Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Tolong selamatkan.....


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju lobby JHCC, Erick dengan mengendong Alya menjadi pusat perhatian orang banyak, tapi pria itu tidak perduli. Beberapa security JHCC juga membantu membuka jalan dari ramainya pengunjung yang datang ke JHCC.


“Bertahanlah Alya, bertahanlah anak-anak daddy,” gumam Erick dengan nada terengah-engah ketika masih mengendong Alya menuju mobilnya. Rio sudah berlari duluan untuk ke lobby JHCC, untuk memastikan mobil Erick sudah tiba.


Ternyata sopir Erick sudah langsung stand by di lobby JHCC ketika di hubungi oleh Rio. Erick dalam keadaan membopong Alya, segera masuk ke dalam mobil.


“Rio, hubungi Dokter Dewi, segera. Minta sudah stand by di rumah sakit!!” perintah Erick.


“Baik Pak Bos,” segera di laksanakan oleh Rio.


Di dalam mobil, Erick memangku Alya, pria itu tidak mau meletakkan Alya di jok kursi. Tatapan mata pria itu sudah berembun melihat wajah cantik Alya yang mulai memucat.


“M-maafkan......saya,” lirih Erick.


Di sentuhnya perut Alya, ”nak bertahanlah di perut mommy, jangan pergi nak, Daddy sayang dengan kalian berdua. Jika kalian sampai pergi, mommy kalian pasti akan meninggalkan daddy......,” tetesan air mata pria itu mulai terjatuh, di pipinya.



Pria itu tiba-tiba membayangkan, jika kejadian tadi akhirnya mengakibatkan kehilangan calon anaknya, pasti wanita itu akan minta bercerai dan meninggalkannya.


“M-maafkan saya, Alya........beri saya kesempatan....!” tak ada lagi daya di hati pria itu, apalagi melihat aliran darah segar masih mengucur  sampai ke betis kaki Alya.


“Bertahanlah anakku, daddy tidak mau mommy kalian meninggalkan daddy........hiks,” pria itu mengeratkan dekapannya, memeluk hangat Alya yang masih belum siuman. Kemudian mengecup hangat pipi Alya.


Sekarang coba di rasakan oleh hati Pak Erick, sebagai laki-laki kita bisa merasakan wanita mana yang membuat kita sakit jika kehilangan......


“Iya hati saya sangat sakit! ketika tidak bisa bertemu denganmu, Alya. Saya menyesal......Alya. Saya takut kehilanganmu,” gumam Erick, dengan menatap lekat-lekat wajah cantik Alya.


Tiada tara rasa sedih yang menghinggap di relung hati pria itu, untuk pertama kalinya pria itu mengeluarkan air mata untuk seorang wanita, bukan untuk istri pertamanya yang telah menemani hidup selama sepuluh tahun, tapi untuk wanita yang di  nikahi atas alasan sebagai ibu ganti, istri ketiga yang belum lama di nikahinya.


Ternyata seorang wanita berkacamata dengan rupa buruknya bisa mengobrak abrik hati pria ganteng tersebut, bisa menyelusup ke hati yang paling dalam pria itu.


“S-saya mencintaimu, istriku......Alya,” lirih Erick mengakui perasaannya, dengan suaranya terdengar parau.

__ADS_1


Dengan kejadian ini, pria itu semakin tersadar jika dirinya sudah jatuh hati sedalam-dalamnya kepada wanita yang selalu di hinanya.


“Mohon beri saya kesempatan, Alya,” pria itu semakin mengeratkan dekapannya, dan membiarkan kepala wanita itu masuk ke ceruk leher pria itu. Sentuhan hangat akibat gesekan kulit leher Erick dengan wajah Alya, membuat pria itu semakin deras air matanya. Desiran desiran yang telah lama hilang, yang sudah lama tidak pernah dirasakan oleh Erick terhadap kedua istrinya, ternyata datang kembali, melalui sentuhannya dengan Alya.


Rio yang duduk di depan bersama sopir, hanya bisa menghela napas panjang sepanjang telinganya mendengar ucapan Pak Bosnya.


Sepertinya Pak Bos sudah jatuh cinta dengan Alya.......batin Rio lemas.


Hampir empat puluh lima menit mobil Erick baru tiba di lobby rumah sakit, dari  kejauhan terlihat Dokter Dewi berdiri menunggu, bersama beberapa perawat yang sudah menyiapkan brankar.


Rio turun duluan dari mobil, lalu membuka pintu penumpang, maksud hati Rio ingin membantu Erick untuk turut mengangkat Alya, akan tetapi langsung di tolak oleh Pak Bosnya. Rio bisa melihat kedua netra Pak Bosnya memerah dan sembab seperti orang habis menangis, dan ini untuk pertama kalinya Rio melihat.


