Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 35 (Di revisi)


__ADS_3

Ratu Irene merasa terkejut melihat Anna sudah terbaring tidak bernyawa. Aldrich mendekat dan memeriksa denyut nadi pergelangan tangan wanita itu.


"Dia sudah mati."Ucap Aldrich.


"Ya Tuhan! Bagaimana cara kita memberitahu keluarganya jika dia sudah mati?! Mereka pasti tidak akan bisa menerimanya...!"Ratu Irene mulai panik dan dia jadi menangis karena bagaimanapun juga Anna sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri.


"Aku akan langsung bilang saja dan menjelaskan semua yang terjadi. Jika mereka tidak mempercayainya, terpaksa aku yang harus membuat mereka percaya."


"Aldrich, ibu minta kali ini jangan lakukan dengan ancaman lagi apalagi menyangkut tentang kematian seseorang...ibu tahu Anna sudah keterlaluan, tapi tetap saja dia sudah mati. Mungkin keluarga Fernandez tidak akan pernah mau memaafkan kita...tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa kepada kita, benar kan?"Pinta Ratu Irene.


"Ibu tidak perlu mengaturku. Aku yang paling tahu apa yang sebaiknya aku lakukan."Ucap Aldrich.


Ratu Irene pun memilih diam karena bagaimanapun dia masih merasa bersalah. Aldrich mulai memanggil para pengawal untuk membawa mayat itu dimasukkan ke dalam peti untuk dikubur. Setelahnya, Aldrich berencana untuk menyusul istrinya yang saat ini sedang merawat adiknya.


Saat sampai di kamar Kath, Aldrich melihat adiknya yang belum bangun dari siumannya tidur di ranjang. Sementara Ellen berdiri di dekat jendela dengan ekspresi sangat syok karena habis melihat kejadian yang tidak pernah diduganya.


"Ellen."Panggil Aldrich. Ellen pun memutar kepalanya ke arah sumber suara.


"Yang mulia...! Nona Anna...sudah mati?!"Tanya Ellen masih tidak percaya.


"Kau sudah lihat semuanya di luar."Jawab Aldrich.


"Bagaimana bisa dia mati? Apa yang mulia yang menghukumnya mati?"Tanya Ellen mulai menatap ngeri ke arah sang Raja.


"Tidak yang mulia permaisuri! Saya yang membunuhnya menggunakan panah saya. Saya terpaksa melakukannya karena Nona Anna hampir mencelakai putri Katherine!"Sambung Ravin mengaku yang masih berada di dalam kamar Kath.


Ellen tidak membalas dan diam di tempatnya merasa semuanya begitu mendadak. Dia tidak pernah terpikir jika tokoh utama wanita kedua akan mati semudah ini.


"Anda...baik-baik saja yang mulia?"Tanya Ravin mulai cemas. Aldrich pun terlihat ikut mengkhawatirkannya sebab raut wajah Ellen tidak seperti biasanya.


"Kau kenapa? Tidak rela wanita itu mati? Bukankah seharusnya kau lega karena wanita itu tidak akan pernah mengganggumu lagi?"Tanya Aldrich.

__ADS_1


"Bukan begitu yang mulia...saya hanya merasa terkejut dengan kejadian yang begitu mendadak ini. Saya tetap akan merasa sedih jika mendengar seseorang telah mati."Ucap Ellen.


"Kau benar-benar aneh. Jadi apa yang akan kau lakukan jika anak itu bangun? Jangan bilang kau akan memaafkannya begitu saja karena merasa kasihan?"Tanya Aldrich sambil menunjuk ke arah Kath yang terbaring dengan jari telunjuknya.


Ellen menggeleng. "Yang mulia pasti tahu sifat saya bagaimana. Saya tentu tidak akan memaafkannya begitu saja. Anda tunggu saja apa yang akan saya tunjukkan ke Anda, yang mulia. Sekarang biarkan Putri Kath beristirahat dulu. Setidaknya dia sudah tahu jika perbuatannya salah."Ucap Ellen.


"Ayo yang mulia, kita kembali ke tempat kita. Pekerjaan kita masih banyak kan?"Ajak Ellen bermaksud untuk mengajak suaminya itu keluar dari kamar sang putri.


"Kau juga Ravin."Ucap Ellen kepada Ravin yang masih berdiri disana sambil memandangi Kath.


"Ah iya yang mulia!"Sahut Ravin tersadar.


Ravin pun berjalan keluar membelakangi kedua pasutri itu dan menutup pintu kamar Kath dengan rapat. Untungnya pintu itu sudah diperbaiki.


