
"Hehe, saya mengerti Yang mulia."Jawab Lydora sambil cengengesan.
"Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi, kau bisa keluar."Ucap Yohannes.
"Oh, baiklah. Tapi apa Anda sendiri tidak ikut keluar, yang mulia?"Tanya Lydora yang melihat suaminya masih duduk di tempatnya serius membaca dokumen di tangannya.
"Aku mau menetap disini dulu."Jawab Yohannes.
Lydora sedikit kesal dengan sikap tak acuh Yohannes. Dia pun menjadi penasaran dokumen apa yang dibaca segitu seriusnya oleh suaminya itu.
Ck, dia sedang baca apa sih? Sepertinya penting sekali ya? Jika aku tanya, aku takut dia marah...
"Lalu, kapan kita akan menjenguk ayah, yang mulia? Maksud saya, yang mulia baginda Raja..."Tanya lagi Lydora.
Saat Lydora bertanya lagi, kening Yohannes mulai berkerut seolah Lydora sengaja mengganggu pekerjaan pentingnya.
"Kita akan kesana dua jam lagi. Kau pergi sana cepat dan jangan ganggu aku lagi."Ucap Yohannes akhirnya.
"Baiklah...,sampai nanti yang mulia."Jawab Lydora merendahkan suaranya merasa sedikit kecewa.
Lydora pun segera keluar dari ruang rapat dan tak lupa menutup pintunya. Setelah Lydora keluar, Yohannes menatap pintu itu dengan tatapan kosong. Dia lalu meremas dokumen yang di tangannya dengan penuh geram.
Berani sekali pria itu melakukan ini! Bisa-bisanya dia meminta Lydora sebagai bahan taruhan permainan yang dia buat sendiri?! Aku harus melakukan sesuatu!
Sementara itu Lydora, dia sejujurnya sangat malas untuk mulai mengerjakan tugasnya sekarang. Dia tahu pekerjaan yang ditanganinya saat ini lumayan cukup berat, maka dari itu dia memilih untuk berjalan-jalan sendirian di taman sebentar menghilangkan beban pikiran.
Tak lama dia melihat Pelayan Sandy yang muncul. Senyuman Lydora merekah saat melihat pelayan kesukaannya datang lagi setelah beberapa minggu.
"Sandy!"Panggil Lydora.
"Ya, yang mulia?"Tanya Sandy langsung menghampiri majikannya.
"Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali aku tidak melihatmu sejak persiapan acara pernikahanku."Tanya Lydora.
__ADS_1
"Oh, kabar saya baik yang mulia. Saya merasa terhormat anda mengingat dan menanyakan kabar saya."Ucap Sandy terlihat terharu.
"Tentu saja aku ingat. Kau pelayan yang cukup ramah diantara pelayan lainnya. Tadi kau habis dari mana Sandy?"
"Saya habis kembali dari kota, yang mulia. Saya bertemu dengan peramal yang akhir-akhir ini kepopulerannya naik lagi. Saya baru saja di ramal olehnya bahwa hari ini akan ada terjadi hal yang menyenangkan untuk saya."Ucap Sandy.
"Oh benarkah? Syukurlah jika dia mengatakan itu. Itu keberuntunganmu."Ucap Lydora tersenyum.
"Iya, saya sangat bersyukur. Tapi, apa anda percaya dengan yang namanya ramalan yang mulia?"Tanya Sandy.
"Hmm, aku tidak tahu karena aku belum pernah bertemu dengan seorang peramal sebelumnya. Tapi aku tertarik untuk menemui seorang peramal."Jawab Lydora.
"Begitu ya? Kalau begitu apa anda mau ikut saya menemui peramal itu kapan-kapan yang mulia?"Tanya Sandy dengan mata yang langsung berbinar-binar.
"Tentu saja, aku mau Sandy. Tapi untuk saat ini aku harus menangani wilayah Utara, karena suamiku memberikan tugas itu kepadaku. Jadi mungkin paling lama sebulan aku baru bisa selesai."Ucap Lydora.
"Tidak apa-apa yang mulia. Saya sudah cukup senang anda mengatakan mau ikut dengan saya menemui peramal. Saya akan tunggu anda kapanpun sampai anda siap."Ucap Sandy tersenyum.
"Oh iya benar. Peramal itu dulu sekali sangat populer karena hampir dari setiap ramalannya benar. Semua orang hampir memujinya layaknya seorang dewa. Tapi beberapa tahun kemudian, orang-orang tidak ada yang percaya lagi hanya gara-gara ramalannya salah satu kali. Salah satu pemerintah mengusirnya dan akhirnya dia pindah ke kota lain. Tapi suatu hari dia memberanikan diri untuk datang ke istana Valkyrie menemui Ratu Ellen."Ucap Sandy.
