
Beberapa saat kemudian, Lydora membuka matanya dan terkejut saat dirinya sudah berbaring di atas tempat tidur saja. Lebih tepatnya dia sudah berada di dalam kamar Yohannes.
"Kau sudah bangun?"Tanya seorang pria yang berada di samping Lydora.
Lydora pun menoleh ke samping dimana suaminya juga sedang duduk di sebelahnya. Lydora dengan cepat langsung bangun untuk duduk menyamakan posisinya dengan suaminya itu.
"Saya tidak sadar saya sudah berada di sini saja. Saya masih ingat kalau tadi saya bersama Felice di taman. Sepertinya saya ketiduran...Apakah anda yang memindahkan saya tadi, Yohannes?"Tanya Lydora.
"Ya...maafkan aku karena mengunci pintu kamarnya. Tadi aku hanya ingin membutuhkan waktu sendiri sebentar."Ucap Yohannes dengan nada merendah lalu dia menoleh ke arah samping merasa malu untuk menunjukkan sisinya yang cengeng di hadapan Lydora.
Lydora spontan langsung menyentuh tangan Yohannes bermaksud untuk mengerti perasaan suaminya saat ini. Yohannes yang tiba-tiba disentuh tangannya pun tersentak dan langsung menoleh ke arah istrinya lagi.
"Saya paham dengan perasaan anda saat ini, Yohannes. Saya juga sangat sedih...karena saya sendiri baru beberapa kali bertemu dengan beliau. Saya ikut merasakannya. Kehilangan orang yang sangat kita cintai itu sangat menyakitkan. Tapi kita tetap harus bisa mengikhlaskannya Yohannes, agar Beliau tenang disana..."Ucap Lydora.
"Aku tahu...tapi kau juga tahu kan kalau keluarga kandungku satu-satunya pada akhirnya sudah pergi. Dan sekarang aku sendirian...."Ucap Yohannes tertunduk.
Lydora lagi-lagi spontan bergerak dan membuat Yohannes menaikkan kepalanya. Yohannes membulatkan matanya saat istrinya itu memeluknya.
"L-lydora...?"Tanya Yohannes yang gugup. Namun Lydora tidak menjawabnya dan tetap memeluk Yohannes dengan erat.
Entah kenapa Yohannes merasa jauh lebih tenang saat wanita itu memeluknya. Sepertinya hal itu lah yang sangat dia butuhkan saat ini. Perasaanya menjadi hangat seolah dia sudah tidak merasa sendirian lagi. Yohannes pun tanpa sadar membalas pelukan itu dan ikut memeluk Lydora dengan erat dan menyenderkan kepalanya di atas bahu Lydora.
Beberapa saat, Lydora melepaskan pelukannya. Yohannes kaget melihat kedua mata Lydora yang basah.
"K-kau menangis?"
"Yohannes, anda jangan berkata begitu lagi! Anda itu tidak sendirian. Meskipun kami bukan keluarga kandung anda, tapi kami sangat peduli dengan anda! Anda juga jangan selalu menganggap ibu anda itu buruk walau bukan dia yang melahirkan anda! Dan saya juga berharap anda bisa membuka hati anda pada saya. Maksudnya...anda jangan terlalu dingin pada saya seperti menganggap saya ini orang asing, anggaplah saya ini teman yang bisa mendengar keluh kesah anda. Setidaknya saya bisa membantu dalam hal mendengarkan...saya akan sangat senang jika anda meminta bantuan saya, jadi saya tidak akan merasa menjadi beban saja saat bersama anda..."Ucap Lydora mencurahkan semuanya yang sudah lama ingin dia katakan.
Yohannes sejenak hanya diam dan melongo. Namun dia tersenyum merasa takjub bahwa Lydora benar-benar wanita yang tidak bisa di tebak. Wanita itu benar-benar sudah berusaha keras.
Lydora merasa heran mengapa suaminya itu tiba-tiba tersenyum. "K-kenapa anda tersenyum? Apa ada yang aneh?"
__ADS_1
Yohannes menggeleng."Tidak bukan apa-apa. Terima kasih sudah menghiburku. Maaf aku selama ini menunjukkan sisi yang dingin padamu. Aku sudah terbiasa menjalani kehidupan seperti ini. Jadi aku mohon kau jangan berpikir kalau aku membencimu. Kau itu baik. Jadi mana mungkin aku membencimu."
