Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 31 (Di revisi)


__ADS_3

Hari sabtu, adalah hari penantian Ellen untuk keluar dari istana setelah sebulan menikah dengan Aldrich. Hari ini Aldrich tidak bisa ikut menemaninya karena ada rapat penting dengan para menterinya.


Ellen begitu senang sebab dia akan bebas tanpa merasa harus bersikap penurut untuk suaminya yang dingin itu.


"Kau harus kembali secepat mungkin. Aku sudah memperkerjakan seorang penjaga pribadi untukmu, namanya Ravin."Ucap Aldrich.


"Iya yang mulia, saya pasti akan kembali secepat mungkin. Terima kasih karena Yang mulia sudah mau mengizinkan saya pergi dan juga memperkerjakan seorang penjaga untuk saya."Ucap Ellen.


"Aku harap kau tidak membuat masalah."Ucap Aldrich lagi.


Glek, Ellen merasa jika Aldrich memang suka memata-matainya. Ini sama saja kalau dia tidak bisa bebas sesuai harapannya.


Ellen lalu bertemu dengan seorang pemuda tampan yang kira-kira beda dua tahun lebih tua darinya. Dia terlihat ramah dan sopan.


"Salam kepada yang mulia permaisuri. Nama saya Ravin Hudson. Mulai sekarang saya akan bekerja sebagai penjaga pribadi anda dan menjamin keamanan anda yang mulia permaisuri."Ucap Ravin sambil membungkuk.


"Senang bertemu denganmu Ravin. Mohon bantuannya. Kalau begitu ayo kita pergi sekarang."Balas Ellen.


"Baik yang mulia."


Diperjalanan, mereka hanya pergi berdua bersama dengan kusir yang membawa mereka karena mereka tidak bisa membawa banyak orang untuk pergi ke daerah terpencil. Mereka akan menempuh perjalanan sekitar 3 jam.


Karena merasa bosan, Ellen memilih untuk mengajak Ravin mengobrol.


"Ravin, ngomong-ngomong sepertinya usiamu tidak terlalu jauh denganku?"Tanya Ellen.


"Saya berusia 20 tahun Yang mulia."Jawab Ravin.


"Oh pantas saja. Apa kau sudah menikah?"


"Belum Yang mulia. Saya masih harus fokus pada pekerjaan saya dulu."

__ADS_1


"Apa kau kenal dekat dengan Aldrich?"


"Iya yang mulia. Saya kenal dekat dengan yang mulia Raja."


"Oh, lalu apa kau tahu jika Aldrich suka main perempuan? Aku bukannya mempercayai rumor itu, aku hanya penasaran karena semua orang hampir mengatakan hal itu. Aku harap kau mau menjawabnya dengan jujur."Ucap Ellen.


"Anda sebaiknya jangan mempercayai rumor itu yang mulia, karena itu tidak benar. Yang mulia Raja hanya banyak didekati banyak wanita, tapi bukan berarti dia mau melakukannya. Anda adalah yang pertama, yang mulia."Ucap Ravin dengan senyuman.


Ellen seketika mematung. Dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak kencang seperti ada yang menyetrumnya. Dia merasa lega namun dia juga merasa malu untuk mengakuinya.


"Jadi...rumor itu tidak benar? Tapi kenapa Aldrich diam saja saat orang-orang mengatakan dia suka main perempuan?"Tanya lagi Ellen masih penasaran.


"Saya juga tidak begitu tahu Yang mulia. Dia mengatakan bahwa biarkan saja orang-orang berkata seperti itu karena tidak ada gunanya menghentikan pembicaraan yang tiada habisnya. Anda beruntung sebab anda adalah wanita pertamanya yang mulia."Ucap Ravin tersenyum lagi.


"Ah, hentikan. Aku sendiri juga tidak yakin apa dia memiliki perasaan kepadaku. Aku benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kepalanya itu."Ucap Ellen dengan tersipu.


Setiba di kota, Ellen ada melihat sebuah toko roti dan dia berpikir jika ada baiknya dia membeli oleh-oleh untuk temannya itu.


"Oh baik Yang mulia."Ravin pun memerintahkan sang kusir untuk berhenti. Mereka berdua keluar dan Ravin membantu Ellen untuk turun dari pintu kereta kuda dengan mengulurkan tangannya.


