
Aldrich terdiam sejenak. Dia sebenarnya penasaran apa yang ada dipikirkan istrinya itu. "Terserah kau saja."Ucap Aldrich malas kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
Ellen pun menghela napasnya lega sebab dia merasa lelah karena sudah berdebat dengan Anna. Jika dia sampai berdebat lagi dengan raja, mungkin dia bakal jadi stress.
Di ruang makan, seperti biasa mereka sekeluarga menikmati sarapan mereka. Katherine kali ini tidak mengajak Ellen bertengkar lagi namun matanya masih melotot tidak suka kepadanya.
Ellen memerhatikan satu-persatu orang-orang yang ikut makan di meja. Sang Ratu sibuk dengan makanannya. Dia terlihat menghindari Sang menantu dan itu membuat Ellen heran. Ellen dibuat kesal dengan Anna yang terus memperhatikan Aldrich yang sedang makan. Dan anehnya Ellen merasa bersyukur karena Aldrich tidak memandang wanita itu sama sekali dan hanya fokus pada makanannya saja.
Selesai makan, Ellen berencana mengobrol dengan Sang Ratu. Selama menikah dia belum ada kesempatan untuk berbicara empat mata dengan mertuanya itu.
"Yang mulia baginda Ratu, bisakah kita bicara sebentar? Saya belum sempat ada berbicara dengan yang mulia baginda Ratu selama menikah."Tanya Ellen dan semua orang yang masih berada di meja makan, melihat ke arahnya.
"Kau tidak ikut suamimu?"Tanya Ratu Irene.
"Yang mulia, bisakah saya berbicara dengan Yang mulia Ratu dulu? Nanti saya akan menyusul anda."Ellen meminta izin kepada suaminya itu.
Aldrich hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Dia pun pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Katherine sudah mulai berani untuk mengajak ribut lagi karena kakaknya sudah pergi.
"Ada perlu apa kau bicara dengan ibuku? Apa kau mau mengelabuinya? Iya kan? Kau pasti mau membuat rencana jahat!"Ucap Katherine dengan pikiran kotornya.
"Buat apa saya melakukan hal yang dapat merugikan saya putri? Jangan bicara omong kosong. Sebaiknya anda pergi belajar saja sana."Ucap Ellen.
"Grrr...lihat saja kau nanti Ellen, aku akan segera membongkar sifat burukmu itu!"Ucap Katherine mengancam.
"Sebar saja putri. saya tidak takut dan tidak mempermasalahkannya. Lakukan saja yang membuat Anda senang untuk mencelakai saya karena saya yakin anda tidak akan berhasil melakukannya."Ucap Ellen tersenyum.
"Hah! Sombong sekali kau! Lihat saja, akan kubuktikan!"
__ADS_1
"Katherine, cukup! Ayo ikut aku."Ucap Ratu Irene kepada Ellen.
"Baik yang mulia."
Setelah Ratu Irene dan Ellen pergi, Anna membisikkan sesuatu ke arah telinga Katherine.
"Psst Tuan putri, saya punya rencana yang bagus untuk anda."Ucap Anna.
"Apa?"Tanya Katherine.
"Kita harus jalan ke kota hari ini dan menyebarkan fakta kepada semua penduduk bahwa yang mulia permaisuri memiliki sifat yang buruk. Dia tidak memiliki sopan santun ataupun pengetahuan tentang menjalankan pekerjaannya."
"Wah, benar juga ya. Para penduduk akan langsung percaya jika aku yang bicara langsung. Mereka pasti akan mendemo lalu menjelek-jelekkan Ellen. Setelah itu kakak pasti akan menceraikannya."Ucap Katherine tersenyum licik.
Sementara di ruang tengah tempat dimana keluarga istana semua berkumpul untuk beristirahat di ruangan itu, dua wanita itu duduk di sana.
"Wah, Apa anda sangat tidak menyukai saya sehingga anda ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan ini?"Tanya Ellen.
"Tidak, bukan begitu. Kau kan harus menemani suamimu disana."Ucap Ratu Irene beralasan.
"Sebentar saja tidak masalah Yang mulia baginda Ratu. Lagipula saya tadi sudah meminta izin dengan yang mulia Raja kan? Saya hanya ingin tahu mengapa anda setuju dengan perjodohan putra anda dengan saya? Padahal Nona Anna juga ada. Terus, anda sepertinya tidak menyukai saya iya kan?"
