Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 55 (Di revisi)


__ADS_3

"Aku mohon ya sayang, jadikan Tuan Theo dokter pribadi kita...aku jamin dia tidak akan berbuat hal yang tidak kamu inginkan."Ucap Ellen memohon dengan mata berbinarnya.


Aldrich semakin kesal dengan tatapan mata Ellen yang seperti anak anjing.


"Kau tidak mendengarku huh?"Tanya Aldrich kesal.


"Aku mendengarnya dengan jelas kok. Aku juga akan lebih menuruti ucapanmu."Ucap Ellen.


"Kau akan menuruti semua ucapanku?"Tanya Aldrich.


"Iya sayang, tentu saja!"Ucap Ellen.


"Oke aku terima. Dia boleh jadi dokter pribadi kita asalkan kau tidak pernah mengulangi kejadian seperti kemarin. Jika aku tidak ada ditempat, suruhlah siapa saja untuk menemanimu asalkan dia wanita juga."Ucap Aldrich.


"baik, baik maaf, aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Terima kasih banyak sayang!"Ucap Ellen tersenyum lebar.


"Aku harap bukan kau yang memberitahu pria itu. Mintalah pelayanmu untuk menyampaikannya."Ucap Aldrich memberi peringatan.


"Tentu saja sayang."Kali ini Ellen sedikit berusaha membiasakan panggilan itu.


*****


Hari santai bagi Ellen, dia tiba-tiba teringat dengan Viona lagi. Dia hampir lupa dengan gadis itu dan bagaimana kabarnya sekarang. Saat itu dia pun memanggil Ravin.


"Yang mulia memanggil saya?"Tanya Ravin.


"Benar. Hari ini kau tidak sibuk kan? Ayo kita pergi menemui Nona Viona. Waktu itu kan kita tidak jadi pergi kesana."Ucap Ellen.


"Ah ya, saya memang tidak begitu sibuk. Kita bisa pergi kesana. Apa Yang mulia sudah meminta izin kepada Yang mulia Raja?"


"Setelah ini aku bakal minta izin kok. Jika dia mengizinkan, aku akan langsung bersiap dan kita pergi kesana."Ucap Ellen.


"Baik Yang mulia."


Ellen pun menemui suaminya yang sedang berada di ruangannya.


"S-sayang, apa aku boleh masuk?"Tanya Ellen masih gagap menyebutnya.


"Masuk."Sahut Aldrich.


Ellen kemudian masuk dan melihat Aldrich yang sedang menulis.


"Apa aku mengganggumu?"


"Tidak. Katakan ada apa?"Tanya Aldrich.


"Itu....bolehkah aku pergi mengunjungi nona Viona? Aku hari itu tidak jadi kesana karena adanya masalah waktu itu. Semenjak itu aku melupakannya dan tidak punya cukup waktu."Pinta Ellen.


"Kau lagi hamil, apa tidak masalah?"Tanya Aldrich.


"Aku baik-baik saja sayang. Hari ini aku merasa jauh lebih sehat!"Ucap Ellen semangat.

__ADS_1


"Oke, kau boleh pergi asalkan pulang tepat waktu. Aku tidak bisa menemanimu karena pekerjaanku masih banyak."Ucap Aldrich pusing dengan pekerjaannya. Sesunggunya dia ingin ikut menemani istrinya itu.


"Iya tidak apa-apa sayang. Aku bisa pergi sendirian!"Ucap Ellen.


Aldrich merasa masih khawatir jika Ellen hanya pergi berdua dengan penjaganya si Ravin dan sesungguhnya dia juga merasa cemburu.


"Kalau begitu bagaimana kalau kau ajak saja Kath. Dia juga pasti sudah selesai belajar sekarang."Pinta Aldrich.


"Oh benar juga! Aku akan mengajaknya! Terima kasih ya sayang! Aku pasti akan pulang tepat waktu."Ucap Ellen jadi lebih semangat.


"Tunggu dulu, kau melupakan sesuatu."Ucap Aldrich.


"Apa itu?"Ellen malah bingung.


"Dasar kau ini. Ciumannya mana? Kau mau pergi sekarang kan?"Ucap Aldrich kesal.


"Ah iya...maaf."Ellen pun dengan cepat mengecup kening Aldrich. Aldrich belum pernah merasakan ada yang mengecup keningnya. Terakhir kali yang mengecupnya adalah mendiang ayah kandungnya.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya sayang!"Ucap Ellen sambil tersenyum manis.


Aldrich mematung di tempatnya. Pipi dan telinganya mulai merah dan debaran jantungnga yang mulai berisik.


Heh, lihat saja setelah ini aku pasti akan membalasmu!


Ellen kemudian menemui putri Kath yang sedang berada di kamarnya.


"Putri Kath, ada yang ingin saya bicarakan."Panggil Ellen sambil mengetuk pintu kamar Kath.


Cklek, Kath langsung membuka pintu.