****


Aldrich membawa Ellen ke ruang rahasianya lagi. Hanya disana tempatnya untuk menenangkan dirinya.


"Uhuk!! Ah, anda bilang apa yang mulia? Hamil? Saya...juga tidak tahu yang mulia...saya harap saya tidak hamil dulu untuk sementara waktu karena saya sendiri juga masih 18 tahun!"Ucap Ellen merasa belum siap untuk menjadi seorang ibu. Dia bahkan belum kepikiran untuk memiliki anak meskipun dia sempat mengkhawatirkan banyak hal.


"Kau tidak meminum ramuan aneh anti hamil kan?"Tanya Aldrich menyelidik dengan tatapan overthinking nan tajam.


Ellen menggeleng dengan cepat. "Saya bersumpah tidak meminum apapun Yang mulia!"Ucap Ellen.


Kupikir cara mengatasi supaya tidak hamil dengan minum obat kb tapi itu kan adanya di masa depan. Kalau aku bisa mencari ramuannya mungkin aku bisa mencegahnya.


"kuharap kau tidak benaran meminumnya jika kau tidak mau mati."Ancam Aldrich.


Glek,


"Yang mulia, bisakah anda sedikit-sedikit tidak menggunakan ancaman? Itu tidak terlihat romantis sama sekali. Saya akan merasa terpaksa untuk melakukan semuanya jika yang mulia selalu menggunakan ancaman."Ucap Ellen.

__ADS_1


Aldrich terdiam sejenak. Permintaan istrinya hampir sama dengan permintaan ibunya. Dia sempat curiga apakah kedua wanita itu ada bekerja sama dibelakangnya.


"Jadi apa yang ku suruh padamu selama ini kau terpaksa melakukannya?"Kini Aldrich tersenyum tampak mengerikan.


"Sebagian benar yang mulia, dan sebagian lagi ikhlas kok. Tapi cobalah anda meminta sesuatu dengan kata-kata lembut seperti orang-orang pada umumnya."Ucap Ellen.


"Bagaimana caranya?"Aldrich malah bertanya karena dia memang tidak tahu caranya.


Aduh dasar suamiku yang memang akhlakless. Tapi yah....wajar sih kenapa dia jadi seperti ini. Tapi mungkin ini bisa jadi kesempatan besarku untuk merubah sikapnya sesuai permintaan ibu.


"Contohnya begini yang mulia, Ellen apa kau tidak berpikir ingin memiliki anak? Aku ingin sekali memiliki anak darimu, begitu yang mulia. Saya pasti akan tersentuh jika anda mengatakannya dengan seperti itu."ucap Ellen dengan bernada ala romantis.


Aldrich merasa geli saat mendengar cara meminta istrinya itu. Dia tidak akan bisa melakukannya dan dia yakin jika dia melakukan apa yang dikatakan Ellen, istrinya itu pasti akan menertawakannya habis-habisan.


"Aku tidak butuh kata-kata menjijikkan seperti itu! Selagi aku tidak memakimu, maka aku anggap perkataanku selama ini sopan."Ucap Aldrich.


Menjijikan...kok sakit ya dengar dia bilang begitu? hiks...


"Baiklah yang mulia. Senyaman anda saja. Dan tentang kehamilan, saya sebenarnya belum siap yang mulia. Tapi jika sudah terjadi, saya mau tidak mau akan menerimanya dengan suka cita."Ucap Ellen tersenyum lembut.


"Sudah sepantasnya memang begitu."Ucap Aldrich.


"Kenapa anda tiba-tiba kepikiran soal punya anak yang mulia? Saya tahu keturunan itu begitu penting, tapi kan usia kita masih muda yang mulia? Kita masih bisa memilikinya kapan saja di umur yang sudah benar-benar matang."


"Aku juga tidak tahu. Tapi entah kenapa aku terus memikirkannya. Aku juga tidak yakin apa aku bisa menjadi seorang ayah, karena yang kutahu, menjadi orang tua itu sungguh menyusahkan."


Lalu kenapa anda memaksa saya untuk segera hamil sih? Minta di geplak kayaknya nih...


"Karena kau berkata seperti itu, baiklah kita tunggu waktu saja yang menjawabnya karena kau sendiri juga tidak meminum apapun untuk mencegahnya."Ucap Aldrich.


"Iya yang mulia, terima kasih karena anda mau mengerti."Ucap Ellen tersenyum lega.

__ADS_1


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa tekan tombol like 👍)


__ADS_2