Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 23 (Di revisi)


__ADS_3

Maya menangis tersedu-sedu di kamarnya dan dia menutup wajahnya dengan bantal agar suara tangisannya tidak kedengaran. Tiba-tiba temannya datang masuk ke kamarnya, yakni Stevany. Dia kaget melihat Maya menangis. Baru kali ini dia melihat gadis itu menangis.


"Maya? Ya ampun Maya! Ada apa? Apa kau bisa menceritakan apa yang terjadi padaku?"Ucap Stevany panik sekaligus cemas.


"Stevany? Kenapa kamu kemari?"Ucap Maya dan kedua matanya sembab. Stevany juga melihat ada bekas tamparan di pipi mulus gadis itu.


"Siapa yang melakukannya? Katakan padaku. Aku akan memberi pelajaran kepadanya karena sudah berani menampar sahabatku!"Ucap Stevany marah.


Maya menggeleng. "Tidak mungkin Stevany. Kau akan terkena masalah karena Nona Carol yang menamparku."Ucap Maya.


"Apa?! Aku tidak sangka dia yang menamparmu. Kukira dia gadis yang baik karena rumornya seperti itu. Ternyata tidak semuanya harus dipercaya! Pantas saja dari dulu aku tidak menyukainya meskipun aku tidak tahu alasannya, dan ternyata feelingku selama ini benar."Ucap Stevany kesal.


"Jadi kenapa dia menamparmu?"Tanya lagi Stevany.


"Kau tahu kan jika aku menyukai Tuan Erick? Dia sudah tahu jika aku menyukai Tuan dan dia tidak terima karena dia juga menyukai Tuan Erick. Bagaimana ini Stevany? Hari ini dia akan menyatakan perasaannya kepada Tuan Erick! Aku belum siap untuk menerimanya..."Ucap Maya masih menangis.


Duh, anak ini dari dulu perasaanya masih tetap sama ya. Aku salut dia mempertahankan perasaannya selama bertahun-tahun...


"Kita lihat saja nanti apa jawaban Tuan Erick Maya. Jika kau percaya padaku, sepertinya Tuan Erick sebenarnya tidak menyukai gadis itu, apalagi jika dia mengetahui sifat aslinya. Aku terkadang sering mengamati bahwa Tuan Erick merasa gugup karena dia tidak nyaman."Ucap Stevany memprediksi.


"Benarkah? Kamu mengatakan ini bukan karena ingin menghiburku kan?"Ucap Maya masih belum percaya.


"Percayalah kepadaku Maya. Aku akan membantumu. Akan kubuat gadis itu mengeluarkan sifat aslinya secara terang-terangan kepada Tuan Erick."Ucap Stevany tersenyum.


Maya pun ikut tersenyum dan dia merasa beruntung memiliki sahabat yang selalu bisa diandalkannya. "Terima kasih Stevany. Aku percaya padamu."


"Nah gitu dong senyum. Kau terlihat sangat manis jika tersenyum tahu."Ucap Stevany memuji dan itu membuat Maya tersipu. Sepertinya moodnya sudah sedikit membaik.


Stevany pun mulai mengambil obat untuk mengobati bekas tamparan yang ada di pipi Maya.


****


Malamnya di istana, Ellen merasa sangat lelah sebab pekerjaannya semakin bertambah. Dan dia tambah frustasi sebab para pelayannya masih menyuruhnya untuk memakai lingerie.


"Apa aku harus memakai benda ini lagi?"Tanya Ellen merasa benci sebab dia langsung membayangkan ingatannya betapa buasnya Sang Raja terhadapnya di malam pertama itu.

__ADS_1


"Iya Yang mulia. Anda harus memakainya sebab ini adalah perintah--"


"Iya perintah dari yang mulia Raja. Aku tahu."


"Maafkan kami Yang mulia. Tapi Yang mulia Raja menyampaikan bahwa anda harus membiasakan diri memakai lingerie saat tidur."Ucap Pelayan itu pelan. Dia tetap merasa malu sebab Sang Raja sedikit aneh belakangan ini. Apalagi semenjak Permaisuri Ellen memijakkan kakinya di istana.


Wah, ternyata suamiku semesum ini.


"Haa...baiklah, sini berikan padaku."Ellen pasrah dan dia pun memakai lingerie yang sudah dibawakan oleh pelayannya. Dia harus berkorban untuk saat ini sebab dia tidak mau melihat atau bahkan mendengar Sang Raja menyiksa para pelayannya karena tidak menuruti perintahnya.


Setelah memakai lingerie itu, Ellen langsung naik ke atas tempat tidur. Berusaha untuk memejamkan matanya agar dia tidak menyaksikan suaminya yang membuka pakaian sembarangan.


