
Penantian yang ditunggu Ellen akhirnya muncul juga.
Cklek, Aldrich masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya yang sudah mengenakan baju tidurnya.
"Kau belum tidur?"Tanya Aldrich melihat istrinya itu masih duduk di atas ranjang.
"Belum. Aku merasa belum mengantuk. Bagaimana pestanya? Apakah semua orang terlihat senang?"Tanya Ellen memastikan.
"Aku tidak tahu."Jawab Aldrich singkat yang membuat Ellen kesal.
Huh, dasar tidak pedulian...
"Sini, biar aku saja yang membantumu membuka bajunya."Ucap Ellen kali ini berinisiatif. Aldrich sempat terkejut dengan sikap Ellen.
Aldrich pun diam ditempatnya dan melihat istrinya yang membantu membuka bajunya.
"Kau pasti lelah kan suamiku. Terima kasih karena kau sudah mengizinkan aku untuk mengadakan pestanya kembali. Kuharap orang-orang senang."Ucap Ellen.
Aldrich diam saja sambil memandangi wajah istrinya yang jaraknya cukup dekat dengannya.
Setelah siap, Ellen kemudian mengambilkan baju tidur untuk Aldrich dari dalam lemari. Aldrich dengan menurut pun mulai memakai piyamanya dan mereka berdua segera tiduran di ranjang.
"Sayang, bolehkah aku tanya sesuatu padamu?"Tanya Ellen.
"Hmm."Aldrich sudah memejam matanya.
"Gambar tadi, apakah kau pernah menggambar orang lain selain diriku? Maksudku seperti Nona Anna atau Nona Lizzy misalnya?"
"Kenapa membahas mereka? Aku kan sudah bilang kalau aku hanya menggambar sesuatu yang menarik."Jawab Aldrich.
"Kalau begitu apa aku menarik?"Tanya Ellen memberanikan dirinya.
"Kalau tidak, kenapa juga aku harus menikahimu?"Ucap Aldrich yang membuat Ellen tersentak.
Jadi dia pikir aku ini menarik? Apa-apaan itu?!
"Jadi aku ini menarik menurutmu? Sayang? Kau sudah tidur? Huh..."Ellen merasa kesal sekaligus malu dengan jawaban Aldrich barusan.
Aldrich hanya diam dan berpura-pura memilih tidur.
Kita menikah kan sebenarnya hanya untuk menghindari kutukan penyihir...tapi yah bisa saja sih kau menikah dengan wanita lain...
Keesokan harinya, Aldrich sempat berpikir untuk mengajak istrinya itu ikut pergi bersamanya ke negara lain. Dia bermaksud sekalian berbulan madu. Sejak di hari pertama pernikahan mereka, pasutri itu belum ada menikmati waktu berdua mengunjungi tempat yang indah.
"Ellen, besok aku memutuskan kau ikut bersamaku ke negara xxx."Ucap Aldrich tiba-tiba.
"Apa? Memangnya kita mau ngapain yang mulia?"Tanya Ellen kaget.
__ADS_1
"Kau hanya menemaniku kesana. Jangan banyak tanya dan lakukan saja apa yang kusuruh."Ucap Aldrich malas.
"Oh, baiklah..."Ellen pun memilih tidak melanjutkan pertanyaannya.
Di hari itu juga, para pelayan sibuk mengemasi barang-barang si pasutri untuk dibawa.
"Ellen, kalian akan pergi?"Tanya Ratu Irene yang ikut melihat para pelayan memberesi perlengkapan.
"Ah benar ibu. Yang mulia Raja barusan bilang kepada saya kalau besok kami rencananya akan pergi ke negara xxx."Jawab Ellen.
Ratu Irene sempat mengernyitkan alisnya.
Hmm, putraku pekerjaan di luar sedang aman-aman saja, apakah...jangan-jangan...! Ah dasar, putraku diam-diam romantis ya? Berkat Ellen, anak itu sudah jauh berubah.
"Oh begitu, dia tidak ada mengatakan mau pergi kesana untuk apa?"Tanya Ratu Irene.
"Tidak ibu. Dia tidak mau mengatakannya. Padahal aku penasaran sekali."Ucap Ellen cemberut.
"Haha, kalau begitu lihat saja besok apa yang mau dia lakukan."Ratu Irene tergelak melihat dua sepasang anaknya yang lucu.
Tiba-tiba Katherine muncul dan mendengar obrolan kedua wanita itu.
"Kalian berdua akan pergi kak? Kemana?"Tanya Kath yang ikut penasaran.
"Iya putri, besok kami rencananya akan pergi ke negara xxx."
