
Setelah suasananya sedikit tenang, Ellen malah kebanyakan melamun. Seharian ini dia tidak melakukan apa-apa dan terus mengingat kejadian saat dia di alam bawah sadarnya. Dia merasa tadi itu hanyalah mimpi buruk.
"Bagaimana aku bisa mati? Apa semenjak aku memasuki tubuh ini? Lalu kenapa aku yang harus menggantikan perannya? Kenapa harus memilihku dan mengorbankan tubuhku?! Apapun itu, dia benar-benar jahat!"Gumam Ellen merasa benci dengan semuanya. Untungnya hanya dia sendirian di kamar dan dia masih frustasi dengan semua apa yang di alaminya.
Tok, tok tok, Kath mengetuk pintu kamar Ellen berniat untuk melihat keadaannya.
"Kak, ini aku. Boleh aku masuk?"Tanya Kath.
"Masuk saja tuan putri."Sahut Ellen.
Kath pun masuk dan dia sedih saat menatap wajah kakak iparnya yang terlihat kusut. Dia belum pernah melihat sisi Ellen yang seperti ini.
"Kak, katakan saja jika kau punya masalah. Kami siap membantumu."Ucap Kath cemas.
"Saya tidak apa putri. Pikiran saya hanya berantakan sedikit. Jika saya menjelaskannya, kalian semua juga tidak bakalan paham. Jadi, tuan putri tidak perlu mencemaskannya. Sebentar lagi saya juga akan baik-baik saja."Ucap Ellen tersenyum.
Kath hanya terdiam. Mendengar perkataan Ellen bukan malah membuatnya tenang tetapi malah semakin sedih. Dia pun memeluk Ellen ikut merasakan kesedihan itu.
"Kak, meskipun aku tidak tahu apa yang sudah kau lalui, tapi aku tetap mendukungmu. Kau sudah menjadi kakak keduaku. Kau juga sedang hamil adik keponakanku. Aku hanya berharap kau bahagia..."Ucap Kath.
"Saya memang sudah bahagia tuan putri. Saya bahagia karena memiliki keluarga yang begitu perhatian. Saya juga tidak hidup susah. Semua orang memperlakukan saya dengan sangat baik. Seharusnya saya yang banyak berterima kasih kepada kalian..."Ucap Ellen merasakan kehangatan dari Kath.
"Kakak yakin tidak ada yang membebani pikiranmu?"Tanya lagi Kath.
Ellen menggeleng. "Iya tidak ada. Maaf saya sudah membuat kalian khawatir. Saat bangun tadi saya hanya mengalami mimpi buruk. Sekarang semuanya sudah baik-baik saja."Jawab Ellen.
"Oh baiklah jika memang begitu."Ucap Kath.
"Jadi bayi kita sehat-sehat saja kan selama saya pingsan?"Tanya Ellen.
"Bagaikan keajaiban. Bayi kita sehat-sehat saja dan dokter Theo selalu memeriksamu tiap waktu. Untungnya mungkin karena suntikan makanan ke tubuhmu agar bayi kita tetap bisa makan."Ucap Kath yang membuat Ellen terkejut.
"Suntikan makanan?! Di zaman ini benda itu sudah ada?"
__ADS_1
"Eh tentu saja, di negara ini mana sih yang belum ada."Ucap Kath membanggakan negaranya yang sudah cukup maju.
"Oh begitu..."Ellen jadi canggung.
"Lalu...pesta kemarin? Apa ada masalah? Tidak apa-apa jika memang begitu, putri harus memberitahu semuanya kepadaku!"Ucap Ellen.
Kath terdiam. Raut wajahnya berubah menjadi sedih lagi.
"Iya sedikit. Waktu kakak pingsan, pangeran Yohannes yang menggendongmu pertama kali karena kau pingsan dihadapannya."Ucap Kath.
Sial, sudah kuduga. Kenapa juga harus pingsan di depannya segala sih waktu itu?!
"Dan lagi Kak Rich memang sempat marah dengan pangeran yang menggendongmu, akhirnya dia yang memaksa menggendongmu dan membawamu ke kamar. Setelah itu kudengar ada sedikit pertengkaran antara mereka berdua. Sayangnya aku tidak bisa mendengar begitu jelas karena suasananya yang lagi ricuh saat itu. Habis itu kak Rich membatalkan pestanya dan mengusir para tamu untuk pulang. Lalu esoknya para tamu bangsawan terus membicarakan tentang kakak dan rumor terus menyebar sampai sekarang. Sampai saat ini suasana di luar agak menyeramkan."Ucap Kath.
Heh, Lagi-lagi rumor yang tidak bermanfaat....Yah, ini memang salahku waktu itu. Orang-orang tentunya merasa tersinggung karena mereka baru saja merasakan bersenang-senang dan aku malah mengacaukan semuanya.
