Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 69


__ADS_3

Beberapa menit setelahnya...


"Apa? E-ellen juga...dari masa depan?"Tanya Yohannes sangat terkejut saat dia baru pertama kali mendengar tentang sosok Ellen yang ternyata senasib dengan Lydora.


"Iya. Katanya kehidupan kami hampir serupa hanya sifat kami saja yang berbeda. Yang mulia Raja Aldrich juga sudah tahu kalau istrinya itu dari masa depan karena Ellen memilih jujur untuk mengatakannya kepada suaminya. Tapi Yang mulia Raja Aldrich belum tahu kalau aku juga berasal dari masa depan."Balas Lydora.


"Haah, ternyata ada cerita yang tidak pernah kubayangkan sekalipun. Mau tidak mau aku harus mempercayai adanya penyihir itu kan? Kamu bilang dia yang membuatmu hidup dua kali?"Tanya Yohannes.


Lydora mengangguk. "Waktu itu kamu masih ingat kan, aku meminta izin padamu menemui peramal Henston. Dia langsung tahu kalau aku bukan berasal dari dunia ini dan dia langsung memberitahuku tentang Ellen. Aku sendiri juga baru tahu kalau Ellen sama seperti diriku."


"Ah pantas saja waktu itu kau memaksa untuk mendatangi Ellen. Ternyata itu alasannya ya?"Ucap Yohannes baru paham.


"Maafkan aku sebelumnya karena tidak memberitahumu. Aku hanya takut kamu kecewa dan tidak percaya padaku, suamiku. Saat itu aku sedang bingung bagaimana caranya aku bisa menjelaskan apa yang kualami ini agar kamu bisa mengerti."Ucap Lydora masih merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku bisa merasakan saat berada di posisimu. Kalau aku jadi kau, aku juga akan sama frustasinya denganmu."


Lydora tersenyum lega. "Terima kasih sudah percaya padaku, Yohannes. Tapi bolehkah aku meminta satu hal padamu?"Pinta Lydora jadi serius kembali.


"Katakan saja. Aku akan mengabulkan apapun yang kamu minta selagi itu masuk akal untuk dilakukan."Ucap Yohannes.


"Aku minta kamu jangan beritahu tentang identitasku kepada siapapun kecuali hanya kamu, Ellen dan suaminya saja yang tahu. Aku yakin Ellen pasti sudah menceritakan tentang diriku kepada suaminya. Aku tidak ingin ada siapapun yang tahu. Rahasia ini harus tetap disembunyikan seumur hidupku."Ucap Lydora terlihat cemas.


"Baiklah. Aku berjanji dan bersumpah tidak akan membocorkannya seumur hidupku. Aku juga khawatir jika ada yang tahu tentang dirimu yang sebenarnya. Takutnya terjadi kenapa-kenapa. Sudah kewajibanku menjaga dan melindungimu."Ucap Yohannes tersenyum hangat.


"Terima kasih suamiku."


"Tapi karena kau sudah bertemu dengan penyihir itu, berarti kau sudah melihat wujudnya kan? Bagaimana tampilannya?"Yohannes jadi semakin penasaran.


"Ah, dia seorang pria dengan tudung hitam. Dia sangat tinggi. Rambutnya perak dan bola matanya berwarna emas dan wajahnya...sangat tampan. Seperti wajah malaikat."Jawab Lydora.


Entah kenapa saat Yohannes mendengar Lydora mengatakan pria lain dengan kata tampan membuatnya agak kesal.


"Hoo...tampan, begitu ya."


"Iya, seperti terlihat bukan manusia. Bisa dikatakan dia berwajah cantik daripada tampan. Aku saja saat pertama kali bertemu dengannya sedikit merendah karena dia jauh lebih bersinar. Dan oh ya, namanya Morse."Ucap Lydora.


"Morse? Nama apa itu? Aku belum pernah mendengarnya sama sekali."Ucap Yohannes.


"Kalau di masa depan setahuku, Morse itu adalah sebuah kode sandi untuk membuka kunci lewat komputer. Benda elektronik yang baru saja kujelaskan tadi."Jawab Lydora.

__ADS_1


"B-begitu ya. Berarti penyihir itu tahu tentang segala dunia dong?!"


"Mungkin? Dia kan seorang penyihir. Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan."


"Haah, tadinya kupikir dia penyihir yang menyusahkan tapi ternyata dia membawa berkah. Dia bisa mempertemukanku denganmu dari dunia yang berbeda. Bukankah itu luar biasa?"Ucap Yohannes.


Lydora hanya diam saja dan tersipu dengan ucapan Yohannes. Yohannes lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Lydora.