Erick merebahkan tubuh Alya pelan-pelan di atas brankar, “tolong selamatkan anak dan istri saya, Dokter Dewi....,” mohon Erick, dengan suara menahan tangisannya agar tidak pecah.


“Bantu berdoa ya Pak Erick, semoga bisa di selamatkan,” Dokter Dewi  berusaha menenangkan Erick, apalagi setelah melihat kondisi Alya yang baru saja datang.


Kemudian brankar yang membawa Alya, langsung di larikan ke ruang bersalin khusus ibu dan anak. Erick dan Rio juga turut ikut.


Mama Danish yang baru saja tiba di rumah sakit, langsung menyusul Erick.


“Maafkan Erick.... Mah. Erick menyesal Mah.........Erick tidak mau kehilangan calon anak Erick Mah........Erick tidak mau kehilangan Alya....Mah......hiks,” pecah sudah tangisan Erick yang sudah tak tertahankan, dalam pelukan Mama Danish.


Mama Danish terkesiap melihat putranya menangis dalam pelukannya, selama ini hanya waktu masih kecil melihat Erick menangis. Dan semenjak mulai besar dan sudah dewasa, baru kali ini melihat putranya menangis.


Wanita tua itu hanya bisa menepuk lembut punggung putranya, agar sedikit tenang. ”Kita berdoa, agar calon anakmu bisa di selamatkan dan Alya sehat kembali,” ujar lembut Mama Danish  kemudian mengurai pelukan Erick.


Terlihat rapuh ketika Mama Danish menatap putranya, tidak seperti tadi pagi, sepertinya kejadian yang menimpa Alya menjadi pukulan berat buat Erick.


“Duduklah, kita tunggu kabar dari Dokter Dewi,” pinta Mama Danish. Sekarang mereka duduk bersama dan menunggu, dalam keheningan. Dalam hati Erick dan Mama Danish selalu melafadzkan doa demi keselamatan Alya beserta calon anaknya.


Satu setengah jam kemudian.


Dokter Dewi keluar juga dari ruang bersalin, Erick dan Mama Danish langsung beranjak dari duduknya dengan wajah tegangnya.

__ADS_1


“Bu Dokter, bagaimana keadaan istri saya, bagaimana dengan kondisi kandungannya?” Erick mulai mencecar beberapa pertanyaan.


“Mbak Alya mengalami pendarahan, dan untungnya Pak Erick membawa cepat mbak Alya ke rumah  sakit, jadi kami bisa mengatasinya secepat mungkin. Serta syukurnya calon baby twin masih bisa terselamatkan, tidak sampai mengalami keguguran.”


“Alhamdulillah calon anak-anak saya masih terselamatkan,” Erick langsung bersujud syukur.


“Alhamdulillah,” ujar Mama Danish, bersyukur kandungan Alya masih di lindungi oleh Sang Maha Pencipta.


“Usia kehamilan di awal tri semester pertama, masih sangat riskan. Saya harap jangan sampai mbak Alya kelelahan, apalagi serta sampai terjatuh, bisa memicu kandungan keguguran,” ujar Dokter Dewi.


“Baik Bu Dokter, akan saya perhatikan istri saya. Bisa saya masuk ke dalam untuk menjenguknya?” Erick tak sabar untuk melihat istrinya.


“Silahkan Pak Erick untuk menjenguknya, tapi untuk saat ini mbak Alya kondisinya sedang tidur karena saya habis memberikan suntikan obat penenang, agar bisa beristirahat, untuk pemulihannya. Dan mbak Alya harus dirawat di rumah sakit, agar terpantau kondisinya dalam masa pemulihannya."


“Baik Bu Dokter, berikan yang terbaik buat istri saya,” pinta Erick, kemudian pria itu masuk ke ruang bersalin.


Pria itu tersenyum tipis melihat istri cantiknya tertidur pulas, Erick mencondongkan dirinya ke hadapan perut istri, “terima kasih anak-anak daddy, kalian kuat di perut mommy. Tumbuh sehat kalian, dan lahirlah saat sudah waktunya. Daddy sayang kalian,” sang calon daddy mengecup perut Alya yang tertutup oleh selimut..


Setelahnya Erick menarik wajahnya dari perut Alya, kemudian mendekati wajah istrinya.


CUP


Kecupan hangat berlabuh di kening Alya “terima kasih, kamu mempertahankan calon anak-anak kita. Saya akan berjuang, merebut hatimu, menjadikan istriku seutuhnya.......bukan sekedar ibu pengganti,” ujar pelan Erick, sembari mengelus lembut pipi istrinya.


“Saya mencintaimu, Alya. Cepat sembuh........sayang,” pria itu mengecup bibir ranum Alya, lalu tersenyum hangat setelah mencuri ciuman bibir istri cantiknya.


bersambung........


 



 

__ADS_1


 


 


__ADS_2