
"Psst, hey Marcel. Ada apa dengan Tuan Yohan? Apa aku sudah salah bicara padanya?"Bisik Freddy kepada Marcel di sebelahnya.
"Entahlah. Kurasa suasana hati Tuan Yohan sedang tidak bagus."Balas Marcel.
"Tapi dia sangat menyebalkan menurutku dia tiba-tiba mendesakku begitu."Bisik Freddy lagi diam-diam menatap sinis kearah majikan yang ada di depannya.
Russel yang melihat kedua temannya saling berbisik pun merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan. Dia menyikut Freddy yang ada di sampingnya.
"Hei, kalian sedang bisik-bisik apa? Beri tahu aku dong."Tanya Russel.
"Hm? Bukan pembicaraan yang penting kok. Ya kan Marcel?"Tanya Freddy sambil mengedipkan satu matanya.
"Iya itu benar."Jawab Marcel dengan wajah polos sambil menganggukkan kepalanya.
Russel pun melirik kedua temannya dengan tatapan curiga. "Hmm benarkah?"
Marcel dan Freddy saling menatap satu sama lain kemudian menatap Russel lalu mereka berdua menganggukkan kepala bersama.
Jika aku beri tahu anak ini, dia pasti tidak akan bisa menjaga rahasia.
"Russel, dimana makanannya? Kau sudah memesan makanannya kan? Kami berdua sangat kelaparan menunggu dari tadi!"Ucap Yohan yang merasa tidak sabar.
"Eh iya, saya sudah memesan makanannya kepada pelayan kok Tuan. Sebentar lagi pesanannya akan diantar kesini."Jawab Russel.
Lydora melihat Yohan yang terlihat gelisah dan wajahnya juga sedikit pucat. Terlihat juga Yohan sedang memegang perutnya seperti menahan lapar.
Ada apa dengannya? Apa dia sakit? Atau jangan-jangan dia berbohong kalau dia sebenarnya tadi belum sarapan?
"Yang muli-, Eh, maksud saya Tuan, apakah anda baik-baik saja? Wajah anda sedikit pucat."Tanya Lydora yang merasa khawatir.
"Aku baik-baik saja."Jawab Yohan dengan wajah datarnya.
Tak lama pelayan pun muncul sambil membawa nampan berisi makanan. Aroma makanannya langsung tercium dan semuanya sedang menahan lapar tidak sabar untuk menyantap makanan itu.
"Silahkan dinikmati makanannya Tuan-tuan. Saya permisi."Ucap Pelayan itu dengan ramah kemudian dia pergi.
Lydora membulatkan matanya saat melihat ada tiga ayam kalkun panggang yang sangat besar di atas meja. Ada juga sup krim jagung yang sangat harum baunya, dan beberapa roti lapis dengan daging ham dan sayuran hijau yang dipanggang.
Yohan lalu menggeser pesanan miliknya. Dia melirik Lydora yang matanya sudah berbinar-binar menatap ayam panggang yang sangat menggoda itu.
__ADS_1
"Nah makanlah sepuasmu. Tapi tolong ilap dulu air liurmu itu."Ucap Yohan.
Lydora tersentak saat Yohan mengatakan ada air liur di mulutnya dan dia reflek mengilapnya dengan punggung tangannya.
Namun Lydora tidak merasakan ada air liur yang menetes di bibirnya dan dia baru sadar kalau dia sedang ditipu. Lydora pun melirik Yohannes dengan sinis.
Cih, ternyata dia menipuku! Dia sengaja ingin membuatku malu!
Lydora sangat kesal apalagi saat melihat wajah Yohannes yang datar terlihat lebih menyebalkan.
"Tuan, apa tidak apa-apa kita makan ini? Apa orang-orang istana tidak akan marah?"Tanya Lydora yang cemas. Dia melihat Yohannes yang sudah menyantap ayam kalkun itu dengan lahap.
"Sekali-kali tidak apa-apa. Kau tidak usah memikirkan orang-orang istana kalau kau masih mau merasakan yang namanya kebebasan."Ucap Yohan dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Hmm, baiklah."Lydora baru pertama kali melihat sisi Yohannes yang seperti itu. Di istana orang-orang tidak diizinkan untuk berbicara saat makan untuk menjaga etika. Dan mereka juga tidak diperbolehkan makan diluar apalagi makan makanan sembarangan. Seorang kaum kerajaan harus menjaga etika, kesehatan, berat badan dan statusnya demi martabat kerajaan dan negaranya.