"Katherine!"Ratu Irene menegur Kath yang tidak peka.
"Kenapa? Apa aku salah? Aku kan juga mau liburan ibu!"Ucap Kath keras kepala.
"Tidak boleh! Anak kecil sepertimu tidak boleh ikut dan menghancurkan waktu kebersamaan kedua kakakmu!"Ucap Ratu Irene marah.
"Apa? Oh, jadi mereka ingin menghabiskan waktu berduaan saja tanpa aku? "Katherine merasa tidak terima.
"Ah, kita tidak tahu jika minta izin dengan yang mulia Raja putri..."Ucap Ellen jadi panik.
"Tidak perlu Ellen. Kalian pergi berdua saja. Anak ini memang sangat tidak peka. Jika kau minta izin pada suamimu, dia pasti akan marah padamu."Ucap Ratu Irene.
Ellen berpikir apa yang dikatakan Ratu Irene ada benarnya juga. Suaminya itu sangat sensitif dan galak.
"Ah ya, benar juga. Maaf ya putri, lain kali saja kita pergi liburan bersama, aku janji akan membawamu ikut liburan bersama."Ucap Ellen merasa tidak enak.
"Cih, kalian semua menyebalkan!"Katherine merasa kesal dan dia segera pergi meninggalkan kedua wanita itu untuk masuk ke kamarnya.
"Aduh dasar anak itu, sikapnya masih belum berubah. Benar-benar tidak menunjukkan sikap seorang putri yang terhormat!"Ratu Irene merasa pusing sekaligus kesal dengan sikap manja putrinya yang keras kepala.
"Sudahlah ibu, dia mungkin lagi kesal saja. Saya akan mencoba membujuknya kembali nanti."Ucap Ellen.
__ADS_1
"Lebih bagus jika kau berikan pelajaran untuknya."Ucap Ratu Irene.
"Haha..."
Keesokan paginya, Kedua pasutri itu sudah bersiap-siap dan mereka saat ini sedang menikmati acara sarapan pagi mereka sekeluarga.
"Aldrich, kalian liburan sepuasnya lah disana. Sudah waktunya kalian memang harus menghabiskan waktu berduaan."Ucap Ratu Irene sempat mengedipkan satu matanya.
Aldrich diam saja dan dia hanya tersenyum samar.
Sebenarnya Aldrich ingin merencanakan apa sih? Apa dia sungguh-sungguh ingin membawaku berbulan madu? Sifatnya benar-benar sangat jauh dari ekspetasiku...
Sebenarnya Ellen sempat berharap jika suaminya itu ingin mengajaknya berbulan madu. Dia juga seumur hidupnya belum sempat menikmati jalan-jalan ke tempat yang ingin dikunjunginya.
Setelah selesai sarapan, kedua pasutri itu pun pergi dengan naik kereta kuda. Namun setelah tiba di suatu tempat kereta kuda berhenti.
Ellen merasa heran kenapa kereta kudanya harus berhenti.
"Ayo turun."Pinta Aldrich.
Ellen menurut dan dia dibantu Aldrich untuk turun karena dia memakai gaun yang roknya cukup panjang.
Ellen terkejut saat melihat yang ada di depan matanya.
"K-kita akan naik kereta api?!"Tanya Ellen tidak percaya.
"Jika kita naik kereta kuda, akan menghabiskan waktu selama berhari-hari. Kau juga sedang hamil. Kalau naik kereta api hanya membutuhkan waktu setengah hari saja."Jawab Aldrich.
"Oh begitu, oke!"Ellen langsung tampak girang karena sesungguhnya baru kali ini dia menaiki kereta api di jaman dulu. Ellen hendak cepat-cepat menaiki kereta api itu.
"Hati-hati!"Ucap Aldrich membantu Ellen untuk naik.
Setelah semuanya duduk di dalam kereta api, Ellen dengan antengnya duduk sambil memandang jendela melihat pemandangan dari luar.
"Apa kau baru pertama kali menaiki ini?"Tanya Aldrich.
"Iya! Aku dari dulu sempat ingin menaikinya, dan pada akhirnya impianku terwujud!"
"Dasar norak."Ucap Aldrich.
"Biar saja! Aku tidak pernah menyangka jika kita benar-benar pergi naik kereta api. Terima kasih sayang!"Ucap Ellen sambil mengecup pipi Aldrich.
Aldrich kaget dengan perlakuan Ellen yang belakangan ini selalu tiba-tiba kepadanya. Pipinya memerah tersipu.
Haa, cuma naik kereta api saja segirang itu. Kayak bocah saja!
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)
__ADS_1