Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 62 (Di revisi)


__ADS_3

"Dia menggambarku?! Kenapa? Kapan dia menggambarku?"Gumam Ellen kaget saat melihat gambarnya di buku diary milik Aldrich.


Cklek, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu untuk masuk. Ellen merasa kaget dan reflek menyembunyikan buku itu dibalik gaunnya.


"Sedang apa kau?"Tanya Aldrich yang ternyata masuk ke kamar.


"Ah, aku sedang tiduran saja...kamu sendiri kenapa naik ke atas? Bukankah acaranya masih lama?"Tanya Ellen sedikit panik.


"Ck, aku malas sekali harus menyapa setiap tamu yang datang melewatiku. Aku capek!"Keluh Aldrich.


"Kalau begitu kau bisa istirahat sebentar disini. Tidak apa-apa kah meninggalkan tamu-tamu yang ada di bawah?"Tanya Ellen.


"Tidak masalah. Aku juga tidak ada gunanya berdiri di sana sepanjang waktu."Ucap Aldrich kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Mau aku pijitin?"Tanya Ellen.


Aldrich mengangguk. Ellen mulai memijit kaki Aldrich.


"Tadi kau sedang membaca kan?"Tanya Aldrich yang membuat Ellen kaget.


Aish, dia kok tahu saja sih kalau aku sedang membaca!


"Ah, iya..."Ucap Ellen memilih jujur.


"Memangnya kau sedang membaca apa? Katakan dengan jujur padaku. Baru kali ini aku melihatmu membaca, dan lagi kau pasti membaca bukuku kan?"Tanya Aldrich.


Kau sengaja ya? Bilang saja kalau aku ketahuan baca buku diarymu!


"Itu benar sayang. Aku merasa bosan di kamar karena tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku baru sadar jika di rak kamarmu ada beberapa buku jadi aku membacanya...dan maaf sebelumnya, aku sepertinya...tidak sengaja membaca buku pribadimu. Aku tidak tahu karena kukira itu buku biasa..."Ucap Ellen mengaku.


"Maksudmu buku coklat tua itu? Heh, itu bukan buku pribadi. Hanya buku tidak penting. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku membukanya."Ucap Aldrich.


Entah kenapa itu membuat hati Ellen terasa sedikit sakit mendengarnya karena dia pikir ada coretan gambarnya di buku itu.


"Oh, tidak penting ya...baguslah. Kukira itu buku pribadimu..."Ucap Ellen langsung moodnya turun dan dia berhenti memijit Aldrich.


"Kenapa kau berhenti memijit? Belum ada 5 menit kau memijit kakiku."Ucap Aldrich.


"Ah maaf sayang, aku tadi sedang kepikiran sesuatu."Ucap Ellen kemudian dia mulai memijit kembali dengan tenaga sedikit kuat.


"Aduh! Kau kenapa memijitnya kuat sekali? Apa kau marah padaku?"Tanya Aldrich yang cukup peka.

__ADS_1


"Tidak kok. Aku tidak marah..."


Aldrich kemudian merubah posisinya jadi duduk dan menghadap Ellen.


"Apa kau marah karena buku tadi yang kuanggap tidak penting?"Tanya Aldrich.


Seketika Ellen semakin cemberut dan tidak menatap ke arahnya. Aldrich tersenyum.


Seru sekali ya menjahili istriku seperti ini...ternyata dia marah hanya karena buku itu. Dia pasti sudah melihat gambarnya.


"Mana bukunya? Sini berikan padaku."Tanya Aldrich.


Ellen kemudian mengeluarkan buku itu dari dalam rok gaunnya yang membuat Aldrich terkejut.


"Jadi selama ini kau menyembunyikan bukuku di dalam gaunmu?"Tanya Aldrich tersenyum penuh makna.


Seketika wajah Ellen merona."Baru tadi kok karena aku reflek menyembunyikannya! Aku kaget dan takut kalau kau marah aku membaca bukumu..."Ucap Ellen.


"Lihat, aku sebenarnya sudah lama menggambarnya."Ucap Aldrich sambil menunjukkan gambar yang di coretnya.


"Aku menggambarnya saat usiaku 19 tahun."Ucap Aldrich yang membuat Ellen membelalakkan matanya.


"Kita pernah tidak sengaja berpapasan sebelumnya. Kau tidak menyadari aku yang melewatimu dan kau juga belum tahu jika aku pria yang dijodohkan denganmu waktu itu. Kita bertemu di jalan sama-sama dengan kereta kuda. Aku tidak sengaja melihatmu yang sedang melihat keluar jendela dan aku saat itu pun melihatmu."Ucap Aldrich.


