
“Jangan malu-malu Alya, kamu harus banyak makan, biar program babynya berhasil,” sok ramah Delila.
“Ya mbak Delila,” jawab Alya.
Agnes dan Delila berusaha bersikap baik dan manis terhadap Alya di depan Erick. Dan itu membuat bulu kuduk Alya merinding, wanita berkacamata itu bisa merasakan sikap kepura-puraan kedua istri Erick.
Mereka berlima menikmati makan siang bersama, andaikan pengunjung restoran tahu jika yang berada di dalam saung itu, ada pria dengan ketiga istrinya, duduk bersama dan terlihat akur, pasti akan mengacungkan jempol melihat rumah tangga poligami yang akur.
“Alya nanti kalau ada apa-apa, atau butuh sesuatu segera kabari ke aku saja. Jangan pernah menghubungi Mas Erick, karena suami aku sudah padat dengan pekerjaannya. Kamu kan tahu Mas Erick seorang CEO tempat kamu bekerja,” ujar Agnes di sela-sela makannya.
“Tanpa Bu Agnes memberitahukan hal itu, saya juga sudah paham. Jangan khawatir saya tidak akan pernah menghubungi suami Bu Agnes,” tutur kata Alya terkesan santai.
“Kamu jadikan tetap tinggal di rumah sendiri, tidak ada niatan pindah ke mansion kami. Takutnya aku akan di salahkan oleh Mas Erick, karena aku yang melarang ?” tanya iseng Agnes, untuk memastikan saja.
Alya terdiam sesaat, “sesuai kesepakatan awal, saya tetap tinggal di rumah sendiri, Bu Agnes.”
“Dengar ya Mas Erick kata-kata Alya, kalau dia sendiri yang memilih tinggal di rumahnya sendiri.” Ucap Agnes, tapi belum ada tanggapan dari Erick.
“Oh iya Alya, perlu di ingat juga. Kamu jangan main belakang dengan kami berdua, memangnya tadi di rumah sakit kita berdua tidak melihat kamu memeluk Mas Erick!! Ingat posisi kamu ya.....tugasnya hanya hamil dan melahirkan. Jangan - jangan kamu diam-diam mau jadi p e l a k o r!!” ujar Delila, pelan....tapi menyakitkan.
Bagus ucapan kamu Delila.......tidak salah tadi aku memanas-manaskan........aku bisa memakai mulutmu tanpa harus aku berucap sendiri. Jadi Mas Erick tidak akan marah padaku.........batin Agnes.
Ting......
Sendok dan garpu terjatuh begitu saja di atas piring Alya, wanita berkacamata itu sudah sangat sabar menghadapi Agnes dan Delila. Sekarang dirinya dituduh main belakang.
“DELILA!!” teriak Erick, bulu kuduk Delila seketika merinding, mendengar teriakan suaminya.
Agnes pura-pura menunduk, dan tersenyum tipis.
PLAK
__ADS_1
Tangan mama Danish sudah mendarat di salah tatu pipi Delila.
"Mama......," Delila terkejut.
“Delila, mulut kamu sangat lancang. Kamu sebut Alya p e l a k o r, sudah jelas Alya sudah jadi istri ketiga Erick. P E L A K O R dari mananya!!!” geram Mama Danish.
Tatapan Alya langsung ke Delila dan Agnes, kemudian menatap pria ganteng yang berada di hadapannya.
“Mbak Delila, Bu Agnes......saya akan selalu ingat posisi saya.......sangat.....sangat tahu! Tidak perlu di ingatkan kembali. Dan satu lagi Mbak Delila dan Bu Agnes jangan khawatir Pak Erick tidak akan berpaling ke saya, dari awal Pak Erick sudah tidak menyukai saya, lagi pula saya tidak bisa menandingi kecantikan Bu Agnes dan Mbak Delila yang sangat di cintai oleh Pak Erick. Dan perlu di ketahui saya juga sudah punya calon suami, setelah urusan kerja sama ini selesai, saya akan menikah dengan calon suami saya. Dan saya juga tidak ada niatan untuk merebut suami orang. Jika tadi Mbak Delila dan Bu Agnes melihat saya di peluk atau memeluk Pak Erick, itu hanya kesalahpahaman semata. Mungkin Pak Erick bisa menjelaskannya,” tatapan Alya begitu berbeda, tajam tapi sedikit sendu, mata abu-abu itu tak berpaling menatap wajah Erick, begitu pun pria itu tidak sekali-sekalinya memalingkan tatapannya.