"Ah, jadi begitu ya...saya rasa saya harus memberi mereka klarifikasinya lagi."Ucap Ellen.
"Buat apa? Pihak kerajaan sudah memberitahu mereka tentang kondisi kakak. Kau tidak perlu memikirkannya lagi. Mereka hanya tersinggung, itu saja. Kalau mereka punya hati, mereka pasti akan membiarkan kejadian ini berlalu."Ucap Kath.
Kayaknya aku tetap harus minta maaf deh. Tidak sopan jika seorang permaisuri sepertiku diam-diam saja tanpa berkata apapun mengenai kejadian kemarin. Mereka juga pasti ingin mendengar langsung dariku kan?
Malamnya, sang Raja masuk ke kamar dan melihat Ellen yang sedang berbaring.
"Ellen, bagaimana kondisimu?"Tanya Aldrich.
"Aku baik-baik saja. Sayang, tadi putri Kath sudah menceritakan kejadian pesta kemarin. Pestanya pasti kacau sekali ya gara-gara aku? Semua orang panik dan sampai bertengkar..."Ucap Ellen masih merasa bersalah.
"Kau mau ku sentil lagi?"
Ellen menggeleng takut.
"Kalau begitu kau sebaiknya diam saja. Tentang kejadian kemarin semuanya sudah diurus. Kau hanya perlu mengurus kondisimu dan anakku saja."Ucap Aldrich.
__ADS_1
"iya baiklah, maafkan aku lagi tentang yang kemarin. Waktu itu aku tidak bermaksud menemui pangeran Yohannes. Aku malah tidak sengaja bertemu dengannya. Dan bodohnya aku malah jatuh pingsan di hadapannya. Aku minta maaf..."Ucap Ellen.
"Jadi kau masih ingat kejadian kemarin huh?"Tanya Aldrich menjadi kesal.
"Tidak, tidak! Putri Kath tadi yang memberitahuku! Tolong jangan salah paham lagi...."Ellen menjadi panik.
Aldrich jadi tersenyum berusaha menahan tawa. Dia pun mulai membuka pakaiannya bermaksud mengganti baju.
"Sayang, aku bukannya ingin terlalu mengurusi kehidupanmu. Aku hanya ingin....kau tidak menahan apa yang ingin kau lakukan...seperti menahan tawa."Ucap Ellen.
Aldrich pun melihat ke arah Ellen merasa terkejut. Dia tidak sangka jika istrinya akan mengatakan hal itu kepadanya.
"Memangnya kau lihat aku sedang tertawa?"Tanya Aldrich.
"Aku rasa seperti itu? Kau terlihat menahan tawamu. Dan sejujurnya selama ini aku belum pernah mendengarmu tertawa."Ucap Ellen dan itu semakin membuat Aldrich ingin tergelak. Tapi dia tidak mau melakukannya karena dia memang hampir tidak pernah tertawa seumur hidupnya. Sejujurnya itu juga membuatnya tertekan.
"Bisakah kau katakan alasannya kenapa memilih untuk bertahan seperti itu? Aku bahkan kesulitan dengan ekspresimu yang terlihat selalu sama sampai aku tidak bisa membedakan kau sedang senang atau marah. Tapi...kalau kau tidak mau memberitahuku, ya tidak apa-apa."Ucap Ellen langsung berterus terang.
Aldrich kembali diam.
Setelah Aldrich siap mengganti pakaiannya dia pun berbaring di samping Ellen dan memeluknya dari belakang.
"Kau mau tahu apa yang membuatku seperti ini? Dulu kau pasti masih ingat kan jika ada yang mengetahui tentang masalah kepribadianku, aku tidak akan segan-segan membunuhnya."Bisik Aldrich. Namun Ellen yang mendengarnya tidak merasa takut. Ellen kemudian mengganti posisinya menghadap Aldrich.
"Kalau aku tahu, apa kau bakal membunuhku?"Tanya Ellen yang membuat Aldrich melebarkan bola matanya.
"Tidak. Aku tidak pernah bilang jika orangnya itu kau. Aku dulu jarang bersenang-senang dan kurasa aku tidak bisa mengingatnya lagi kapan aku pernah melakukannya. Aku hanya senang saat bersama ayah karena dirinya selalu datang tersenyum kepadaku. Tapi dirinya juga sibuk dan jarang pulang ke rumah."Ucap Aldrich.
Ellen pun terdiam. Dia langsung merasa sedih dengan cerita Aldrich.
"Maaf..."Ucap Ellen.
"Tidak perlu. Sekarang tidurlah."Ucap Aldrich tersenyum lembut ke arah Ellen sambil mengelus kepalanya.
__ADS_1
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)