
"Menurutmu?"Tanya Aldrich balik.
"Hm? Saya tidak tahu yang mulia. Saya hanya sering mendengar rumornya. Tak apa...jika yang mulia memang sudah pernah melakukannya sebelumnya."Ucap Ellen dengan nada sedih.
"Kau mempercayai rumor itu?"Tanya lagi Aldrich.
"Saya...tidak tahu yang mulia..."
"Lebih baik kau tidur. Kau tidak perlu menanyakan hal yang tidak penting seperti itu kepadaku."Ucap Aldrich kembali menutup matanya.
Ellen merasa jengkel karena setiap pertanyaannya tidak akan pernah dijawab dengan jelas oleh Aldrich. Dia sengaja membuat Ellen mencari tahu sendiri.
Karena merasa sebal, Ellen mengubah posisi tidurnya kesamping membelakangi Aldrich karena malas melihat wajah suaminya.
Aldirich membuka matanya sedikit karena dia tahu Ellen mengubah posisi tidur memunggunginya.
Berani sekali dia!
Aldrich kemudian menggeser tubuhnya lagi untuk lebih dekat ke arah istrinya. Dan tangannya mulai melingkar di pinggang Ellen.
Ellen merasa kaget dengan yang Aldrich lakukan. "Yang mulia...bukankah Yang mulia sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi malam ini?"
"Memangnya kapan aku bilang janji? Sudahlah, aku tidak akan menyentuhmu kali ini. Aku hanya memelukmu saja."Ucap Aldrich sambil menyeludupkan kepalanya di leher jenjang istrinya.
Memangnya peluk itu bukan menyentuh ya?
Ellen merasa sedikit risih dengan tangan Aldrich yang melingkar di perutnya. Dia benar-benar tidak terbiasa. Belum lagi kepala Aldrich yang terlalu menempel di punggungnya hingga Ellen merasa sedikit geli.
Tapi karena dia takut membuat suaminya itu marah, dia pun segera memejamkan matanya menyusul ke alam mimpi.
Keesokan harinya, kali ini Ellen terbangun duluan. Hari ini dia sedikit merasa segar karena bisa tidur lebih cepat dan nyenyak. Dia melihat ke samping bahwa suaminya masih tidur.
Jam berapa ini? Kalau saja ada jam dinding aku pasti akan tahu jam berapa sekarang. Orang jaman dulu masih memakai jam pasir. Aku mana paham yang begituan.
Ellen berusaha mengangkat tangan Aldrich yang masih melingkar di perutnya. Tetapi Aldrich semakin mengeratkan pelukannya. Pada akhirnya mau tidak Ellen terpaksa membangunkan Sang Raja.
"Yang mulia, maaf saya telah membangunkan anda. Bisakah anda geser sedikit? Saya ingin ke kamar mandi..."Ucap Ellen dengan pelan.
Aldrich pun membuka matanya sedikit dan melihat Ellen yang sudah bangun.
__ADS_1
"Kau mau kemana?"Tanya Aldrich dengan suara khas bangun tidur.
"Saya mau ke kamar mandi yang mulia..."
Akhirnya Aldrich mengangkat tangannya dan Ellen bernapas lega karena dia bisa bebas. Ellen segera berjalan ke kamar mandi. Sementara Aldrich memeriksa jam pasir di atas meja. Dia pun kembali memejamkan matanya masih merasa mengantuk sebab waktu masih menunjukkan jam setengah 5 pagi.
Ellen yang sudah keluar dari kamar mandi tidak ingin tidur lagi. Dia berjalan mengendap-endap untuk keluar.
Akhirnya Ellen berhasil keluar tanpa membangunkan suaminya.
Yes! Akhirnya aku bebas!
Ellen berlari dengan cepat masih dengan piyama tidurnya. Tadi malam dia memohon kepada suaminya untuk tidak memakai lingerie dan dia tidak menyangka bahwa Aldrich akan menuruti permintaannya.
Ellen melihat para pengawal dan para pelayan sudah pada sibuk menata istana mereka. Daripada nantinya mengganggu, Ellen berjalan menuju gazebo yang terletak di taman.
Saat sampai disana, Ellen langsung dikejutkan dengan Anna yang juga sedang berada di sana.
Ck, kenapa cewek itu malah disini sih...
Anna menyadari kedatangan Ellen dan dia melambaikan tangannya kepada Ellen.
"Halo Yang mulia permaisuri, selamat pagi. Anda kenapa bangun sepagi ini yang mulia?"Sapa Anna.
"Kau sendiri? Aku bangun pagi atau tidaknya itu bukan urusanmu."Balas Ellen ketus.
