Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
Episode 53 (Di revisi)


__ADS_3

Haha lucu sekali pasangan ini...yang satu tidak peka yang satunya lagi cemburuan...


Theo jadi tertawa sendiri di dalam hati melihat pasangan konyol di depannya. Dia mengira jika Ellen masih belum menyadari akan perasaannya dengan benar.


"Tapi...ini belum terlalu malam yang mulia, lagipula masih ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Tuan Theo..."Ucap Ellen.


"Belum terlalu malam katamu?! Kau mau menghabiskan waktu dengannya? Oke, setelah ini awas saja kau akan--"


"Ah! iya benar juga Yang mulia, saya tidak melihat waktunya jika sudah selarut ini! Oke, ayo kita pergi istirahat. Selamat malam Tuan Theo!"Ucap Ellen. Aldrich semakin jengkel dengan Ellen yang bersikap manis dengan pria lain.


"Iya yang mulia, selamat malam!"Balas Theo.


Aldrich langsung menatap tajam ke arah Theo dan Theo menyadarinya. Dia pernah terpikir pasti akan seru jika dia mengganggu kedua pasangan itu.


Ah tidak! Kalau aku melakukannya, aku pasti akan di eksekusi.


Mengingat itu Theo jadi takut dan dia lebih menyayangi nyawanya.


*****


Sesampai di kamar, Ellen mengganti pakaiannya dengan piyama biasa.


"Apa-apaan pakaianmu itu? Ganti dengan yang kuminta biasanya!"Ucap Aldrich tidak terima.


"Apa? Maksud anda saya harus pakai gaun tipis itu lagi?? Tapi saya kan lagi hamil yang mulia! Lagipula--"Ellen begitu syok.


"Ada satu hal yang perlu kau ketahui. Hubungan suami istri tetap masih bisa dijalankan sekalipun kau sedang hamil. Dan itu sangat aman. Kau tidak perlu khawatir. Sekarang cepat ganti bajumu!"Pinta Aldrich dengan senyum liciknya.


"Tapi yang mulia...!"Ellen masih ingin menolaknya. Dia benar-benar lagi tidak ingin melakukannya.


"Jangan melawanku. Ini sudah waktunya aku mendapatkan jatah. Tenang saja, aku juga sekalian akan memijatmu."Ucap Aldrich masih dengan senyuman licik nan mesum.


Dasar setan! Memijat katanya?! Mustahil!


"Ah baik yang mulia..."Ucap Ellen pasrah.


Akhirnya setelah Ellen mengganti baju tidurnya, Aldrich pun langsung menarik Ellen ke ranjang dan menghabiskan waktu malam mereka menguras tenaga. Lebih tepatnya Ellen yang langsung tepar karena dia benar-benar sudah tidak sanggup lagi.


Mending aku tadi telanjang saja sekalian kalau pada akhirnya benda yang tidak bisa kusebut baju ini dilepas lagi -_- tapi apa mungkin aku seberani itu?!

__ADS_1


Pagi subuh, mereka berdua tidur memeluk satu sama lain merasa kelelahan. Aldrich terbangun duluan dan dia melihat pemandangan cantik di sebelahnya.


Dia menyibakkan rambut panjang yang menutupi wajah Ellen yang masih tertidur. Ellen yang merasakan ada tangan yang menyentuh wajahnya pun jadi mengerjap matanya.


"Yang mulia...? Anda sudah bangun. Selamat pagi."Ucap Ellen sambil tersenyum.


"Bisakah kau tidak memanggilku yang mulia? Tidak bisakah kau memanggilku dengan sebutan yang lain?"Pinta Aldrich yang sebenarnya kurang nyaman Ellen memanggilnya dengan sebutan yang mulia. Karena menurutnya panggilan itu terlalu umum.


Ellen terdiam sejenak merasa bingung.


Sekarang dia mau apalagi sih??


"Jadi anda mau di panggil apa?"Tanya Ellen.


"Kau bisa memanggil namaku, atau panggilan lain juga boleh."Ucap Aldrich.


"Panggilan lain misalnya?"Tanya Ellen polos.


"Kau pasti tahu panggilan pasangan. Bisa panggil sayang suamiku begitu."Ucap Aldrich.


Glek. Saat Aldrich ingin memintanya memanggilnya dengan sebutan itu, Ellen begitu geli mendengarnya.


"Ah saya kenapa yang mulia?"


"Kau memasang tampang jijik kepadaku. Apa kau segitu bencinya denganku?"Tanya Aldrich yang membuat Ellen membulatkan matanya.


