Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 66 (Di revisi)


__ADS_3

Aldrich tersenyum lega saat istrinya itu terlihat senang dengan pemberian hadiahnya.


"Kalau begitu pakailah setiap hari dan jangan pernah dilepas. Hadiah itu memang khusus aku berikan padamu."Ucap Aldrich.


Ellen mengangguk. "Tapi...kenapa kau tiba-tiba memberi ini?"Tanya Ellen heran.


Aldrich sejenak terdiam. Dia juga tidak punya alasan mengapa dia memberikan hadiah kepada Ellen.


"Semenjak kita menikah, aku belum memberikan apa-apa kepadamu. Hadiah itu hanya percuma aku berikan padamu."Ucap Aldrich tidak mau mengatakan yang sebenarnya.


"Ah, aku paham. Kalung ini cantik sekali. Apa kalung ini memiliki arti?"Tanya Ellen.


"Entahlah. Aku tidak sengaja menemukan kalung seperti itu lalu aku membelinya."Ucap Aldrich yang tidak mau mengatakan makna dari kalung yang diberikannya. Padahal dia jelas-jelas tahu karena dia sendiri yang meminta untuk dibuatkan kalung itu.


"Oh baiklah."Ellen hanya bisa memahami sikap raja yang sulit mengatakan kata-kata manis. Tapi dia tetap senang karena Aldrich benar-benar sudah berprilaku seperti suami pada umumnya.


*****


Beberapa hari sudah terlewati, kedua pasutri itu benar-benar menghabiskan waktu bulan madu mereka dengan sangat baik. Dan sudah waktunya mereka kembali ke istana untuk melewati hari-hari melelahkan seperti biasa.


"Sayang, sebelum kita pergi waktu itu, putri Kath sempat merengek ingin ikut juga. Dia bilang jika dia belum pernah diajak liburan. Bisakah kita sekeluarga liburan bersama seperti ini kapan-kapan?"Tanya Ellen yang tiba-tiba teringat Katherine.


"Lihat nanti."Ucap Aldrich selalu tanpa kepastian.


Sebelum naik kereta api, Ellen sempat melihat ada toko souvenir dekat stasiun. Dia menarik tangan Aldrich untuk mengajaknya masuk ke toko itu.


"Sayang, bisakah kita mampir ke toko itu sebentar? Aku ingin membeli oleh-oleh untuk ibu dan adik ipar."Pinta Ellen.


"Apa? Tapi kereta apinya sebentar lagi akan jalan!"Ucap Aldrich.


"Tolong sebentar saja. Bukankah kereta apinya milikmu? Kau bisa saja kan menyuruh supirnya untuk menunggu sebentar?"Tanya Ellen memohon.


"Ck, ya sudah, aku akan menyuruh supir untuk menunggu."Ucap Aldrich akhirnya nurut dan dia pergi menemui si supir kereta api. Tak lama dia kembali lagi mendatangi istrinya.


"Ayo."Ajaknya.


Setelah sampai di toko souvenir, Ellen bertanya ini itu ke sang Raja karena dia bingung mau membelikan apa untuk keluarganya.


"Yang mulia, apa ini bagus? Kalau ini bagaimana?"Tanya Ellen bingung memilih kedua benda yang dipilihnya.


"Beli saja semuanya."Ucap Aldrich malas.


Ellen hanya bisa menghela napas. "Oke, kita beli dua-duanya saja kalau begitu."

__ADS_1


Setelah memilih-milih cukup lama akhirnya pasangan itu kembali dan mulai menaiki kereta api untuk pulang ke istana.


*****


Sesampai di istana, mereka pulang dan langsung disambut hangat oleh Ratu Irene dan juga yang lainnya termasuk putri Katherine.


"Selamat kembali ke rumah!"Ucap Ratu Irene menyambut kepulangan kedua anaknya dengan ramah.


"Salam ibu."Ucap Ellen sambil menyalami tangan ibu mertua.


"Bagaimana liburannya? Apa menyenangkan?"Tanya Ratu Irene.


Ellen mengangguk dengan cepat. "Iya ibu, sangat menyenangkan. Pemandangan disana sungguh cantik. Kapan-kapan kita kesana bersama ya ibu!"Ucap Ellen tersenyum lebar menunjukkan bahwa dia benar-benar senang.


"Oh baguslah, iya kita akan kesana bersama, haha. Syukurlah kalian bisa menikmati liburan kalian dengan baik ya."Ucap Ratu Irene ikut lega.


"Kak, kalung itu baru ya? Kelihatan cantik sekali!"Ucap Katherine terpesona melihat kalung yang terpasang di leher kakak iparnya.