Aku harus tidur! Lama-lama mataku bisa buta jika melihat dia tanpa pakaian lagi.


Ellen sempat menunggu Sang Raja untuk memasuki kamar. Namun sepertinya Sang Raja belum datang dan entah kenapa dia jadi teringat si Anna. Karena merasa sangat lelah, pada akhirnya Ellen ketiduran.


Tengah malam pun sudah terlewat. Ellen merasakan ada yang menyentuh bagian sensitivenya dan dia pun terbangun merasa terkejut. Dia membelalakkan matanya melihat Sang Raja sudah berbaring di sampingnya. Tangannya merayap masuk ke pakaiannya dan menggerayangi tubuhnya.


"Yang mulia...? A-anda sudah kembali? Ah yang mulia...saya merasa sangat lelah hari ini...bisakah kita tidak melakukannya dulu malam ini...?"Tanya Ellen memohon.


Aldrich terlihat tidak peduli. Dia pun mencium bibir Ellen.


Ellen akhirnya pasrah daripada harus membuat masalah dengan si Raja yang akhir-akhir ini memperlakukannya dengan baik. Padahal dulu dia sudah berniat untuk membalas Sang Raja.


Aldrich pun menyadari istrinya yang kali ini tidak melawan lagi seperti malam pertama waktu itu. Dia pun mulai melanjutkan aksinya membuka lingerie yang terpasang di tubuh Ellen. Dia naik di atas tubuh Ellen dan nafas mereka saling beradu.


"Yang mulia...bisakah Anda melakukannya dengan pelan...? Rasanya masih sakit..."Ucap Ellen masih memohon dengan perasaan takut.


"Aku akan melakukannya dengan pelan."Kali ini Aldrich menuruti permintaannya.


Mereka akhirnya melakukannya lagi malam itu penuh dengan keringat dan Aldrich menepati janjinya.


Namun Ellen tetap kesal sebab Sang Raja tidak mau berhenti dan itu sama saja dia tidak bisa tidur di malam hari. Mereka terpaksa melakukannya beberapa kali sampai Ellen benar-benar ketiduran.


Keesokan paginya, Ellen membuka matanya. Dia melihat ke samping bahwa Sang Raja sudah tidak disampingnya.

__ADS_1


Dan dia lagi-lagi dikejutkan oleh Sang Raja yang sudah berpakaian rapi.


Sialan, kayaknya aku bangun kesiangan!


Ellen segera duduk dan memakai pakaiannya kembali.


"Yang mulia...kenapa anda tidak membangunkan saya?"Tanya Ellen.


"Kalau begitu cepatlah. Turun ke bawah dan sarapan bersamaku."Ucap Aldrich tidak menjawab pertanyaan Ellen dan dia berjalan keluar dari kamarnya begitu saja.


Ellen merasa sangat kesal. Dia pun pergi ke kamar mandi. Tak lama datang dua pelayan untuk membantu wanita itu.


Aku jadi merindukan Maya. Mungkin aku bisa berteman dengan mereka?


"Boleh aku tahu siapa nama kalian berdua? Tanya Ellen kepada kedua pelayan itu.


"Nama saya Jiya dan ini adalah adik saya Rina Yang mulia."Jawab pelayan itu.


"Wah, jadi kalian bersaudara? Pantas saja kalian terlihat mirip."Ucap Ellen memandangi wajah kedua pelayan itu.


"Iya Yang mulia. Kami merasa terhormat sebab yang mulia satu-satunya yang pertama kali menanyakan nama kami."Ucap Rina.


"Benarkah? Mengapa begitu?"Tanya Ellen heran.


"Karena keluarga kerajaan tidak ada yang peduli tentang siapa nama kami Yang mulia. Mereka hanya memperkerjakan kami dan menggaji kami tanpa menanyakan nama kami."Sambung Jiya.


"Begitu ya..."Entah kenapa Ellen merasa sedikit sedih mendengarnya. Seorang pelayan pasti tidak akan pernah dipandang disini.


"Kalau begitu mau berteman denganku? Aku merasa kalian berdua baik. Aku bisa percaya pada kalian berdua kan?"Ucap Ellen.


Kedua pelayan itu saling memandang terkejut.


"Yang mulia yakin mau berteman dengan kami?"Tanya Rina.


Ellen mengangguk. "Tenang saja. Kalian bisa percaya padaku. Jika kalian punya masalah, kalian bisa minta bantuanku kapanpun."Ucap Ellen.

__ADS_1


Seketika kedua pelayan itu merasa kegirangan. "Kalau begitu terima kasih yang Mulia! Kami merasa sungguh terhormat anda mau berteman dengan kami."Ucap Jiya dan Rina sambil membungkuk hormat.


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa tekan tombol like 👍)


__ADS_2