Ellen terdiam sejenak. Memanglah dulunya dia sempat sangat membenci Aldrich. Namun sosoknya sekarang ini sungguh berbeda dengan ekspetasinya. Bahkan kata benci sudah hilang di kamusnya.


"Siapa bilang saya benci anda yang mulia? Saya tidak pernah membenci anda. Lagipula...saya tidak ada alasan untuk membenci anda..."Ucap Ellen mengalihkan pandangannya. Dia tersipu saat mengatakannya.


Aldrich tersenyum puas mendengarnya.


"Kalau begitu berikan aku buktinya dengan memanggilku sayang."Pinta Aldrich dengan senyum jahilnya.


"Tidak bisakah saya panggil anda yang mulia saja...? Saya merasa lebih nyaman memanggil anda seperti itu..."Ucap Ellen.


"Aku tidak mau. Aku maunya kau memanggilku sayang. Tidak sulit kan?"Ucap Aldrich.


Ellen menghela napasnya begitu berat. Jantungnya terus berdetak dengan kencang.

__ADS_1


"S-Sa....SAYANG!"Ucap Ellen dengan suara setengah berteriak. Ellen tidak sengaja mengatakannya dekat telinga Aldrich hingga dia jadi sedikit tuli.


"Sudah kan! Saya mau ke kamar mandi dulu!"Ucap Ellen berlari sekencang roket masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.


"Hei Ellen! Kau tidak ikhlas memanggilnya! Dan kenapa kau harus mengunci pintunya?! Buka Ellen!"Teriak Aldrich tidak terima.


Ellen tidak menjawab perkataan Aldrich yang sedang memarahinya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan merasa begitu malu saat mengucapkan panggilan sayang ke suaminya itu.


Argh!! Aldrich benar-benar sudah gila! Kenapa tiba-tiba dia memintaku memanggilnya sayang?! Apa....dia sungguh mencintaiku?? Aku tidak bisa langsung yakin jika dia mencintaiku, aku tetap tidak akan merasa puas jika dia belum mengatakannya langsung dengan mulutnya!


Ellen lompat-lompat sendiri di dalam kamar mandi. Mungkin kelihatannya berlebihan, tapi Ellen baru meranjak remaja yang merasakan jatuh cinta. Meskipun jati dirinya bukan remaja lagi, tapi bawaan dari tubuh aslinya pasti akan tetap muncul.


Jantungku terus berdebar kencang tidak biasa. Apa jangan-jangan aku....menyukainya? Aku begitu takut untuk membuka hatiku kepada seseorang yang belum pasti kuketahui perasaannya dengan jelas. Selama ini dia telah banyak melakukan hal di luar ekspetasiku dan aku jujur merasa begitu terharu. Tapi dia tetaplah seorang Raja Aldrich, aku benar-benar tidak bisa menebak apa isi kepalanya itu...


BRAK! Ellen terperanjat kaget mendengar suara dobrakan pintu yang sangat keras dibaliknya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri sampai dia lupa jika suaminya masih kesal dengannya yang tidak mau membukakakan pintu.


"Ellen! Kau jadi tuli sekarang?! Kenapa kau diam saja? Apa yang kau lakukan dikamar mandi sebegitu lama?"Teriak Aldrich heboh.


"M-maaf yang mulia! Saya...sedang buang air besar! Makanya sedikit lama!"Ucap Ellen memberi alasan yang konyol.


Heh, benar juga! Sekali-kali aku perlu membuat alasan seperti ini, hihihi!


Ellen jadi gelak sendiri dengan alasan yang dibuatnya.


"Anak itu...sungguh mengesalkan...Kalau begitu cepatlah! Habis ini kita masih punya banyak pekerjaan!"Ucap Aldrich yang jadi kesal.


"Iya Yang mulia! Maaf jika saya lama...perut saya terasa begitu mulas..."Ucap Ellen.


"Aku akan pakai kamar mandi yang lain. Dan satu lagi, jangan panggil aku yang mulia lagi! Awas saja kalau kudengar kau memanggilku dengan sebutan itu lagi!"Ancam Aldrich.


"I-iya yang--maksud saya iya sayang...maaf saya lupa!" Ellen masih merasa geli dengan ucapannya.


Aldrich tersenyum puas. Kemudian dia pergi keluar kamar untuk mandi di tempat lain.


Beberapa lama kemudian Ellen keluar dan tidak melihat Aldrich lagi. Dia sedikit merasa lega dan bisa bernapas sejenak. Tak lama dua pelayan yang biasanya datang untuk mengurus Ellen.


Ellen tahu jika Aldrich yang pasti memanggil mereka berdua.


"Selamat pagi yang mulia permaisuri!"Ucap Jiya dan Rina serentak.

__ADS_1


Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)


__ADS_2