
"Kamu bilangnya tidak suka dengan Alya, tapi kamu datang ke rumahnya. Sedangkan hal itu sudah di sepakati bersama, kamu yang melanggar, maka terima ganjarannya. Mama tidak akan membantu kamu untuk membujuk Alya. Itu urusan kamu!” Sambung Mama Danish, dengan tatapan kesalnya.
“Sudah cukup hari ini melihat keegoisan kamu sama kedua istri kamu, Alya itu bukan boneka......dia itu punya hati dan perasaan. Lebih bagus kalau nanti Alya tidak hamil, jadi bisa keluar dari lingkaran kalian bertiga,” dengus kesal Mama Danish. Dari semenjak di rumah sakit, sudah cukup mama Danish menahan emosi, di tambah dengan kejadian di restoran saung.
“Mah.......sabar mah....,” Papa Bayu mulai menenangkan mama Danish.
“Andaikan papa melihat kejadian saat makan siang, sungguh perih mendengar ucapan Delila dan Agnes ke Alya,” ucap Mama Danish.
Erick hanya bisa tertegun dengan semua perkataan mamanya, “Erick, sangat berharap inseminasinya berhasil mah.” Ujar Erick pelan.
“Kamu berharap inseminasi berhasil. Tapi kamu sendiri yang mengacaukannya, lebih baik kamu pulang, urusi dan didik kedua istri kamu!!” pinta Mama Danish sebelum kembali emosi.
“Sudah lebih baik kamu pulang nak, sebelum mama kamu marah-marah lagi,” pinta Papa Bayu.
“Tapi mah tolong Erick, bujuk Alya agar tidak melakukannya,” dengan nada melasnya.
“Mama tidak akan menolong kamu, selesaikan urusan kamu sendiri!!”
“Erick, pulanglah.......jangan paksa mama lagi,” pinta Papa Bayu.
Mau tidak mau pria itu beringsut dari duduknya, kepada siapa lagi dirinya harus minta bantuan. Agar Alya tidak melakukan hal yang tak di inginkannya, walau hasil inseminasi belum tentu juga hasilnya positif. Tapi pria itu ternyata berharap untuk kali ini, membuahkan hasil yang baik.
🌹🌹
Mansion Erick
Pagi hari......
Erick di temani oleh Agnes dan Delila terlihat sedang sarapan pagi bersama, hening tanpa ada suara.
Semalam akhirnya Erick kembali ke mansion, dan beristirahat di kamar pribadi, padahal semalam jatah Agnes untuk dikunjungi oleh Erick, tidur bersama.
“Mas Erick, nanti aku bareng kamu ke kantor ya,” pinta Agnes.
“Mmm.......,” gumam Erick dingin, pria itu sibuk dengan sarapan paginya.
Agnes dan Delila saling lihat-lihatan, kemudian melirik ke arah suami mereka.
“Mas Erick, saya minta maaf atas ucapan kemarin,” mohon Delila.
“Sebaiknya kamu merenungi atas ucapan kamu setelah menuduh Alya.”
“Mas Erick, Delila berkata seperti itu wajar saja mas........kami berdua takut mas Erick berpaling, dan lebih perhatian dengan Alya, hingga kami merasa di abaikan. Apalagi aku mas.......aku kok merasa mas berubah tiba-tiba. Mas sekarang sering marah-marah kepada kami berdua. Aku memilih dan mengizinkan Mas Erick menikah dengan Alya, bukan untuk memarahi atau membentak aku.....tapi kita membutuhkannya hanya untuk mengandung benih Mas Erick. Mas Erick tidak ada kewajiban untuk memperhatikan Alya. Yang butuh di perhatikan itu aku dan Delila, Mas......hiks....hikss....,” Agnes mulai meneteskan air matanya.
__ADS_1
“Apakah Mas Erick sudah tidak mencintai aku mas, istrimu yang telah menemani mas selama sepuluh tahun ini.......hiks.....hiks...,” air mata mulai membanjiri pipi Agnes.
Erick sampai berhenti makannya, karena melihat istrinya menangis, kemudian pria itu beranjak dari duduknya lalu mendekati Agnes. “Maafkan saya Agnes, bukan maksud saya tidak mencintaimu......jika kamu ada yang salah, saya patut menegurmu. Jika saya tidak mencintaimu, mana mungkin saya mau menikah dengan Alya dan menyetujui Alya jadi ibu pengganti.”
Wanita itu langsung beranjak dari duduknya, kemudian memeluk suaminya. “Jangan pernah berubah Mas Erick, aku sangat mencintaimu.....,”
“Saya juga mencintaimu, Agnes,” balas Erick, sambil mengecup mesra kening Agnes.
Delila yang ada di antara mereka berdua, udah bagaikan sapi pongo melihat adegan mesra suaminya dengan istri pertamanya.
