Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Welcome Baby Twin A


__ADS_3

Masih jalan-jalan di mall, sesuai permintaan Alya yang ingin membelikan hadiah untuk Lili dan Via, si bumil matanya langsung menuju toko perhiasan.


Sedangkan Lili dan Via mengikuti saja, dan hanya ikut cuci mata di dalam toko perhiasan, maklum mereka berdua tidak punya dana lebih jika ikutan membeli perhiasan.


“Lili, Via coba menurut kalian berdua kalung ini bagus gak?” tanya Alya minta pendapat kepada kedua temannya, sambil menunjuk ke etalase perhiasan.


“Bagus kok, Bu kelihatan simple tapi mewah,” jawab Lili.


“Iya mbak Alya, sependapat sama Lili, bagus, sederhana tapi wah,” sambung Via.


“Begitu ya...kalau begitu aku ikutin kata kalian aja berdua,” ujar Alya.


“Mbak, saya mau lihat kalung yang ini sama yang di sebelahnya ya,” pinta Alya kepada pelayan toko, sambil menunjuk kalung yang di inginkan.


Pelayan toko segera mengeluarkan dari etalase dan memberikan ke si bumil.


“Cantik ya kalungnya,” gumam Alya sambil menatap Via dan Lili.


“Iya cantik,” sahut Lili, tapi matanya tercengang melihat bandrolnya begitu juga Via, harga dari masing masing kalung 42 juta dan 40 juta, ke bayangkan kalung emasnya berapa gram, belum lagi liontin berliannya. Bikin Via dan Lili tergidik.


“Saya mau ke dua kalung ini, tolong di kemas terpisah ya,” pinta Alya kepada pelayan toko, sambil mengeluarkan blackcardnya.


“Baik Nyonya, di tunggu sebentar.”


Sambil menunggu kalungnya di kemas, Alya beberapa kali mengusap perutnya dan  terkadang menggigit bibir bawahnya seperti sedang menahan rasa kesakitan.


“Silahkan Nyonya ini barangnya dan ini kartunya. Terima kasih telah berbelanja di toko kami,” ujar pelayan toko sambil memberikan dua paper bag kecil.


“Terima kasih banyak,” Alya meraih paper bag dan blackcardnya.


“Via, Lili ini buat kalian berdua  hadiah kecil dariku, semoga bermanfaat,” ujar Alya sambil tersenyum.


Lili dan Via terkejut, ada rasa tak percaya mendapatkan hadiah yang semahal ini dari atasan sekaligus teman.


“Benerkah ini buat aku?” Tanya Via dengan tangan yang gemetaran.


“Iya benaran, ayo cepat diambil,” titah Alya yang masih menyodorkan kedua paper bag.


“Terima kasih Bu Alya,” ujar Lili terharu.


“Terima kasih banyak mbak Alya, sudah berikan aku hadiah yang mahal,” rasanya Via pengen nangis, ketika memegang paper bag yang berisi perhiasan emas.


Via dan Lili langsung memeluk Alya dengan kedua netra yang berbinar-binar, bagaikan mimpi di siang bolong menerima hadiah yang begitu istimewa buat mereka berdua, padahal mereka berdua tidak pernah berharap.


“Sudah jangan di peluk lagi udah engap nih,” celoteh Alya, sambil menahan rasa yang kembali muncul di perut besarnya. Mereka bertiga terkekeh kecil.


“Sayang sudah belum belanjanya?" tanya Erick dari luar toko.


“Sudah daddy,” sahut Alya dari dalam toko.


Baru saja mau keluar pintu toko, Alya mulai di terjang kesakitan yang sangat luar biasa rasanya, di bagian perutnya.


Via merasa aneh melihat Alya jalan.” Sudah berasa sakit perutnya, mbak Alya?” tanya Via.


“Mmm.....perutku agak mules,” desis Alya. Melihat istrinya berhenti jalan, Erick langsung menghampirinya.

__ADS_1


“Sayang.....,” wajah Erick mulai panik, melihat wajah Alya mulai berkeringat segede jagung.


