
"Apa jangan-jangan Lydora hanyalah pemeran figuran? Benar, aku pasti memasuki jiwa seorang peran figuran saja. Buktinya aku sudah membaca novelnya dan tidak ada satupun nama Lydora yang muncul di ceritanya. Lalu kemana perginya jiwa Lydora yang asli? Tidak mungkin masuk ke dalam jiwaku yang sudah mati kan?"
"Eh, tapi bisa saja aku dibawa ke rumah sakit dan sedang tidak sadarkan diri. Duh, membuat kepalaku pusing saja!"Lydora terus bergumam dan sangat penasaran dengan apa yang dialaminya.
Tok, tok, tok. Ketukan pintu terdengar lagi. "Nona Lydora, ini saya Henny."Sahut pelayan Henny dari balik pintu.
"Ah, masuklah Henny."Sahut Lydora.
Henny pun membuka pintu kamar Lydora untuk memberitahu suatu hal.
"Saya kemari ingin memberitahukan kalau teman anda, Nona Luna datang berkunjung untuk menemui anda."Ucap Henny.
Luna? Oh, dia pasti teman si pemilik tubuh ini kan?
"Eh, baiklah. Dimana dia sekarang?"Tanya Lydora dengan nada biasa.
"Nona Luna sedang menunggu anda di teras depan Nona."Jawab Henny.
"Baiklah, tolong antarkan aku kesana."Ucap Lydora.
"Baik, Nona."
Henny pun mengantar Lydora menuju teras depan. Di kesempatan itu, Lydora berusaha melihat dan mengingat jalan yang harus dilewatinya agar dia tidak tersesat.
Wah, tempat tinggal yang kutempati ini cukup luar biasa. Padahal ini masih kastil, belum istana. Tapi semuanya benar-benar mewah dan luas. Bagaimana aku bisa mengingat jalannya kalau begini?!
Setelah sampai di teras depan, Lydora bisa melihat ada seorang gadis cantik berpenampilan anggun sedang duduk dengan elegan. Rambut gadis itu berwarna biru dan matanya berwarna violet.
Gadis itu pun menoleh menyadari kedatangan Lydora.
"Selamat siang, Lydora!"Sapa Luna dengan ceria.
"Selamat siang juga...Luna."Balas Lydora sedikit gugup.
"Ayo silahkan duduk bersamaku. Harinya cerah dan aku berniat menemuimu. Dan yang utama, aku sudah dengar kalau kau akan dijodohkan dengan Pangeran Yohannes! Apa itu sungguh benar?!"
__ADS_1
"Haha, aku sendiri juga kaget dan tidak percaya. Tadi pagi orang tuaku baru saja membahasnya dan katanya aku disuruh untuk bertemu dengan Pangeran Yohannes dua hari lagi."Ucap Lydora canggung.
"Itu sebuah kesempatan besar untukmu! Yah meskipun Pangeran Yohannes jadi semakin dingin. Aku juga dengar kalau Pangeran Yohannes menolak semua perjodohan yang dibuat kedua orang tuanya. Dan aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Aku tahu kau sangat mengharapkan bisa berjodoh dengan Pangeran Yohannes, iya kan?"Ucap Luna.
Sepertinya Lydora sangat menyukai Pangeran Yohannes sehingga kedua orang tuaku dan Luna mengatakan hal yang sama tentang keinginanku yang ingin berjodoh dengan Pangeran Yohannes.
"Aku tahu karena kau sudah sangat lama menyukai Pangeran Yohannes kira-kira dua tahun? Yah, pokoknya begitulah."
Apa? Sudah selama itu?! Bagaimana bisa dia tetap setia mempertahankan perasaannya selama dua tahun?! Apa dia tidak tahu jika Pangeran Yohannes mencintai wanita lain??
"Tapi kau juga tahu kalau Pangeran Yohannes masih setia dengan perasaannya kepada Ratu Ellenavier yang sudah menikah dengan Raja Aldrich."Ucap lagi Luna.
"Ya...aku tahu itu. Aku jadi merasa tidak percaya diri untuk bertemu dengan Pangeran Yohannes. Bukankah dia menolak semua wanita yang dijodohkan dengannya? Dia pasti akan menolakku juga. Ratu Ellenavier sangat cantik dan jauh berbeda dariku. Jika aku tetap merasa percaya diri, dia tentunya akan semakin membenciku."Ucap Lydora merendah diri.
Luna menatap Lydora dengan kaget.
"Hei, ada apa denganmu hari ini Lydora? Kenapa tiba-tiba kau jadi lesu begini? Dimana Lydora yang bersemangat yang selalu aku kenal?"Tanya Luna.
