Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Anak bungsu


__ADS_3

Papa Bayu sebagai orang tua, tidak akan menyalahkan orang lain terlebih dahulu dalam masalah artikel yang telah berhembus di perusahaan Pramata. Orang pertama yang di salahkan pastilah anaknya terlebih dahulu. Karena semua berawal Erick yang mencium Alya bukan Alya yang mencium Erick. Sedangkan pernikahan Erick dengan Alya tidak ada yang tahu.


“Erick bukan hanya bodoh Pah, tapi matanya benar-benar sudah tertutup dengan Agnes. Feeling mama pasti ini kelakuan Agnes......hiks....hiks!! Bisa-bisanya istri ketiga sah di sebut perebut suami orang....Emang gak punya hati itu perempuan........hiks....hiks...!!”


“Pasti Agnes yang bikin berita semua ini, benar-benar hatinya busuk, perempuan itu.......hiks...hiks,” dalam tangisnya Mama Danish, tersirat emosi serta tuduhan yang terlontarkan.


“Mah, sudahlah tidak perlu marah-marah. Ini sudah nasib Alya. Mama juga jangan asal menuduh dulu, belum tentu Bu Agnes yang membuat berita tersebut lagi pula jaman sekarang teknologi semakin canggih, jari-jari setiap orang pun semakin cepat bagaikan mulut lambe turah,”  ujar Alya sambil mengelus lembut punggung mama Danish.


“Tapi tetap saja perbuatan itu tidak di benarkan, Alya. Kamu jangan sok tegar dan kuat......kasihan calon baby kembar di dalam perut kamu, nak.......hiks....hiks.” ujar Mama Danish sambil terisak.


“Mah, Alya bukan sok tegar dan kuat. Tapi Alya berusaha menerimanya, dan tidak terlalu memasukkan ke dalam hati, bukankah Dokter Dewi sudah pesan kalau saya harus mengelola pikiran saya. Kalau mau di bilang sedih dan kesal, pasti Alya juga merasakan seperti itu, tapi Alya ingat sama si baby twin ini. Jadi mama jangan nangis lagi, please support Alya......kalau mama menangis terus. Alya jadi pengen ikutan menangis juga,” ungkap Alya dengan tutur kata yang lembut, sambil memperlihat senyum cantiknya.


Jika boleh memilih, hati wanita yang sudah berbadan dua itu juga rapuh. Akan tetapi dia harus kuat dengan segala konsekuensi yang telah dia ambil. Menerima segala resiko yang akan terjadi. Terpaan mental sedikit demi sedikit menghampiri dirinya.


Mama Danish segera melap air matanya di pipi dengan tisu, dan menghentikan isak tangisnya, ada benarnya juga.......wanita yang menjadi korban saja tidak mengeluarkan air mata, justru sedang berjuang menenangkan hati demi calon si baby twin, sedangkan mama Danish justru berlarut karena rasa sedih akan artikel serta segala hujatan yang menimpa Alya menantu ketiganya.


“Nak kenapa kamu tidak datang sepuluh tahun yang lalu. Andaikan kamu hadir duluan. Pasti kamu mantu mama satu-satunya,” ujar lirih Mama Danish.


“Sepuluh tahun yang lalu, Alya masih umur tiga belas tahun, masih bau kencur, dan masih imut kayak boneka barbie Mah, gak mungkin Alya menikah di usia tiga belas tahun,” jawab Alya dengan senyum lebarnya.


“Kamu ini bisa aja, mama lagi berandai, kamu malah ajak bercanda.”


“Biar mama tidak sedih lagi, sekarang di lanjut lagi makannya Mah, calon Oma harus sehat. Lihat tuh kayak Papa, mama lagi nangis tapi tetap aja lahap makannya.”


“Uhuk.....uhuk.......,” Papa Bayu sampai keselek sama makannya sendiri, gara-gara di omongin Alya.

__ADS_1


“Tuhkan papa baru engehkan,” sahut Alya. Wanita cantik itu buru buru memberikan segelas air putih untuk papa Bayu, agar tenggorokannya tidak keselek lagi.


“Hi....hi....hi..," si Papa Bayu hanya bisa nyengir kuda.


