Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Tiba-tiba mual


__ADS_3

Alya masih dalam kondisi terkesiap, setelah tahu jati dirinya terbongkar oleh mertuanya.


“Apakah Pak Erick juga tahu tentang semua hal ini termasuk wajah saya yang sebenarnya?” tanya Alya, agak cemas.


“Erick tidak tahu....,” jawab Mama Danish.


“Syukurlah kalau begitu, bisakah untuk sementara Papa dan Mama menyimpan rahasia ini dari Erick,” pinta Alya.


“Pasti bisa dong untuk anakku yang satu ini,” ujar mama Danish, sambil merangkul bahu Alya.


“Makasih ya Mah, Pah,” Alya bisa bernapas lega untuk sesaat.


“Sama-sama nak,” jawab Mama Danish.


“Jadi kamu terimakan tawaran bekerja di perusahaan papa?”


“Kalau papa yakin akan kemampuan saya. Saya akan menerimanya Pah,” jawab mantap Alya.


Papa Bayu dan Mama Danish bernapas lega, bisa mengeluarkan Alya dari perusahaan anaknya. Paling tidak Alya jauh dari Erick dan Agnes, dan mengurangi interaksi mereka bertiga.


🌹🌹


Esok hari....


Rumah Sakit


Mama Yanti dan Mama Danish menginap di rumah sakit menemani Alya, sedangkan Papa Bayu pulang ke mansion, tapi akan kembali lagi pagi ini.


Wanita cantik yang sekarang berbadan dua masih tertidur pulas, setelah semalaman mengobrol panjang dengan mama Danish dan mama Yanti.


Sedangkan mama Yanti dan mama Danish sudah bangun dan sudah membersihkan dirinya.


“Bu Yanti, terima kasih sudah melahirkan putri yang sangat cantik,” ujar Mama Danish, ketika mereka berdua sedang duduk bersama di sofa sambil menikmati beberapa kue yang sempat di pesan Mama Danish lewat pelayan mansionnya.


“Alya adalah putri yang sangat berharga buat saya, Bu Danish.”


“Maafkan jika jodohnya Alya seperti ini Bu Yanti, tapi saya akan menjaga anak ibu bagaikan anak saya sendiri."


Mama Yanti sudah berbesar hati menerima status Alya dari awal pernikahannya. “Saya sudah menerimanya dari awal Bu Danish, mungkin seperti itu jalannya. Yang sekarang saya harapkan, selama hamil, Alya akan baik-baik saja dengan calon babynya,” sebuah harapan yang tidak muluk-muluk dari seorang ibu.


“Saya juga berharap seperti itu Bu Yanti, semoga Alya di berikan kesehatan selama hamil hingga menjelang lahir nanti, tanpa ada masalah.”


Mama Yanti dan Mama Danish sama-sama menatap sendu ke ranjang......si putri cantik yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


Putri cantik tapi tidak secantik kisah hidupnya.


🌹🌹


Mansion Erick


Sejak awal bangun perut Erick mulai terasa tidak enak, tapi pria itu memaksakan dirinya untuk bangun dan bebersih untuk segera berangkat ke rumah sakit.


Sekarang di ruang makan, Erick, Agnes dan Delila sudah duduk bersama di meja makan untuk sarapan pagi.


“Mas Erick, semalam pulang jam berapa. Kenapa setiap aku telepon tidak di angkat?” tegur Agnes dengan nada kesalnya.


“Bukannya kamu lihat sendiri kemarin, kalau saya membawa Alya pingsan ke rumah sakit,” jawab Erick, sambil menikmati sarapan pagi yang telah di siapkan oleh kepala pelayannya.


“Ah paling Alya hanya pura-pura pingsan, mencari perhatian kamu setelah kemarin aku maki!” gerutu Agnes.


“Bisa jadi tuh Mbak Agnes, saya gak nyangka dengar cerita mbak semalam, Alya berani cium Mas Erick di lobby..........udah gila tuh cewek gak malu sama tampang wajahnya....!” kesal Delila, sambil mengingat cerita Agnes.


Rahang Erick mengerat setelah mendengar kedua istrinya membicarakan Alya.


“Masih berani gak tuh Alya, masuk kerja. Apalagi karyawan sudah membicarakan dia dan kamu, Mas, ya walaupun dalam perjanjian, kita tidak bisa memecatnya,” degus kesal Agnes.


BRAK


“Agnes, kamu bilang Alya pura-pura sakit!!”


