Permaisuri Kesayangan Raja

Permaisuri Kesayangan Raja
S2 Episode 3


__ADS_3

Di pagi hari, Lydora masih berada di ranjangnya dan berusaha pura-pura masih tidur. Matahari sudah hampir naik ke atas dan dia masih tiduran di ranjang mewahnya sengaja untuk memperlambat waktu. Padahal sebenarnya dia tidak bisa tidur sampai pagi karena terlalu kepikiran banyak hal yang dikhawatirkannya.


Tolong batalkan saja perjodohan kami, kumohon!


Tok, tok, tok. Pelayan Henny mengetuk pintu kamar Nona mudanya untuk menyuruh Lydora bersiap-siap.


Ck, sial!


Lydora sengaja tidak menyahut, jadi orang lain bisa berpikir jika Lydora masih tidur.


Karena Henny tidak mendengar ada sahutan ataupun suara yang terdengar dari dalam, Henny pun membuka pintu kamar Lydora. Sesuai dugaan, Lydora masih berada di tempat tidurnya sambil memejamkan mata.


"Nona Lydora, selamat pagi Nona. Nona bangunlah, anda harus segera bersiap-siap untuk pergi menemui Yang mulia Pangeran Yohannes."Ucap Henny.


"Uhmm, hari ini sepertinya aku sedang tidak enak badan...perutku sedikit nyeri.."Ucap Lydora berbohong dan berpura-pura lemah.


"Nona sakit perut? Apa saya harus memanggil dokter, Nona?"Tanya Pelayan Henny langsung khawatir.


"Eh, tidak tidak! Tidak perlu panggil dokter! Aku istirahat saja bisa sembuh kok..."Ucap Lydora segera.


"Anda yakin, Nona? Kalau begitu biarkan saya memanggil Nyonya duchess untuk melihat keadaan anda."Ucap Henny.


Lydora spontan melotot. Hal itu akan jauh lebih buruk jika Henny sampai memanggil ibunya untuk memeriksa keadaannya.


Lydora menggeleng dengan cepat. "Tidak! Aku...aku sekarang sudah tidak sakit perut lagi. Tadi mungkin karena aku belum sarapan, hehe..."Ucap Lydora dengan senyuman tidak berdosa.


"Oh, baiklah Nona. Pertama-tama anda harus di dandani dengan cantik dulu dan anda akan memakai gaun pemberian Nyonya Duchess. Setelah itu baru anda bisa sarapan."Ucap Henny.


Lydora hanya mengangguk dengan pasrah.


*****


Di istana Lilwest pula, Yohannes terlihat sangat kesal dengan kedua orang tuanya yang diam-diam sudah merencanakan pertemuannya dengan Nona Lydora Sylvainn untuk perjodohan. Dia sama sekali sedang tidak ingin melakukan hubungan dengan wanita manapun karena dia masih patah hati.

__ADS_1


"Ayolah Yohan, usiamu sudah 26 tahun! Apa kau akan terus berharap kepada Ratu Ellenavier yang bahkan sebentar lagi akan melahirkan?! Apa kau lebih mementingkan itu daripada ayahmu yang sudah sering sakit-sakitan ini? Ayahmu sudah tua dan kau mau tidak mau harus segera menggantikannya!"Ucap Ratu Edna yang berusaha membujuk putranya.


Yohannes hanya diam saja sambil berdengus.


"Apa yang dikatakan ibumu benar, Yohan. Kami semua mempedulikanmu. Ayo cobalah untuk bisa berkenalan dengan wanita lain. Ayah sendiri yakin jika kau pasti bisa melupakannya."Ucap Raja Peter ikut membujuk.


"Heh, jangan coba-coba mengaturku! Aku tahu mana yang terbaik untukku. Mau bagaimanapun juga dia tetaplah bukan ibuku! Ibuku tetaplah Ratu Teresa yang sangat cantik dan agung! Pokoknya aku tidak akan mau bertemu dengan wanita yang sudah kalian atur itu. Aku pergi!"Ucap Yohannes marah.


Saat Ratu Edna mendengarnya, hatinya terasa begitu perih. Walau begitu dia tetap sayang kepada Yohannes selayaknya seperti anak kandung sendiri karena dia tidak dianugerahi untuk memiliki anak.


Raja Peter sudah tidak tahan dengan sikap putranya yang sudah mulai berani. Dia pun menarik lengan Yohannes yang hendak pergi.


"Yohan, jangan coba-coba melawan ayahmu ini. Jika kau sampai mempermalukan kerajaanmu sendiri, kau yang akan tanggung semua akibatnya. Kami hanya memintamu untuk berkenalan dengan wanita yang sudah kami atur untukmu. Jika kau merasa tidak cocok dengannya, kau bisa meminta pada kami untuk mencarikanmu wanita yang lain. Tolong jangan bersikap kurang ajar, ingat itu."Ancam Raja Peter.


