Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Minta cerai


__ADS_3

“MAS ERICK, SAYA TIDAK TERIMA DI CERIAKAN, SAYA TIDAK MAU PISAH!! SAYA CINTA KAMU, MAS ERICK!!” histeris Delila, untungnya sang polwan sigap memegang tubuh Delila, agar tidak berbuat buruk.


“TEGA KAMU MAS, GARA-GARA WANITA YANG HAMIL ITU......KAMU CERAIKAN SAYA!!”


Hati Erick tidak tergugah dengan ungkapan cinta dari Delila, rasanya biasa saja, melihat Delila ya seperti melihat orang yang sedang berteriak saja. Padahal mereka sudah menikah selama dua tahun.


“Bapak, Ibu, saya pulangkan Delila kepada Bapak dan Ibu, setelah ini saya akan mengurus surat perceraian secepat mungkin. Serta perlu Bapak ingat, tidak ada harta gono gini. Menurut saya membelikan rumah serta kendaraan yang telah di belikan, itu sudah cukup.”


Zainal dan Fira bergeming, setelah mendengarkan Erick mengucapkan kata talak ke Delila. Bayang-bayang hidup enak meraka langsung  buyar seketika itu juga.


“Bayu, suruh anak kamu menarik talak itu. Saya tidak terima Delila di ceraikan, ini tidak oleh terjadi! Kita ini teman baik, jangan jadikan anak saya janda!!” pinta Zainal dengan penuh emosi, tidak terima anaknya di talak tiga oleh Erick. Hidup enak yang selama dua tahun ini, akan hilang jika Erick menceraikan Delila.


“Kata talak yang telah di ucapkan tidak bisa di tarik, dan itu buka kata main-mainan. Sebagai orang tua, saya tidak bisa ikut campur. Masalah rumah tangga anak itu urusan anak. Jadi berlapang dadalah dengan kejadian ini,” jawab Papa Bayu santai, dan rupanya Papa Bayu salut anaknya berani mengambil keputusan.


Delila masih histeris dan menangis terisak-isak dalam pelukan mama Fira.


“Erick sebaiknya kamu bikin laporan dulu, biar bisa segera kembali ke rumah sakit. Jangan terlalu lama di sini,” pinta Papa Bayu.


“Baik Pah,“ Erick segera masuk ke ruang penyelidik.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah sekarang yang menimpa nasib Delila. Di satu sisi harus mempertanggung jawabkan ulahnya, tapi di satu sisi lainnya  akhirnya wanita itu di ceraikan akibat ulahnya juga oleh suami gantengnya serta kaya.


Andaikan dari awal Delila bersyukur, tidak tamak dan pongah atas kekayaan yang berlimpah dari suaminya. Lalu sesuai dengan tujuan awal menikah dengan Erick karena ingin keturunan, mungkin nasib Delila tidak seperti sekarang. Pastinya akan bahagia karena bisa memberikan seorang anak untuk suaminya, dan juga Erick tidak akan menikah lagi.


🌹🌹


Rumah Sakit


“Bagaimana perasaannya sekarang, apa yang di rasakan mbak Alya?” tanya Dokter Dewi. Ketika Alya sudah siuman, mama Danish segera memanggil Dokter Dewi untuk memeriksa kondisinya.


“Ada rasa yang tidak nyaman di perut bagian bawah. Apakah calon baby twin tidak apa-apa Bu Dokter?” tanya Alya, karena memang belum tahu kondisi diri sendiri.


“Mbak Alya mengalami pendarahan, untuknya Pak Erick cepat membawa ke rumah sakit. Dan calon baby twinnya masih bisa di selamatkan,” ujar Dokter Dewi.


“Alhamdulilah....,” Alya sedikit tenang. Dari awal proses inseminasi hingga hari ini dalam kondisi hamil, ternyata tidak mudah untuk di lalui, ada saja batu kerikil yang menghampiri langkahnya tidak berjalan mulus yang sempat di pikirkan oleh Alya.


“Beberapa hari ini mbak Alya harus menginap di sini dulu, karena saya harus memantau perkembangan si calon baby twinnya. Bedrest total jangan melakukan kegiatan apapun,” pinta Dokter Dewi.


“Baik Bu Dokter, akan saya patuhi,” jawab Alya dengan mengulas senyum tipisnya.


“Saya akan menjaga istri saya, Bu Dokter,” tiba-tiba suara bariton terdengar. Nampaknya Erick sudah masuk ke dalam ruang rawat inap, berdampingan dengan Papa Bayu.


Alya memalingkan wajahnya ketika Erick menatapnya dari jauh.

__ADS_1


“Baiklah pemeriksaannya sudah selesai, ingat harus banyak istirahat. Makan makanan yang sehat, nanti untuk obat yang harus di minim akan di antar oleh perawat,” ujar Dokter Dewi.


“Baik Bu Dokter, terima kasih.” Dokter Dewi undur diri. Mama Yanti langsung menghampiri ,dan duduk di tepi ranjang Alya.