Lydora yang mendengar langsung sumringah. Dia tidak bisa menahan senyumnya saat Yohannes mengatakan hal itu kepadanya. Hatinya begitu bahagia karena Yohannes sepertinya sedikit-demi sedikit mulai membuka hati untuknya. Walau agak sedih, tapi dia tidak berharap Yohannes mencintainya. Yang penting dia bisa melihat Yohannes bahagia.
Lydora bahkan sempat tersipu karena baru pertama kali dia melihat Yohannes yang tersenyum hangat kepadanya.
"T-tidak apa-apa Yohannes. Saya senang akhirnya anda bisa tersenyum lagi..."Ucap Lydora yang malu-malu.
Tiba-tiba ada suara cacing yang sedang berteriak meminta makan di dalam perut Lydora dan suaranya terdengar sangat nyaring.
"Pfft, hahaha!"Tiba-tiba Yohannes tertawa kencang.
Lydora yang perutnya keroncongan pun menjadi sangat malu dan dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ahh, anda jangan tertawa! Maafkan saya karena sudah membuat suara memalukan!"
"Tidak, haha aku yang minta maaf. Aku lupa mau menanyakan dirimu apakah kau sudah makan atau belum. Ini sudah hampir sore, dan sejak pagi kau pasti belum makan apapun."Ucap Yohannes.
"Saya sedang tidak berselera makan...anda juga belum makan kan? Mana mungkin saya makan di saat hari duka seperti ini..."Ucap Lydora masih malu.
"Tapi saya mana mungkin berani makan saat Yohannes dan ibu tengah berduka! Itu akan terlihat saya tidak peduli dan saya tentu tidak akan mau melakukannya. Saya lebih suka kalau kita semua makan bersama-sama."Ucap Lydora.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita makan."Ajak Yohannes turun dari tempat tidur. Begitu juga dengan Lydora yang ikut turun dan mengekori suaminya untuk pergi ke ruang makan.
"Kau mau kemana Lydora?"Yohannes malah bertanya.
"Eh? Bukankah kita mau pergi ke ruang makan?"Tanya Lydora bingung.
"Tidak, kita makan disini saja. Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan makanannya kesini."Jawab Yohannes.
"Apa? Ta-tapi saya pikir kita akan makan bersama ibu di ruang makan..."
Yohannes terdiam sejenak. "Kau jangan merasa tersinggung Lydora. Tapi saat ini ibu sedang tidak ingin diganggu. Suasana hatinya masih kacau. Lagipula dia sudah meminta padaku kalau dia ingin kita saja yang makan bersama tanpanya."
__ADS_1
"Kenapa ibu berkata begitu?"Tanya Lydora lagi yang menjadi sedih.
"Ya karena dia ingin melihat kita bisa lebih cepat dekat! Ugh, tadinya aku tidak mau menjelaskannya padamu seperti ini. Tapi kau tidak mengerti..."Ucap Yohannes menjadi malu.
"Ahh...maafkan saya yang kurang peka ini Yohannes."Ucap Lydora ikut malu.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan mengetuk pintu kamar untuk mengantarkan makanan.
"Masuklah!"Sahut Yohannes.
Pelayan itu pun masuk dan menghidangkan beberapa menu makanan di atas meja bundar yang terletak di kamar itu. Lydora heran mengapa makanan yang dihidangkan cukup banyak.
"Makanannya terlalu banyak..."Ucap Lydora.
"Tidak apa. Kau bisa pilih mana yang kau suka. Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka, jadi aku sengaja...menyuruh koki untuk memasak beberapa menu yang ada..."Ucap Yohannes malu-malu.
Lydora menjadi salah tingkah sendiri mengira Yohannes sedang mengambil hatinya.
Ugh, Lydora kau jangan langsung terbawa perasaan ini! Mungkin saja Yohannes ingin menghiburku saja kan?
"Baiklah, terima kasih Yohannes. Sejujurnya saya tidak terlalu pilih-pilih makanan. Hampir semua dari makanan yang dihidangkan ini saya suka terutama makanan manis! Kalau begitu makanan apa yang ada sukai, Yohannes?"Tanya Lydora.
"Ah...aku suka...daging dan makanan pedas, tapi aku tidak terlalu suka manis..."Jawab Yohannes.
"Oh begitu ya? Kalau begitu mari selamat makan!"
Mereka berdua pun makan bersama. Walau Yohannes sedang tidak nafsu makan karena masih memikirkan kepergian ayahnya, tapi perasaanya menjadi sedikit lebih baik saat melihat Istrinya itu makan.
"Lydora..."
"Ya?"
__ADS_1
Next....