Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 39 (Di revisi)


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari dimana Ellen akan pulang ke rumahnya setelah satu bulan lebih. Dia bahkan tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan banyak hal tentang semuanya begitu sampai nanti dirumahnya.


Apalagi budaya mereka yang selalu mengadakan festival kembang api setiap tahun dan ini benar-benar waktu yang pas untuk menghadirinya.


Ellen jadi semakin merasa bahwa dirinya benar-benar Ellen. Dia tidak memikirkan apapun lagi tentang pertukaran hidupnya. Dan dia cukup bahagia untuk saat ini.


Semua keluarga kerajaan sudah siap. Mereka akan menggunakan 3 kereta kuda masing-masing khusus Ellen dan Aldrich, Kath dan Ratu Irene, dan juga para pelayan khusus mereka.


Di perjalanan, Ellen merasa sedikit canggung dan mengantuk. Semenjak di istana, jujur saja mereka jarang bersama karena adanya kesibukan masing-masing. Tapi sekarang ini mereka hanya berdua di dalam kereta kuda dengan atmosfir yang sungguh aneh.


"Apa kau sesenang itu pulang ke rumahmu?"Tanya Aldrich melihat Ellen yang melamun di luar jendela.


"Eh? Iya yang mulia, saya senang sekaligus merindukannya."Jawab Ellen.


"Setelah sampai disana, kita tidak bisa berlama-lama. Dua hari lagi aku akan pergi ke luar kota."Ucap Aldrich.


"Apa? Luar kota?"


"Aku harus menemui seseorang disana untuk menyelesaikan sesuatu."Jawab Aldrich.


"Kenapa mendadak?"Tanya lagi Ellen.


"Sebenarnya tidak. Aku sudah merencanakannya sejak seminggu yang lalu."


"Jadi apakah Yang mulia tidak terlalu lelah nantinya jika setelah dari rumah saya langsung pergi kesana?" Ellen merasa sedikit tidak enak.


"Apa kau mengkhawatirkanku?"Tanya Aldrich sengaja menggoda istrinya itu.


"Ah...tentu saja yang mulia. Anda tetaplah suami saya, bagaimana saya tidak khawatir?"Jawab Ellen yang membuat Aldrich membuka matanya lebar.


"Jadi, kapan yang mulia akan kembali?"Tanya lagi Ellen.


"Hmm, sekitar seminggu, aku juga tidak yakin. Jika tugasku selesai lebih cepat, aku akan langsung kembali."Jawab Aldrich.


Ellen tidak tahu apa dia harus senang atau sedih. Menghindari sang Raja dulunya adalah bagian dari rencananya. Tapi sekarang mungkin tidak masalah jika Aldrich pergi untuk sebentar?


"Oh baik yang mulia, terima kasih sudah memberitahu saya."Ucap Ellen.


Di novel sang Raja jika memiliki pekerjaan di luar kota tidak akan pernah mau memberitahu istrinya karena menurutnya tidak penting. Tapi sekarang semuanya berkebalikan.


Ellen jadi sedikit merasa apakah yang mulia raja memiliki perasaan padanya? Dia tidak mau terlalu percaya diri karena bagaimanapun juga Aldrich memiliki segalanya.


Sesampai di kastil, Ellen langsung turun cepat bahkan dia tidak mempedulikan kusir yang ingin membantunya turun.


Tuan Marcus dan Nyonya Ziane sudah berdiri ingin menyambut kedatangan mereka.


"Ibu! Ayah! Teriak Ellen memanggil kedua orang tuanya hingga mereka sedikit kaget. Ellen berlari mengejar seperti anak kecil dan memeluk mereka memenuhi rasa kerinduannya.

__ADS_1


Tuan Marcus dan Nyonya Ziane pun memeluk putri cantik mereka merasa terharu. Kath dan Aldrich yang melihat adegan itu entah kenapa jadi sedikit merasa iri. Sementara Ratu Irene ikut merasakan kehangatan itu.


Setelah selesai berpelukan, Nyonya Ziane menyentil jidat Ellen yang membuat Ellen meringis kesakitan.


"Aw! Ibu sakit!"


"Dasar anak ini, tidak berubah sama sekali! Kau kan sudah jadi permaisuri, Kenapa sifatmu seperti ini sih?!"Ucap Nyonya Ziane kesal karena merasa segan dilihat oleh keluarga kerajaan.


"Haha, tidak apa-apa sayang, putri kita tetaplah manis."Ucap Tuan Marcus sambil mengelus kepala Ellen.


"Hehe itu benar bu!"Ucap Ellen malah cengengesan.


"Salam yang mulia Ratu, yang mulia Raja dan Tuan putri..."Ucap Nyonya Ziane mengangkat roknya hormat.


