Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Di balik musibah


__ADS_3

Masih di rumah sakit...


Dokter Dewi kembali ke ruang rawat untuk memantau keadaan Alya.


“Bagaimana kondisi kandungan anak saya Bu Dokter?” tanya Mama Yanti.


“Tadi saat pemeriksaan di ruang IGD, hasil USG nya alhamdulillah kedua babynya baik, normal. semuanya. Hanya guncangan shock yang di alami oleh Alya, sebab melihat kejadian langsung,” penjelasan Dokter Dewi.


“Ya Allah, kenapa kami sekeluarga di kasih musibah seperti ini, baru aja sedang mengurusi acara syukuran,” ujar Mama Danish sambil berlinang air mata.


Manusia punya rencana, tapi tetap Allah juga yang berkehendak.


“Sabar Bu Danish, semua kejadian ada hikmahnya. Anggap saja dengan kejadian ini bisa mengurangi dosa-dosa kita. Dan yang pasti setiap kejadian ada hikmahnya. Tapi kita belum mengetahuinya,” tutur Mama Yanti.


Anggukan lemah dari Mama Danish, menjadi tanda sepaham apa yang di katakan oleh Mama Yanti.


“Pak....Pak Erick.....Pak...,” racau Alya dalam kondisi tidak sadarnya.


“Alya...,” Dokter Dewi mengusap tangan Alya, agak sedikit tenang dan kembali sadar.


“Daddy......dad....,” jerit Alya, hingga tak sadar kedua kelopak mata wanita itu mengerjap dan langsung membulat. Bayangan tragis itu masih terbayang di pelupuk mata wanita itu.


“Bu Dokter, m-mama,” ujar Alya agak bingung, sambil menelisik keberadaan dirinya.


“M-mama...Pak Erick...!”


“Pak Erick masih dalam penanganan dokter, sebaiknya kamu tenangkan diri dulu,” pinta Dokter Dewi.


Mama Yanti mengulurkan segelas air putih untuk putrinya. “Minum dulu, kamu baru saja sadar, nak,” pinta Mama Yanti. Dokter Dewi segera membantu Alya agar bisa duduk bersandar di headbord.


Wanita itu masih terlihat lesu dan sedih, seperti tidak semangat lagi.


“Bu Dokter, Mama Danish, saya mau lihat kondisi Pak Erick,” pinta Alya dengan nada lemahnya. Entah kenapa, mungkin bawaan bayi, hati wanita itu ingin melihat kondisi suaminya, apapun yang terjadi yang penting bisa melihat langsung.


Dokter Dewi hening sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Ibu akan tanyakan terlebih dahulu dengan dokter yang menangani Pak Erick, jika sekiranya bisa di jenguk nanti Suster Via yang akan menjemput kamu di sini,” ujar Dokter Dewi.


“Terima kasih banyak Bu Dokter,” kemudian Dokter Dewi pamit untuk mengeceknya.


“Mama Danish, sudah tahu kondisi Pak Erick dan Pak Rio kah,” tanya Alya.

__ADS_1


Mama Danish menggeleng lemah. “Mama belum kuat untuk menjenguknya, hanya papa yang masih menunggu Erick.”


Kedua netra Alya kembali tergenang air mata, hati siapa yang tidak akan sedih, iba....melihat orang yang di kenal mendapatkan musibah, apalagi karena ingin melindunginya.


“Ini semua gara-gara salah aku, harusnya tadi aku gak minta beliin lumpia sama Pak Erick. Jadi gak bakal kecelakaan.....hiks...hik...hiks,” kembali lepas tangisan Alya, menyesali awal mulai yang berakhir dengan kecelakaan.


Andaikan waktu bisa dimundurkan, ingin sekali diubah skenarionya, tidak jadi beli lumpia, menahan keinginannya. Dan langsung pergi ketempat yang dituju sebelumnya, akan tetapi itu hanya angan semata yang tak mungkin terwujud.


“Maafkan aku , mama Danish......gara-gara aku....Pak Erick....kecelakaaan.........hikss...hiks.,” penyesalan datang.


“Sudah nak, semua sudah suratan takdir.” Mama Danish langsung memeluk Alya.


“Tetap aku yang salah mah.......hiks...hiks.”


“Sudah jangan menangis terus, kondisi kamu tidak boleh lemah, ingat dengan kandungan kamu. Sekarang yang terpenting doakan Erick, lukanya tidak terlalu parah dan bisa cepat pulih kembali,” imbuh Mama Danish, tapi malah semakin kencang tangisan si bumil mengingat Erick yang  tergeletak di atas aspal tak sadarkan diri.


