
"Apakah...anda sudah pernah bertemu dengan penyihir itu?"Tanya Lydora.
"Iya, sudah. Tapi percayalah dia sangat menyebalkan. Dan ada yang perlu aku beritahu padamu, tapi berjanjilah lebih dulu kalau kau tidak memberitahu hal ini kepada siapapun."Ucap Ellen mulai mendekatkan dirinya di telinga Lydora.
"Eh...baiklah."
"Kau tahu, saat aku hendak bertemu dengan peramal itu hal pertama yang kulakukan adalah membaca mantra sesuai yang dikatakan peramal Henston. Aku membaca sesuai perintah peramal itu kemudian aku tidak sadarkan diri. Saat aku membuka mata aku berada di tempat serba putih. Kupikir aku sudah mati tapi ternyata aku dipertemukan oleh penyihir itu. Penyihir itu seorang pria dengan jubah hitam. Rambut putih perak yang bersinar, dan memiliki bola mata berwarna emas. Wajahnya bisa dikatakan cantik. Tapi dia tidak mau memberitahuku siapa namanya."
Ellen mulai menceritakan semua pengalamannya saat bertemu dengan penyihir misterius itu. Lydora sampai menutup mulutnya tidak percaya apalagi soal mendengar penyihir itu meminta Ellen sebuah ciuman di bibir agar kutukan yang ada pada diri Ellen bisa terhapuskan.
"Apa?! Jadi...suami anda juga sudah tahu jika anda dari masa depan?!"Tanya Lydora tidak percaya.
Ellen mengangguk. "Tolong pelankan suaramu. Yang tahu tentang diriku dari masa depan hanya suamiku saja. Terserah dia percaya ucapanku atau tidak tapi untung saja dia tidak menganggapku gila."Ucap lagi Ellen.
Lydora terdiam sejenak merasa bingung.
Apakah aku juga harus jujur kepada Yohannes soal diriku yang sebenarnya? Ah, tidak perlu. Lagipula aku juga sudah terlanjur tinggal disini dan jika diberikan pilihan, tentu aku tetap memilih menetap disini.
"Kau sendiri belum memberitahu suamimu ya?"Tanya balik Ellen.
"I-iya. Lebih baik jika dia tidak mengetahuinya. Anda lah yang pertama saya beritahu karena anda juga mengalami kehidupan yang sama seperti saya."Jawab Ellen.
"Yah, terserahmu saja mana baiknya. Ikuti dan dengarkan kata hatimu saja."Balas Ellen.
"Terima kasih sudah mau memberitahu saya Ellen. Sekarang yang ingin saya lakukan adalah menemui penyihir itu. Saya hanya ingin memenuhi rasa penasaran saya."Pinta Lydora.
"Begitu ya. Apa peramal Henston tidak ada memberitahumu bagaimana caranya untuk menemui penyihir itu?"
Lydora menggeleng. "Dia malah menyuruh saya untuk menemui anda."
"Hmm, baiklah. Ayo ikut aku."Ucap Ellen lalu menarik tangan Lydora agar mengikutinya. Ellen membawa Lydora ke ruang pribadinya.
Setelah sampai di ruangan milik Ellen, Ellen sengaja menguncinya agar tidak ada seseorang yang sembarangan berani masuk. "Oke, pertama-tama ucapkan ini..."
Sementara itu masih di ruang tamu, kedua pria itu hanya saling duduk berhadap-hadapan tanpa berani membuka suara.
"Ck, kenapa mereka berdua lama sekali..."Gumam Yohannes mulai tidak betah. Entah kenapa saat selalu bersama Aldrich, dia terus gelisah merasa tidak nyaman.
"Kau tahu kalau para wanita sudah berkumpul pasti akan lama. Kalau kau ingin segera kembali, pulang saja lebih dulu."Ucap Aldrich.
__ADS_1
"Apa? Tidak! Aku akan pulang bersama istriku. Aku bukan pria setega itu meninggalkan seorang istri pulang sendiri."Balas Yohannes tegas.
"Kalau begitu kau tidak punya pilihan lain selain menunggu. Aku sendiri juga kesal kenapa istriku lama sekali."Balas Aldrich. Akhirnya Yohannes terdiam namun dengan perasaan sebal.
Kembali di ruang pribadi Ellen, sesuai perintah Ellen diikuti oleh Lydora. Dalam beberapa menit, Bruk! Lydora jatuh pingsan.
Ah...kepalaku sakit sekali. Dimana aku...?
"Halo gadis manis, ada apa kau memanggilku?"Tanya suara seorang pria.
Suara siapa itu?
