Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 40 (Di revisi)


__ADS_3

Ellen dengan wajah yang mulai takut pun duduk di samping raja Aldrich. Ellen merasa heran mengapa Aldrich terlihat marah kepadanya.


Mereka sekeluarga mengobrol panjang lebar dan lebih banyak membahas tentang pernikahan anak-anak mereka. Setelah siap mengobrol, Tuan Marcus mengantarkan Ratu Irene dan Putri Kath ke kamarnya untuk beristirahat.


Sang ibu kemudian memanggil Ellen yang sedang ikut mengantar Aldrich ke kamarnya.


"Ellen, bisakah ibu bicara sebentar denganmu?"Tanya Nyonya Ziane.


"Ah..."Ellen sudah tahu apa yang ingin ibunya itu bicarakan dengannya. Mungkin memarahinya? Tetapi dia juga melihat ke arah suaminya bermaksud meminta izin.


"Yang Mulia, izinkan saya untuk berbicara dengan permaisuri Ellen sebentar."Pinta Nyonya Ziane.


Aldrich mengangguk tanpa bicara. Dirinya sungguh kaku. Ellen pun mengikuti langkah ibunya yang sudah berjalan lebih dulu, tapi sebelum itu Aldrich menarik lengan baju Ellen dan berbisik ke arahnya.


"Setelah ini kau harus segera kemari."Ucapnya.


"Baik yang mulia..."Jawab Ellen.


Ellen pun bergegas mendatangi ibunya.


Nyonya Ziane berdiri dengan ekspresi sulit di tebak. Tapi tetap saja itu membuat Ellen takut.


"Ibu, maafkan aku...aku tidak bermaksud menghilang begitu saja tadi..."Ucap Ellen langsung meminta maaf.


"Ibu pikir kau sudah berubah....tapi sekarang bukan itu masalahnya."


Eh?


"Sudah berapa kali ibu katakan padamu agar jangan dekat-dekat dengan pangeran Yohannes huh?"


"Apa? Aku tidak mendekatinya bu! Aku malah tidak sengaja bertemu dengannya. Bukankah dia yang selalu mampir ke kastil kita?"Jawab Ellen.


"Yah benar juga. Ibu sebenarnya tidak nyaman pangeran itu selalu berkunjung kemari. Tapi bagaimana mau melarangnya? Ibu tidak mungkin mengusir seorang pangeran putra mahkota kan?"Ucap Nyonya Ziane mulai frustasi.


"Kenapa ibu tidak nyaman dia sering berkunjung kemari?"Tanya Ellen heran.


"Jadi kau belum tahu?"


Ellen menggeleng.


"Oh, baguslah. Lebih baik kau tidak perlu tahu soal itu. Daripada itu ibu lihat kau sepertinya belum isi ya? Apakah jangan-jangan kau..."Ucap Nyonya Ziane mengganti topik. Dia memegang perut Ellen yang datar.


"Ah, ibu apa-apaan sih?! Masih terlalu cepat untukku hamil!"Ucap Ellen langsung kaget sekaligus malu.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah lebih cepat lebih bagus?"Tanya Nyonya Ziane.


"Aku belum siap untuk memiliki anak, ibu. Usiaku masih 18 tahun dan aku belum bisa mengurus anak!"Ucap Ellen kesal.


"Kenapa belum siap? Ibu juga saat melahirkan kakakmu juga diumur segitu."Ucap Nyonya Ziane enteng.


"Kenapa sih semua wanita harus memiliki anak diusia yang sangat muda? Dan lagi diwajibkan?!"Tanya Ellen mulai kesal.


"Itulah budaya nak. Semua orang menginginkan keturunan demi menjaga harta mereka. Walau masih bayi sekalipun, Orang-orang sudah merasa aman dengan hal itu. Jika kita tidak memiliki anak, maka terpaksa orang lain yang menggantikan posisi kita."


"Huh, aku tetap tidak mengerti."Ucap Ellen.


Karena budaya zaman dulu dengan masa modern sungguh berbeda...


"Terus ibu ingin tahu, bagaimana hubunganmu dengan raja?"Tanya Nyonya Ziane lagi.


Deg,


"Cukup...baik. Kenapa?"Tanya balik Ellen.


"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"Tanya Nyonya Ziane kali ini seperti mengkhawatirkan putrinya.


"Iya ibu...dia memperlakukanku dengan baik, meskipun terkadang aku bingung dengan ekspresi yang ditunjukkannya. Yang mulia baginda Ratu Irene dan tuan Putri Kath juga sama. Mereka menerimaku apa adanya."Ucap Ellen sambil tersenyum.


Yah untuk sekarang sih...


"Syukurlah kalau begitu. Ibu hanya penasaran, apa yang mulia Raja selalu meminta itu kepadamu?"Tanya Nyonya Ziane.


