Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 68 (Di revisi)


__ADS_3

"Jadi...kau tidak marah kalau aku bukan si Ellen yang asli?"Tanya Ellen terkejut.


"Kenapa harus marah? Aku juga tidak tahu bagaimana sifat si Ellen yang asli dan belum tentu aku menyukainya."Ucap Aldrich.


Ah benar juga! Dasar aku memang bodoh! Tapi...masa iya sih dia menyukaiku...?


Ellen jadi malu sendiri mendengar jawaban tidak langsung dari Aldrich.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya apa yang dikatakan peramal tadi tidak terjadi? Bagaimana kalau apa yang dikatakannya benar? Kurasa dia tidak berbohong."Ucap Ellen masih ketakutan memikirkan ucapan sang peramal.


Aldrich menghela napasnya ikut mengkhawatirkan apa yang dikatakan sang peramal yang seharusnya tidak dia percaya.


Dasar peramal sialan!


"Aku juga tidak tahu. Kita lihat saja kedepannya sampai anak kita lahir."Ucap Aldrich memilih pasrah.


Ellen kurang setuju dengan pendapat Aldrich. Dia pun berencana untuk menemui si peramal itu lagi siapa tahu dia bisa mendapatkan jalan keluarnya.


"Aku berencana untuk menemui si peramal itu lagi yang mulia."Ucap Ellen.


"Kau yakin?"Tanya Aldrich.


Ellen mengangguk. "Kita setidaknya harus berusaha untuk melakukan sesuatu supaya anak kita hidup bahagia."Ucap Ellen serius.


"Baiklah, kalau itu maumu."Ucap Aldrich mengizinkan.


"Yang mulia, aku ada permintaan lagi. Tolong rahasiakanlah identitasku ini dari siapapun. Jangan ada yang boleh tahu tentang diriku yang sebenarnya kecuali hanya kau dan peramal itu saja."Pinta Ellen.


"Tidak akan aku kasih tahu. Mereka sendiri juga tidak akan pernah menyadarinya. Tenang saja."Ucap Aldrich.


"Terima kasih yang mulia."Ucap Ellen merasa begitu lega.


"Hei, sudah kubilang kan jangan panggil aku yang mulia lagi? Apa kau mau aku hukum?"Tanya Aldrich.


"Ah, iya maaf...sayang."Ucap Ellen masih malu-malu untuk memanggil dengan sebutan itu.


Aldrich sempat terbesit mengingat apa yang dikatakan keluarga Ellen ketika Ellen tidak sadarkan diri waktu itu. Mereka mengatakan jika putri mereka memiliki kebiasaan yang berbeda dari yang mereka kenal sebelumnya. Mereka menjelaskan bahwa sosok Ellen yang asli adalah seorang gadis yang lemah, penakut dan dingin.


Sementara yang dia kenal yang sekarang sosok Ellen adalah seorang wanita yang berani, blak-blakkan, selalu ceria dan ramah, dan tentunya sangat mempedulikan orang lain.

__ADS_1


Dia sempat menelan salivanya bahwa sepertinya keluarga Ellen sudah menyadari sesuatu dari putri mereka. Tapi dia memilih untuk tidak memberitahu Ellen supaya istrinya itu tidak kepikiran.


"Jadi kapan kau rencananya akan pergi menemui peramal itu?"Tanya Aldrich.


"Kalau lebih cepat lebih baik kan? Sayangnya aku tidak tahu dimana dia tinggal. Belum lagi dia pasti tersinggung karena kita mengusirnya dengan kasar. Aku jadi khawatir kalau dia punya dendam atas apa yang kita lakukan terhadapnya."Ucap Ellen sambil memijit pelipisnya.


"Kita bisa mencarinya lagi dengan mudah. Hari ini kita sebaiknya istirahat dulu."Ucap Aldrich.


Ellen mengangguk dan menurut. Apa yang dikatakan Aldrich benar. Hari ini dia sangat lelah dengan pikirannya.


Keesokan harinya kedua pasutri itu bersiap-siap untuk mencari keberadaan sang peramal.


"Kak, kalian mau pergi kemana?"Tanya Katherine melihat kedua kakaknya ingin pergi.


"Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan di luar. Jika ibu bertanya, jawablah sesuai dengan yang aku beritahu padamu."Jawab Aldrich.


"Oh, begitu baiklah."Balas Katherine.


"Memangnya ibu dimana putri?"Tanya Ellen.


"Ibu sedang berbincang dengan teman-temannya."Jawab Katherine.


"Oh begitu."