Sebenarnya naluri bar-bar wanita berkacamata itu ingin keluar, ingin menjambak mulutnya Delila. Tapi dirinya langsung tersadar jika di perut bawahnya ada sesuatu yang baru saja masuk. Dan takutnya akan berpengaruh akan hasilnya.
Sabar.......sabar Alya.....batin Alya.
Beginikah nasib wanita yang memiliki penampilan dan wajah di bawah rata-rata, sering di rendahkan oleh wanita yang cantik!! Alya sesaat memejamkan matanya, menahan semua rasa untuk tidak meledak-ledak.
Erick sudah meradang, dadanya terasa nyeri ketika Alya berkata akan menikah dengan calon suaminya. Lantas pria itu sendiri dianggap apa oleh Alya !! Padahal dirinya sudah menikahi wanita berkacamata itu secara sah.
Tanpa menunggu Erick menjawab, “Mah, saya pamit pulang duluan,” ujar Alya, wanita berkacamata itu dari awal tidak suka makan bersama dengan Erick beserta kedua istrinya, entahlah.......rasanya tidak nyaman.
“Tunggu mama juga turut pulang, kita pulang bareng, nak,” pinta Mama Danish.
“Mama belum selesai makan, saya bisa pulang sendiri. Maaf ya mah,” pamit Alya tanpa mau menunggu. Wanita itu beringsut dari duduknya, lantas memakai sepatunya kembali.
Erick tak tinggal diam “kalian berdua itu sungguh keterlaluan!!” emosi Erick yang di tunjukkan kepada kedua wanita cantik itu. Agnes dan Delila hanya bisa terdiam.
Pria itu turut beringsut dari duduknya, dan memakai sepatunya. “Alya........” panggil Erick sambil mengejarnya.
Alya tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang, justru semakin mempercepat langkah kakinya, tidak peduli rasa sakit, ngilu di bagai perut bawahnya.
“Erick berhenti,” teriak Mama Danish, membuat langkah pria itu berhenti dan menoleh ke belakang. Melihat Mama Danish menyusulnya.
__ADS_1
“Mah....”
“Urus kedua istri kamu di sana. Tidak perlu kamu mengejar Alya. Sudah cukup sabar mama melihat tingkah kedua istri kamu. Jangan sekali-kali kamu mengejar dan mendekati Alya. Baru tadi pagi mama nasehati kamu, sekarang sudah kejadian!!” emosi Mama Danish.
“Semakin kamu mengejar Alya seperti tadi, semakin berlarilah Alya.....dan inseminasi pastinya akan gagal!! Gara-gara kamu!!”
Erick tidak menyadari hal itu, pria itu menyugar rambutnya, kedua netra pria itu hanya bisa menatap jalan yang sudah di lalui Alya. Setelah mengeluarkan emosinya, Mama Danish segera meninggalkan restoran tidak kembali ke saung. Acara makan siang berantakan.
Sedangkan Erick dengan langkah lunglainya ke meja kasir, untuk membayar makan siangnya tanpa kembali ke saung untuk menghampiri kedua istrinya, sambil menghubungi Rio asistennya.
🌹🌹
Rumah Alya
Suasana rumah Alya terlihat sepi, Mama Yanti sedang mengantar Sultan ke stasiun kereta api. Bik Sur sedang menyetrika baju di kamar belakang.
Di ruang tengah tampak wanita muda cantik hanya menggunakan mini drees, hingga terlihat kemolekan tubuhnya yang selama ini di tutupinya. Siapa lagi kalau bukan Alya.
Sepulangnya dari restoran saung, wanita itu langsung kembali ke rumahnya. Dan membebaskan dirinya dari topeng yang selama ini dibuatnya.
“Cepat hadir ya nak, di perut mommy. Biar urusan mommy cepat selesai dengan Bu Agnes," gumam Alya sendiri, sambil mengelus perutnya sendiri.
Wanita cantik itu kembali teringat semua ucapan Agnes dan Delila, jika wanita lain mungkin akan terasa menyakitkan. Tapi buat Alya, dia berusaha untuk tidak terlalu di masukkan ke hati, walau kenyataannya sangatlah menyakitkan.
“Betul kata mama, ternyata harus kuat mental. Semoga hatiku kuat,” gumam Alya bermonolog.
Wanita cantik itu lantas beranjak dari duduknya lalu menuju ruang tamu untuk mengambil barangnya yang ketinggalan di meja ruang tamu.
Sepasang mata pria langsung terbelalak melihat??
bersambung.....
__ADS_1