Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 61 (Di revisi)


__ADS_3

"Iya, kau benar Erick."Ucap Nyonya Ziane.


"Bu, bisakah ibu menjawab pertanyaanku? Aku dari dulu penasaran kenapa ibu sepertinya berusaha untuk menjaga jarak aku dekat dengan pangeran Yohannes?"Kali ini akhirnya Ellen memutuskan untuk bertanya.


Aku sudah tahu sih kalau Pangeran Yohannes menyukai si tokoh utama karena aku tahunya dari novel yang kubaca. Tapi dia tetaplah second lead male yang tidak akan pernah dapat posisi bersama si tokoh utama. Sampai sekarang aku masih bisa merasakan kalau Pangeran Yohannes masih menyukaiku...! Tapi aku tidak tahu kalau ibu ternyata tidak suka aku dekat dengan pangeran, kenapa ya?


"Kau tidak peka atau apa? Jelas-jelas pangeran Yohannes begitu menyukaimu! Ibu berusaha menjaga jarak antara kalian karena ibu juga memikirkan perasaan Yang mulia Raja! Kau mungkin belum tahu ya? Sejak usiamu 12 tahun, kami sudah menentukan perjodohanmu dengan yang mulia Raja."Ucap Nyonya Ziane.


What?! Pantas saja ibu sangat menjaga jarak antara kami...Jangan-jangan karena ibu memikirkan perasaan Pangeran Yohannes juga? Kak Erick bilang kalau mereka sudah berteman sejak umur 14 tahun. Berarti pangeran Yohannes memang sudah lama memerhatikan aku!


"Jadi begitu ya ibu? Baguslah akhirnya ibu bisa memberitahuku. Aku tidak akan pernah tahu kalau ibu tidak pernah menjelaskannya."Ucap Ellen.


"Tadinya ibu berharap kau tidak bertanya karena urusanmu dengan pangeran itu sudah tidak ada hubungan lagi. Tapi karena kau bertanya, ibu terpaksa menjawabnya."Ucap Nyonya Ziane.


"Hei, Ellen aku tidak percaya lho kalau pangeran Yohannes itu suka padamu, bahkan sampai sekarang! Padahal dia tahu kalau kau sudah menikah dan hamil! Cinta itu memang buta ya?"Ucap Erick.


"Kau bisa diam tidak kak?"Ucap Ellen kesal.


"Anu...Yang mulia, apakah anda pernah suka dengan Pangeran Yohannes?"Kali ini Maya yang bertanya.


Ellen sejenak terdiam. "Kelihatan sekali aku berbohong jika bilang tidak. Tentu saja aku pernah suka padanya bahkan dia itu termasuk cinta pertamaku."Ucap Ellen jujur. Untungnya dia mengatakan itu saat Aldrich tidak ada di tempat.


"Apa? Jadi kau juga pernah suka padanya?! Lalu sekarang?"Tanya Nyonya Ziane kaget.


"Sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi. Aku hanya merasa bersalah ketika berpapasan dengannya dan hatiku malah semakin sakit saat menatapnya."Ucap Ellen menjadi sedih.


"Saya sepertinya tahu apa yang Anda rasakan Yang mulia..."Ucap Maya.


"Lalu bagaimana dengan Nona Carol Kak? Bukankah dia cinta pertamamu juga? Maaf Maya, aku bukannya mau mengungkit hal yang terjadi di masa lalu, aku hanya penasaran dengan kabarnya."Ucap Ellen.

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa yang mulia. Saya tidak masalah dengan itu."Ucap Maya.


"Kenapa tiba-tiba kau mengungkit soal Nona Carol? Semenjak dia pergi meninggalkanku di restoran waktu itu aku tidak pernah tahu kabarnya lagi. Orang-orang juga sudah tidak ada yang percaya dengannya karena ulahnya sendiri. Saat aku tanya pangeran Yohannes, Nona Carol pergi ke negara lain untuk menenangkan diri. Dan aku jadi melupakannya seiring waktu apalagi sudah ada wanita lain yang mengisi hatiku."Ucap Erick lalu menatap lembut ke arah Maya.


Maya tersenyum dan pipinya memerah.


"Aduh, dasar kalian ini..."Ucap Ellen.


Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya keluarga Ellen pamit untuk pulang. Setelah mereka semua sudah pergi, Aldrich baru kembali dari luar dengan kereta kudanya.


"Kau sudah pulang? Selamat datang sayang!"Sambut Ellen sambil mencium tangan suaminya.


