
Aldrich dan Ellen tidak bisa berkata-kata bahwa apa yang dikatakan sang peramal itu adalah benar.
"Memangnya firasat apa yang membuat anda tidak tenang?"Tanya Ellen ikut merasa tidak enak.
"Maaf jika saya lancang, apakah yang mulia permaisuri bukan berasal dari dunia ini?"Tanya Peramal itu terang-terangan.
Ellen membulatkan matanya tidak percaya bahwa peramal itu bisa mengetahui asal-usul dirinya.
Aldrich sempat melirik ke arah Ellen ikut terkejut dengan apa yang dikatakan sang peramal.
"Apa maksudmu istriku bukan dari dunia ini?"Tanya Aldrich tidak mengerti.
"Saya dapat mengetahuinya dari ilmu sihir yang diajarkan sang penyihir. Saya tidak tahu pastinya tapi saya yakin jika yang mulia permaisuri bukanlah berasal dari dunia ini. Jika saya boleh bertanya, apakah yang mulia permaisuri pernah lahir di kehidupan sebelumnya?"
Tangan Ellen sedikit bergetar. Dia berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak mau mendatangkan masalah baru apalagi dirinya baru saja berbahagia bersama sang Raja.
"Apa maksud anda mengatakan hal tidak masuk akal begitu kepadaku?!"Tanya Ellen.
Peramal itu tersenyum seolah dia tahu jika Ellen berusaha untuk tidak mengakui jati dirinya.
"Yang mulia saat ini sedang mengandung sudah hampir 3 bulan kan?"Tanya Peramal itu lagi.
Ellen diam saja menunjukkan ekspresi yang sulit digambarkan. Tangannya bahkan memegang roknya dengan erat.
"Maafkan saya sekali lagi, tapi saya terpaksa memberitahu berita buruk ini yang mulia. Anak anda akan lahir sehat tetapi mungkin tidak akan berumur panjang."Ucap Peramal itu semakin mengerikan.
"Kau! Aku tidak percaya setiap omonganmu! Kau pasti penipu dan hanya ingin uang ya kan?"Tanya Aldrich langsung murka.
"Tidak yang mulia, saya tidak butuh uang anda. Saya hanya mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Setelah anak anda berdua lahir, kemungkinan besar kehidupan kalian akan ada banyak masalah dan mala petaka."
"Percayalah pada ucapan saya, kalau anda tidak mau menyesal."Ucap Peramal itu.
"Pengawal! Usir peramal penipu ini!"Ucap Aldrich.
__ADS_1
Dua pengawal langsung ingin menarik keluar peramal itu. "Jangan sentuh saya, saya bisa jalan sendiri. Terima kasih atas waktu anda berdua yang mulia Raja dan permaisuri yang terhormat."Ucap peramal itu tetap santai.
"Tunggu!"Ellen sempat mempercayai perkataan sang peramal. Tentu saja dia percaya karena apa yang dikatakan peramal itu sungguh benar tentang dirinya.
"Apa-apaan kau Ellen? Kau jangan percaya omongan wanita tua itu!"Ucap Aldrich marah.
Ellen berjalan mendekati peramal itu dan tidak menghiraukan larangan sang Raja.
"Apa ada yang bisa kami lakukan untuk mencegahnya?"Tanya Ellen.
Peramal itu lagi-lagi tersenyum. "Mudah saja, anda harus bisa kembali ke tempat asal anda."Ucap Peramal itu berbisik.
Bagaimana mungkin aku bisa kembali lagi?! Di duniaku yang sebenarnya, mayat ku sudah di tanam. Mustahil jiwaku bisa masuk kembali ke tubuh yang sudah membusuk itu! Apa peramal ini memang gila?!
"Jangan mengatakan hal masuk akal begitu padaku."Ucap Ellen dengan ekspresi dingin.
"Tapi bukankah anda sempat mempercayai omongan saya? Jika anda ingin anak anda hidup sehat dan bahagia, anda terpaksa mengorbankan diri anda agar anak anda tidak terkena kutukannya."
Ellen terdiam. Kedua matanya tiba-tiba mengeluarkan air mata. Aldrich sempat melihatnya dan dia benar-benar murka saat melihat ada seseorang yang telah membuat istrinya menangis.
"Baik, saya akan pergi yang mulia, saya permisi."Ucap Peramal itu tetap tersenyum dengan santai dan berjalan pergi keluar.
