Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 52


__ADS_3

4 hari kemudian, Lydora dan Felice sudah bersiap-siap untuk berangkat ke wilayah Utara. Sebelum berangkat, Lydora tentunya berpamitan terlebih dahulu kepada mertua dan suaminya.


"Ibu, saya pergi dulu ya. Ibu harus jaga kesehatan ibu dengan baik."Ucap Lydora.


"Apa kau sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu ini nak? Kau tahu kan kalau Tuan Jason itu..."Ratu Edna terlihat ragu dan mencemaskan menantunya itu.


"Saya tidak apa-apa ibu. Keputusan saya sudah bulat. Lagipula Yohannes juga sudah membawa beberapa pengawal untuk melindungi saya, jadi ibu tidak perlu khawatir. Saya yakin saya bisa segera membawa Tuan Jason ke pengadilan!"Ucap Lydora terlihat begitu bersemangat.


"Haha, baiklah. Ibu mana mungkin bisa lagi melarangmu jika kau saja bersemangat seperti ini. Berhati-hatilah dan jangan mudah percaya pada siapapun."Ucap Ratu Edna menasehati.


"Baik ibu, terima kasih."


Selanjutnya Lydora berhadapan dengan suaminya, yakni Yohannes. Beberapa hari setelah mereka berdua waktu itu membicarakan soal anak, keduanya menjadi canggung. Lydora sempat malu mengatakan hal itu kepada Yohannes.


Huh, mengatakan hal itu kepadanya jauh lebih baik daripada aku nantinya dimanfaatkan olehnya!


"Yohannes, kalau begitu...aku pamit untuk pergi."Ucap Lydora.


"Kau sudah mempersiapkan semuanya dengan baik? Tidak ada yang terlupakan kan?"Tanya Yohannes memastikan.


Lydora menggeleng. "Tidak ada. Semuanya sudah aku persiapkan."Ucap Lydora.


"Baguslah. Kalau begitu aku akan ikut mengantarmu ke stasiun. Jika kalian berdua sudah sampai di stasiun berikutnya, kalian harus menaiki kereta kuda dengan pita biru. Pita itu melambangkan kerajaan kita. Jangan sampai salah pilih!"Ucap Yohannes.


"Oh, baik aku mengerti."Ucap Lydora.


Mereka semua pun mulai pergi ke stasiun. Sesampai di stasiun, Yohannes sempat membantu istrinya itu untuk naik ke pintu masuk kereta api.


"Lydora, sebelum kau pergi, aku minta maaf atas perkataanku kemarin itu yang terdengar memaksamu untuk memiliki anak. Tentang ucapanmu waktu itu, aku...aku akan mencoba untuk memikirkannya..."Ucap Yohannes dengan wajah memerah.


Lydora sempat tersentak dengan ucapan suaminya itu. Lalu dia pun tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Yohannes, kamu tidak perlu buru-buru. Tentang masalah perasaan juga tidak bisa dipaksakan karena aku juga tidak berniat untuk memaksamu. Aku hanya bisa bilang terima kasih kepadamu."Ucap Lydora.


"Tidak! Aku tahu kau tidak seperti itu. Makanya aku juga akan berusaha. Dan ada hal yang harus kuberikan kepadamu."Ucap Yohannes kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari kantung jasnya.


"Ng? Apa itu...?"


Setelah dia mengeluarkan benda itu dari kantung jasnya, dia meraih tangan Lydora dan meletakkan benda itu di tangan Lydora.


"Ini adalah sebuah liontin alarm. Jika ada sesuatu yang terjadi padamu, kau harus menggunakan ini. Liontin alarm ini dapat berbunyi melalui menara ibukota dan kau bisa memanggil kami dengan liontin alarm ini."Ucap Yohannes.


"Ah, terima kasih Yohannes..."Ucap Lydora.


Jadi liontin ini seperti telepon begitu? Tapi bagaimana caranya liontin ini bisa tersambung melalui menara? Ah, entahlah dipikirkan pun membuatku tetap tidak akan mengerti tentang dunia ini...


Setelah semuanya siap, Kereta api mulai bergerak. Lydora dan Felice sudah duduk di bangku mereka. Dari jendela, Lydora melambaikan tangannya ke arah suaminya yang masih berdiri di luar sana. Yohannes pun membalas lambaikan tangan Lydora dan memperingati istrinya itu untuk tetap berhati-hati.


Di perjalanan, Lydora merasa sangat senang karena dia sudah lama tidak berjalan-jalan jauh seperti ini. Tapi dia ingat jika dia datang kesana bukan untuk pergi berlibur, melainkan menjalankan tugas.