"Oh..."


Pantas saja aku terlihat familiar dengan gambarnya...ini terlihat aku sedang menatap keluar jendela.


"Apa...aku boleh tahu kenapa kamu menggambar diriku waktu itu"Tanya Ellen penasaran.


"Hanya iseng saja."Jawab Aldrich singkat.


"Aku baru tahu jika kau bisa menggambar sebagus itu..."Ucap Ellen cukup merasa kagum dengan bakat yang dimiliki Aldrich.


"Sebenarnya itu hobiku sejak kecil. Aku suka menggambar hal-hal yang menurutku menarik."Ucap Aldrich.


"Oh baguslah. Hobimu itu juga bakat yang sangat keren. Aku tidak pernah menyangka jika kau menggambarku. Kukira kau membenciku..."Ucap Ellen.


Aldrich tersentak dengan perkataan istrinya.


"Kau bicara apa? Aku tidak pernah bilang kalau aku membencimu."Ucap Aldrich. Dia kemudian beranjak dari ranjang hendak keluar kamar.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?"Tanya Ellen yang melihat Aldrich yang hendak keluar."


"Ada hal yang harus aku kerjakan."Ucap Aldrich singkat kemudian pergi keluar.


Entah kenapa Aldrich sedikit sedih dengan perkataan istrinya barusan. Dia menyadari sikapnya yang memang tidak pernah bagus di hadapan istrinya selama ini. Pertama kali bertemu pun dia bersikap tidak ada lembut-lembutnya yang mungkin saja membuat wanita kecil itu sakit hati.


Tetapi dia memutuskan untuk tidak merubah sikapnya yang sudah dikenal semua orang. Dia tetap akan bersikap baik dan peduli dengan seseorang yang disayangnya dengan caranya sendiri.


Sementara Ellen yang berada di kamar menjadi bengong.


Jadi selama ini dia tidak membenciku? Kupikir dia benci padaku karena sikapnya sangat dingin terhadapku waktu itu. Tapi sekarang dia sudah mulai terbuka padaku. Setidaknya aku bersyukur dia sepertinya mulai membuka hatinya untukku...


Ellen seketika merasa senang. Dia kemudian memandang gambarnya lagi dibuku itu sambil senyum-senyum.


Bolehkah aku mengambil gambar ini lalu di pasang dengan bingkai dan ditempelkan ke dinding kamar? Rasanya aku ingin memandangnya setiap hari...


Malamnya, pestanya telah berakhir. Ellen yang berada di kamar sempat menunggu suaminya untuk masuk.


Kenapa dia belum masuk ya?


Sementara sang Raja saat ini sedang di ruang kerjanya. Dia masih memikirkan ucapan Ellen yang membuatnya merasa bersalah.


"Yang mulia, anda belum ingin pergi istirahat?"Tanya Ravin yang saat ini bersamanya.


"Sebentar lagi. Ravin, jika aku tanya, menurutmu sikapku selama ini kepadamu bagaimana? Aku minta kau katakan dengan jujur. Aku hanya ingin meminta pendapatmu saja."Tanya Aldrich tiba-tiba.


Eh? Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba yang mulia Raja meminta pendapatku?


"Ah...kalau saya katakan dengan jujur, anda sebenarnya cukup baik, teliti dan peduli yang mulia. Anda hanya kurang saat menunjukkan ekspresi anda. Tapi saya bisa paham dengan sikap yang Anda tunjukkan, jadi anda tidak perlu khawatir dengan hal itu."Ucap Ravin.


"Jadi ekspresiku ya...Ellen juga bilang begitu padaku. Aku tahu kalau aku memang sulit mengekspresikan sesuatu yang ingin aku tunjukkan. Aku tidak bisa melakukannya karena menurutku itu aneh dan sudah jadi kebiasaan."Ucap Aldrich jadi sedih.


"Tidak apa-apa yang mulia. Anda tidak perlu memaksakan sesuatu hal yang menurut anda sulit. Anda harus jadi diri anda sendiri. Saya yakin yang mulia permaisuri Ellen juga lama-lama akan mengerti dan memakluminya."Ucap Ravin berusaha menyemangati sang Raja.


"Begitu. Baiklah, terima kasih atas pendapatmu. Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku."Ucap Aldrich kemudian pergi.


"Dengan senang hati yang mulia. Selamat beristirahat."Ucap Ravin.


Aku tidak salah dengar kan? Yang mulia Raja berterima kasih padaku!


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa Like ya 👍)

__ADS_1


__ADS_2