Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Sibuk di butik


__ADS_3

Butik Alya


Lili menemani wanita berkacamata itu, menuju gudang kain. Terlihat Alya sibuk memilih beberapa stok kain, dari jenis bahan, warna dan motifnya.


“Lili nanti saya mau kain yang motif bunga ini, sama kain katun polos warna mint ini buat perpaduannya,” tunjuk Alya ke gulungan kain.


“Baik Bu Alya.”


“Lili, sales kain sudah ada yang ajukan motif kain yang terbaru?”


“Sudah ada yang beberapa katalog yang masuk Bu, sudah saya letakkan di meja ibu.”


“Oh....ya sudah.....nanti saya cek. Sekarang kita ke ruang konveksi,” ajak Alya.


“Baik Bu....”


Dengan jalan terpincang-pincang wanita berkacamata itu, melanjutkan jalannya menuju ruang produksi di bagian paling belakang. Penuh keramahan Alya menyapa karyawannya yang sedang bekerja, sambil mengecek hasil jahitan mereka.


“Alya, kamu kenapa paksakan jalan ke ruang produksi, sudah tahu kakinya masih sakit,” tegur Bram, yang kebetulan sedang berada di ruang produksi.


“Sudah mulai enakkan kok Mas Bram, ini jalannya juga pelan-pelan kok. Oh iya mas.......pesanan saya udah di kerjaiin belum. Sampel baju yang saya desain beberapa hari yang lalu.”


“Desain kamu sudah dibuat sampelnya, tunggu sebentar saya ambilkan dulu, ada di ruang finishing,” Bram berlari kecil menuju ruang finishing.


Sambil menunggu wanita itu duduk di depan meja jahit, dan menatap karyawannya yang sedang bekerja. Ada perasaan perih melihat perjuangan para karyawan wanitanya, berusaha mencari sesuap nasi demi anak mereka yang ditinggalkan di rumah.


Terkadang kodratnya wanita turut menjadi tulang punggung keluarga, baik masih sendiri maupun sudah berkeluarga, demi memenuhi kebutuhan hidup.


Alya menghela napas panjangnya kembali teringat kembali dengan ucapan Agnes, kata yang menyakitkan perebut laki orang. Haruskah dirinya akan di cap seperti itu, demi menjadi ibu pengganti, demi karyawannya yang menaruh harapan besar di butik yang dia miliki.


Ya Allah jika memang kelak ada penghinaan atau hal menyakitkan, tolong berikan saya kesabaran dan kekuatan untuk menghadapinya. Karena tentang esok hari,  saya tidak tahu apa yang akan terjadi........batin Alya.


“Alya, ini sampelnya,” ujar Bram, kedatangannya membuat lamunannya buyar seketika.


“E-ehh iya Mas Bram,” Alya langsung melihat sampelnya, kedua netranya mulai berbinar-binar.


“Menurut saya, desain kamu yang ini bagus. Bagaimana kalau kita coba produksi 100 pcs, dan lempar ke pasaran secara online,” ide Bram.


“Iya Mas Bram, ternyata hasilnya keren ya, boleh deh Mas, kita produksi dengan bahan yang ada dulu. Stok bahan kain kita masih banyak di gudang. Nanti aku pilah-pilah lagi jenis kain yang cocok buat baju ini,” semangat Alya, melihat hasil desainnya bagus.


“Kalau begitu saya langsung koordinasi ke team produksi kita,” tanggap Bram.

__ADS_1


“Iya Mas Bram, gerak cepat ya. Kalau hasil di pasarannya bagus, kita bisa tambah lagi produksinya,” wanita itu berharap bulan ini butiknya mendapatkan penghasilan yang lebih dari bulan sebelumnya, agar tetap bisa bayar gaji karyawannya.


“Oke Alya,” balas Bram.


“Saya balik ke ruangan ya mas, nanti kalau ada yang mau di diskusikan langsung ke ruangan saja ya,” pamit Alya.


“Iya Alya, perlu saya antar gak ke ruangan,” tawar Bram.


“Gak usah Mas Bram, sudah ada Lili kok,” Alya langsung merangkul lengan Lili.


🌹🌹


Handphone Alya yang di tinggalkan di meja kerjanya, sepertinya berdering terus, akan tetapi sayangnya si empunya handphone baru saja kembali hingga tidak tahu jika banyak pesan dan telepon yang masuk.


