
Lydora mengikuti kepala pelayan itu menuju tempat Yohannes berada. Mereka menaiki beberapa anak tangga. Entah kenapa Lydora memiliki perasaan kurang enak. Dia mencoba menghela napasnya berulang kali agar tetap tenang.
Akhirnya mereka sampai pada sebuah pintu dan kepala pelayan mengetuk pintu itu.
"Yang mulia, Nona Lydora sudah datang."Ucap Kepala pelayan itu memberitahu.
"Persilahkan dia masuk!"Sahut Yohannes dari dalam.
"Baik, yang mulia!"Kepala pelayan itu membuka pintu dan mempersilahkan Lydora untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Lydora pun berjalan masuk dan langsung dapat melihat Yohannes yang sedang berada di mejanya sambil menulis sesuatu di kertas dengan penanya. Lydora membulatkan matanya saat melihat Yohannes mengenakan kaca mata. Jantungnya langsung berdebar saat melihat ketampanan Yohannes yang memakai kacamata.
Aduh, Tina! Jangan sampai terpesona padanya! Kau harus sadar!
Yohannes menatap kehadiran Lydora dan segera melepaskan kacamatanya. "Duduklah."Perintahnya.
Lydora kemudian duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Yohannes beranjak dari mejanya dan pindah ke sofa yang satunya lagi yang ada di depan Lydora dan kini mereka berdua saling berhadapan.
Yohannes mengambil kertas dari dalam kantung jasnya dan menyodorkannya pada Lydora.
"Apa ini yang mulia?"Tanya Lydora bingung sejenak.
"Baca itu."Pinta Yohannes.
Lydora segera membuka lipatan kertas itu dan membacanya. Lydora sedikit kaget dengan isinya yang tentang sebuah kontrak dan persyaratan. Syarat-syaratnya ada begitu banyak dan terlihat rumit.
Sebelum menikah, pihak wanita wajib menghapal setiap undang-undang dalam buku agar bisa melaksanakan pelantikan sebagai Ratu. Setelah menikah, pihak wanita tidak boleh memanggil pihak pria dengan nama langsung. Harus dengan panggilan 'yang mulia'. Pihak wanita tidak berhak mengetahui atau ikut campur dalam kehidupan pribadi pihak pria. Pihak wanita harus mendengarkan dan menuruti setiap perkataan pihak pria. Pihak wanita tidak boleh berkomentar ataupun berkutik karena semuanya pihak pria yang mengaturnya. Semua keuangan dan keperluan pihak wanita, pihak pria yang mengaturnya.
Lydora tidak percaya dengan yang baru saja dibacanya. Perasaan kesal sedih dan ketidakadilan bercampur menjadi satu. Itu tidak ada bedanya dia disamakan dengan hewan peliharaan karena semua yang mengatur kehidupannya adalah pria itu.
"Kau sudah membaca semuanya?"Tanya Yohannes.
"Ya...sudah. Yang mulia, maaf saya sepertinya tidak bisa menerima pernikahan ini."Ucap Lydora merasa sangat keberatan.
__ADS_1
"Aku sudah memperingatimu untuk jangan menolaknya, karena itu adalah perintah."Jawab Yohannes.
"Saya tidak mau Yang mulia. Sesuai yang Anda tulis ini terlalu kejam untuk saya. Jika saya menjadi Ratu nanti, saya tidak akan mendapatkan kebebasan. Saya merasa keberatan."Tegas Lydora.
"Memangnya bagian mana yang kau tidak mendapatkan kebebasan?"Yohannes malah bertanya.
"Ya, misalnya saya tidak boleh berkomentar ataupun berkutik tentang apa yang Anda lakukan terhadap saya. Bukankah begitu?"
"Bukan itu maksudku. Ketika kau mengetahui aku memiliki masalah atau apapun, kau jangan ikut campur. Bahkan ketika aku mengatur negaraku sekalipun. Kalau kau, aku tidak peduli tentangmu sama sekali. Kau bisa lakukan apa yang kau suka tapi kau harus selalu ingat bahwa orang-orang istana selalu mengawasi kita termasuk ibuku itu."
"Lalu, apa fungsiku sebagai Ratu yang mulia?"Tanya Lydora menjadi sedih.
"Kau? Kau hanya sebagai pelengkap persyaratan saja. Aku akan memberimu tugas mewakilkan diriku saat aku pergi ke negara lain. Dan jika para menteri bertanya mengenai pekerjaan, kau harus menjawab sesuai yang kuberitahu. Jika kau tidak menyampaikan apa yang kukatakan padamu, kau akan tahu akibatnya."Ancam Yohannes.
