Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 25 (Di revisi)


__ADS_3

Di istana, Ellen mulai merasa matanya yang berat karena kurang tidur. Sudah dua hari dia tidak bisa tidur nyenyak karena ulah suaminya.


Saat itu untungnya hanya mereka berdua yang duduk di singgasana tanpa ada tamu yang datang. Aldrich memerhatikan istrinya yang dari tadi menguap dan mengucek matanya.


"Kau kenapa?"Tanya Aldrich.


"Uh? Saya hanya sedikit mengantuk Yang mulia."Jawab Ellen.


"Ini masih siang. Sebaiknya kau tahan dulu kantukmu itu."Ucap Aldrich.


"Iya yang mulia..."


Huh, kalau kau tidak menggangguku tadi malam, mungkin aku bisa tidur nyenyak!


Berjam-jam mereka hanya duduk di ruangan itu tanpa ada saling mengobrol. Sejujurnya Ellen benar-benar tidak tahan karena sifat dia sebenarnya adalah si tukang bicara. Lama-kelamaan tanpa sadar dia pun ketiduran di tempat duduknya.


Tak lama Ellen membuka matanya kembali karena mendengar suara seseorang berbicara. Dia sempat-sempatnya menguletkan badannya karena merasa pegal tidur sambil duduk. Dia tidak sadar karena membawa kebiasaannya yang dulu.


Ellen membelalakkan matanya karena ada tamu yang datang dan dia malah tidur. Belum lagi cara menguletkan badannya semua orang melihatnya merasa heran.


"Ah! Yang mulia...maaf, saya tidak sadar ketiduran!"Ucap Ellen panik.


Aldrich hanya diam. Dia memilih merespon tentang pembicaraan para tamu.


"Tuan-tuan sekalian, saya mohon maaf karena sudah tidak bersikap sopan tidur di hadapan anda semua."Ucap Ellen sambil menundukkan kepalanya. Orang-orang hanya mengangguk canggung.


"Ellen, sudah cukup! Kau tidak perlu sampai menundukkan kepalamu."Ucap Aldrich.


"Ah iya yang mulia, maaf..."


Menjelang senja, Ellen masih merasa bersalah bercampur malu. Belum lagi dia sudah mempermalukan dirinya sendiri. Ellen bahkan tidak berani menatap suaminya yang kini sedang berjalan bersamanya menuju kamar mereka.


Setelah masuk ke kamar, baru saja Ellen hendak duduk, Aldrich lagi-lagi membuka pakaiannya sembarangan.


"Ahhh!! Yang mulia, anda jangan buka pakaian disini!"Teriak Ellen langsung memejamkan matanya merasa malu.


Aldrich terkejut karena baru pertama kali mendengar seorang wanita bangsawan berteriak dengan suara cempreng seperti istrinya itu.


Aldrich tersenyum berniat untuk menjahili istrinya yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia berjalan mendekati istrinya yang berdiri di pojokan.


"Kenapa? Bukankah kau sudah melihat semuanya? Bahkan kau juga sudah merasakannya juga. Kenapa harus malu?"Goda Aldrich.


"Ahh yang mulia hentikan! Menjauhlah! Saya phobia melihat pria telanjang!"Teriak Ellen.

__ADS_1


"Apa katamu? Phobia melihat pria telanjang?"


"Eh ah...itu...maksud saya, bukan untuk menyinggung yang mulia. Saya...saya..."Ellen benar-benar gagap karena Sang Raja benar-benar sudah dekat di hadapannya. Bahkan napas mereka saja beradu sebab Aldrich menundukkan kepalanya sedikit untuk menyamakan tingginya dengan istrinya itu.


Aldrich entah kenapa ingin semakin bermain dengan istrinya yang unik itu. Belum lagi dia sudah melihat istrinya yang bisa melawan adiknya yang super manja tanpa adanya rasa takut.


Aldrich kemudian menggendong Ellen untuk membawanya ke kamar mandi.


"Ah! Yang mulia, anda mau membawa saya kemana?! Tolong ampun saya Yang mulia! Saya akan intropeksi diri! Jangan hukum saya yang mulia...!"Ucap Ellen panik sambil menggoyangkan kakinya memberontak.


"Diamlah! Aku hanya meminta hakku saja. Jangan melawanku."Ucap Aldrich.


"Maaf yang mulia...tapi apa harus sekarang? Bukankah Yang mulia harus mandi dan makan malam dulu?"


"Lebih cepat lebih baik kan. Kau mau tidur nyenyak apa tidak?"Ucap Aldrich dengan senyum jahilnya.


