
Mereka berdua terpaksa kembali ke istana karena Ravin memaksa Ellen untuk pulang melihat kondisinya yang tidak bagus. Tampaknya Ellen benar-benar murka dengan apa yang terjadi padanya. Padahal seharusnya hari ini adalah liburannya.
Sementara Aldrich merasa heran karena kereta kuda yang istrinya naiki kembali lagi dengan cepat.
"Ellen, kenapa kau kembali sece--"Ucapan Aldrich terputus melihat kondisi Ellen. Wanita itu terus berjalan dengan wajah yang tampak ingin balas dendam. Dia tidak menghiraukan sambutan suaminya.
Tak lama Ravin masuk dengan kaki bergetar.
"Apa yang sudah terjadi?"Tanya Aldrich kepada Ravin.
"Itu yang mulia, gara-gara rumor jelek tentang yang mulia permaisuri. Seorang anak kecil sudah berani melempar telur ke arah yang mulia permaisuri saat kami mampir di toko roti. Para penduduk terlihat tidak suka kepada yang mulia permaisuri..."Jawab Ravin.
"Rumor? Kenapa aku tidak tahu soal itu?"Aldrich mulai mengernyitkan alisnya.
"Ini semua juga salah saya yang mulia Raja. Saya tadinya tidak berniat untuk tidak memberitahu yang mulia Raja dan permaisuri, karena saya terlalu takut..."Ucap Ravin.
"Jadi siapa yang sudah menyebarkan rumor itu"Tanya Aldrich seketika rahangnya mengeras
Ravin menelan salivanya. "Itu yang mulia...Tuan putri kath yang melakukannya...dia mengatakan ke semua orang bahwa yang mulia permaisuri memiliki sifat yang buruk dan selalu membully nya. "Ucap Ravin.
Aldrich terdiam. Dia tidak sangka jika adiknya sudah kurang ajar telah melakukan hal yang menjatuhkan nama baiknya. Istrinya telah difitnah oleh adiknya sendiri.
Tampaknya aku terlalu memanjakan anak itu...
"Ravin, kau ku hukum karena tidak melakukan sesuai apa yang aku perintahkan kepadamu."Ucap Aldrich dingin.
"Baik yang Mulia, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi..."Jawab Ravin gemetaran.
Aldrich pun menyusul untuk menemui Ellen. Dia sudah tahu ke mana istrinya itu pergi. Ravin juga ikut untuk membantu walau dia sebenarnya takut.
Sementara di depan pintu kamar Kath, Ellen sudah menggebu-gebu ingin melabrak adik iparnya yang sudah mencemarkan nama baiknya.
"Putri, bisakah kita bicara sebentar? Ada hal yang sangat penting yang ingin saya tanyakan."Ucap Ellen.
Namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Putri Kath! Tolong buka pintunya!"Teriak Ellen sambil menggedor pintu membuat pelayan yang disekitarnya panik.
"Hei, apa putri Kath ada di dalam kamarnya?"Tanya Ellen kepada salah satu pelayan yang ada di sana.
__ADS_1
"Sa-saya tidak tahu Yang mulia...saya bersumpah!"Ucap pelayan itu ketakutan.
Tak lama Aldrich pun datang menghampiri.
"Oh suamiku, anda datang di waktu yang tepat. Saya ingin menanyakan keberadaan Tuan putri."Ucap Ellen.
"Anak itu tidak ada di kamarnya?"Tanya Aldrich.
"Saya sudah menggedor pintunya dan berteriak memanggilnya berkali-kali, tapi tidak ada sahutan. Saya tanya pelayan, mereka jawab tidak tahu."
"Masa yang begini saja kalian tidak tahu?!Dasar tidak becus! Ravin!"Teriak Aldrich murka.
"I-iya yang mulia."Jawab Ravin kaget.
Ellen baru pertama kalinya melihat suaminya semurka itu.
"Coba kau dobrak pintunya."Ucap Aldrich.
"Baik yang mulia."Ravin pun mulai bersiap mendobrak pintu tinggi besar itu dibantu dengan Aldrich juga. Kekuatan mereka cukup besar hingga BRAK, pintu itu pun terbuka walau pada akhirnya jadi patah.
Aldrich dengan cepat masuk ke kamar dan tidak mendapati adiknya di dalam. Ellen juga ikut masuk dan terkejut tidak melihat keberadaan sang putri.
"Ada apa Ellen? Kenapa rambutmu bisa ada pecahan telur? Ada seseorang yang melakukannya padamu? Dimana Kath?"Tanya Ratu Irene kebingungan dengan kekacauan yang terjadi.
