
Malamnya, Kath mendatangi Ellen. Mereka baru saja selesai makan malam.
"Hei kak, bagaimana dengan janjimu? Kita jadi kan pergi kesana?"Tanya Kath.
"Hm? Tentu saja tuan putri. Tunggu sebentar ya, saya akan bersiap-siap dulu, putri juga bersiaplah."Jawab Ellen.
"Memangnya festivalnya diadakan dimana?"Tanya Kath.
"Di lapangan hijau, tuan putri. Hanya disana orang-orang bisa menembakkan kembang api dengan bebas. Kita perlu naik kereta kuda untuk kesana."
"Apa tempatnya jauh?"
"Tidak sih. Tapi kalau berjalan kaki akan membutuhkan waktu yang lama. Oh ya, apa anda sudah meminta izin kepada ibu?"Tanya Ellen balik.
"Tidak. Aku takut. Lebih baik kita pergi diam-diam saja."Ucap Kath.
Ellen kemudian menyentil jidatnya dan Kath pun meringis kesakitan.
"Aw! Kau apa-apaan sih kak! Kenapa sentil jidatku?!"
"Jangan bicara omong kosong. Anda mau membuat masalah untuk yang kedua kalinya?"Ucap Ellen marah.
"Tidak, aku tidak bermaksud mengulanginya. Aku hanya takut."Ucap Kath merasa bersalah.
"Kalau begitu biar saya yang membujuk ibu."
"Kakak yakin?"
"Percayalah pada kakak ipar anda ini."Ucap Ellen meyakinkan.
"Entah kenapa firasatku tidak baik."
Ellen tidak merespon ucapan Kath dan dia langsung naik ke atas untuk menemui mertuanya yang sedang ada di dalam kamar.
"Ibu, apa saya boleh masuk?"Tanya Ellen dari luar pintu.
"Masuklah."Jawab Ratu Irene.
Ellen pun masuk dan melihat Ratu Irene yang sedang duduk santai di sofa.
"Ibu, hari ini ada Festival kembang api di lapangan hijau. Bolehkah kami pergi kesana? Maksud saya, Kath juga ikut. Dia ingin sekali melihat kembang api." Tanya Ellen berharap.
"Apa? Festival kembang api? Kalian boleh saja pergi kecuali Kath. Aku tidak mengizinkannya."
"Kenapa ibu?"Tanya Ellen kecewa.
"Karena jelas-jelas itu berbahaya! Banyak orang telah mengalami kecelakaan gara-gara benda itu."
"Tidak apa-apa ibu. Kami hanya menonton dari jarak jauh, jadi tidak akan berbahaya. Saya bisa menjaminnya. Kakak saya juga ikut menemani."Ucap Ellen.
"Bagaimana bisa kakakmu ikut padahal besoknya dia akan menikah?"Tanya Ratu Irene.
__ADS_1
"Ibu tenang saja. Kakak saya tidak masalah dengan itu. Justru dia sangat menyukai acara itu dan kami tidak pernah melewatkannya sekalipun. Saya mohon ya ibu, sekali ini saja izinkan saya membawa putri Kath?"Ucap Ellen memohon.
Ratu Irene benar-benar tidak bisa menolak ketika Ellen memohon seperti anak kecil. Hatinya tidak kuat melihat ekspresi wanita kecil itu.
"Haa, jam berapa itu akan dilaksanakan?"Tanya Ratu Irene.
"Jam 10 malam ibu."
"Apa?! Tidakkah itu kemalaman? Itu jam dimana seharusnya kalian tidur!"
"Sekali-kali tidak apa-apa kan bu? Melawan aturan yang masih biasa tidak akan terjadi masalah, justru itu akan sangat menyenangkan. Lagipula hanya sekali ini saja ibu."Ucap Ellen masih memohon.
"Anak jaman sekarang semakin aneh saja."Gumam Ratu Irene merasa pusing.
Heh, ibu belum tahu saja jaman di duniaku. Jauh lebih aneh daripada ini. Mungkin ibu akan sakit jantung setelahnya.
"Kalian berjanji tidak akan ikut main kembang api?"Tanya Ratu Irene.
"Tentu saja ibu. Jadi ibu mengizinkan kami?"
Ratu Irene merasa sedikit keberatan. Tapi pada akhirnya dia menyetujui permintaan Ellen yang terlihat meyakinkan.
"Baiklah. Langsung pulang setelah itu."Ucap Ratu Irene.
"Baik ibu. Terima kasih! Saya akan menjaga putri Kath. Kalau begitu kami izin pergi ya ibu."Ucap Ellen.
Setelahnya, Kath langsung menghampiri Ellen yang baru keluar dari kamar Sang ibu. Ternyata dia sudah menunggu dari tadi.