"Peramal itu menemui Ratu Ellen?"Tanya Lydora sedikit tersentak.
"Iya, tapi saya tidak tahu alasan mengapa Peramal itu tiba-tiba menemui Ratu Ellen saat Ratu Ellen sedang hamil. Pihak istana Valkyrie merahasiakannya. Saya dengar dari orang-orang kalau Raja Aldrich sangat murka dan segera mengusir peramal itu. Tapi keesokan harinya lagi mereka berdua menemui Peramal itu dan meminta maaf. Lalu di hari itu juga kepopuleran peramal itu naik lagi. Saya rasa itu karena ramalannya kali ini benar diakui oleh Ratu Ellen dan Raja Aldrich. Saya pun menjadi tertarik untuk diramal olehnya dan saya sudah bertemu dengannya beberapa kali. Dan saya mengakui kalau setiap ramalannya itu benar!"Ucap Sandy.
"Jadi begitu ya? Menarik juga."Gumam Lydora.
"Yang mulia Ratu!"Teriak Felice yang baru tiba dengan napas tersengal-sengal karena habis mencari majikannya.
"Felice? Ada apa? Kenapa kau terlihat buru-buru seperti itu mencariku?"Tanya Lydora.
"Anda habis dari mana yang mulia? Saya sudah mencari anda kemana-mana dan ternyata anda disini. Anda tidak boleh jauh dari saya karena itu juga perintah dari Yang mulia Raja, yang mulia! Tugas saya adalah menemani dan menjaga Yang mulia kemanapun anda pergi."Ucap Felice yang wajahnya mulai memucat.
"Maafkan aku Felice. Aku bukan bermaksud begitu. Aku sengaja ingin berjalan-jalan sendirian sebentar saja. Hanya di taman ini kok! Lagipula para pengawal selalu menjaga dengan ketat disini."Jawab Lydora merasa bersalah.
__ADS_1
"Tapi biarpun begitu yang mulia--!"
"Tenangkan dirimu dulu Felice. Kau pasti kelelahan. Ayo kita sebaiknya duduk dulu di bangku itu."Ucap Lydora menarik tangan Felice untuk ikut duduk di bangku bersamanya.
Felice sempat membuang napasnya dan pasrah mengikuti keinginan majikannya.
"Yang mulia, kalau begitu saya permisi dulu ya yang mulia."Ucap Sandy yang masih berdiri disitu.
"Oh, ya sampai nanti Sandy."Balas Lydora.
Sandy pun pergi, dan kedua wanita itu duduk di bangku yang telah disediakan di taman itu.
"Apa yang anda bicarakan dengan pelayan itu, yang mulia?"Tanya Felice.
"Aku tadi menyapanya. Kau pasti tahu kan kalau Sandy sebelumnya adalah pelayan yang mengurusku?"Ucap Lydora.
"Ah ya, saya tahu yang mulia."Jawab Felice.
"Tadi dia katanya habis bertemu dengan seorang peramal. Dia sempat bercerita tentang kepopuleran peramal itu dan setiap ramalannya selalu benar. Apa kau percaya dengan yang namanya ramalan, Felice?"Tanya Lydora.
"Tidak, yang mulia."Jawab Felice dengan suara tegas.
"Apa? Kenapa?"
"Karena itu mitos yang mulia. Banyak juga membicarakan tentang seorang penyihir. Tapi penyihir itu sama sekali belum pernah terlihat wujudnya. Menurut saya memikirkan hal itu tidak ada gunanya karena saya sendiri pun belum pernah melihatnya. Saya hanya ingin melihat apa yang terlihat di mata saya. Dan saat ini saya hanya menjalankan hidup sesuai kenyataan yaitu, bekerja keras demi kelangsungan hidup. Dan karena saya tidak suka buang-buang waktu, alangkah baiknya kalau kita sekarang mulai membahas tentang wilayah Utara, yang mulia."Ucap Felice.
Glek, entah kenapa raut wajah dan gaya bicara Felice yang terlihat dingin dan tegas membuat Lydora sedikit curiga dan takut.
Perasaan apa ini? Kenapa juga aku harus takut padanya? Aku ini seorang Ratu!
"Eh, baiklah. Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam. Kita akan membahas Wilayah Utara seperti yang kau katakan."Ucap Lydora akhirnya mengalah.
Next...
__ADS_1