“Sebaiknya kita langsung ke rumah sakit, sepertinya mbak Alya sudah mulai kontraksi,” pinta Via.


“Via, sepertinya bu Alya udah pecah ketuban,” ujar Lili sambil menunjukkan ke arah bawah Alya berdiri.


“Daddy....sakit..uh...hu..uh,” ujar Alya sambil mengatur napasnya.


Tanpa perintah dari Tuannya, Rocky langsung berlari keluar untuk menyiapkan mobil.


“Sabar sayang....,” pria itu juga panik, tapi langsung reflek membopong tubuh si bumil namun tidak sendiri, berdua dengan Rio karena bobot Alya dengan perut besarnya sangat berat, tidak memungkinkan untuk mengangkat sendiri.


“OOuccth daddy...perut mommy sakit,” teriak Alya sambil meringis kesakitan.


Begitu juga Erick dan Rio ikut meringis kesakitan, rambut kedua pria itu sudah kena jambakan selama di bopong menuju lobby mall.


“Atur napasnya mbak Alya, seperti yang di ajarkan saat senam hamil,” Via membimbing selama masih di mall.


“HU..AH...HU...AH,” Alya mulai mencoba mengatur napasnya, tapi tetap saja kedua tangannya menarik rambut Erick dan Rio, kedua pria itu menahan rasa sakitnya.


Di dalam mobil....


“Daddy....uh..uh..sakit daddy,” ringis kesakitan Alya.


“Iya sayang, sabar ya sayang...sebentar lagi sampai di rumah sakit.” pria itu rela lengannya di gigit sama istrinya, rela dijambak rambunya di dalam mobil, demi mengalihkan rasa nyeri akibat kontraksinya. Kalau perlu ingin rasanya rasa kesakitan istrinya pindah ke pria itu, gak tega rasanya melihat istrinya menangis kesakitan.


Berulang kali pria itu mengecup kening istrinya, mengecup pipi istrinya, dan melafazkan doa agar dimudahkan dan dilancarkan proses lahiran baby twinnya.


Via sebagai perawat sudah menghubungi Dokter Dewi jika Alya sudah ada tanda tanda akan melahirkan, dan sedang menuju rumah sakit.


Rumah Sakit...


Dokter Dewi dan para perawat sudah menunggu kedatangan Alya di luar lobby rumah sakit. Sesampainya mobil Erick di rumah sakit, para perawat langsung membantu membopong Alya dan merebahkan di atas brankar.


Tangan Erick dan Alya masih saling bertautan, tak ingin di pisahkan. Erick mengikuti brankar tersebut menuju ruang bersalin.


“Pak Erick silahkan pakai baju ini dan sterilkan badan  dulu sebelum masuk ke ruang bersalin,” pinta Via sambil menyodorkan pakaian berwarna hijau.


Salah satu perawat membantu memakaikannya lalu menyemprotkan disinfektan ke seluruh tubuh pria itu, lalu bergegas menyusul istrinya ke ruang bersalin.


“Daddy...,” teriak Alya yang melihat suaminya tiba-tiba tidak ikut masuk ke ruang bersalin. Padahal pria itu sudah berjanji akan menemani wanita itu jika akan melahirkan.


“Ya sayang...,” jawab Erick, yang baru masuk, dan langsung menggenggam  erat  tangan istrinya.


“Sudah pembukaan delapan berarti sebentar lagi ya....di atur napasnya Alya,” pinta Dokter Dewi yang sudah mengecek jalan lahir Alya.


Alya hanya menganggukkan kepalanya saja.


“HU.....AH......HU.....AH...,”


Sang suami melap keringat istrinya baik di kening, di leher lalu kembali mengecup kening istrinya dan memberikan usapan lembut di perutnya.”Ayo anak-anak daddy, sekarang keluar yuk, kasihan mommy sudah kesakitan, daddy gak tega lihatnya. Yuk anak-anak daddy pasti mau ketemu daddy sama mommy kan,” imbuh Erick pelan.