Yohannes hanya berdecak sebal. Tanpa sepatah kata pun Yohannes berlalu pergi ke kamarnya.


"Istriku, kau jangan pikirkan ucapan Yohan. Dia masih belum bisa menjadi dewasa. Dia benar-benar keras kepala."Ucap Raja Peter.


"Tidak apa-apa, suamiku. Aku sudah tahu bagaimana sifat Yohan. Aku juga bisa merasakan bagaimana perasaannya saat ditinggalkan oleh ibunya. Dia mempertahankan perasaannya kepada Ratu Ellen karena sifat Ratu itu mirip dengan mendiang Ratu Teresa."Ucap Ratu Edna.


*****


Kembali lagi di kediaman Lydora. Setelah berjam-jam berdandan, Lydora tampak begitu cantik dengan gaun pemberian ibunya yang berwarna merah muda dengan hiasan bunga-bunga kecil.


Lydora merasa tidak nyaman. Dia berharap bisa kabur dari situasi sekarang.


Ini...tampaknya berlebihan! Aku merasa seperti memakai baju besi! Kenapa aku harus memakai aksesoris sebanyak ini...? Apa Lydora memang sangat suka perhiasan yang menghiasi seluruh tubuhnya?!


"Anu, Henny. Bisakah kau kurangi sedikit perhiasan yang ada di tubuhku ini? Aku merasa sedikit risih..."Punya Lydora.


"Nona...ingin perhiasannya dikurangi?"Tanya Henny terkejut.


Apa ini? Nona Lydora akhir-akhir ini sikapnya aneh. Biasanya dia kan suka sekali perhiasan. Kemanapun dia pergi, perhiasannya pasti tidak akan pernah ketinggalan.

__ADS_1


"I-itu benar. Aku kan ingin bertemu dengan Pangeran Yohannes. Kau tahu sendiri jika Pangeran Yohannes tidak suka dengan wanita yang materalistis. Jika kami bertemu di hari pertama seperti ini, dia pasti tidak akan suka melihatnya."Ucap Lydora memberi alasan.


"Oh, benar juga! Anda pintar! Baiklah, saya akan mengurangi sedikit perhiasannya. Anda tinggal memilih perhiasan mana yang ingin anda pakai sebagai gantinya."Ucap Henny bersemangat.


Beberapa saat kemudian, Lydora sudah siap dan kereta kuda juga sudah siap untuk mengantar Lydora ke istana Lilwest.


Sepanjang jalan, detak jantung Lydora tidak bisa tenang seperti menaiki roller coaster di dunia modern.


Apapun yang dikatakan Pangeran Yohannes nanti, kau harus tetap tenang. Saat dia menolakmu nanti, kau jangan bersedih dan aku anggap impas, karena aku sendiri juga tidak memiliki perasaan apapun kepadanya!


Setengah jam berlalu, kereta kuda berhenti tepat di gerbang istana. Pintu pagar menjulang tinggi terbuka dan Kereta kuda melanjutkan perjalanan ke area istana.


Kereta kuda berhenti tepat di pintu gerbang keluar masuknya istana. Ketika Lydora menatap pemandangan luar biasa di depannya, dia hanya bisa kagum.


Aku tidak sangka kalau aku benar-benar masuk ke dunia fantasi seperti ini...


Tak lama itu ada seorang wanita paruh baya yang cantik dengan busana super mewahnya muncul menghampiri Lydora.


"Halo, kamu pasti Lydora Sylvainn kan?"Sapa Ratu Edna.


Lydora yang melihatnya langsung hormat. "Selamat siang Yang mulia baginda Ratu. Anda benar, saya adalah Lydora Sylvainn. Senang bertemu dengan anda."Balas Lydora dengan anggun.


"Senang bertemu denganmu juga, Lydora. Ayo masuklah, Yohannes sudah menunggumu di dalam."Ucap Ratu Edna ramah.


Eh, menungguku?


"Baik, Yang mulia."Lydora pun mengikuti Ratu Edna memasuki istana. Beberapa menit mereka sampai pada sebuah taman yang sangat indah. Penuh dengan aneka ragam bunga yang bermekaran di sekitarnya.


Lydora pun dapat melihat langsung pangeran Yohannes yang sedang duduk dengan meja dan lilin di atasnya.


Baru pertama kali bertemu, Lydora langsung terpesona akan paras Yohannes yang sungguh tampan. Namun dia dapat melihat ekspresi Yohannes yang tidak terlihat senang sama sekali.


Hei, apa-apaan kau Tina! Masa baru pertama kali bertemu kau sudah memiliki perasaan semacam ini?! Tidak boleh!

__ADS_1


Next...


__ADS_2