Ellen pun diam dan dia merasa heran sebab Sang Raja membawanya ke kamar mandi bukan ke atas ranjang.


"Tunggu yang mulia, anda membawa saya ke kamar mandi??"


Dia ini kok banyak sekali pertanyaannya? Lama-lama aku merasa wanita ini semakin banyak bicara.


Aldrich diam saja. Setelah masuk ke kamar mandi, Aldrich langsung membantu membukakan pakaian Ellen.


Ellen sedari tadi hanya memejamkan matanya tidak berani melihat pemandangan yang seharusnya indah di mata perempuan.


Aldrich seperti biasa memutar keran air lalu disiramkan ke tubuh Ellen.


Aldrich merasa kesal sebab istrinya dari tadi hanya menutup mata dan tidak melihat ke arahnya.


"Buka matamu! Lihat aku!"Ucap Aldrich.


Ellen pun membuka matanya terpaksa menurut.


"Apa kau benar-benar phobia melihat pria telanjang? Jadi kau sudah pernah melihat pria telanjang sebelumnya?"Ucap Aldrich dengan nada tidak suka.


"Itu sudah lama sekali yang mulia...saya tidak sengaja melihatnya...dia hanya orang gila...waktu itu saya melihatnya saat masih kecil."Ucap Ellen jujur.


Sebenarnya dia memang pernah melihat pria tidak waras di tengah jalan saat dirinya masih menjadi Jane.


"Orang gila ya..."Entah kenapa Aldrich sedikit tersinggung mendengarnya.


"Bukan! Bukan itu maksud saya yang mulia! Kan saya sudah bilang saya melihatnya waktu ke--emh!"

__ADS_1


Aldrich tidak mempedulikan istrinya yang belum selesai bicara. Dia mencium bibir gadis itu dan melahapnya. Kemudian melanjutkan aksinya memberi kissmark di leher Ellen. Ellen hanya bisa menggigit bibirnya.


Apa harus disini? Aku baru tahu jika melakukan itu tidak hanya di tempat tidur saja...


Akhirnya mereka benar-benar melakukannya di kamar mandi.


Setelah selesai, Ellen kepikiran dengan Aldrich yang benar-benar ahli dalam memanjakan wanitanya. Pikiran negatifnya pun mulai bertebaran di otaknya.


Aldrich menyuruh pelayan untuk mengantarkan makan malam ke kamar mereka.


"Yang mulia, kita tidak makan di ruang makan?"Tanya Ellen.


"Tidak. Aku merasa lelah. Ini semua gara-gara kau."Ucap Aldrich dengan senyum jahil.


Apa?? gila ya, kan kau yang melakukannya bukan aku!


Pada akhirnya mereka makan di kamar saat pelayan sudah mengantarkan makanan ke kamar. Keduanya tidak ada yang saling memikirkan pendapat Sang ibu maupun Sang Adik.


Siap makan, Ellen berencana memberanikan dirinya untuk bertanya kepada suaminya itu. Itu adalah hal yang wajar karena mereka tetaplah suami istri yang sah.


"Yang mulia."Panggil Ellen.


"Hm?"Sahut Aldrich yang sudah memejamkan matanya.


"Apa...sebenarnya hubungan anda dengan Nona Anna?"Tanya Ellen.


"Kau membahas dia lagi? Kenapa? Apa kau cemburu padaku?"Tanya balik Aldrich masih dengan mata terpejam.


"Tidak! Saya tidak cemburu, hanya penasaran saja. Lagipula bukankah wajar bertanya siapa wanita itu?"


"Aku lagi tidak mau membahasnya. Tadi kau bilang lelah, kenapa tidak tidur?"


"Err...maaf yang mulia. Entah kenapa saya terus kepikiran. Jadi saya tidak bisa tidur. Kalau Anda mau tidur duluan tak apa..."Jawab Ellen.


"Jadi sekarang kau mau menanyakan apa lagi?" Tanya Aldrich yang ikut penasaran dengan apa yang dipikirkan istrinya itu.


Ellen menghela napasnya merasa sedikit takut untuk bertanya. "Saya harap anda tidak tersinggung. Apa Yang mulia pernah melakukannya dengan wanita lain?"


Kali ini Aldrich membuka matanya dan melihat kearah istrinya itu merasa terkejut dengan pertanyaan Ellen.


Aldrich terdiam dan Ellen semakin sedih karena sepertinya pertanyaannya sudah terjawab.


Seharusnya tadi aku tidak menanyakannya. Padahal aku sudah tahu dengan jelas bahwa Yang mulia terkenal suka main perempuan mau itu di novel maupun yang orang-orang katakan....

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2