"Jadi ibu juga tidak tahu kemana anak itu pergi?"Tanya Aldrich.
"T-tidak nak...ibu tidak melihatnya karena seharian ibu hanya di dalam kamar..."Ucap Ratu Irene seketika takut melihat wajah Aldrich yang murka.
"Ravin, suruh pengawal untuk mencari Kath. Mereka harus bisa menemukannya."Pinta Aldrich.
"Baik yang mulia."Ucap Ravin segera pergi.
"Dan untuk semua pelayan, aku minta kalian semua berdiri di lapangan dengan satu kaki dan kedua tangan kalian naikkan ke atas. Kalian harus berdiri sampai jam 3. Itu hukuman untuk kalian yang tidak tahu sama sekali keberadaan Kath."Ucap Aldrich.
Ellen terkejut mendengarnya. Sebentar lagi sinar matahari akan semakin naik di musim sepanas ini. Sementara para pelayan malang itu akan berdiri selama 7 jam.
"Yang mulia...bisakah anda tidak terlalu kejam dengan para pelayan? Mereka bisa mati jika harus berdiri selama itu!"Ucap Ellen.
"Diam. Kau tidak berhak untuk memerintahku."
__ADS_1
"Bukan begitu yang mulia...saya hanya-"
"Apa kau mau ikut dihukum bersama mereka?" Tanya Aldrich dan Ellen pun segera menggelengkan kepalanya.
Aldrich kemudian berjalan pergi meninggalkan Ellen dan Ratu Irene yang masih berdiri disana.
Kenapa jadi begini? Lihat Kath, ini semua ulahmu sendiri. Kalau saja kau ada di kamarmu, mungkin kakakmu masih bisa memaafkanmu.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Tolong jelaskan padaku!"Tanya Ratu Irene masih belum paham.
"Putri Kath telah berani menyebarkan rumor tidak benar tentang saya Ibu. Dia bilang kepada semua penduduk bahwa saya tidak punya sopan santun dan suka membully. Dan masih banyak lagi fitnah lain yang disebarkannya. Lalu seorang anak kecil bahkan sudah berani melempar saya dengan telur."Ucap Ellen.
"Apa?! Kenapa anak itu sampai berbuat sejauh ini? Apa dia sama sekali tidak memikirkan resikonya?! Anak itu sudah gila! Dia pasti juga bekerja sama dengan wanita itu!"Teriak Ratu Irene tidak terima.
"Maksud anda Nona Anna, bu?"Tanya Ellen.
"Iya, siapa lagi? Anna mudah sekali untuk menghasutnya. Dia itu ternyata wanita yang licik. Aku saja sering termakan wajahnya yang terlihat tidak berdosa itu."Ucap Ratu Irene.
"Baiklah, karena anda juga mulai membencinya, kita akan semakin mudah untuk memojokkan mereka berdua ibu. Aku akan ikut mencari mereka."Ucap Ellen.
"Buat apa kau ikut mencari? Serahkan saja semua kepada para pengawal. Kau tidak boleh memperlihatkan dirimu sembarangan di luar sana!"Ucap Ratu Irene.
"Yah apa boleh buat. Padahal saya sudah berniat untuk memisahkan kepala wanita itu dari badannya dengan pedang saya."Ucap Ellen.
"Hentikan ucapanmu yang mengerikan itu. Dari pada itu, lebih baik kau bersihkan dirimu dulu. Aku akan memanggil pelayan untuk membantumu."Ucap Ratu Irene tidak tahan dengan bau amis di kepala Ellen.
"Bagaimana mau memanggil pelayan? Mereka semua saja sedang di hukum yang mulia raja, ibu. Tidak apa, saya bisa melakukannya sendiri. Terima kasih karena ibu ikut membela saya kali ini."Ucap Ellen.
"Sudah seharusnya aku pengganti ibumu melakukannya. Putriku itu benar-benar harus dikasih pelajaran. Entah apa yang akan terjadi padanya jika dia berhadapan dengan kakaknya nanti."Ucap Ratu Irene.
Ellen hanya tersenyum. Mereka berjalan kembali ke kamar mereka masing-masing dengan pikiran kalut.
Sesampai di kamar, Ellen mulai mengeluh merasa lelah padahal waktu belum menunjukkan tengah hari.
Haa...seharusnya ini kan liburanku. Kenapa aku malah dapat kesialan?
Ellen melamun di dalam bak mandi. Dia selalu terbayang jika dirinya masih bermimpi. Dia pernah terpikir bagaimana caranya kembali ke masa depan.
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa tekan tombol like 👍)
__ADS_1