
Semenjak Sang Raja menanyakan tentang kehamilannya, wanita itu hampir tidak bisa melepas pikirannya dan itu benar-benar membuatnya frustasi. Dia takut bernasib seperti ibu mertuanya. Berbagai kecemasan mulai datang menyelimutinya apalagi dia masih belum percaya jika Anna benar-benar sudah mati. Dia juga sempat berpikir jika jalan cerita yang dia jalani ini terlalu mudah daripada cerita aslinya.
Ellen jadi tampak tidak seperti biasanya. Masalah baru pasti akan datang dan jalan cerita tentunya mengikuti pilihannya. Ellen jadi semakin bingung. Dia bahkan belum tahu dengan jelas asal-usul penyihir yang dipercaya oleh dunia yang dimasukinya. Jangan-jangan penyihir itu yang malah memasukkannya ke dalam cerita? Atau apakah penyihir itu si penulisnya? Entahlah, Ellen tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini.
Dia juga jadi merasa tidak puas karena tokoh utama wanita kedua mati begitu saja. Pada akhirnya kerja keras untuk balas dendam sia-sia saja baginya.
Keesokan harinya adalah peringatan kematian Anna. Semua orang tentu sangat syok mendengar berita kemalangan itu. Seperti baru kemarin mereka bertemu dengan gadis yang selalu ceria yang biasa mereka kenal. Semua orang menangis dan mereka semakin membenci Ellen karena pihak kerajaan belum memberi klarifikasi.
Belum lagi keluarga Fernandez yang sepertinya mulai ingin mengajak perang karena putri mereka sudah tiada.
Sementara itu Katherine yang sudah siuman mengenakan gaun hitamnya. Dia sedikit hilang ingatan tentang kejadian yang di laluinya semalam. Tapi yang masih segar dalam ingatannya adalah Anna yang hendak mencelakainya dan hari ini malah hari kematian wanita itu.
Katherine sangat takut untuk melangkah keluar dari kamarnya. Di balik pintu, semua orang ricuh karena sibuk membicarakan tentang Anna. Banyak orang berkumpul untuk menanyakan hal yang terjadi apalagi adanya keributan dari keluarga Fernandez. Belum lagi permasalahannya dengan Ellen dan kakaknya belum selesai.
Tok, tok, tok. Ravin mengetuk pintu sang putri bermaksud memanggilnya. "Tuan putri Katherine, anda di panggil yang mulia Raja. Sebaiknya anda cepat karena yang mulia Raja sudah menunggu anda."
Deg, Katherine bergetar saat kakaknya memerintahkan untuk mendatanginya. Tapi dia tidak boleh seperti ini terus-menerus. Kath menghela napas panjang berusaha menenangkan diri.
Cklek, Kath akhirnya membuka pintu. Dia melihat pengawal terdekat kakaknya yang ingin menjemput.
"Mari saya antar tuan putri."Ucap Ravin.
Katherine hanya berjalan sesuai permintaan Ravin dan mengikuti pria tinggi itu dibalik punggung. Kath sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.
Sesampai disana, sesuai dugaan suasananya benar-benar buruk. Kath langsung jadi sorotan orang-orang yang berkumpul disana termasuk Ratu Irene, Ellen dan Aldrich. Seketika Kath berjalan menunduk merasa tidak sanggup untuk menatap orang-orang itu satu-persatu.
"Bagaimana keadaan anda Tuan putri?"Tanya Ellen dengan biasa.
__ADS_1
Katherine sedikit tersentak mendengar Ellen bertanya kepadanya. "Aku...sudah lebih baik."Ucap Kath pelan masih dengan menunduk.
"Kath, sebaiknya kau jelaskan semuanya sekarang sebelum suasananya semakin buruk."Kali ini Ratu Irene yang berkata.
Kath pun berjalan sedikit menjauh dari orang-orang agar mereka bisa mendengar apa yang Kath sampaikan. Seketika semua orang menunggu penjelasan dari sang putri.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Pertama-tama saya ingin meminta maaf dengan apa yang saya perbuat kemarin. Tentang rumor Permaisuri Ellen, itu semua tidak benar. Saya memalsukan semua fakta. Sesungguhnya Kak Anna yang menyuruh saya tentang ide itu."Ucap Kath dan semua orang melongo.
"Bagaimana bisa kau berkata jika rumor palsu itu kakakku yang mengusulkannya?"Sahut seorang pria yang perawakannya mirip dengan Anna. Dia adalah James, adik Anna yang ketiga.