Baru dua hari Alya tinggal di mansion utama, mama Danish dan papa Bayu berasa punya anak bungsu. Perhatian tulus dari Alya, sikap apa adanya semakin membuat kedua orang tua Erick sangat menyayangi Alya, bukan karena sedang hamil calon cucu keluarga Pratama.


“Alya, mama boleh tahu tidak alasan kamu menerima kerja sama pinjam rahim dengan Agnes?” tanya Mama Danish, dan Papa Bayu pun ikutan menyimak.


Tidak ada lagi yang harus di tutupi terhadap Mama Danish dan Papa Bayu. Alya menceritakan latar belakang kenapa menerima dan mau meminjamkan rahimnya kepada Agnes.


Kedua netra mama Danish kembali berkaca-kaca, hatinya terenyuh mendengar alasan Alya mau mengorbankan dirinya demi ratus karyawan.


Papa Bayu sebagai laki-laki ikutan sedih bercampur haru, menantunya bukan mencari uang untuk dirinya, tapi untuk kepentingan orang lain.


“Nak, kamu sudah terima uang dari Agnes, dp satu milyarnya?” tanya Papa Bayu.


“Kalau kamu menerima uang dari Agnes, segera kamu kembalikan. Batalkan perjanjian itu, dan masalah butik kamu, Papa bersedia memberikan modal tanpa harus kamu kembalikan. Kamu butuh berapa, bilang sama papa,” ujar tegas Papa Bayu.


“Benarkah Pah, tapi Alya tidak enak sama Papa,” sungguh Alya terharu mendengarnya, tapi tetap hatinya gusar, walau bagaimana pun mereka berdua orang tua Erick.


“Ya Papa....serius, dan jangan merasa tidak enak, jangan gara-gara papa orang tua Erick, kamu merasa segan menerimanya,” ucap tulus Papa Bayu.


“Baik Pah, terima kasih sebelumnya.”


“Papa, gak bertindak masalah artikel ini. Usut siapa dalangnya?” tanya Mama Danish.

__ADS_1


“Mah, bukannya papa tidak mau cari dalangnya. Kita lihat langkah apa yang di ambil oleh Erick, dia bukan anak kecil yang harus kita urusi. Bisakah dia mengatasi masalah yang berhubungan dengan istri-istrinya!!”


“Tetap aja anak kita tuh sudah tertutup matanya sama Agnes, terlalu bucin. Makanya dari awal mama tidak merestui Erick menikahi Agnes, tapi apa mau di kata anak kita cinta mati sama Agnes. Jangan-jangan Agnes pakai pelet waktu itu......ck!!” lidah Mama Danish berdecak kesal mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu.


Alya sebagai anggota keluarga baru, hanya bisa mendengar pembicaraan mama Danish dan papa Bayu, tidak ikut campur  apalagi pembicaraannya berhubungan dengan istri Erick. Wanita itu meneruskan sarapannya.


“Mah, Pah........Alya boleh minta izin gak?”


“Izin apa nak, kamu mau pergi? Kan masih bedrest?” tanya Papa Bayu.


“Bukan mau pergi Pah, tapi Alya minta izin mau meminta asisten dan beberapa karyawan butik untuk ke mansion, Alya harus menyelesaikan beberapa persiapan buat gala fashion Pah, dan tidak memungkinkan Alya untuk pergi ke butik. Itu pun kalau di bolehkan sama mama dan papa?”


“Sangat boleh sekali, kamu bisa pakai ruang kerja Papa. Papa akan selalu mendukung kegiatan kamu, dan ingat kamu juga harus mulai belajar jadi wakil papa.”


“Oke......siap Pak Bos,” Alya tersenyum lebar, setelah dapat izin dari Papa Bayu.


“Anak mama ini memang pintar dan mengemaskan,” dicubitnya pipi mulus Alya dengan gemasnya, kemudian merangkul bahu Alya.


“Mama sakit iiih....nanti Alya gak cantik lagi kaya boneka barbie, malah jadi boneka Anna belekkan,” bibir Alya mengerucut ke depan.


“HA.......HA......HA...,” tawa canda Mama Danish dan Papa Bayu pecah memenuhi ruang makan, pagi ini walau ada kesedihan di balik senyum tawa.


*bersambung


"Mama akan selalu menjagamu, Alya," batin mama Danish*

__ADS_1



__ADS_2