
"Oh Jiya, Rina! Selamat pagi."Balas Ellen.
Ellen memerhatikan bekas luka yang ada pada Jiya. Tentu saja itu belum hilang dan rasanya juga pasti masih sakit.
"Jiya, apa lukamu itu masih sakit?"Tanya Ellen khawatir.
"Ah, tidak kok yang mulia. Rina sudah mengobatinya. Rasa sakitnya benar-benar sudah hilang."Jawab Jiya tersenyum.
"Sekali lagi aku berterima kasih banyak pada kalian karena sudah membantuku. Jiya dan Theo bahkan harus terluka karena aku."Ucap Ellen dengan sedih.
"Tidak yang mulia, kamilah yang seharusnya berterima kasih kepada anda. Semenjak anda disini, hidup kami jadi lebih berwarna. Yang mulia Raja, Yang mulia Ratu bahkan Putri Kath bisa berubah menjadi lebih hangat berkat permaisuri Ellen. Kami juga jadi lebih merasa dihargai. Terima kasih banyak yang mulia permaisuri Ellen."Ucap Jiya.
Ellen yang mendengarnya benar-benar merasa terharu. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata untuk ucapan Jiya yang begitu menyentuh hatinya.
Kedua bersaudara itu pun saling mendandani Ellen lebih cantik dari hari biasanya. Jiya mengepang rambut Ellen yang lumayan panjang itu dengan hiasan bunga berwarna merah muda. Sementara Rina memakaikan Ellen gaun peri yang simpel dan tidak terlalu meriah. Saat sudah siap, Ellen seperti peri fantasi yang menari-nari di cerita dongeng.
"Ya ampun yang mulia! Anda cantik sekali! Apa Anda yakin jika anda ini manusia?"Ucap Rina merasa tidak percaya dengan hasil dandanannya sendiri.
"Hahaha, kau ngomong apa sih Rina? Ada-ada saja...kan kalian yang mendandaniku. "Ucap Ellen tertawa sambil tersipu malu.
"Apa yang dikatakan Rina benar Yang mulia. Percayalah pada kami, semua orang termasuk yang mulia Raja sendiri pasti akan terpesona melihat anda."Ucap Jiya.
*****
Setelah siap dandan, Ellen pun keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan. Seperti biasa sang Raja sudah duduk lebih dahulu. Tak lama Ratu Irene dan Kath juga muncul.
Aldrich melihat kedatangan istrinya dan dia membulatkan matanya. Dia memerhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ellen sungguh lebih cantik hari ini dan dia begitu bercahaya. Apalagi saat Ellen tersenyum ke arahnya.
"Selamat pagi yang mulia Ratu dan Putri Kath!"Sapa Ellen ceria. Dia jadi tampak lebih percaya diri dan bersinar.
"Kau cantik sekali hari ini Ellen."Puji Ratu Irene.
"Terima kasih ibu. Ini berkat Jiya dan Rina yang mendandani saya pagi ini."Ucap Ellen.
"Ibu, aku juga ingin di dandan seperti itu!"Ucap Kath jadi ikut-ikutan.
"Buat apa? Kamu kan juga cantik."Ucap Ratu Irene.
"Ibu bohong!"Ucap Kath kesal.
"Ibu tidak bohong kok putri. Apa yang dikatakannya benar, anda juga sangat cantik!"Ucap Ellen.
"Iya deh iya. Tapi kenapa kakakku terus memperhatikanmu dari tadi?"Tanya Kath cemberut.
Eh?
Ellen melihat ke arah Aldrich yang sedang ada di sebelahnya. Aldrich yang dilihat balik oleh Ellen segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Telinganya memerah.
Ada apa denganku? Kenapa aku harus mengalihkan pandanganku seperti ini? Bukankah aku sudah sering melihat wajah bocah ini??
__ADS_1
Ellen merasa heran kenapa Aldrich yang membuang wajahnya. Dan dia yakin sekali kalau sebelumnya Aldrich sedang memandangnya tadi.
"Anda baik-baik saja yang mulia?"Tanya Ellen yang heran dengan sikap aneh suaminya.
"Aku baik-baik saja. Sudahlah, makan saja!"Ucap Aldrich.
"Ah baik yang mulia."
"Hei, kau lupa kalau kau tidak boleh memanggilku yang mulia lagi?"Tanya Aldrich yang masih ingat dengan perintahnya.
"Ah maaf maksud saya Iya Aldrich."Ucap Ellen. Aldrich tetap tidak suka dengan panggilan biasa.
Sementara Ratu Irene dan Kath hanya menonton kedua pasangan itu merasa begitu keheranan.
"Apa kau mau--"Aldrich mulai lagi.