"Aku...sudah tahu jawabannya. Jika aku datang kesana, hatiku akan menjadi lebih sakit. Aku yakin sekali jika Pangeran Yohannes akan menolakku."Ucap lagi Lydora.
Lydora menjadi tersentuh dan dia tidak menduga bahwa dia memiliki seorang teman yang sangat pengertian. Tapi dia khawatir jika sahabatnya itu suatu hari akan mengkhianatinya.
Setelah berbincang-bincang, mereka berdua berjalan-jalan mengitari taman yang dipenuhi dengan bunga mawar merah.
"Mau dilihat dari sisi manapun, kastil Sylvainn milik kalian ini tetap terlihat indah. Aku jadi ingin berkunjung setiap hari demi untuk melihat pemandangan secantik ini."Puji Luna mengenai kastil Sylvainn.
Lydora hanya diam saja dan dia juga berpikir hal yang sama kalau kastil miliknya sangat indah. Dia yakin sekali tanaman mawar yang ada di kebun mereka itu menggambarkan sosok Lydora karena Lydora memiliki rambut berwarna merah.
"Umm, Luna. Menurutmu bagaimana sifatku ini? Aku...hanya ingin meminta pendapatmu."Tanya Lydora memberanikan diri.
"Apa? Kenapa tiba-tiba?"Tanya balik Luna terkejut.
"Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja, hehe..."Ucap Lydora sambil cengengesan.
"Hmm, aku akan jujur saja padamu. Sifatmu itu kekanakan, cepat mudah marah dan kurang peduli dengan hal sekitarmu."Jawab Luna.
__ADS_1
Jleb, perkataan Luna tentang pendapatnya menilai Lydora, benar-benar menusuk. Lydora baru bisa percaya karena pola hidupnya yang sudah terbiasa serba mewah dan keinginannya selalu terkabul.
"Oh begitu? Aku...sudah menduganya sih."Ucap Lydora.
"Tapi selain itu, kau juga memiliki sisi yang baik kok. Hatimu tulus dan kau juga setia dan pemberani. Kau tidak mudah takut pada apapun kecuali dengan serangga."Ucap Luna.
"Eh...begitukah?"
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Aku lihat hari ini kau tampak tidak seperti biasa. Kau menjadi pendiam. Biasanya kau kan selalu berbicara duluan daripada aku."Ucap Luna menatap Lydora dengan curiga.
"Eh, aku...hanya merasa tidak begitu bersemangat hari ini..."Ucap Lydora berbohong.
"Eh? Memangnya apa yang terjadi padamu? Cepat bilang padaku!"Ucap Luna terlihat khawatir.
"B-bukan hal yang gawat kok! Tadi pagi saat aku bangun tidur, aku mendapati mimpi buruk. Itu saja...aku hanya masih kepikiran dengan mimpi yang kualami tadi."Ucap Lydora menjadi panik.
"Memangnya kau mimpi apa? Bisa ceritakan padaku?"Tanya lagi Luna penasaran.
Aduh!
Lydora menghela napasnya. Mau tidak mau dia terpaksa mengarang agar temannya itu bisa percaya dan tidak mencurigainya lagi.
"Wah, mimpimu itu benar-benar buruk! Aku sampai merinding mendengarnya. Untung saja itu hanya mimpi."Ucap Luna setelah Lydora selesai mengarang tentang mimpinya.
"Iya, untung saja..."
Malam harinya, Lydora rebahan lagi sambil menatap langit-langit kamarnya setelah selesai makan malam.
Kata Luna, aku adalah gadis yang memiliki sifat kekanakan dan pemarah. Pantas saja para pelayan menatapku sedikit takut. Kurasa sifat Lydora memang suka marah-marah dan mungkin sifatnya kasar ya? Luna tidak bilang begitu karena dia pasti menjaga perasaanku.
"Aduh, dua hari lagi adalah pertemuanku dengan Pangeran Yohannes! Bagaimana ini?! Jika bisa, aku ingin menolaknya sebelum Pangeran Yohannes daripada aku jadi tontonan memalukan nantinya...tapi semuanya sudah terlambat. Kenapa Lydora sangat menyukai Pangeran Yohannes dan bisa mempertahankan perasaannya selama dua tahun ini? Jika itu aku, aku tidak akan sanggup."
Siapapun tolong aku, setidaknya berikan petunjuk dong!
Dua hari kemudian adalah pertemuan Lydora dengan Pangeran Yohannes. Bagaimana kelanjutannya?
__ADS_1
Next...