“Sayang.....,” suara bariton pria yang sedikit berat namun lemah, terdengar oleh telinga Alya dan Mama Danish  hingga mereka berdua mengurai pelukannya.


Bibir wanita itu mulai mencebik dan,”huwa....hiks....hiks......” semakin kencang tangisan Alya sampai kedua bahunya naik turun setelah melihat siapa yang memanggil sayang, ternyata Erick yang terduduk di atas kursi roda dengan kondisi kepala di perban, lalu salah satu tangannya pakai kain penyanggah.


Alya merentangkan kedua tangan sambil menangis sesegukkan, pria itu tersenyum hangat lalu bangkit dari kursi rodanya, kemudian menghampiri istrinya.


“D-daddy.........hiks....hiks...,” wanita itu semakin mengeratkan pelukannya, ada rasa takut....takut akan kehilangan pria yang memeluknya.


“M-maafkan mommy...daddy. Harusnya mommy gak minta lumpia.....hiks....hiks,” ujar Alya.


Erick bernapas lega melihat kondisi istrinya serta kandungannya selamat, biarlah dia yang terluka.


“Mommy, tidak salah...sayang,” erick berusaha menenangkan istrinya yang masih terisak dalam dekapannya. Berulang kali pria itu menghunjami kecupan di ujung kepala istrinya. Ah lagi-lagi bawaan bayi, hati Alya meleleh ketika di peluk dan di kecup hangat oleh pria itu.


Pria itu mengurai pelukannya, dengan salah satu tangan yang tidak terluka, di usapnya air mata yang membasahi pipi istrinya.


“Sudah jangan menangis lagi mom, daddy bersyukur kondisi mommy selamat,” kata Erick dengan tatapan hangatnya.


“Tapi daddy terluka.....hiks...hiks...,” jawab Alya sesegukan.


“Apakah mommy mengkhawatirkan daddy?” tanya Erick.


Alya cepat menganggukkan kepalanya, dan itu membuat hati Erick menghangat.”Sangat..sangat khawatir....hiks....hiks..,” jadi melow hati Alya ketika di tanya.


Buat wanita itu, baru kali ini dia merasakan takut, takut kehilangan pria yang ada di hadapannya. Apalagi pas melihat Erick di tabrak, pikiran akan meninggalnya pria itu langsung terlintas, dan nyatanya sungguh sangat menyesakkan di hatinya. Apakah itu tandanya hati wanita itu mulai ada rasa dengan pria yang menikahinya.

__ADS_1


“Untungnya kamu dan anak kita selamat, biarlah daddy yang terluka,” ujar Erick.


“Jangan.....jangan...lagi terjadi, mommy takut....,” balas Alya.


“Takut apa, mom?”


“T-takut kehilangan daddy, katanya daddy cinta sama mommy,” ujar Alya masih dengan raut sedihnya.


“Daddy sangat mencintai mommy,” balas Erick, dengan tatapan penuh dambanya.


“Mommy.......mencintai daddy,” ujar Alya dengan suara pelan.


“A-apa sayang.....coba ulangi lagi, daddy gak dengar,” rasa  bahagia menyelimuti hati pria itu mendengar balasan istrinya.


Alya hanya tertunduk malu sambil menggelengkan kepalanya, malu jika di ulangi lagi.


Rasanya sudah cukup bukti sang pria itu mengorbankan dirinya untuk wanita yang dicintainya, kata cintanya bukan hanya sekedar ucapan ternyata terbuktikan langsung di depan mata kepala sendiri. Jangan sampai musibah ini terulang lagi, dan segeralah menyatakan isi hati sebelum menyesal jika benar-benar di tinggal ke dunia lain. Sudah cukup tembok di hati wanita itu berdiri kokoh, sudah saatnya membuka hati dan membuka mata  untuk pria yang sudah menikahinya.


Erick mencapit dagu Alya, agar wanita itu kembali menatap dirinya.”I love you, Alya,” ujar Erick, kemudian pria itu mengecup bibir wanita itu.


“Ehmmmm....,”deheman Mama Danish terdengar jelas.


Erick langsung terkejut, lalu menarik wajahnya.


“Erick,....ingat masih banyak orang nih,” tegur Mama Danish dengan tersenyum lebar.


Erick dan Alya hanya bisa tersenyum kikuk, sangking tenggelam dengan pembicaraan mereka berdua. Lupa kalau masih ada orang lain di ruang rawat.  


 


bersambung......



Kakak Reader yang cantik dan ganteng, mampir yuk ke karya Author Novi Niajohan, ceritanya keren loh. Makasih sebelumnya 🙏🤗



 


 

__ADS_1


__ADS_2