Ratu Irene terdiam sejenak. Seketika dia merasa kagum dengan menantunya yang suka berbicara to the point tanpa basa-basi. Belum lagi kepercayaan diri dan keberaniannya yang tinggi. Dia bahkan tidak takut menghadapi putranya yang memiliki temperamen buruk. Padahal dia sendiri juga takut menghadapi putranya itu.
"Jangan salah paham. Aku bukannya tidak menyukaimu. Aku hanya...khawatir. Bukankah wajar seorang ibu mengkhawatirkan putranya? Aku sedikit sulit untuk menjelaskannya. Kau memang cantik. Bahkan lebih cantik daripada Anna. Tapi sifatmu sangat berbeda dengan wanita bangsawan yang lainnya. Karena itu aku jadi ragu dan mengawasimu."Jawab Ratu Irene.
"Oh...begitu ya Yang mulia. Saya kira selama ini anda membenci saya. Maaf jika saya menunjukkan sifat pecicilan seperti yang anda lihat. Sebenarnya saya begini hanya untuk melindungi diri saya. Saya hanya tidak suka terlalu dituntut. Saya menyukai kebebasan. Saya akan langsung mengatakan menyukainya atau tidak secara berterus terang. Saya hanya...tidak suka adanya kepalsuan."Ucap Ellen.
Ratu Irene hanya bisa tercengang mendengar perkataan Ellen. Tak lama ia pun tersenyum.
__ADS_1
"Heh, ternyata aku tidak salah memilihmu menjadi istri putraku. Kau lebih bisa diandalkan daripada Anna."Ucap Ratu Irene.
"Anda serius? Tapi...bukankah anda terlihat ramah kepada Nona Anna? Saya pikir anda lebih menyukainya?"Tanya Ellen tidak percaya.
"Beginilah jika kau mengetahui kepribadianku. Aku sulit ditebak dan aku merasa bangga. Aku tidak mau menjodohkan Anna dengan putraku karena dia tidak bisa diandalkan. Seperti yang kau lihat, dia hanya sibuk mempercantik diri. Sementara kau, kau tidak peduli sama sekali tentang penampilan. Bahkan tadi pagi aku melihatmu keluyuran masih dengan piyamamu dan rambutmu yang berantakan."
"Ah, jadi anda tadi melihatnya? Kenapa saya tidak ada lihat anda?"Tanya Ellen kaget sekaligus malu.
"Aku baru bangun dan ingin menghirup udara segar. Aku sedang berdiri di atas balkon. Kau tidak ada lihat ke atas, jadi kau tidak tahu."Ucap Ratu Irene.
"Jadi...anda tahu saya mengobrol dengan Nona Anna?" Tanya Ellen.
"Iya aku tahu. Tapi aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Aku hanya melihat jika sepertinya kalian sedang adu mulut."
"Haha iya, kami memang sedang adu mulut. Tetapi yang mulia tidak perlu memikirkannya karena itu tidak penting. Saya merasa sangat berterima kasih karena yang mulia tidak membenci saya."Ucap Ellen merasa terharu.
"Iya, aku jadi menyukaimu karena sifatmu itu. Semoga kau tetap mempertahankannya. Dan...mulai sekarang, jangan panggil aku yang mulia ratu lagi. Panggil aku ibu."Pinta Ratu Irene tersenyum.
Ellen merasa sangat terharu. Dan sepertinya dia baru sadar jika perubahan sikapnya akan berpengaruh besar kepada orang-orang yang menilainya. "Baik ibu. Saya merasa terhormat karena ibu sudah mau menerima saya."Ucap Ellen menunduk.
"Kau tidak perlu sampai menunduk. Kapan-kapan jika punya waktu, kita akan mengobrol lagi seperti ini. Dan aku minta maaf sebelumnya dengan sikapku yang membuatmu salah paham. Belum lagi Katherine yang selalu bersikap tidak sopan kepadamu."Ucap Ratu Irene merasa bersalah.
"Anda tidak perlu minta maaf ibu. Saya tidak apa-apa. Saya akan membuat Katherine bisa menyukai saya. Anda tenang saja."Ucap Ellen meyakinkan.
Ratu Irene hanya tersenyum. "Kalau begitu kamu susul lah suamimu. Dia pasti sudah menunggumu dari tadi. Aku merasa bersyukur karena tampaknya putraku mulai menyukaimu."Ucap Ratu Irene.
Seketika pipi Ellen merona. "Ah ibu bisa saja. Ya sudah saya akan mendatangi yang mulia raja. Saya permisi ibu."Ucap Ellen kemudian pergi.
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. jangan lupa tekan tombol like 👍)
__ADS_1