Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 43 (Di revisi)


__ADS_3

Keesokan paginya, sebelum subuh Ellen sudah bangun untuk menyiapkan kebutuhan sang Raja sebelum berangkat.


Ellen merasa sedikit sedih bukan karena sang raja ingin pergi, tetapi karena pekerjaannya akan semakin banyak. Dia kira dirinya akan pergi main dengan bebas tanpa Aldrich.


"Pastikan kau melakukan pekerjaanmu dengan benar. Awas saja kalau kudengar kau membuat masalah dibelakangku."Ucap Aldrich memperingati.


Cih, aku pikir dia mau bilang yang lain...


"Tentu saja yang mulia. Anda bisa mempercayakan pekerjaan anda kepada saya, anda tidak perlu khawatir."Ucap Ellen sambil tersenyum.


"Jika kau membutuhkan sesuatu, sudah ada Ravin yang akan membantumu."Ucap Aldrich.


"Eh? Ravin tidak ikut dengan yang mulia?"Tanya Ellen.


"Tidak. Dia kan sudah ku suruh jadi penjaga pribadimu. Lagipula dia tidak dibutuhkan untuk ikut bersamaku."


"Oh saya mengerti yang mulia."


Di halaman kastil, semua keluarga kerajaan akan pulang kembali ke istana. Kecuali Aldrich yang akan pergi ke arah jalur lain untuk mencapai tujuannya. Namun pasutri itu masih di dalam kamar entah apa yang mereka lakukan sebegitu lama.


Sebelum itu, Ellen teringat ingin dibelikan sesuatu kepada sang Raja.


"Yang mulia, sebelum anda pergi bolehkah saya titip satu barang?"Pinta Ellen pelan.


"Hah? Apa itu?"Tanya Aldrich mengernyitkan alisnya.


"Anda tidak perlu membelinya jika tidak mau. Saya dengar di kota itu menjual kue rasberry yang cukup enak dan populer. Ayah saya pernah kesana membelikannya untuk saya."Ucap Ellen.


Bocah tetap bocah ya...kukira dia minta apa.


"Kue Rasberry? Kau hanya meminta itu?"Tanya Aldrich.


Ellen mengangguk. Dirinya sudah dapat ditebak bahwa dia sedang membayangkan kue rasberry di dalam otaknya.


"Kau kan bisa minta pelayan untuk membuatnya?"Tanya Aldrich.


"Rasanya berbeda yang mulia. Kue itu sangat populer dan langka. Saya sungguh menyukai kue itu."Ucap Ellen.


Aldrich tiba-tiba kepikiran ide licik untuk menjahili istrinya itu.


"Kalau begitu kau harus memberiku imbalan sebagai gantinya."Ucap Aldrich tersenyum nakal.


Ellen kaget dan dia sudah tahu apa yang ingin direncanakan suaminya itu.


Pasti hal mesum.


"Apa...itu yang mulia?"

__ADS_1


Aldrich kemudian mendekat dan mulai menunduk untuk menyamakan tingginya dengan istrinya itu. Dia lalu menunjuk ke arah wajahnya sendiri.


"Cium aku."Ucap Aldrich dan itu membuat Ellen membelalakkan matanya.


"Aku belum pernah sekalipun dicium langsung olehmu. Sekarang kau harus memberikannya."


Ellen terdiam sejenak. Dia tidak pernah terpikir jika sang raja akan minta dicium olehnya.


Dia kenapa sih?!


"Kau mau kuenya apa tidak?"Tanya Aldrich tidak sabar.


Demi kue, Ellen pun mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Aldrich. Jantungnya berpacu dengan sangat kencang dan dia sampai memejamkan matanya menahan malu.


Cup! Pipi sebelah kanan sudah dikecup Ellen. Namun Aldrich menunjuk ke pipi sebelah kirinya dan Ellen pun mengecupnya lagi.


"Sudah kan yang mulia...?"Tanya Ellen langsung menjauhkan wajahnya.


"Satu lagi."Ucap Aldrich yang kali ini menunjuk ke bibirnya.


Argh, kau sungguh menyebalkan Aldrich!


Ellen akhirnya mengecup bibir Aldrich secepat kilat. Namun dirinya ditarik lagi karena Aldrich tidak merasa puas.


"Aku mintanya ciuman bukan kecupan."Ucap Aldrich langsung menyerang bibir Ellen.


Akhirnya mereka turun kebawah yang sudah ditunggu oleh semua keluarga. Mereka semua pamit kepada keluarga Ellen untuk kembali ke istana.


"Nak, kapan-kapan kalau kamu ada waktu, seringlah kunjungi kami ya."Ucap Tuan Marcus kepada Ellen.