Tina membuka matanya lebih lebar dan melihat kesekeliling ke sumber suara. Dan Tina sangat terkejut saat tiba-tiba ada seorang pria yang muncul tepat di hadapannya tersenyum.
"Kau terkejut melihatku? Apakah aku terlihat menakutkan? Padahal menurutku, aku ini cukup tampan dibandingkan dengan para makhluk bumi itu."Ucap pria itu berbicara sendiri.
"A-apakah anda adalah penyihir itu?"Tanya Tina memberanikan dirinya.
"Seharusnya kau sudah tahu karena kau yang memanggilku."Jawab Penyihir itu.
"B-bagaimana aku bisa masuk ke dunia novel? Apakah diriku yang sebelumnya sudah...mati?"Tanya lagi Tina.
Tina diam membisu tidak bisa berkata-kata saat penyihir itu mengatakan dirinya sudah mati dengan seringan itu.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?"
"Eh umm...apakah anda tahu bagaimana saya mati waktu itu?"Tanya Tina.
"Kau mati karena didorong oleh temanmu. Dia sangat membencimu sehingga dia nekat mendorongmu ke jalan raya saat lampu masih hijau. Kau mati di tempat dan tidak bisa diselamatkan lagi."Jawab penyihir itu.
Tina pun terdiam. Hatinya langsung terasa sangat perih padahal saat ini dia sedang berada di alam lain tetapi rasa sakit itu tetap ada.
Aku tahu kalau diriku dulu sangat pengecut. Aku tidak punya siapapun untuk berlindung. Aku hanya mengandalkan otakku untuk terus belajar dengan giat. Setidaknya hanya itu yang bisa kuandalkan untuk bertahan hidup...
"Hei anak muda...kau mendengarkanku?"Panggil penyihir itu dan Tina pun tersentak dari lamunannya.
"Aku tahu apa yang ada dipikiranmu. Tapi kau bersyukur kan sudah aku pindahkan ke dunia ini?"Ucap penyihir itu lagi.
"Kenapa anda...menyelamatkan saya?"
__ADS_1
"Aku tidak tega melihatmu yang selalu menderita. Nasibmu hampir sama seperti Jane alias Ellen itu. Perbedaannya hanya karakter kalian saja. Tapi dibandingkan dengan dirimu, Ellen itu jauh lebih menarik sehingga aku jadi suka untuk menjahilinya, hehe..."Ucap penyihir itu sambil nyengir.
"Jadi...apakah itu alasannya anda tiba-tiba meminta ciuman...kepada Ellen?"Tanya lagi Tina.
Penyihir itu terdiam sejenak kemudian tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, bocah itu memberitahumu ya?"
Tina hanya bisa terdiam dengan kaget.
"Oke, aku memang meminta ciuman kepadanya dan dia menuruti ucapanku. Aku tahu dia terpaksa melakukannya demi melindungi keluarganya. Aku tidak menyesal telah memberikannya kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya."
"Lalu...apakah anda juga berniat meminta sesuatu dari saya?"Tanya lagi Tina.
"Tidak."Jawab penyihir itu dengan singkat. "Kau gadis yang membosankan. Tapi setidaknya kau cerdas dan dewasa. Tidak seperti Ellen yang selalu bersikap labil."
"Jadi saya tidak punya kutukan atau semacamnya kan?"Tanya lagi Tina memastikan.
Penyihir itu menggeleng.
"Kalau begitu...terima kasih sudah menolong saya. Padahal saya belum pernah bertemu dengan anda tapi anda membantu saya dengan percuma. Di hidup kedua saya ini saya merasa sangat bahagia selayaknya manusia yang dianggap dan berguna. Ada yang mencintai dan menyayangi saya dengan sepenuh hati, dan hidup berkecukupan. Saya tidak tahu harus membalas anda dengan apa."Ucap Tina.
"Kau hanya perlu menjalani kehidupanmu sebaik-baiknya. Tidak apa-apa juga menjadi jahat sekalipun demi kebaikan. Kau tahu maksudku kan?"Balas penyihir itu.
Tina mengangguk.
"Sebaiknya kau harus segera kembali. Kau juga tidak boleh berlama-lama disini atau kau akan susah kembali nantinya."
"Eh, begitu ya? Tapi sebelum itu, apakah saya boleh tahu nama anda?"Tanya Tina.
"Namaku Morse. Hanya itu namaku."
"Morse..."
"Sudah ya, selamat tinggal!"
Tina kaget saat pandangannya mulai menghitam dan dia tersentak saat mendapati dirinya di atas tempat tidur.
"Kau baik-baik saja Lydora?"Tanya Ellen.
Next...
__ADS_1