
"Sebenarnya apa maumu?"Tanya Jane dengan ekspresi dingin.
"Mauku? Aku hanya mau melakukan apa yang membuatku tidak bosan. Selama aku hidup aku bisa melakukan apa saja sampai rasanya aku bosan. Sejak aku menemukanmu, rasa bosanku setidaknya berkurang sedikit."Jawab penyihir itu lagi dengan enteng.
"Hiks...tidak bisakah kau memiliki sedikit hati nurani...dulu aku juga tidak ingin hidup seperti itu...dan sekarang? Apa kau berniat menyiksaku lagi dengan membuat kutukan pada anak tidak berdosa di dalam rahimku...?"Ucap Ellen menangis.
Penyihir itu tertawa. "Hahaha! Jadi menurutmu selama ini aku tidak punya hati nurani? Lalu bagaimana dengan tubuhmu yang sudah membusuk di tanah itu? Kau mati begitu saja kan karena miskin. Kau menahan lapar supaya sok berhemat dan pada akhirnya kau mati karena kelaparan. Setelahnya aku dengan hati nuraniku membawamu ke tubuh Ellen yang kebetulan juga mati. Aku sempat menimbang-nimbang kalau sepertinya kau masih bisa diberikan kesempatan kedua. Tidak dengan Ellen yang selalu pasrah dengan hidupnya yang menyedihkan."
"Dan ternyata aku tidak salah membuatmu hidup kembali. Kau benar-benar memanfaatkan kehidupanmu dengan baik yang pada akhirnya kau mendapatkan banyak cinta. Tapi lama-lama kisahmu itu membuatku bosan. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku jika kau ingin anakmu selamat."Sambung penyihir itu dengan tersenyum.
"Jika kau bosan, kenapa tidak cari orang lain saja yang lebih menarik?"Tanya Jane tidak habis pikir dengan penyihir yang suka seenaknya.
"Heh, terserah aku dong."Ucap penyihir itu lagi-lagi dengan enteng.
"Haa...jadi apa yang harus aku lakukan sesuai keinginanmu? Jika kau ingin aku mati demi anakku, lebih baik kalau kau membunuh kami semua. Aku tidak bisa meninggalkan anakku sendirian tanpa seorang ibu."Ucap Jane.
"Kalau begitu bagaimana kalau kau berpisah dengan sang Raja? Lalu setelahnya kau menikah denganku."
Jane seketika membisu. Dia tidak pernah berharap untuk meninggalkan sang Raja.
Karena aku sudah terlanjur mencintainya...
"Aku tidak bisa."Jawab Jane singkat.
"Haha, jadi kau benaran sudah jatuh cinta padanya? Yah, aku tidak bisa berbuat apa-apa sih karena aku masih memiliki hati nurani."Ucap penyihir itu yang membuat Ellen semakin bingung.
"Kenapa kau berpikir aku ini menarik? Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja?"Tanya lagi Jane.
"Hmm, bagaimana aku menjelaskannya ya? Aku hanya sayang jika kau mati begitu saja."
Ellen semakin kesal karena penyihir itu sudah membuatnya kehilangan kesabaran.
"Tidak ada cara lain kah supaya kau membebaskan kami dari mala petaka itu?"
"Kalau kau tidak bisa bercerai dengan sang Raja dan menikah denganku, kau bisa menciumku kalau begitu."Ucap penyihir itu.
Apa penyihir ini memang sudah gila?
"Ayo, kau mau anakmu selamat kan? Hanya perintah sederhana. Hanya cium aku saja dan itu adalah bibir."Ucap penyihir itu sambil menunjukkan bibirnya.
__ADS_1
"Apa kau suka padaku?"
"Hahaha! Kenapa kau berpikir begitu?"Tanya balik penyihir itu.
"Karena kau sudah membantuku dengan percuma. Belum lagi kau sekarang memintaku untuk menikah denganmu dan menciummu..."Ucap Ellen.
"Apa kau pikir dengan aku mengatakan hal itu karena aku suka padamu? Yah, mungkin..."
Jane memilih diam daripada dirinya semakin gila dibuat oleh si penyihir.
"Hanya ciuman saja dan kau akan membebaskan aku?"Tanya Jane.
Penyihir itu mengangguk.
"Baiklah. Kuharap kau memegang janjimu. Sebelum itu maafkan aku karena sudah salah paham denganmu dan aku sangat berterima kasih karena kau sudah memberiku kesempatan kedua untuk hidup meskipun menjadi orang lain."Ucap Jane.