"Yang mulia, sepertinya akhir-akhir ini yang mulia Raja semakin dekat pada anda ya? Tidak seperti dulu, Yang mulia Raja selalu menjaga jarak kepada anda dan bersikap dingin..."Ucap Felice yang menyadari.


"Kenapa tidak Yang mulia? Selain sangat cantik, anda juga memiliki hati yang juga cantik. Setidaknya kedatangan anda di Kerajaan membuat suasananya tidak sesuram dulu. Saya tahu kalau dulu Yang mulia Raja sangat mencintai Ratu Ellen, tapi saya yakin kalau sekarang Anda punya kesempatan untuk mendapatkan hati yang mulia Raja."Ucap Felice tersenyum.


"Haha, begitu ya? Kalau kau sendiri bagaimana Felice? Apa kau memiliki seseorang yang kau sukai?"Tanya balik Lydora.


Felice langsung menggeleng."Tidak ada yang mulia. Saya masih belum punya waktu untuk memikirkan itu. Lagipula memangnya ada yang menyukai saya yang seperti ini?"Tanya Felice bergantian merendah diri.


Dia merasa tidak percaya diri dengan penampilannya yang bertubuh berisi, wajah berbintik-bintik, berambut keriting berwarna coklat, berkulit sedikit gelap dan matanya yang minus sehingga dia harus memakai kaca mata.


"Kau bicara apa sih Felice?! Siapa bilang tidak akan ada yang suka padamu? Kau itu manis Felice. Selain itu kau juga memiliki hati yang baik, tegas dan cerdas. Aku yakin suatu hari nanti akan ada seseorang yang suka padamu dan mungkin saja kau belum menyadarinya Felice."Ucap Lydora.


Felice tersenyum tersipu dengan ucapan majikannya yang memberikan harapan untuknya.

__ADS_1


"Terima kasih Yang mulia..."


Beberapa jam kemudian, Lydora tidak sadar dirinya ketiduran dan bahu Felice adalah sandaran Lydora. Perjalanan itu membutuhkan waktu sekitar 5 jam.


Kereta api tak lama pun sampai di depan stasiun wilayah Utara setelah 5 jam. Lydora terbangun saat kereta api mengerem untuk berhenti.


"Ng, astaga! Aku ketiduran!"Ucap Lydora panik.


"Tidak apa-apa Yang mulia. Perjalanannya cukup panjang, lagipula tadi kita bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap-siap."Ucap Felice.


"Haha, iya sih. Tapi apa kau sendiri tidak lelah Felice? Maaf, pasti bahumu terasa pegal ya? Berapa lama aku ketiduran?"Tanya Lydora merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Yang mulia. Saya tidak merasa pegal sama sekali! Anda tidak perlu panik seperti itu. Ayo kita cepat menaiki kereta kuda dengan pita biru sesuai yang dikatakan Yang mulia Raja tadi."Ucap Felice dan mulai membawa beberapa koper miliknya dan milik Lydora.


"Hmm, baiklah."


Setelah mereka turun dari kereta api, mereka berjalan sebentar menuju gerbang stasiun dan melihat kereta kuda dengan pita biru sesuai yang dikatakan Yohannes.


Felice menghampiri seorang kusir yang sedang menunggu mereka. "Permisi, apa benar anda orang kami?"Tanya Felice memastikan.


"Ah, benar nona. Salam Yang mulia Ratu, ayo silahkan naik. Yang mulia Raja juga sudah mempersiapkan tempat untuk anda beristirahat."Ucap Kusir itu dengan sopan sambil membungkukkan badannya.


Lydora hanya membalas dengan anggukan kemudian dia dan Felice pun menaiki kereta kuda tersebut.


Di perjalanan, Lydora melihat pemandangan dari jendela. Suasananya sedikit kumuh dan gersang. Ada begitu banyak rumah-rumah yang terbuat dari papan dan bentuknya yang tidak beraturan. Para anak-anak bermain dengan pakaian lusuh mereka namun anak-anak itu tetap terlihat ceria.


Para orang dewasa pada sibuk bertani dan memikul beberapa hasil panen mereka di saat panas terik.


Wah, benar yang dikatakan Yohannes. Tempat ini benar-benar tidak terurus dengan baik.


Sementara di kastil tempat kediaman Tuan Jason, sekretarisnya memberikannya laporan soal kedatangan Lydora.

__ADS_1


"Heh, akhirnya wanita itu datang juga ya. Aku pasti akan menyambutnya dengan baik."Ucap Tuan Jason dengan senyuman.


Next....


__ADS_2