"Lalu, apa alasan anda memilih saya yang mulia? Mengapa saya tidak boleh menolak pernikahan ini? Bukankah anda tidak suka dengan saya yang mulia?"Tanya Lydora belum mengerti.
"Aku memang tidak menyukaimu. Apalagi rambut merahmu itu. Syukurlah jika rambutmu itu sudah dipotong, jadi tidak akan terlalu membuat mataku sakit."Jawab Yohannes dengan kata-kata yang membuat hati Lydora terasa perih.
"Alasanku hanya satu karena ibuku sangat memaksaku untuk menikahimu. Dia tidak mau wanita lain karena dia hanya ingin memilihmu. Dia memang sangat menyebalkan, tapi peraturan tetaplah peraturan. Seorang anak tidak boleh menolak permintaan sang baginda Ratu.
"Kau itu bodoh ya? Apa kau mau dihina dan dipermalukan para orang istana dan masyarakat? Silahkan saja kalau kau mau berpacaran dengan pria lain, tapi jangan mengemis padaku ketika kau terkena masalah nanti."Ucap Yohannes.
Cih!
"Oh, baiklah. Saya tidak akan berpacaran dengan pria lain kalau begitu. Berarti hanya anda saja yang boleh kan?"Ucap Lydora.
"Haah, kau memang bodoh rupanya. Aku sama sepertimu. Setelah menikah, peraturan di kerajaanku ini tidak boleh memiliki pasangan lain selain istri atau suami sahnya saja. Mau itu Raja atau Ratu. Jika ketahuan memiliki pasangan lain, gelarnya akan segera dicabut karena menurut undang-undang, sang pihak tidak fokus di tugasnya karena hanya memikirkan soal cinta."Ucap Yohannes.
Lydora hanya manggut-manggut mengerti. Dia merasa lega ketika mengetahui hal tersebut dan dia tidak perlu khawatir saat sang Raja memiliki selir suatu hari nanti.
"Tapi...saya tidak yakin bisa menjalankan peran sebagai Ratu, yang mulia."Ucap Lydora.
"Itu urusanmu. Aku tidak peduli dan kau harus siap saat sudah waktunya. Ya, aku berharap kau tidak membuat malu kerajaan kami."Ucap Yohannes tersenyum merendahkan.
__ADS_1
Tina...kau harus sabar. Aku masih tidak percaya jika pria ini sifatnya lumayan buruk juga. Kukira di novel dia adalah pria yang baik, tapi sangat jauh dari ekspetasiku. Kurasa dia memang pantas mendapat gelar second lead male, haha!
"Baiklah...saya akan berusaha menjadi yang terbaik agar tidak mempermalukan kerajaan ini."Ucap Lydora.
"Ada yang ingin kau tanyakan lagi?"Tanya Yohannes.
"Ah, tidak ada yang mulia."Ucap Lydora. Sebenarnya masih ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan Lydora, namun dia memilih untuk menahannya karena takut membuat Yohannes semakin ilfeel dengannya.
"Bagus. Kalau begitu silahkan tanda tangan disini sebagai perjanjian kontrak kita bahwasanya kau sudah menyetujui apa yang kutulis disini."Ucap Yohannes memberikan pena.
Tangan Lydora mulai bergerak meraih pena dari tangan Yohannes dan tanda tangan di atas kertas itu. Sejujurnya dia benar-benar tidak menginginkan pernikahan yang menurutnya kejam seperti ini.
"Setelah ini, temuilah Nyonya Bella. Beliau adalah seorang guru pembimbing supaya kau bisa belajar tata krama kerajaan kepadanya. Dia akan menjelaskan semuanya dan mengajarkannya padamu."Ucap Yohannes.
"Oh, baik."
"Kuharap kau langsung bisa menguasai beberapa inti dari kewajiban seorang Ratu saat pelantikan nanti."Ucap Yohannes sebagai peringatan.
Glek.
"Saya akan berusaha yang mulia."Jawab Lydora.
"Mulai besok, kemas semua barang-barangmu karena besok kau akan tinggal di istana."Ucap Yohannes.
"Eh? Ba-baiklah yang mulia."
Kembali dari Istana, Lydora hanya bisa terkulai. Dia bahkan tidak sanggup menceritakan kejadian hari ini kepada orang tuanya karena kedua orang tuanya pasti tidak akan menerimanya.
Ya, Tuhan. Kenapa aku bisa masuk ke dalam cerita ini sih?!
Baru saja sampai di kastil, Lydora langsung bertemu dengan Luna.
"Lydora, apakah itu benar jika kau akan menikah dengan Pangeran Yohannes?!"
__ADS_1
Next...