Jane mendekat dan mencium bibir penyihir itu tanpa merasakan apa-apa dan penyihir itu tahu jika Jane memang bukan untuknya.
Maafkan aku suamiku karena sudah melakukan hal ini....aku terpaksa melakukannya demi anak kita...maaf...T-T
"Sekarang pejamlah matamu."Ucap penyihir itu dan Jane hanya menurut. Jane tiba-tiba teringat jika dia belum tahu siapa nama penyihir itu.
*****
Ellen membuka matanya dan mendapati dirinya tengah berbaring di ranjang.
"Ellen!"Teriak Aldrich merasa begitu senang saat istrinya itu membuka mata. Dia menghampiri dan memeluk istrinya menghujaninya dengan ciuman.
"Yang mulia...!"Ellen sedikit kaget dan dia sempat merasa bersalah dengan apa yang baru saja dia lakukan di bawah alam sadarnya.
"Kenapa waktu itu kau bisa pingsan lagi?"Tanya Aldrich terlihat sangat khawatir.
Ellen terdiam sejenak. "Oh, itu karena--" Ucapan Ellen terputus saat Ratu Irene dan Putri Kath tiba-tiba masuk ke kamar mereka.
"Ellen...!"Teriak Ratu Irene.
"Kak...!"Kath juga ikutan dengan serentak. Mereka menghampiri Ellen.
"Bagaimana keadaanmu?"Tanya Ratu Irene.
__ADS_1
"Saya baik-baik saja ibu. Maaf saya lagi-lagi membuat kalian semua khawatir..."Ucap Ellen.
"Tidak apa nak, kami sudah sangat bersyukur jika kau sudah siuman dan kehamilanmu baik-baik saja."Ucap Ratu Irene lembut.
Ellen tersenyum terharu. "Apakah keluarga saya tahu tentang keadaan saya?"Tanya Ellen.
"Tidak. Mereka belum tahu."Jawab Aldrich.
"Ohh..."Ellen sedikit lega mereka belum memberitahu keluarganya. "Lalu berapa lama saya sudah pingsan?"
"Sudah hampir seharian."Jawab lagi Aldrich.
Fyuh...kupikir sampai berhari-hari seperti waktu itu...
"Ibu, Kath, bisakah kalian keluar dulu? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Ellen."Pinta Aldrich.
"Kakak apaan sih? Kami baru saja datang kesini untuk melihat kondisi kakak ipar, dan sekarang kakak mengusir kami?!"Tanya Kath tidak terima.
"Sudahlah Kath, ayo kita keluar. Kita bisa bicara dengan Ellen lagi nanti."Ucap Ratu Irene sambil menarik tangan Kath untuk keluar.
Akhirnya hanya kedua pasutri itu saja yang ada di dalam kamar.
"Kau sudah bisa menjelaskan semuanya sekarang."Ucap Aldrich.
"Baiklah...waktu aku pingsan, itu sebenarnya jiwaku sedang berbicara dengan penyihirnya. Aku berhasil bernegosiasi dengannya..."Ucap Ellen yang membuat Aldrich kaget.
"Hah? Negosiasi apa maksudmu?"Tanya Aldrich mulai dengan pikiran negatifnya.
"B-bukan seperti yang kamu pikirkan kok...sayang. Dia memang agak aneh karena dia memiliki sihir yang dia punya. Aku juga tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, tapi yang pasti untuk saat ini sepertinya dia sudah menghilangkan kutukan mala petakanya. Setidaknya, bayi kita akan lahir dengan penuh cinta..."Ucap Ellen sambil mengelus perutnya.
"Aku tidak sangka jika berbicara dengan orang itu kau harus melepas jiwamu dulu. Bagaimana kalau jiwamu sampai tidak kembali hah?!"Tanya Aldrich kembali emosi.
"Tapi sekarang aku sudah kembali kan? Sudahlah sayang, jangan khawatir lagi. Semua sudah terkendali. Mulai sekarang ayo kita hidup dengan tenang seperti biasa."
"Aku masih penasaran negosiasi apa yang kau berikan untuk penyihir itu...Apa aku tidak bisa ikut bicara dengannya seperti dirimu?"Tanya Aldrich masih tidak puas dengan penjelasan istrinya.
"Tidak bisa sayang....aku kan orang yang bersangkutan dengannya... negosiasinya... uhm..."Ellen mulai bingung untuk memikirkan alasan lain.
Duh, aku harus bilang apa ya...?! Kalau aku bilang yang sejujurnya dia pasti membunuhku...!
__ADS_1
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)