"Hari ini anda sudah selesai belajar kan putri? Saya rencananya ingin mengunjungi teman saya yang ada desa terpencil. Apa anda mau ikut?"Ajak Ellen.


"Apa? Kau mau mengajakku ke desa terpencil untuk menemui teman kakak?"Kau bahkan punya seorang teman yang berasal dari desa?!"Tanya Kath tidak percaya.


"Emm...tadinya dia bukan berasal dari sana kok. Ada sesuatu yang mengharuskannya untuk tinggal disana. Saya janji akan segera menceritakannya!"Ucap Ellen.


"Oh begitu. Kenapa kakak tiba-tiba mengajakku?"Tanya Kath.


"Karena kakak anda yang menyuruh. Saya juga ingin mengajak anda untuk ikut dengan saya."


"Ah, ya sudah. Aku siap-siap dulu."Ucap Kath setuju.


"Oke putri!"


******


Di perjalanan sekitar satu jam kemudian, Kereta kuda kerajaan melewati area yang masih sedikit populasi penduduknya. Namun disana masih banyak pepohonan jadi tempat itu tidak terlalu gersang.


"Kak, sebenarnya kita mau ke mana? Kenapa sepanjang jalan yang kulihat hanyalah pepohonan?!"Tanya Kath tidak sabar.


"Bersabar sedikitlah Putri. Bukankah itu bagus? Kita bisa melihat pemandangan hijau dari sini. Di ujung sana bahkan ada pegunungan air terjun!"Ucap Ellen.

__ADS_1


"Ravin, berapa lama lagi kita sampai?"Tanya Kath.


"Ah, sekitar satu jam lagi Tuan putri."Jawab Ravin.


"Ck, masih lama lagi rupanya."Ucap Kath merasa bosan.


*****


Sementara di istana, Ratu Irene merasa khawatir karena tidak melihat kedua anak perempuannya. Pelayan menjawab jika kedua gadis itu sedang pergi keluar untuk berjalan-jalan. Ratu Irene akhirnya menemui putranya yang masih di ruangannya.


"Aldrich, ini ibu. Bolehkah ibu masuk?"Tanya Ratu Irene.


"Masuk saja."Sahut Aldrich.


Ratu Irene kemudian masuk.


"Ibu dengar kata pelayan jika Ellen dan Kath sedang pergi jalan-jalan?"Tanya Ratu Irene.


"Itu benar. Biarkan saja mereka sekali-kali liburan. Aku sengaja menyuruh Ellen mengajak Kath supaya anak itu juga bisa merasakan yang namanya lingkungan luar."Ucap Aldrich.


"Ah iya, ibu tidak masalah kok. Ibu percaya dengan Ellen. Ada hal yang ingin ibu beritahu, Semua warga dan para bangsawan sudah mendengar kabar bahwa Ellen saat ini hamil. Mereka meminta diadakan pesta sebagai penyambutan calon kerajaan. Keluarga belah pihak Ellen bahkan juga memintanya dan mereka besok rencananya akan mengunjungi kita."Ucap Ratu Irene.


"Sebenarnya aku malas dengan acara yang tidak terlalu penting itu. Apalagi Ellen sedang hamil, dia tidak bisa terlalu lelah."Ucap Aldrich yang selalu memerhatikan keadaan istrinya.


"Tidak masalah. Pestanya biar ibu yang atur. Soal tamu, Ellen tidak perlu menghadapi mereka semua dan mereka harus memaklumi kondisi Ellen yang sedang hamil. Kita terpaksa melakukan pesta ini supaya orang-orang tidak salah paham lagi dengan kita."Ucap Ratu Irene.


Aldrich terdiam sejenak. Apa yang dikatakan ibunya benar. Jika mereka tidak mengadakan acara penyambutan itu, Orang-orang pasti akan berprasangka buruk lagi.


"Terserah ibu saja. Aku harap nantinya tidak ada masalah."Ucap Aldrich pasrah.


"Kamu tenang saja. Serahkan semuanya pada ibu."Ucap Ratu Irene tersenyum.


*****


Sesampai di tempat Viona berada, Ellen melihat rumah yang ditinggali gadis itu.


"Ravin, apa benar ini rumahnya?"Tanya Ellen.


"Benar yang mulia."Jawab Ravin.


"Dia masih tinggal sendirian?"Tanya lagi Ellen.


Ravin mengangguk.


Ellen kemudian mendatangi pintu rumah dan mengetuknya.


"Permisi, Nona Viona. Ini saya Ellen. Apakah anda ada di rumah?"Panggil Ellen.


Seseorang mengintip dari balik jendela. Terlihat bahwa orang itu begitu ketakutan jika ada yang ingin menangkapnya. Dia begitu kaget saat melihat Ellen yang mengunjunginya.


Cklek, pintu pun terbuka.

__ADS_1


"Yang mulia permaisuri Ellen!"Sahut Viona dengan girangnya.


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)


__ADS_2