Wanita itu yang baru masuk ke ruang kerjanya, langsung mengecek katalog bahan dari berbagai sales kain. Kembali menyibukkan dirinya, tanpa mengecek handphonenya terlebih dahulu.


“Maaf Bu Alya, belum makan siang. Kira-kira mau di pesankan makan siang gak Bu,” Lili baru engah ternyata sudah mau jam dua siang. Tak sadar mengikuti kegiatan Alya, hingga melewatkan jam makan siang.


“Memangnya sudah jam berapa Li?”


“Sudah jam dua siang Bu.”


“Baik Bu, saya pesankan dulu,” pamit Lili, dan bergegas ke bawah untuk memesankan makan siang buat mereka berdua.


Dertt......Dertt......Dertt


Handphone Alya kembali berdering, sesaat diliriklah handphonenya.


Pak CEO calling


“Ada apa telepon?” tanya Alya dengan dirinya sendiri. Panggilan Pak CEO di biarkan saja, wanita itu kembali bekerja. Tak lama kemudian.....


Drett........Drett.......Drett


Pak CEO calling


“Halo......,” sapa Alya suaranya terdengar malas bicara.


“Mau berapa ratus kali, telepon saya baru kamu terima. Apa kamu lagi sibuk pacaran dengan kekasih kamu....huh!” tegur Erick, suaranya terdengar sewot.


“Ooohhhh jadi Bapak telepon saya buat menuduh saya ya. Gak istri  gak suami sama aja ya!” geram Alya.

__ADS_1


Langsung diputus sambungan telepon dari Erick. Sesaat Alya juga tercengang dengan histori telepon yang tidak terjawab, hampir ada seratus panggilan tidak terjawab dari Pak CEO nya. Serta beberapa pesañ masuk dari Erick.


“Kayak gak ada kerjaan aja, telepon sampai seratus kali.......iiih ngeri kali,” gumam Alya sendiri.


Erick yang teleponnya baru di terima oleh Alya, sudah langsung di putus oleh Alya. Akan tetapi pria itu tidak patah arang, kembali lagi menghubungi Alya.


“Ada apa lagi telepon, mau nuduh lagi!!” ketus Alya, kembali menerima panggilan dari Erick.


“Siapa yang mengizinkan kamu pulang duluan dari rumah sakit tanpa pamit sama saya.”


“Siapa bilang saya tidak pamit, saya pamit dengan Bu Agnes kok, bukankah sama saja saya sudah berpamitan dengan Bapak melalui istri Bapak, lalu letak masalahnya apa!!”


Sesaat Erick terdiam dengan jawaban Alya.


“Obat dan susu promil kamu masih ada di saya,” ucap Erick.


“Kirim saja ke rumah, pakai ojek online,” pinta Alya tidak mau ribet.


“Saya baru saja ke rumah kamu, tapi kata Bik Sur, kamu tidak ada di rumah, belum pulang. Kamu lagi pacaran sama Andri atau Bram!!” kembali Erick menuduh.


“Saya mau sama siapa kek terserah saya, tolong ingat jangan campurin kehidupan saya!!”


“Wajar saya mencampuri urusan kamu, kamu itu sudah di lamar dan sekarang calon istri saya....ingat itu!!” bentak Erick tak terima.


“Ck....Pak CEO yang terhormat, saya ingatkan sekali lagi. Saya hanyalah calon ibu pengganti bukan istri. Istri Pak CEO adalah bu Agnes bukan saya!!” sengaja memberikan penekanan.


Mereka diam sejenak......


“Sekarang kamu ada di mana, biar saya jemput. Kaki kamu masih sakit?” tanya Erick mengalihkan pembahasan tadi.


“Tidak perlu repot menjemput Pak Erick, saya bisa pulang sendiri. Terima kasih atas perhatiannya.”


“Alya ini makan siangnya.....,” suara Bram terdengar jelas, yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Alya, membawa pesanan yang di beli Lili, sedangkan Lili sedang mengambil minum di pantry. Dan suara Bram terdengar jelas di telinga Erick.


“Mas Bram....” sahut Alya, masih dalam keadaan menerima panggilan telepon dari Erick.


“Oooh jadi betul ya kamu ini, belum nikah dengan saya sudah berani selingkuh ya!!!” geram Erick terdengar jelas, pria itu mulai emosi gara-gara suara Bram. Tuduhannya seakan menjadi nyata.


Hati pria itu kembali bergejolak tak menentu!!


__ADS_1


__ADS_2