"Iya, tapi aku tidak mendengar apa yang kalian bicarakan. Jadi bagaimana? Apa ibu mengizinkan?"Tanya Kath.
Ellen kemudian memberi jempol bahwa rencananya berhasil. Seketika Kath membulatkan matanya merasa begitu senang.
"Sungguh? Bagaimana kau melakukannya?"Tanya Kath tidak percaya.
"Hohoho rahasia putri. Daripada itu, ayo kita kesana. Kakak saya yang akan menemani kita."
Mereka pun mulai bersiap dan hendak keluar untuk berangkat. Namun tiba-tiba Aldrich muncul menghalangi mereka berdua.
"Ah, yang mulia?"
"Mau kemana kalian?"Tanya Aldrich.
"Kami ingin melihat Festival kembang api kak. Kami juga sudah izin kepada semuanya, termasuk ibu."Jawab Kath.
"Festival kembang api? Dimana itu?"Tanya lagi Aldrich.
"Di lapangan hijau yang mulia. Jam 10 akan dimulai. Kakak saya juga ikut menemani kami berdua."Jawab Ellen.
"Apa kakak mau ikut? Kakak juga belum pernah sempat melihatnya kan?"Ajak Kath.
"Tidak, aku malas melihat acara anak-anak seperti itu. Membuat telingaku sakit saja."
__ADS_1
Cih, sombong sekali. Dia belum merasakan rasanya bersenang-senang yang sesungguhnya ya?
"Oh ya sudah tidak apa-apa yang mulia. Kalau begitu kami pergi dulu."Ucap Ellen dan kedua gadis itu pun mulai pergi melewati Aldrich.
Namun saat diluar, Aldrich mendengar suara Yohannes memanggil nama istrinya.
"Yang mulia Permaisuri Ellen, dan tuan putri Kath!"Sapa Yohannes senang.
"Pangeran Yohannes? Anda ikut juga?"Ucap Ellen kaget sementara Kath hanya membalas dengan tersenyum.
"Iya permaisuri. Bukankah kita dulu sering pergi kesana bersama, iya kan Erick?"Tanya Yohannes kepada Erick.
"Ah...iya benar."Ucap Erick.
"Tunggu apa lagi? Ayo kita pergi sekarang!"Ucap Yohannes hendak mengulurkan tangannya kepada Ellen.
"Tunggu!"Panggil Aldrich tiba-tiba dan menghampiri mereka.
"Ada apa yang mulia?"Tanya Ellen.
"Aku juga ikut."Ucap Aldrich yang membuat semua orang membelalakkan matanya. Aldrich langsung menatap tidak suka kepada Yohannes dan pria itu menyadarinya.
"Lho, tadi bukannya kakak tidak mau ikut?"Tanya Kath.
"Aku berubah pikiran."Ucap Aldrich.
Ellen merasa kesal namun sekaligus senang. Entah kenapa dia merasa seperti itu. Sementara kedua pria yang dekat dengannya muncul aura dingin entah darimana.
"Ah kalau begitu, kita semua pergi. Dua kereta kuda sepertinya cukup."
"Kath, kau ikut bersama mereka."Ucap Aldrich.
"Apa?! Tidak! Masa aku wanita sendiri yang ikut mereka? Kenapa aku tidak barengan kakak saja?"Ucap Kath tidak terima.
"Jangan melawan kata-kataku. Ikut saja dengan mereka atau kau tidak jadi pergi."Ancam Aldrich.
Haa...dasar yang mulia...
Kath dengan mendengus pun memilih ikut mereka. Disitu Yohannes tampak sangat membenci Aldrich yang suka bersikap sesuka hatinya saja. Dia juga mengira bahwa Ellen sebenarnya tidak nyaman.
Akhirnya mereka pergi masing-masing dengan kedua kereta kuda.
Sesampai disana, mereka datang tepat waktu. Semua orang berkumpul untuk memulai menghidupkan kembang api.
DUAR! satu tembakan ke atas langit meledak dan membuat siapa saja yang melihatnya terpesona. Aldrich juga baru pertama kali melihat cahaya berbentuk bunga itu terhias di langit. Dan dia juga melihat Ellen yang begitu girang melihat kembang api sambil bersorak begitu juga dengan yang lainnya.
Kath juga tidak pernah tersenyum sebahagia itu sebelumnya. Dia tampak bebas seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya.
Dan yang paling utama, senyum Ellen yang seperti malaikat dan pantulan sinar kembang api di bola matanya benar-benar sangat indah.
Aldrich tanpa sadar terpesona oleh kecantikannya. Dia tidak bisa melepas pandangannya dari wanita itu. Dia pun ikut tersenyum melihat istrinya yang begitu bahagia. Dan siapa sangka, jika Yohannes juga terpesona melihatnya.
__ADS_1
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)