"Itu...aku mengatakan yang sebenarnya! Terserah kalian semua percaya atau tidak, aku sudah mengatakannya. Dia mencintai kak Rich, jadi dia rela melakukan hal ini untuk menyingkirkan Permaisuri Ellen."Jawab Kath.
"Dan aku minta maaf sebesar-besarnya kepada kalian semua, karena Kak Anna sudah tiada. Aku juga tidak sangka jika Kak Anna benaran sudah mati. Tapi dia kemarin itu hampir mau membunuhku!"
Kath pun mulai menceritakan kejadian kemarin dan semua orang hanya geleng-geleng mendengar cerita tragis itu. Mereka tampaknya percaya karena air muka Kath terlihat jujur saat menjelaskannya.
"Jadi siapa yang telah membunuh kakakku?"Tanya lagi James.
James pun berjalan mendekati Ravin dengan wajah penuh dendam dan emosi. Ravin tampak biasa saja menghadapi tuan muda itu.
Dan Bugh! James meninju wajah tampan Ravin. Semua orang tentunya menjadi panik.
"Kau beraninya telah membunuh kakakku! Bisanya kau mengatakannya dengan wajah seperti itu hah!"
"James, cukup! Jangan bertengkar di hari kematian kakak kita!"Ucap Yuna adik kedua Anna berusaha menenangkan adiknya.
"Aku tidak bisa menerimanya! Apa kau tidak marah jika kakak kita mati dibunuh olehnya?!"Ucap James.
__ADS_1
"Itu semua salah kakakmu. Kau harusnya mengerti kalau dia ingin mencelakai adikku! Jika kami membiarkan Nona Anna, dia pasti sudah menjatuhkan Kath ke jurang! Dan belum lagi dia akan selalu berbuat kejahatan untuk menyingkirkanku!"Kali ini Ellen yang menyambung.
"Heh, seharusnya kau memang tidak perlu ada. Ini semua gara-gara kau kan? Jika kau tidak menikah dengan yang mulia Raja, mungkin kisah kakakku akan happy ending."Ucap James.
Ellen pun terdiam.
"Kali ini tampaknya aku yang harus gantian untuk balas dendam. Kakakku sudah mengorbankan cintanya kepada pria tidak berperasaan dan tambah lagi adanya kau."Ucap James kemudian mendekati Ellen.
Sang Raja langsung membenci James. Mereka dari dulu memang tidak begitu akrab dan James sendiri hampir tidak pernah mengunjungi kerajaan mereka.
James mulai menyerang Ellen dengan merebut pedang dari salah satu pengawal yang ada disana. Sang Raja dan semua orang yang ada disana reflek ingin menyelamatkan wanita itu.
Pikirannya mulai gelap karena ingin balas dendam yang begitu kuat. Dengan kehebatan yang dimiliki Ellen, wanita itu menghindar dengan cepat. James terus-menerus ingin membelah kepala wanita itu menggunakan pedangnya.
"Cukup!"Teriak Aldrich dengan cepat menghampiri kedua orang itu. Aldrich secepat kilat membuat James terlentang dan pedangnya yang terlempar jauh. Aldrich memijak perut James yang sedang terbaring.
"Kau berani sekali membuat keributan disini huh? Apa kau kurang puas karena tidak bisa melihat mayat kakakmu? Haruskah aku membuka petinya agar kau bisa memeluk kakakmu yang bodoh itu?"Ucap Aldrich dengan wajah yang sudah tegang.
"Yang mulia...!"Ellen sendiri mulai panik.
"James...! Yang mulia Raja saya mohon jangan bunuh dia...kami sudah kehilangan kakak kami...hu..hu.."Rengek Yuna yang begitu ketakutan.
James tidak bisa bicara karena napasnya yang ditekan kuat oleh kaki Sang Raja.
"Tapi dia sudah berani sekali ingin mencelakai istriku. Aku tentunya tidak bisa membiarkannya begitu saja."Jawab Aldrich.
"Yang mulia...saya mohon jangan bunuh dia. Anda bisa memenjarakan anak itu. Dia wajar seperti itu karena kakaknya..."Ellen memohon.
__ADS_1
Aldrich terdiam sejenak. Lagi-lagi dia terpaksa menuruti permintaan istrinya yang aneh. Belakangan ini dia terlalu sering menuruti permintaan istrinya tanpa alasan yang masuk akal.
Bersambung. (Hai, bagi yang sudah baca. Saya boleh minta tolong nggak untuk bagikan novel saya supaya minat pembaca semakin banyak? Jika ada yang mau, saya akan sangat berterima kasih dan berusaha meng up cerita lebih banyak dan lebih bagus 😊🙏)