Saat sudah sampai di kota, kedua pasutri itu langsung jadi pusat perhatian para penduduk sekitar situ. Ellen seketika merasa gugup karena pastinya kehadiran mereka berdua membuat para warga menjadi takut.


"Yang mulia, apa anda yakin dengan bertanya kepada para penduduk adalah hal yang tepat?"Tanya Ellen sambil berbisik.


"Kita tidak ada pilihan lain lagi."Jawab Aldrich.


Aldrich mulai ingin menanyakan pada orang-orang yang memerhatikan mereka. "Maaf kami mengganggu waktu kalian, apa kalian tahu seorang wanita tua yang mengaku dirinya peramal?"Tanya Aldrich tanpa basa-basi.


Para warga saling memandang merasa keheranan dan bingung. Tak lama ada satu orang anak lelaki muda yang mengangkat tangannya.


"Saya tahu nenek itu yang mulia!"Jawabnya.


"Oh, siapa dia? Apa kau tahu dimana dia tinggal?"Tanya Aldrich.


"Dia tinggal di kota sebelah yang mulia. Jika yang mulia ingin mencarinya bilang saja ingin menemui Nyonya Henston."Ucap anak lelaki itu.

__ADS_1


"Nyonya Henston ya? Baiklah. Terima kasih sudah memberitahu kami. Ini hadiah untukmu."Ucap Aldrich memberikan sekeping koin emas kepada anak lelaki itu.


"Oh! Terima kasih banyak yang mulia! Semoga yang mulia Raja dan permasuri bisa hidup bahagia selamanya!"Ucap anak lelaki itu sangat senang.


"Terima kasih nak. Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kamu bisa kenal dengan nenek itu?"Tanya Ellen jadi penasaran.


"Ah, dulu dia sering membantuku. Dia nenek yang sangat baik dan sudah menganggapku seperti cucunya. Aku sangat senang dia sering mau mengajakku bermain. Sayangnya dia harus pergi dari kota ini karena para penduduk tidak ada yang percaya dengannya."Ucap anak lelaki itu jadi sedih.


"Oh...kenapa dia tidak dipercaya? Apa karena statusnya?"Tanya Ellen lagi.


"Iya. Orang-orang sudah tidak percaya dengan yang namanya peramal lagi tapi mereka percaya dengan adanya penyihir yang tidak terlihat, aneh kan! Tapi nenek Henston percaya dan dia mengatakan sendiri kalau dia dulunya murid sang penyihir. Dan karena aku melihat dia begitu yakin, aku pun jadi percaya padanya."Ucap anak lelaki itu lagi.


Ellen terdiam dan Aldrich juga ikut diam saling memandang.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya anak muda. Kami berhutang budi padamu. Kalau begitu kami pergi dulu."Ucap Ellen.


"Iya yang mulia, dengan senang hati!"Ucapnya tersenyum lebar.


Ellen membalas dengan tersenyum dan sempat membayangkan jika dia bersama dengan anaknya nanti.


Sesampai di kota sebelah, sesuai apa yang dikatakan anak lelaki tadi, mereka ingin menemui Nyonya Henston. Dengan cepat salah satu orang memberitahu alamatnya kepada mereka.


"Yang mulia, kenapa anda berdua ingin menemui si peramal itu? Apa anda berdua percaya dengannya?"Tanya seorang pria yang baru saja mereka tanyakan. Dari ekspresinya dia terlihat tersenyum merendahkan.


"Kami hanya ada perlu dengannya."Jawab Aldrich.


"Oh begitukah? Tapi kenapa anda berdua harus repot-repot kemari dan kenapa tidak panggil saja dia ke istana?"Tanya Pria itu heran.


"Apa kau bisa berhenti bertanya?"Tanya balik Aldrich jadi kesal karena pria itu ternyata sudah banyak bicara.


Pria itu pun langsung terdiam. "Maafkan saya yang mulia..."Ucapnya ketakutan.


"Ayo Ellen, kita harus cepat."Ucap Aldrich sambil menarik tangan Ellen.


"Baik yang mulia..."


Sesampai di kediaman Nyonya Henston. Pria tadi memberikan alamatnya dengan benar. Nyonya Henston segera keluar seolah sudah tahu jika kedua pasutri itu mengunjungi rumahnya.


"Oh yang mulia Raja dan permasuri yang terhormat, saya tidak sangka jika anda berdua datang kemari."Ucap Peramal itu tetap tersenyum.

__ADS_1


"Sesuai kata anda, anda bilang kalau anda dulunya adalah seorang murid sang penyihir. Jadi apakah kami boleh tahu tentang dirinya?"Tanya Ellen to the point.


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)


__ADS_2