"Kudengar keluargamu tadi datang?"Tanya Aldrich yang mengetahui informasinya dari pengawalnya.


Ellen mengangguk. "Mereka mampir untuk mengecek keadaanku dan menanyakan tentang pesta yang ingin aku adakan kembali. Itu saja. "Jawab Ellen.


"Apa? Yah sayang sekali, tapi baiklah. Sepertinya itu yang terbaik daripada harus merepotkan orang lain lagi."Ucap Ellen menjadi sedih.


Aldrich menyadari tatapan Ellen yang sedih karena dia tidak bisa menyaksikan pesta yang dibuatnya sendiri.


"Kau boleh menontonnya tapi kau tidak boleh ikut menikmati pestanya apalagi meminum wine."Ucap Aldrich.


"Tapi aku kan memang tidak pernah minum wine?"Ucap Ellen kaget.


"Begitu? Kalau begitu baguslah. Wine itu tidak bagus untuk kesehatan. Sebaiknya kau tidak perlu meminumnya sekalipun kau sedang tidak hamil."Ucap Aldrich.


"Kau pasti sering meminumnya ya? Iya kan? Kau kan sudah lebih berpengalaman."Ucap Ellen.


"Aku bukannya berpengalaman. Aku hanya meminumnya saat hari penting saja seperti pesta, kemenangan berperang atau penyambutan lain. Aku juga hanya minum dengan gelas ukuran kecil."Ucap Aldrich jujur.

__ADS_1


"Oh begitu ya, maaf aku kira kau termasuk pria yang suka minum-minum."Ucap Ellen.


"Ada lagi yang harus kau ketahui. Aku benci dengan seorang pemabuk. Sudah, aku mau mandi."Ucap Aldrich kemudian bersiap-siap ke kamar mandi.


"Wah, suamiku ternyata benar-benar pria sejati. Di jamanku bahkan itu masih tradisi kok."Gumam Ellen merasa kagum dengan Aldrich.


3 hari kemudian, semua orang yang berada di istana bersuka cita menikmati pestanya, kecuali Ellen. Aldrich bahkan hanya menyambut tamu-tamu yang datang walau sebenarnya dia malas dan lebih ingin menghabiskan waktu bersama istrinya.


Sementara Ellen hanya memandang dari atas balkon yang sedikit tertutup dari penglihatan para tamu. Dia sengaja bersembunyi disana agar orang-orang tidak mengetahui keberadaannya kecuali si pemilik istana.


"Ternyata pesta yang ku tata sendiri jauh lebih cantik daripada yang sebelumnya. Orang-orang juga jauh lebih ceria. Syukurlah, sepertinya ideku ini memang pilihan yang tepat."Gumam Ellen bangga.


Kuharap aku tidak bertemu dengan pangeran itu lagi. Sebaiknya aku masuk ke kamar saja.


Ellen pun memilih untuk menghabiskan waktu di kamarnya. Untungnya ada beberapa buku yang terletak di rak dalam kamar itu. Ellen memilih salah satu buku dan mulai membacanya.


"Hmm, buku ini kok tidak ada judulnya ya? Ngomong-ngomong aku juga belum pernah membaca buku milik Aldrich. Apa aku boleh membacanya?"Gumam Ellen melihat sampul buku berwarna coklat tua itu.


"Ah masa bodohlah dia marah padaku atau tidak. Aku kan istrinya. Dia bahkan harus tahu semua tentang diriku, masa hanya aku yang tidak boleh?"Gumam Ellen kemudian membuka buku itu.


Buku itu berisi coretan tulisan dengan pena. Terlihat jelas jika itu adalah buku diary. Tapi sang pemilik tidak menuliskan namanya. Di lembar pertama dia menulis tentang jurnal biasa.


"Aku baru tahu jika dia suka menulis juga. Kenapa dari dulu aku tidak melihat-lihat bukunya ya?"


Ellen kemudian memindah halaman ke halaman sampai ke halaman terakhir. Halaman itu berisi gambar seorang wanita dengan coretan pensil bentuk sketsa menyerupai dirinya. Rambut gelombangnya yang keemasan, wajah boneka, mata sebiru langit dan kulit seputih salju benar-benar menggambarkan sosok Si tokoh utama wanita.


Ellen benar-benar terkejut. Ternyata selama ini Sang Raja telah menggambar sosoknya di buku diary nya.


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)

__ADS_1


__ADS_2