"Saya belakangan ini sulit tidur yang mulia. Saya juga tidak tahu kenapa. Ngomong-ngomong bagaimana hubungan anda dengan yang mulia raja? Apa dia memperlakukan anda dengan baik?"Tanya Anna seolah ingin memancing Ellen.
"Tentu saja. Aldrich memperlakukanku dengan sangat baik. Dia tidak pernah berkata kasar padaku dan dia...selalu meminta untuk bercinta kepadaku..."Jawab Ellen sambil tersenyum.
Anna merasa terkejut dengan jawaban Ellen. Dia merasa tidak percaya karena sifat Aldrich yang dia ketahui bukanlah seperti itu.
Berani sekali bocah ini. Dia juga berani menyebut Sang Raja dengan memanggil namanya saja...lihat saja nanti seberapa lama kau bisa membanggakan hal itu.
"Oh begitu yang mulia. Anda benar-benar beruntung. Semoga hidup kalian langgeng ya."Ucap Anna memilih mengalah.
"Iya, Terima kasih atas doamu Anna. Ngomong-ngomong bukankah seharusnya kau dijodohkan juga dengan Raja? Kenapa tidak menikah?"Tanya Ellen penasaran. Dia benar-benar risih melihat wanita single berkeliaran di istananya yang tanpa sengaja terlihat menggoda Sang Raja meskipun Ellen belum mencintai suaminya itu.
"Tunangan saya sudah meninggal Yang mulia. Kedua orang tua saya sudah berusaha mencari yang lain, tapi belum dapat. Jadi saya belum menikah sampai sekarang."Ucap Anna.
__ADS_1
"Oh benarkah? Kalau begitu kau seharusnya juga berusaha daripada harus menjadi perawan tua selamanya kan? Bukan datang ke istana ini dan berkeliaran di sekitar sini."Ucap Ellen dengan mulut tajam.
Wah, dia sudah mulai kurang ajar rupanya. Apa yang dikatakan Kath benar. Wanita ini tidak punya sopan santun...
"Saya juga sudah berusaha mencari kok. Itu bukan salah saya jika nantinya saya menikah dengan yang mulia Raja."Balas Anna.
"Lanjutkan bicaramu dan aku tidak akan segan-segan menyeretmu keluar dari istana ini."Ucap Ellen marah.
"Hahaha Yang mulia lucu sekali ya. Mungkin ini yang membuat Yang mulia raja belum bosan kepada Anda. Tapi sebaiknya Anda mempersiapkan diri jika suatu hari Yang mulia mulai merasa bosan kepada Anda."
"Heh, dia tidak akan pernah bosan kepadaku. Malah belakangan ini dia sangat manja kepadaku, kau tahu? Justru dia merasa bosan dengan wanita murahan yang selalu menggodanya."
Anna mengepal tangannya kuat. Dia ingin menghajar wanita kecil itu di hadapannya.
Jika aku bisa, Aku pasti sudah meremukkan tulangmu yang kecil itu!
"Permisi Yang mulia permaisuri dan Nona Anna, maaf telah mengganggu. Tapi yang mulia Raja memanggil anda yang mulia permaisuri."Ucap seorang pengawal yang menghampiri mereka berdua.
"Oh, baiklah. Aku akan segera datang. Kalau begitu aku pergi dulu untuk mengurus suamiku, Nona Anna. Permisi..."Ucap Ellen sambil mengangkat roknya tersenyum lalu berlalu pergi.
Anna kini amarahnya semakin memuncak. Dia mulai ingin membuat rencana jahat agar Ellen bisa celaka.
Rencanaku tidak boleh gagal! Aku harus menyingkirkan wanita itu! Argh!!
Ellen yang sudah sampai di kamar, melihat Aldrich yang masih duduk di atas ranjang. Dia masih baru bangun tidur dengan telanjang dada.
"Yang mulia memanggil saya?"Tanya Ellen.
"Darimana saja kau? Kau sekarang semakin berani ya melawan perintahku?"Tanya Aldrich marah.
"Ampun yang mulia, tadi saya hanya cari angin sebentar."Ucap Ellen mulai takut.
"Kenapa kau menemui Anna? Masih belum puas dengan pertanyaanmu itu?"Tanya Aldrich sudah tahu.
Sial, dia ternyata memata-mataiku.
"Tidak kok yang mulia. Saya hanya tidak sengaja bertemu dengannya di taman. Seharusnya yang mulia senang, sebab istri anda bisa akrab dengan teman yang mulia, iya kan?"Jawab Ellen.
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like 👍)
__ADS_1