Ketika mengucapkan kata cinta kepada istri pertamanya pagi ini, hati pria itu terasa hampa seperti tidak ada arti cinta itu. Hanya sekedar ucapan di bibir saja tanpa ada makna yang berarti.
Pria itu mencintai istri pertamanya Agnes selama sepuluh tahun berumah tangga, walau sudah hadir Delila sebagai istri kedua. Akan tetapi dalam perjalanan berumah tangga dengan Agnes dan Delila, Erick terkadang terasa hampa hatinya tapi tidak pernah di ungkapnya, walau mulutnya sering mengucapkan cinta ke Agnes, akan tetapi hatinya kosong.
Erick memeluk erat tubuh Agnes, tapi sejenak pikiran pria itu melayang, teringat ketika pria itu memeluk Alya........seakan ada rindu ingin memeluk wanita itu......istri ketiganya.
“Sebaiknya kita selesaikan sarapan ini, lalu berangkat ke kantor. Pagi ini saya ada meeting,” pinta Erick, sambil mengurai pelukannya.
“Iya Mas Erick.....,” jawab Agnes, wanita itu kembali tersenyum.
“Delila, nanti sekalian berangkat kerjanya bareng saya dan Agnes,” ujar Erick.
“Ya Mas Erick......,” Delila ikutan senang, berangkat kerja di antar suaminya, walau tetap ada Agnes. Ya nasib jadi istri kedua.
Pria itu kembali mencoba bersikap seperti biasanya, sebelum mengenal Alya.
Erick menatap kedua istrinya yang sedang makan secara bergantian.
🌹🌹
Perusahaan Pratama.
Sesuai tekad bulat Erick tadi pagi, pria itu akan mengembalikan suasana hatinya seperti sebelum mengenal karyawannya yang bernama Alya.
Seperti pagi ini pria itu sudah tenggelam dengan pekerjaannya, tidak ada lagi menyibukkan melihat handphone untuk menelepon dan mengirim pesan ke Alya.
Sedangkan Alya tidak masuk kerja selama seminggu karena harus bedrest di rumah, izin kerjanya sudah Agnes yang mengurusinya ke bagian HRD.
🌹🌹
Rumah Alya
Hari ini Alya merasa bebas tidak ada telepon atau pesan dari Erick, dan itu membuat dirinya nyaman tidak ada gangguan.
__ADS_1
Walau wanita itu bedrest si rumah, tapi tetap dia bekerja dari rumah mengurusi butiknya. Lili sebagai asistennya juga turut datang ke rumah Alya, untuk koordinasi pekerjaan, apalagi proyek kerja sama dengan perusahaan Sanbe mulai berjalan.
“Kainnya sudah datang semua, Li?” tanya Alya sambil mengecek berkas yang di bawa Lili.
“Sudah Bu, beberapa sales kain sudah mengirimnya.”
“Oke kalau begitu, nanti kamu tinggal koordinasi sama mas Bram ya buat bagian produksinya, di maksimalkan jam kerja karyawan, karena kita harus kejar stock.”
“Baik Bu, nanti saya akan sampaikan ke mas Bram.”
“Oh iya Bu, ini ada undangan untuk para desainer, sepertinya ada gala fashion terbuka.”
“Kapan acaranya, Li?”
“Kayaknya dua minggu lagi, lumayan loh Bu kalau bisa hadir, akan banyak peluang untuk memperkenalkan butik ibu.”
“Semoga kita bisa hadir ke acara itu.”
“Amin semoga Ibu sehat ya,”
“Amin.......”
🌹🌹
Menjelang sore hari......
Erick mulai tak tenang, rasa ingin tahu keadaan Alya mulai membuncah, padahal sedari tadi pagi pria itu bisa menahannya untuk tidak menghubunginya. Tapi sore ini tiba-tiba muncul.
“Mas Erick......,” sapa Agnes yang baru saja masuk ke ruangan suaminya.
“Ya Agnes...,” jawab Erick.
“Sudah sore Mas, waktunya pulang,” ujar lembut Agnes yang sengaja menghampiri suaminya.
“Ooh sudah jam lima sore ya,” jawab Erick melirik jam tangannya.
“Iya mas, kita pulang yuk. Tapi sebelum pulang bisa temani aku ke mall gak? Ada yang mau aku beli,” pinta Agnes.
“Baiklah, saya temani kamu ke mall,” keinginan untuk menghubungi Alya jadinya terpendam begitu saja, ketika Agnes sudah menghampiri pria itu.
Kini dengan senyum hangatnya Agnes bergelayut mesra di lengan suaminya, dan jalan bersama-sama keluar dari ruangan Erick, seakan semuanya baik-baik saja, seperti sedia kala.
*bersambung.....
__ADS_1
Perasaan seseorang tidak ada yang pernah tahu, walau hati sering menipu diri sendiri. Sekuat apapun bertahan untuk mengelak jika hati sudah terpaut, lambat laun dia akan menuju ke tempatnya*.