"Tentu saja ayah. Ayah dan ibu pastikan jaga kesehatannya ya!"Ucap Ellen sambil memeluk kedua orang tuanya.


Berikutnya Ellen pamit kepada kedua pengantin baru. Maya memeluk Ellen dengan erat.


"Yang mulia, terima kasih untuk segalanya. Semoga anda selalu bahagia."Ucap Maya.


"Iya Maya, kau juga ya. Kak, jaga kakak iparku dengan baik ya! Awas saja kalau kau menyakitinya!"Ucap Ellen memperingati.


"Aku memegang janjiku Ellen."Ucap Erick serius.


Setelahnya mereka pun berangkat. Untuk yang terakhir kalinya, Aldrich melakukan kecupan di kening Ellen. Terlihat begitu romantis dan menghangatkan. Semua orang jadi yakin bahwa sang raja benar-benar sayang kepada wanita itu dan mereka merasa lega ikut bahagia.


"Yang mulia....hati-hati..."Ucap Ellen pelan.


Aldrich tetap mendengarnya dan dia mengangguk. Dirinya mulai berjalan menjauh dan menaiki kereta kuda yang lain. Sementara dirinya akan ikut bersama mertua dan kakak iparnya.


Di perjalanan, Ellen kebanyakan melamun. Dari mulai kemarin malam sampai pagi ini dia melihat sikap Aldrich yang tidak biasanya. Dia melakukan hal yang seperti suami istri lakukan sesungguhnya dan itu benar-benar membuat Ellen malu untuk mengakuinya.

__ADS_1


"Ellen, kenapa kau melamun terus? Tidak rela suamimu pergi?"Tanya Ratu Irene sengaja menggoda Ellen yang membuat wanita itu tersentak.


"Ah....tidak kok bu...!"Ucap Ellen malu-malu.


Ratu Irene hanya tersenyum melihat tingkah menantunya itu. Dia sudah tahu apa jawabannya.


Sesampai di istana, Ellen langsung masuk ke dalam kamar sang Raja. Dia membaringkan dirinya di kasur yang empuk itu.


"Haa...coba dari dulu aku sebebas ini...pasti menyenangkan."Ucap Ellen.


Lagi-lagi Ellen melamun dan ingat terus wajah sang raja. Dia berusaha menghapus pikiran itu dan mulai menyibukkan dirinya. Namun dirinya tiba-tiba merasa lapar.


"Ada apa denganku? Bukankah tadi aku sudah sarapan? Kenapa aku merasa lapar lagi? Dan lagi aku membayangkan ingin makan yang manis-manis."Ucap Ellen keheranan sendiri.


Ellen pun keluar dari kamar untuk mencari pelayannya dan pas sekali Rina sedang ada disana.


"Rina!"Panggil Ellen.


"Iya yang mulia?"Tanya Rina langsung menghampiri Ellen.


"Bolehkah aku minta dibuatkan cookies dan susu coklat panas? Aku merasa sedikit lapar lagi."Pinta Ellen.


"Ah tentu saja yang mulia. Saya akan segera menyiapkannya."Ucap Rina mulai untuk meminta koki membuatkannya.


"Tunggu, dimana Jiya?"Tanya Ellen yang tidak melihat Jiya.


"Oh Jiya sedang ada di halaman belakang yang mulia. Saya akan memanggilnya jika anda memerlukannya."Ucap Rina.


"Tidak, tidak perlu. Kau lakukan saja tugasmu. Jangan lupa cookies nya yang banyak. Dan tolong bawa makanannya ke kamar."Pinta Ellen.


"Baik yang mulia."Rina langsung bergerak.


Setengah jam kemudian, Rina mengantar nampan berisi cookies dan susu coklat panas itu ke kamar sesuai permintaan Ellen.


Ellen sudah cukup sabar menunggu dari tadi dan dia benar-benar kelaparan.


"Terima kasih Rina."Ucap Ellen mengambil nampannya.


"Dengan senang hati yang mulia."Balas Rina langsung pergi keluar.


Ellen tanpa menunggu langsung menyantap cookies itu dan menyeruput susu coklatnya. Dirinya begitu santai sambil membaca buku kesukaannya.


Tadinya dia sempat khawatir dirinya akan menjadi gemuk. Jika ibunya melihat perilakunya, mungkin dia akan dihukum sekaligus di ceramahi berjam-jam.


"Ah, masa bodoh lah kalau aku jadi gemuk. Lagipula aku sudah jadi permaisuri. Aku setidaknya harus memanfaatkan kebahagiaan ini sepuasnya."Ucap Ellen masa bodoh dengan semuanya. Selagi dia bisa melakukan apa yang dia mau, dia tidak peduli apapun yang penting bebas dan bisa makan enak.


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)

__ADS_1


__ADS_2