Ellen tidak sabar untuk masuk ke toko roti namun dia melihat para penduduk yang di sekitar situ melihat dengan tatapan aneh ke arahnya.


Perasaannya langsung tidak enak karena orang-orang itu membisikkan sesuatu yang sepertinya tidak baik.


Ravin sendiri juga menyadarinya dan dia sudah tahu apa masalah yang timbul sekarang. Dia tadinya ingin memberitahu Ellen, namun dia sudah terlambat.


"Uhm yang mulia, biarkan saja orang-orang itu. Anda tidak perlu mempedulikannya. "Ucap Ravin.


"Sebenarnya ada apa ini Ravin? Apa ada yang salah denganku? Mereka kelihatannya tidak suka padaku."Ucap Ellen merasa tidak tenang.


Ada apa ini? Benar juga, sudah sebulan semenjak menikah aku belum ada jalan-jalan ke kota ini karena disibukkan pekerjaan. Kurasa ada orang yang sengaja membuat masalah denganku...

__ADS_1


"Sudahlah yang mulia, anda tidak usah memikirkannya. Pikirkan tentang yang mulia Raja saja yang ingin anda cepat pulang. Ayo kita segera masuk ke toko rotinya."Ucap Ravin.


Ellen akhirnya menurut. Mereka masuk ke dalam toko roti, namun tiba-tiba ada seorang anak kecil yang melempar telur ke arah Ellen.


"Kakak jahat kok ada disini? Seharusnya kakak tidak pantas jadi istri yang mulia Raja Aldrich! Kakak itu punya sifat jelek dan dia suka menghina Nona Anna!"Teriak anak kecil itu.


"Lily! Jangan begitu nak! kamu tidak seharusnya melempar telur ke arah yang mulia permaisuri Ellen! Apa kau mau mati?! Yang mulia permaisuri saya mohon maaf atas perbuatan anak saya yang kurang ajar, saya akan menghukumnya, tolong ampuni kami yang mulia..."Ucap si pemilik roti sambil bersujud.


Ellen tadinya hanya diam sampai beberapa detik sampai dia pun mendekati anak kecil itu.


"Kakak mau apa? Apa kakak mau hukum aku? Hukum saja aku biar orang-orang semakin tahu sifat asli kakak!"Ucap anak kecil itu tidak takut.


"Siapa yang telah menghasutmu? Apa itu dari putri Katherine bersama Nona Anna? Kamu percaya omongan mereka?"


"Tentu saja! Mereka itu baik! Mereka sering memberiku koin emas! Mereka terlihat sedih saat mengadu tentang betapa buruknya sifat kakak!"Jawab anak kecil itu lagi.


"Apa saja yang mereka katakan pada kalian?"Tanya Ellen.


"Ya-yang mulia...rambut anda..."Ravin yang berdiri disana panik karena rambut Ellen yang cantik sudah terkena telur yang pecah dan pastinya bau amis.


"Mereka bilang bahwa kakak sudah membully Nona Anna dan putri Katherine. Gara-gara kakak, Nona Anna tidak bisa menikah dengan yang mulia raja! Kakak juga tidak punya sopan santun dan selalu bersikap sesuka hati saja."Ucap anak kecil itu.


"Lily! Cukup! Sebaiknya kau tutup mulutmu itu!"Teriak pemilik roti.


"Tidak apa tuan. Apa anak anda mengatakan yang sebenarnya?"Tanya Ellen.


"I-itu benar yang mulia..."


Ellen tersenyum. "Dik, apa kau sudah pernah melihat sifat asli mereka? Mereka itu hanya sandiwara. Aku yang selalu kena getahnya. Mereka yang menghinaku dan memfitnahku. Mereka tidak terima adanya orang miskin yang datang ke istana. Dan maaf jika memang aku tidak punya sopan santun, tetapi setidaknya aku tidak menjelekkan orang-orang dibelakang. Jika kau mau koin emas, aku akan berikan sebanyak yang kamu mau. Secepatnya akan aku buktikan bahwa yang mereka ucapkan itu salah. Aku akan menyeret mereka kesini dan memaksa mereka untuk mengatakan yang sebenarnya."Ucap Ellen dengan senyum mengerikan ke arah anak kecil itu.


Tidak hanya anak kecil itu yang gemetaran, tapi semua orang yang berada disana juga. Seketika tidak ada yang berani menjawab perkataannya.

__ADS_1


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa tekan tombol like 👍)


__ADS_2