Sementara di istana, Ratu Edna bertanya-tanya kemana putra dan juga menantunya pergi. Dia pun memanggil kepala pelayan Arnold untuk bertanya tentang kepergian kedua anak itu.
"Arnold, apa kau tahu kemana Yohan dan Lydora pergi?"Tanya Ratu Edna.
Arnold terdiam sejenak. Pria paruh bayah itu merasa sedang diintrogasi. Tadi dia baru saja diancam oleh Yohannes agar tidak bilang bahwa majikannya sedang pergi keluar sambil membawa Lydora bersamanya.
"Oh, jadi begitu rupanya."Ratu Edna tiba-tiba tersenyum senang.
"Kalau begitu biarkan saja. Biarkan mereka menikmati waktu berduaan dulu."Ucap Ratu Edna.
"Ah...baik yang mulia."
"Kau bisa pergi sekarang Arnold."Ucap Ratu Edna.
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu Yang mulia..."Pamit Arnold kemudian pergi meninggalkan ruangan Ratu Edna.
Ratu Edna juga memutuskan untuk kembali ke kamar untuk menjaga suaminya karena dia sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Sepertinya mereka berdua sudah mulai ada kemajuan.
Kembali di restoran, kedua pasangan itu baru saja selesai makan dan Lydora merasa begitu puas. Dia belum pernah makan makanan enak sebanyak itu seumur hidupnya.
"Karena kita sudah selesai makan, ayo kita pergi dari sini."Ucap Yohannes langsung beranjak dari kursinya.
__ADS_1
"Eh, kalian berdua sudah mau pergi Tuan?"Tanya Marcel.
"Iya, kami masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan."Jawab Yohannes.
Lydora terlihat sedih karena dia belum berkenginan untuk kembali ke istana.
"Jadi kita akan langsung kembali ke istana, Tuan?"Tanya Lydora.
"Jadi kau mau tetap disini? Kalau begitu kau disini saja bersama mereka. Pekerjaanku masih banyak."Ucap Yohan.
"Eh, t-tidak! Saya tetap ikut dengan anda. Baiklah, ayo kita pulang."Ucap Lydora reflek memegang lengan baju Yohan.
Lydora pun langsung berdiri dan memberi salam kepada ketiga pria itu untuk pamit pulang, begitu juga dengan Yohannes.
Mereka masuk ke dalam kereta kuda kembali dan kereta kuda mulai berjalan. Sama seperti sebelumnya, di dalam kereta kuda hanya ada keheningan tanpa adanya obrolan.
Lydora terlihat sangat bosan apalagi saat sudah sampai di istana, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain membaca buku yang harus di hapalnya di dalam kamar sampai menunggu jam makan malam.
Setengah jam kemudian Lydora mengernyitkan alisnya heran karena dia merasa tidak sampai-sampai ke istana. Padahal waktu berangkat tadi waktunya sangat cepat untuk sampai ke restoran dan dia baru sadar jika arah jalan yang sedang mereka lewati bukan menuju pulang ke istana.
"Yang mulia, kita tidak kembali ke istana?"Tanya Lydora.
"Tidak."Jawab Yohannes singkat.
"Jadi kita...akan pergi kemana yang mulia?"Tanya lagi Lydora.
"Sudah kau jangan banyak bicara. Lihat saja kereta kudanya akan pergi membawa kita kemana. Kau akan tahu sendiri setelah sampai disana."Ucap Yohannes.
"Hmm, baiklah yang mulia. Saya harap kita tidak berlama-lama keluar dari istana. Saya takut orang-orang istana mencemaskan kita."Ucap Lydora.
"Kalau kau mengkhawatirkan mereka, aku akan menurunkanmu disini. Kau pulang jalan kaki."Ucap Yohan yang membuat Lydora kaget.
"Eh, tidak! Saya tetap akan ikut anda, yang mulia. Maafkan saya..."Ucap Lydora yang langsung takut.
"Kalau kau tetap ingin ikut, berarti kau harus tetap diam. Mengerti?"
"Baik, yang mulia."Ucap Lydora yang pasrah.
Cih, menyebalkan sekali pria ini. Padahal aku bertanya baik-baik tapi dia malah marah-marah.
__ADS_1
Next....