Melihat Alya sudah siuman, sikap Erick mulai menciut ketika sesaat Alya menatap dirinya dengan tatapan tajam, lalu memalingkan wajahnya.


“Pah, sudah selesai dengan urusan Delila?” Tanya mama Danish, ketika suaminya sudah duduk di sampingnya.


“Pihak polisi yang akan mengurusinya, kita sudah menyerahkan bukti, dan ada beberapa orang bersaksi. Mungkin untuk malam ini, Deli akan menginap di kantor polisi,” jawab Papa Bayu.


Erick ikut bergabung duduk di sofa, “dan Delila sudah saya jatuhkan talak tiga, Mah,” sambung Erick, dengan menatap Alya yang masih memalingkan wajahnya.


“HAH.......kamu sudah menceraikan Delila, serius?” suprise sekali buat Mama Danish mendengar talak tiga.


“Iya Mah, Erick serius kalau gak percaya tanya saja Papa. Saya ucapkan di depan orang tua Delila, dan sudah menghubungi pengacara untuk mengurus surat perceraiannya.”


“Semoga saja itu keputusan yang tepat, dan kamu tidak menyesal nantinya,” balas Mama Danish.


“Erick tidak akan menyesal menceraikan Delila.”


Pembicaraan Erick dengan kedua orang tuanya terdengar jelas oleh Alya, tapi wanita cantik itu terlihat biasa saja tidak ada perubahan di raut wajahnya.


Melihat hal seperti itu, Erick beranjak dari duduknya dan menghampiri ranjang Alya, di sisi ranjang yang berbeda.


Alya tidak menggubris sapaan atau panggilan Erick.


“Alya....,” kembali Erick menyapa istrinya, mama Yanti yang berada di salah satu sisi ranjang, menyingkir dari mereka berdua.


Tak ada sahutan, pria itu meraih salah satu tangan Alya, akan tetapi kedua netra wanita itu langsung melotot.


“Gak usah pegang-pegang, Pak Erick!!” ujar ketus Alya, sambil menarik tangannya.


Hati Erick terasa gemas melihat galaknya Alya, tapi langsung teringat pria itu banyak melakukan kesalahan kepada istrinya ini.


“Cepat sehat ya, istriku....,” ujar pelan Erick.


“Istri.....istri!! Istri Pak Erick tuh Bu Agnes dan Delila, gak usah sebut-sebut saya istri. Giliran udah gak jelek, bilangnya istri!!” dengus kesal Alya.


“Udah sana pergi!! Jangan dekat-dekat di sini!!” lanjut rasa kesalnya Alya.


“Marahlah padaku, saya terima kamu memaki saya, menghujat saya, pukul saya.....saya rela!!” jawab pelan Erick.


“MAMA.....!!” panggil Alya.

__ADS_1


“Ya Nak,” jawab serempak Mama Danish dan Mama Yanti, kemudian menghampiri Alya.


“Mama Danish, tolong dong anaknya di suruh keluar. Jangan dekat-dekat dengan Alya. Alya tidak mau kehilangan calon baby twin. Sudah cukup Delila mau melenyapkan anak Alya, entah siapa lagi yang ingin melenyapkannya!!” terlihat kedua netra Alya mulai berkaca-kaca.


“Kalau boleh Alya memilih, saya ingin bercerai dengan Pak Erick sekarang juga, Mama Danish. Demi keselamatan anak yang di kandung Alya, nanti jika anak ini sudah lahir, saya akan tetap memberikan ke mama dan Pak Erick untuk pengasuhannya.”


Semenjak dirinya di dorong oleh Delila, Alya mulai memikirkan keselamatan sang calon bayi dan dirinya sendiri, kalau dirinya masih berstatus istri Erick, rasanya akan ada yang mengintai dirinya. Sedangkan musuh yang paling terdekat adalah orang yang berada di sisi Erick, bukan orang jauh, dan Alya sempat berpikir negatif ke Agnes. Cukup sekali Delila mencelakakan dirinya, entah esok hari siapa yang akan mencelakakan dirinya, bisa saja feeling Alya terjadi.


DEG


Cerai........batin Erick.


Bersambung.........Erick bingung.....🤔


Halo Kakak Reader yang cantik dan ganteng, terima kasih masih ikutin jalan cerita Alya dan Erick. Tanpa terasa sudah lewat 100 bab ya, semoga tidak bosan. Kalau sudah bosan, boleh kok di skip aja 😊.


Hari ini saya mau adakan give away buat kakak readers yang masih setia mengikuti cerita ini. Give awaynya berupa paket dari oriflame. Cara mau ikutannya, berikan komentar tanggapan Alya yang minta cerai, Erick harus ngapaiin? Di bab ini ya.....


Yuk ikutan kakak reader.......


Untuk 3 komentar yang terbaik akan mendapatkan Give Awaynya. Nah ini GA nya



Paket A





Paket B





Paket C


__ADS_1



__ADS_2