Perut Alya kembali bergejolak hebat. “Aduh daddy....perut mommy tambah sakit....iiihhh,” teriak Alya, refleks melihat kepala suaminya dekat dengannya, di jambak lagi rambut pria itu.


“Auw...auw...auw,” ikut meringis Erick.

__ADS_1


“Sudah pembukaan sepuluh, ikutin aba-aba ibu ya Alya,” pinta Dokter Dewi.


“YAAA......,” teriak Alya kesakitan.


Alya mengikuti aba-aba dari dokter Dewi ketika mengambil napas panjang lalu mengedan dengan sekuat tenaga.


“Kamu bisa sayang, ayo sayang...,” Erick turut memberikan dukungan ketika Alya mulai mengedan.


“EEEEMMM.........,” sekuat tenaga Alya mengedan.


“Oek...Oek..Oek....” suara tangisan bayi yang kencang terdengar jelas.


“Hiks....hiks....hiks...,” pria itu mulai menangis ketika mendengar suara tangisan bayi itu.


Di kecupnya kembali wajah Alya dengan tangisan bahagianya.


“Sekali lagi Alya yuk mengedannya, sudah kelihatan kepala babynya ,” pinta Dokter Dewi.


Erick  menggenggam erat tangan istrinya, dan Alya kembali mengikuti instruksi Dokter Dewi.


“Oek....oek.....oek....” suara baby kembali terdengar setelah keluar dari jalan lahir Alya.


“Alhamdulillah baby twin sudah keluar dua-duanya, hebat kamu Alya,” ujar Dokter Dewi.


Alya bisa bernapas lega, “alhamdulillah.”


“Alhamdulillah, mommy hebat....istriku hebat.....i love you more....hiks...hiks..,” dengan berderai air mata pria itu mengecup lembut bibir ranum istrinya, pria itu sudah tidak mampu berkata apa-apa setelah melihat dengan matanya sendiri, istrinya berjuang melahirkan baby twin.


“Oek......oek.....oek...” suara baby terdengar jelas dari bibir mungil baby twin.


“Selamat Pak Erick, Alya, baby twinnya sangat tampan.” Ucap Dokter Dewi, memberikan salah satu baby Twin ke Erick. Sedangkan salah satu baby ada di dalam boks yang di bawa oleh perawat.


Pria itu mengusap air matanya, air mata kebahagiaan. “Anak daddy......hiks...hiks...,” pria itu semakin menangis melihat dan mengendong anaknya. Alya ikut menangis melihat suaminya menangis, pria yang sudah  begitu lama menunggu kehadiran seorang anak, sekarang baru terwujud dari istrinya Alya.


“Hadiah yang terindah darimu sayang,” ungkap pria itu dengan tatapan penuh sayang ke istrinya.


“Jangan menangis lagi dad,” ujar Alya.


“Aku bahagia sayang, lihatlah aku sekarang menjadi pria yang sempurna berkatmu, menjadi daddy dari baby twin....anak-anak kita sangat tampan,” Pria itu masih betah mengendong salah satu baby twin.


“Dad, mommy juga mau lihat baby twinnya,” pinta Alya.


Erick meletakan salah satu baby twin di sisi Alya, lalu mengangkat baby twin yang ada di dalam box.


“Sangat tampan, anak kita sangat tampan ya daddy.”


“Iya sayang sangat tampan anak-anak kita, selamat datang anak-anakku Baby Arash Azhar Pratama dan Baby Arsal Kashif Pratama,” pria itu mengecup pipi kedua anaknya secara bergantian lalu mengecup kembali bibir ranum istrinya.



Baby Arash dan Baby Arsal sudah lahir ke dunia dengan selamat, mereka hadir melalui proses inseminasi. Dengan segala rintangan, si baby twin bertahan di perut istri ketiga Erick, hingga akhirnya menjadi istri satu-satunya Erick. Dan kini kedua buah hati Alya dan Erick menambah kebahagiaan keluarga besar Mama Danish dan Mama Yanti.


bersambung....


 

__ADS_1


__ADS_2