tiba di momen yang damai itu, Ellen memegang perutnya merasa begitu sakit. Wajahnya bahkan sudah pucat dan penuh keringat.
"Ada apa Ellen?!"Tanya Aldrich panik.
"Akhh...perutku...sakit sekali...tolong...tolong aku..."Ucap Ellen merintih. Dia bahkan sampai memegang kuat kemeja Aldrich sampai ketarik karena merasa begitu kesakitan.
"Ya Tuhan, sepertinya menantuku akan segera melahirkan! Aldrich cepat panggil dokter dan antarkan Ellen ke kamar!"Teriak Ratu Irene.
__ADS_1
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)