"Ellen, jangan dengarkan perkataannya. Dia mungkin sengaja untuk menakut-nakuti kita. Aku sama sekali tidak percaya omongan peramal penipu itu!"Ucap Aldrich.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan kita? Bukankah pernikahan kita memang karena perintah sang penyihir? Sebelumnya juga kita saling membenci karena keterpaksaan, ya kan?"Ucap Ellen sambil menangis.
Aldrich terkejut. Dia sesungguhnya tidak pernah membenci Ellen sejak pertemuan mereka yang pertama. Hatinya menjadi sakit saat Ellen ternyata dulu sempat membencinya.
"Kau tidak percaya omonganku? Aku sudah pernah bilang bahwa aku tidak pernah membencimu. Dan...kau ternyata membenciku ya?"Tanya Aldrich balik.
"Iya! Dulu aku memang sempat membencimu! Aku dijodohkan dengan raja yang rumornya terkenal kejam dan suka main perempuan! Meskipun hanya rumor, tapi dulu hatiku tetap sakit mendengar setiap orang mengatakan rumor itu berulang kali di telingaku. Aku juga sesungguhnya belum ingin menikah. Aku masih ingin menghabiskan sisa masa remajaku. Tapi takdir berkata lain."Ucap Ellen akhirnya menceritakan isi hatinya.
"Tapi seiring waktu berjalan, kau semakin menunjukkan sifat aslimu yang tidak pernah aku bayangkan. Kau peduli padaku. Kau perhatian padaku dan selalu bersamaku. Kau juga merasa cemburu padaku. Kau tahu, aku senang sekali mengetahui jika itu semua ada pada dirimu. Dan...aku tidak pernah membencimu lagi, Aldrich..."Ucap Ellen tersenyum.
__ADS_1
Aldrich yang mendengarkan isi hati yang Ellen utarakan tersenyum merasa begitu terharu. Dia kemudian memeluk istrinya dengan begitu erat dan tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kau percayalah padaku. Aku janji tidak akan meninggalkanmu. Sesuai keinginanmu, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia."Ucap Aldrich.
Akhirnya kata-kata manis yang selama ini Ellen harapkan terucap juga. "Iya, aku percaya padamu. Terima kasih karena kau sudah menerimaku, dan....ada satu hal yang ingin aku beritahu padamu."Ucap Ellen kembali sedih.
Dia tidak akan bisa tenang jika ucapan sang peramal terus mengganggu pikirannya.
"Apa itu?"Tanya Aldrich.
"Apa kau bisa percaya padaku? Sebenarnya apa yang diucapkan peramal itu benar tentang diriku."Ucap Ellen tersenyum sedih.
Aldrich terdiam. Dia berusaha meyakinkan dirinya untuk percaya dengan istrinya sekali saja. "Aku percaya."Ucapnya.
Ellen tersenyum lebar saat mendengar Aldrich mengatakan dia percaya padanya. "Jadi, aku...juga tidak tahu mulai darimana aku harus menjelaskannya."Tanya Ellen jadi bingung.
"Kenapa tidak dari awal saja?"
"Ah, ya benar. Awalnya aku dikehidupan sebelumnya hanya seorang wanita biasa yang miskin. Aku tidak sengaja menemukan buku yang terlihat masih bagus. Aku membacanya dan....aku merasa kesal dengan si tokoh wanita. Jika kau ingin tahu, tokoh wanita itu bernama Ellen. Tapi dia bukan diriku. Namaku sebenarnya adalah...Jane."Ucap Ellen sedikit malu saat memberitahu nama aslinya kepada sang Raja.
Argh! Pada akhirnya aku memberitahu nama asliku kepadanya!! Pasti dia menganggapku gila sekarang....
"Jane ya...baiklah. Lalu kenapa kau kesal dengan si tokoh utama? Jangan bilang dunia yang kau masuki ini cerita novel?!"Tanya Aldrich ikut terkejut.
Ellen langsung menunjukkan ekspresi bahwa apa yang ditanyakan Aldrich sungguh benar.
"Maaf yang mulia, aku jadi terlihat seperti penipu. Tapi aku punya firasat jika penyihir itulah yang selama ini membuatku masuk ke dunia ini."Ucap Ellen jadi sedih mengingat kenyataannya.
"Tapi jika kau tidak datang kesini, mungkin ceritanya tidak akan jadi seperti sekarang kan?"
Ellen terdiam.
"Kalau kau tidak tidak hadir disini mungkin isi dari novelnya akan tetap berjalan sesuai aslinya. Karena adanya dirimu, aku bisa mengenalmu."Ucap Aldrich tersenyum. Dia membelai rambut Ellen dan menciumnya.
__ADS_1
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)