“Ya pasti dong mas Erick, dia pura-pura sakit,” jawab Agnes.


“Sampai hari ini Alya masih di rawat, dan perlu kamu ketahui, sekarang Alya sedang hamil.”


“HAMIL......!” ucap serempak Agnes dan Delila.


“Ya.......Alya sedang hamil.”


“Bagus, kalau begitu sembilan bulan lagi kita akan memiliki anak mas Erick, penerus keluarga Pratama. Mama dan Papa tidak akan menuntut cucu lagi pada kita, rumah tangga kita akan semakin bahagia dan tenang. Dan urusan kita dengan Alya cepat selesai,” ujar santai Agnes sambil menikmati sarapan paginya.


Erick menatap nanar ke istri pertama, di benaknya ada rasa tidak suka dengan perkataan Agnes.


Semakin bahagia dan tenang.......apakah selama ini saya sudah bahagia dengan pernikahan bersama Agnes.


Sedangkan dengan Delila karena rasa hormat kepada kedua orang tua, saya menerima perjodohan tersebut dengan Delila. Berumah tangga selama dua tahun dengan Delila, rasa cinta itu tidak terlalu tumbuh di hati saya......walau Delila menunjukkan rasa cintanya.


“Saya gak sabar, Alya buru-buru lahiri anak. Terus Mas Erick segera ceraikan Alya, jangan lama-lama ya Mas Erick,” sambung Delila.

__ADS_1


Erick meletaknya sendok dan garpunya ke atas piring makannya.“Kalian berdua memang tidak punya pikiran , yang ada di pikiran kalian berdua hanyalah Alya segera di ceraikan!!” geram Erick.


“Memang seperti itu kesepakatannya, aku membayarnya untuk mengandung dan melahirkan,” ujar Agnes dengan santainya.


“Ck......kamu bilang.......kamu yang bayar Alya. Bukan kamu Agnes!!!......tapi saya yang bayar.....karena kamu pakai uang saya!!” dengan lantang Erick berkata. Seketika itu Agnes tersentak. Delila juga ikutan tersentak, mendengar suara suaminya meninggi, tak seperti biasanya.


Tak lama setelah berkata lantang pria itu beringsut dari duduknya, meninggalkan sarapannya yang belum tuntas. Akan tetapi tiba-tiba perutnya kembali bergejolak.


Mau tidak mau pria itu menuju kamar mandi. ”Huek..........huek......,” isi makanan yang baru saja tiba di lambung pria itu langsung keluar di dalam toilet.


Agnes dan Delila yang mendengar suara muntahan segera menyusul ke dalam kamar mandi.


“Mas Erick.....,” cemas Agnes, wanita itu langsung memijit tengkuk suaminya.


Sedangkan Delila keluar sesaat dari kamar mandi untuk mengambil minum untuk suaminya.


“Huek........,” Erick kembali mengeluarkan isi perutnya, sambil menjepit hidungnya, entah kenapa ketika posisi Agnes lebih dekat, membuat perut pria kembali bergejolak.


“Agnes.....menjauhlah....dirimu membuat saya mual,” Erick menepis tangan Agnes yang masih memijat tengkuk Erick.


“Tapi Mas Erick, kamu lagi muntah-muntah begini, masa aku tinggalkan,” Agnes menunjukkan perhatiannya.


“Mbak Agnes, biar saya saja yang memijit tengkuk Mas Erick,” pinta Delila, sambil menaruh gelas yang di bawanya.


Erick kembali menutup hidung, ”kalian berdua keluarlah, bikin saya tambah mual,” pinta Erick sambil melambaikan tangannya kepada kedua istrinya.


“Kok kami berdua bisa bikin kami mual Mas,” gerutu Agnes heran.


“Keluarlah.......!!” tak tahan Erick mencium wangi kedua istrinya. Dengan terpaksa Agnes dan Delila keluar dari kamar mandi.


“Pak Arif........,” panggil Erick dari dalam kamar mandi.


“Ya Tuan......,” kebetulan kepala pelayan selalu stand by tidak jauh dari tuannya.


“Buatkan saya minuman jeruk hangat, gulanya sedikit saja,” pinta Erick, sembari membersihkan mulutnya yang telah mengeluarkan isi di wastafel.


“Baik Tuan, segera saya buatkan.”


Gak biasanya perut saya mual-mual di pagi hari, apa salah makan......batin Erick.


bersambung


__ADS_1


__ADS_2