"Ah iya, ini pemberian dari yang mulia raja sebagai hadiah."Ucap Ellen.


"Wah, aku jadi iri! Kak Rich tidak pernah memberiku hadiah!"Ucap Katherine terang-terangan.


Duh, bagaimana ini?!


"Hmph!"Katherine hanya mendengus kesal.


Tiba-tiba ada sebuah ide yang terbesit di kepala Ellen dan dia membisikkan sesuatu ke telinga Kath.


"Tuan Putri, kami akan memberimu hadiah saat hari ulang tahunmu, dan kau harus bersabar."Bisiknya.


Katherine terdiam tersipu. "Janji?"Tanya Kath.


"Janji!"Balas Ellen.


"Kalau begitu kalian berdua pergi istirahatlah dulu. Kalian pasti lelah sudah dari perjalanan jauh."Ucap Ratu Irene.


"Oh, tunggu sebentar ibu! Ada sesuatu yang ingin kami berikan untuk ibu dan juga tuan putri!"Ucap Ellen.


Kedua ibu dan anak itu hanya menatap Ellen heran.


"Pelayan! Tolong bawakan barangnya kesini!"Perintah Ellen.


"Baik yang mulia."Pelayan itu dengan cepat membawakan barang yang dibeli Ellen bersama Aldrich di dekat stasiun tadi.

__ADS_1


Ellen mulai menyodorkan beberapa benda ke arah mereka untuk diperlihatkan.


"Apa ini kak?"Tanya Kath.


"Ini namanya hiasan rambut dari cangkang kerang!"Ucap Ellen. Dia segera memasangkan hiasan itu di rambut Kath.


"Sudah kuduga hiasan ini cocok sekali untukmu! Yah, walau harganya tidak seberapa tapi kuharap kau menerima hadiahku ini..."Ucap Ellen.


Kath sempat diam dan dia segera mengambil kaca. Dia bercermin dan melihat hiasan yang menempel di rambutnya lumayan cukup bagus.


"Kurasa...ini lumayan."Ucap Kath.


"Sungguh?! Baguslah! Dan ibu, ini ada topi jerami untuk ibu. Kalau kita ke pantai bersama nanti, ibu bisa pakai ini."Ucap Ellen.


"Hohoho, bagus sekali nak! Topi yang kau pilihkan benar-benar selera ibu! Terima kasih Ellen."Ucap Ratu Irene terlihat senang. Dia memakai topi pemberian Ellen dan ikut bercermin di kaca.


Ellen merasa lega karena hadiah yang dia pilihkan tidak sia-sia.


"Syukurlah kalian senang dengan hadiah sederhana yang kuberikan."Ucap Ellen terharu.


"Iya, terima kasih atas oleh-olehnya ya Ellen, sekarang kalian pergi istirahatlah."Ucap Ratu Irene.


"Baik bu."


*****


Semenjak dari pulang bulan madu, Ellen tidak berhenti tersenyum mengingat kejadian yang dilaluinya. Dia tidak bisa melupakan kenangan yang sangat berarti itu.


Sudah sebulan terlewati, kedua pasutri itu menjalankan kehidupan sehari-hari mereka seperti biasa. Perut Ellen juga semakin membesar dan pekerjaan Ellen jadi lebih diringankan.


Tapi suatu hari ada seorang wanita tua yang mengaku dirinya adalah seorang peramal. Dia ingin menunjukkan firasatnya yang selama ini dia pendam. Namun firasat buruknya semakin membuatnya tidak tenang dan akhirnya dia berniat untuk menemui si permaisuri.


"Yang mulia Raja dan yang mulia permaisuri yang terhormat, tolong izinkan saya untuk meramal tentang anda untuk memastikan apa yang saya rasakan selama ini benar atau tidak."Ucap peramal itu.


"Meramal? Untuk apa anda masih melakukan hal kuno seperti itu?"Tanya Aldrich tidak percaya dengan si peramal itu.


"Saya memiliki indra keenam yang spesial. Tidak apa-apa jika anda berdua tidak percaya kepada saya, tapi saya adalah seorang murid dari seorang penyihir."Ucapnya yang membuat Ellen tersentak.


Selama ini yang membuat pertukaran hidupnya menjadi kacau pasti karena penyihir itu. Baru saja Ellen melupakannya dia harus mengingatnya lagi. Entah kenapa dia merasa yakin jika penyihir itu benar-benar ada.


"Apa maksud anda murid penyihir?"Tanya Ellen.


"Ya, saya memang seorang murid sang penyihir yang sempat dipercaya seluruh dunia ini. Anda berdua juga terlibat menikah karena perintah yang diberikan sang penyihir kan?"Tanya Peramal itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍


__ADS_2