"Ah pertanyaan apa lagi sih itu?"Ucap Ellen dengan pandangan absurd.


"Jangan terlalu polos nak. Camkan itu. Masa yang begitu saja tidak tahu? Serius?"Tanya balik Nyonya Ziane.


Ellen terdiam sejenak lalu wajahnya berubah jadi semerah tomat.


"D-dia...selalu memintanya kok...kami bahkan hampir setiap hari melakukannya..."Ucap Ellen pelan.


"Wow wow, cukup nak, tidak perlu kamu jelaskan semuanya oke? Sekarang kamu kembali ke kamarmu. Suamimu pasti sudah menunggumu."Ucap Nyonya Ziane.


"Ah...sebelum itu, kenapa ibu tidak memberitahuku alasan Pangeran Yohannes sering datang kemari?"Tanya lagi Ellen.


"Sebaiknya kau tidak perlu tahu. Jangan bertanya tentang apapun lagi mengenai pria itu. Lebih baik utamakan suamimu. Sana pergilah."Ucap Nyonya Ziane.


"Ibu apaan sih? Dasar aneh."Ellen merasa kesal.

__ADS_1


Ellen pun segera kembali ke kamarnya. Seperti biasa, dia melihat Aldrich yang sedang duduk di atas ranjangnya yang feminim sambil melihat-lihat isi ruangan itu.


"Saya sudah kembali yang mulia. Maaf kamar saya kecil...dan terlalu banyak hiasan..."Ucap Ellen merasa segan karena bagaimana pun kamar Sang Raja dua kali lipat lebih besar dari kamarnya.


Aldrich hanya diam kemudian dia menjentikkan jarinya bermaksud untuk memanggil Ellen.


Ellen dengan nurut pun duduk di samping Sang Raja.


"Tadi kau menghilang kemana?"Tanya Aldrich.


Aduh, aku tidak berharap Aldrich tahu jika aku bertemu dengan Pangeran Yohannes! Apa dia tadi sempat melihatku?


"Maaf yang mulia, saya tadi tidak sengaja melihat kakak saya yang sedang lewat. Saya tidak sabar untuk bertemu dengannya karena sangat merindukannya..."Jawab Ellen.


"Hmm, kenapa dia tadi tidak ikut menyambut?"Tanya lagi Aldrich.


"Eh...entahlah yang mulia, saya juga tidak tahu..."Ucap Ellen yang juga memang tidak tahu.


"Terus ada satu lagi yang sepertinya aku kenal kalau aku tidak salah lihat."Ucap Aldrich yang membuat Ellen menjadi tegang. Dia benar-benar seperti ditangkap basah telah berselingkuh.


"Siapa yang mulia...?"


"Aku lihat ada seorang pria yang berkeliaran di kastil. Dia melihatku dengan tatapan tajam. Apa kau kenal dengannya? Sepertinya dia bukan orang sembarangan, apa aku benar?"


Kau tidak boleh takut Ellen!


"Apa...maksud anda Pangeran Yohannes? Dia berteman dekat dengan kakakku. Sejak kecil mereka sudah dekat. Dan kami sudah terbiasa dia datang berkunjung kemari."Jawab Ellen.


"Apa kau juga berteman dengannya?"Tanya Aldrich.


"Iya yang mulia. Sebagai adik temannya, saya juga berteman dengannya. Dia cukup ramah dan baik."


Aldrich terdiam sejenak. Entah kenapa dia merasa kesal saat Ellen menceritakan tentang pria lain sambil tersenyum seperti itu. Dia penasaran apakah istrinya itu juga tersenyum seperti itu saat menceritakan tentang dirinya.


"Lalu kenapa tadi ibumu memanggilmu? Apa yang kalian bicarakan tadi?"


Yang mulia...kau sekarang seperti mengintrogasiku saja...semua ditanya!


"Ehem...cuma pembahasan antar wanita yang mulia. Maaf saya tidak bisa memberitahunya karena itu bersifat pribadi."Ucap Ellen.


"Pembahasan antar wanita huh? Kenapa aku tidak boleh tahu soal itu? Aku sudah melihat setiap inci bentuk tubuhmu. Dan kau juga. Seharusnya tidak ada rahasia lagi kan diantara kita? "Ucap Aldrich tersenyum nakal mendekatkan wajahnya ke arah Ellen.


"B-bukan begitu yang mulia..."Ellen mulai gelagapan. Dia benar-benar tidak tahan dengan sikap Aldrich ketika seperti ini kepadanya.

__ADS_1


Ellen mencoba kabur tapi wajahnya sudah ditangkupkan oleh Aldrich dengan kedua tangannya yang besar. Mereka pun berciuman.


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)


__ADS_2