"Iya Sayang, ayo dimakan makanannya, nanti dingin."Ucap Ellen lembut. Sesungguhnya hatinya begitu kesal dan panas.
Awas saja kau Aldrich!
Aldrich tersenyum puas dan dia pun segera memakan sarapannya.
Ratu Irene dan Kath hanya melongo saat Ellen memanggil Aldrich dengan panggilan sayang dan anehnya lagi Aldrich sendiri yang memintanya secara langsung.
Kath merasa begitu kesal dan iri. Meskipun dirinya baru 15 tahun, tapi dirinya tetap ingin merasakan yang namanya jatuh cinta juga. Jiwa jomblonya pun mulai meronta-ronta.
*****
Hari ini penampilan Ellen sungguh berbeda dari hari bisanya dan beberapa orang yang melihatnya pun terpesona dan cukup banyak yang memujinya.
Aldrich malah semakin kesal karena istrinya banyak dipuji banyak pria.
Saat semua orang sudah pergi, Ellen memutuskan ingin bicara dengan Aldrich.
"S-sayang, anda yakin anda baik-baik saja?"Tanya Ellen jadi cemas. Seharian ini tidak hanya menghindari tatapan mata, tetapi juga memasang tampang dingin sepanjang hari.
"Apa saya...ada berbuat salah?"Tanya Ellen.
"Iya. Kau lain kali tidak usah berdandan seperti ini. Terlalu mencolok mata dan semua pria jadi memujimu terus-menerus."Ucap Aldrich terus terang.
Wow...kupikir apa...apa dia cemburu?!
"Apa anda cemburu?"Tanya Ellen penasaran. Dia mencoba untuk memberanikan dirinya.
Aldrich terdiam sejenak.
"Jadi menurutmu apa? Memangnya suami mana yang senang istrinya dipuji pria lain?!" Tanya balik Aldrich kesal.
"Pffft, ada sih pria seperti itu..."Ucap Ellen.
__ADS_1
"Siapa?"Aldrich mulai menatap tajam.
"Ada pokoknya, saya juga agak lupa..."
"Coba kau bicara yang biasa saja padaku. Jangan bicara formal terus, kecuali saat ada orang lain saja."Pinta Aldrich.
"Ah baik. Ngomong-ngomong ada yang mau sa- ah maksudku ada yang mau aku bicarakan."Ucap Ellen.
"Katakan."Ucap Aldrich.
"Bisakah Tuan Theo di pekerjakan jadi dokter kepercayaan istana?"Pinta Ellen.
"Apa? Kau mau pria itu dimasukkan ke dalam istana kita?"Tanya Aldrich kaget.
"Iya, tidak masalah kan? Lagipula dia sudah banyak menolong kita dan dia pantas mendapatkan gelar itu."Ucap Ellen.
"Aku tidak mau. Jangan mudah percaya dengan orang lain. Kita tidak tahu apa niat tersembunyi dari dia sebenarnya."Ucap Aldrich.
"Aku rasa tidak. Dia terlihat jujur dan apa adanya. Aku yakin jika dia jauh berbeda dengan Nona Lizzy."Ucap Ellen.
"Kita cari dokter lain saja yang lebih terpercaya."Ucap Aldrich masih menolak.
"Dokter mana lagi? Aku pernah dengar jika negara ini hanya memiliki sedikit dokter karena pendidikannya yang begitu mahal."Ucap Ellen.
"Tapi haruskah dia? Aku tidak suka padanya."
"Kenapa kamu tidak suka padanya? Tuan Theo benar-benar pria yang baik kok."Ucap Ellen lagi.
"Berhentilah terus memujinya! Kau sekalipun tidak pernah aku dengar kau memujiku."Ucap Aldrich.
Ah yang benar saja...??
"Maaf, Aku bukannya tidak mau memujimu. Aku hanya malu untuk mengatakannya. Bukan malu yang seperti itu, tapi....ah, aku sendiri juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya..."Ucap Ellen bingung sendiri.
Aldrich sepertinya paham apa yang dimaksud Ellen.
"Kalau begitu apa yang kau suka dariku, hm?"Tanya Aldrich mulai menggoda istrinya.
"Ah....itu...bukankah aku pernah mengatakannya?"Tanya balik Ellen.
"Kapan?"Tanya Aldrich tidak ingat.
"Waktu itu."
"Memangnya kau bilang apa?"
"Aku bilang kalau kau tampan."Ucap Ellen sambil nyengir dengan polosnya. Padahal sebenarnya dirinya ingin langsung masuk ke dalam lubang dan bersembunyi saat itu juga.
Bersambung. (Terima kasih yg sudah baca. Jangan lupa like ya 👍)
__ADS_1