Aldrich hanya mengangguk sama seperti Kath.


"Salam untukmu juga Nyonya Ziane. Anda tetap cantik ya."Puji Ratu Irene.


"Ah terima kasih yang mulia. Anda juga masih sangat cantik."Puji Nyonya Ziane balik.


"Ayo, silahkan masuk yang mulia, saya akan mengantar kalian untuk beristirahat."Ajak Nyonya Ziane.


Mereka semua menurut. Aldrich sempat mencari dimana istrinya. Dia tidak percaya jika Ellen sudah menghilang saja dari pandangannya, padahal tadi Ellen sedang bersama mereka.


Sementara Ellen pergi mengejar kakaknya yang sedang berjalan ke suatu tempat. Dan saat itulah dia melihat punggung kakaknya dengan jelas di hadapannya.


"Ellen?! Kapan kau sampai?"


"Baru saja. Kenapa kakak tadi tidak menyambut kepulanganku?"Tanya Ellen cemberut.


"Oh aku tadi tidak tahu, maaf."Ucap Erick kemudian dia gantian memeluk adiknya.


"Kakak juga tidak memberitahuku jika kau mau menikah besok."


"Ah haha, kan ibu sudah memberitahumu. Sudahlah, yang penting kau sudah sampai disini." Ucap Erick.


"Siapa calon istri kakak? Kasih tahu aku dong please!"Ucap Ellen memohon.


"Tidak bisa. Kau harus menunggu sampai besok."


"Kenapa?!"Tanya Ellen frustasi.


"Kejutan. Sabar sedikit kenapa sih! Lebih baik kau pergi istirahat saja sana. Ada hal yang masih harus aku kerjakan."Ucap Erick.


"Kakak sungguh menyebalkan!"Ucap Ellen kesal.


"Apa kau tidak takut pada suamimu? Keluarga kerajaan pasti ikut semua kan? Seharusnya kau menemani mereka bodoh!"

__ADS_1


"Ah iya, benar juga. Aku hanya merindukan kakak."Ucap Ellen.


"Kan sudah ketemu denganku. Sekarang kembalilah kesana."Ucap Erick.


"Huh, baiklah."Ucap Ellen kembali dengan kesal dan dia sedikit merasa aneh dengan sikap kakaknya yang tidak biasa.


Sebenarnya ada apa sih?


Ellen terus memerhatikan kakaknya yang sudah berjalan sedikit jauh dari pandangannya sampai dia tidak sadar jika dia telah menabrak seseorang di depannya.


"Aduh!"Pekik Ellen kaget.


"Nona Ellen? Ah maksud saya yang mulia permaisuri? Anda sudah kembali ternyata!"Ucap suara seorang pria bernama Yohannes. Ellen mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang bertubuh tinggi itu.


"Pangeran Yohannes? Sedang apa Anda disini?"Tanya Ellen kaget.


"Saya sering kemari seperti biasa. Bagaimana kabar Anda yang mulia?"Tanya Yohannes.


"Kabar saya baik pangeran. Bagaimana dengan anda?"Tanya balik Ellen.


"Saya juga baik Yang mulia."Ucap Yohannes terlihat senang.


"Saya sebenarnya sungguh merindukan anda. Sepertinya hari ini benar-benar hari keberuntungan saya berkunjung ke kastil."Ucap Yohannes.


"Benarkah? Kenapa anda suka sekali datang kemari?"


"Karena saya memiliki teman disini. Saya selalu merasa tidak nyaman saat berada di istana. Rasanya lebih bebas saja disini."Jawab Yohannes.


Kupikir aku tidak akan bertemu dengannya lagi.


"Ngomong-ngomong bagaimana anda sekarang? Saya hanya penasaran apa anda hidup cukup baik disana."Tanya Yohannes.


Yah, sebenarnya aku telah melewati cukup banyak konflik. Tapi sebaiknya aku tidak perlu memberitahunya...


"Saya hidup dengan sangat baik kok pangeran. Terima kasih sudah bertanya."Jawab Ellen.


"Oh begitu, syukurlah."Yohannes merasa sedikit canggung.


"Ehm maaf pangeran, saya harus menemani keluarga saya dulu. Kapan-kapan jika saya punya waktu, saya akan menyempatkan diri untuk mengobrol dengan anda."Ucap Ellen teringat suaminya.


"Oh iya, Permaisuri. Terima kasih untuk waktu anda."Salam Yohannes.


Ellen tersenyum kemudian dia segera pergi masuk ke dalam kastilnya. Seketika semua orang yang menunggu kedatangannya melihatnya dengan tatapan sedingin gunung es, terutama Aldrich dan sang ibu.


Mati aku!


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)

__ADS_1


__ADS_2