"Makan dulu habis itu minum obatnya."Ucap Yohannes.


"B-baik."


Satu bulan kemudian, hari-hari kedua pasutri itu mulai sangat sibuk. Mereka berdua juga jadi jarang menghabiskan waktu bersama karena kesibukan masing-masing. Dalam beberapa waktu ini, Lydora selalu berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik sehingga banyak masyarakat yang menyukainya dan begitu menghormatinya.


Wilayah Utara juga menjadi kota yang makmur dan tidak ada warga yang kesusahan dan kelaparan lagi.


Saat ini di ruang kerja hanya ada Lydora sendiri yang sedang menulis-nulis. Felice datang sambil membawa makanan untuk majikannya.


"Yang mulia, saya membawakan pasta untuk anda. Anda pasti lapar karena jam makan siang sudah lewat."Ucap Felice.


Lydora menoleh ke arah pasta yang dibawakan oleh Felice. Entah kenapa saat melihatnya saja dia tidak tertarik tapi dia merasakan perutnya yang sangat lapar. Lydora mengambil pasta itu dari tangan Felice.


"Terima kasih Felice."


Beberapa menit setelahnya Lydora sudah menghabiskan pastanya. Tapi dia masih merasa lapar.


"Felice, apa kamu bisa minta koki membuatkan kukis untukku?"Pinta Lydora tiba-tiba ingin makan kukis.


"Eh? Yang mulia ingin dibuatkan kukis? Baiklah, akan saya suruh koki untuk membuatkannya."


Dua jam kemudian kukis datang. Lydora langsung menyambar kukis itu dengan sangat lahap. Felice yang melihatnya mengira jika majikannya itu pasti sangat kelaparan. Tapi dia berpikir ulang mengapa harus kukis?


Malam harinya saat kedua pasutri itu selesai dan sudah berada di kamar, Yohannes sangat khawatir dengan istrinya yang wajahnya terlihat pucat dan tidak mau makan makanan yang disajikan.


"Lydora, apa masuk anginmu kambuh lagi?"Tanya Yohannes cemas.


"Sepertinya begitu? Aku tidak mau makan itu. Rasanya perutku mual sekali."


"Sedikit saja ya. Atau kau mau dibuatkan makanan yang lain?"Tanya Yohannes.

__ADS_1


"Kukis. Aku mau dibuatkan kukis."Pinta Lydora.


"Apa? Tidak boleh! Kau sudah seharian makan kukis terus! Itu tidak baik untuk pencernaanmu."


"Tapi aku maunya itu, Yohannes. Aku mohon ya..."


Yohannes sempat mengernyit alisnya merasa heran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba sangat manja. Dia sempat berpikir apakah Lydora hamil tapi dia tidak mau terlalu berharap kembali.


"Hey, Lydora bagaimana kalau kau diperiksa dokter lagi malam ini?"Pinta Yohannes.


"Huh? Diperiksa lagi? Tidak usah Yohannes. Pasti gejala yang sama juga. Kasihan dokternya dipanggil terus."Ucap Lydora.


"Kau ini untuk apa mengasihani dokter? Dia itu kan digaji. Sudahlah, dengarkan saja perkataanku. Aku akan memanggilkan dokter sekarang!"Ucap Yohannes.


"Haah, baiklah. Terserahmu saja."Ucap Lydora pasrah.


Saat Yohannes hendak beranjak dari sofa, tiba-tiba dia merasa mual. Ada atmosfer aneh yang dirasakan perutnya.


"Hmph!"


"Yohannes? Ada apa?"Tanya Lydora yang cemas.


Yohannes langsung bergegas ke arah kamar mandi dan muntah. Lydora pun tidak bisa diam saja dan mengekori suaminya yang muntah-muntah.


"Astaga Yohannes, kau juga sakit? Kenapa tidak bilang padaku?! Kau kan juga memaksakan dirimu kerja terus beberapa minggu ini!"


"Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba perutku rasanya tidak enak. Aneh, seharusnya kau yang muntah-muntah bukan aku."


"Kau pikir aku hamil?"


"Ya, bisa begitu kan? Masa aku yang..."


Yohannes dan Lydora saling tatap-tatapan dalam beberapa detik dan saling melotot.


"Ah, tidak mungkin! Masa aku, aku yang ha-"


"Mana mungkin kau hamil Yohannes! Jangan mengada-ngada! Ayo, daripada kita stress memikirkan hal ini, kita panggil saja dokternya sekarang!"Ucap Lydora menarik lengan suaminya.


Yohannes ditarik tangannya masih terbengong merasa kalau dirinya hamil benaran.

__ADS_1


Next...


IG: shgemini16


__ADS_2