Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Persyaratan


__ADS_3

Alya sesaat tertegun, benarkah pria itu tersiksa ketika dia pergi?


“Saya tidak bermaksud menyiksa Pak Erick,” balas Alya pelan.


Sesungguhnya wanita itu tidak ada niatan menyiksa batin pria itu, dia hanya memikirkan keadaan dia dan calon buah hatinya, itu saja!


Saat ini, wanita itu kembali melihat pria yang masih berstatus suami sekaligus daddy dari calon anaknya, berurai air mata mata walau tidak terlalu deras. Ada rasa tidak enak juga melihatnya, ini sudah kedua kalinya wanita itu melihatnya.


Tak semua pria bisa menunjukkan air matanya ke setiap orang, kecuali dalam keadaan berduka kehilangan orang yang berarti dalam kehidupannya itu pun terkadang di kemas dengan rapi, kecuali sudah terlalu sedih.


Wanita itu sedikit canggung, hingga beberapa kali mengusap perut bulatnya, tanda ingin menenangkan sesuatu yang ada di dalam perut bulatnya. Kemudian mengambil tisu dari atas meja, lalu memberikannya ke pria itu.


“Hidupku terasa hancur dan hampa ketika kamu pergi,” lirih Erick, sambil mengusap air matanya yang sudah mulai turun, dengan tisu pemberian Alya.


Aduh kenapa bisa hancur, lagi pula masih ada Agnes kan, istrinya....batin Alya bertanya. Akan tetapi segan untuk bertanya.


“Saya mencarimu bukan karena kamu sedang mengandung anakku. Tapi kamu....kamu yang sudah mampu menggoyahkan hatiku,” ungkap Erick, tatapannya masih tak luput memandang wajah Alya.


“Saya tahu...selama ini banyak salah padamu...saya akui di awal tidak menyukaimu...tapi nyatanya saya selalu berharap bisa melihatmu...mendengar suara marahmu...dan saya tak suka ketika kamu mendiamiku,” lanjut pria itu yang masih saja mengeluarkan isi hatinya.


“Pak Erick...,” Alya mencoba membuka suaranya.


“Ya....”


“Semua sudah berlalu, kita sudah bertemu sekarang. Jadi kita selesaikan masalah kita yang sempat tertunda. Saya akan mengurus perceraian kita ke pengadilan agama, jika Pak Erick belum sempat mengurusnya,” ujar Alya. Wanita itu bukan tidak tersentuh oleh ungkapan hati Erick, tapi hati kecilnya tidak ingin merebut suami orang.


Semua ungkapan isi hati Erick terasa sia-sia dan terhempaskan oleh perkataan Alya, mengurus perceraian.


Semula tatapan redup, tiba-tiba kedua netra Erick menatap tajam ke wajah Alya, hatinya kembali berkecamuk dan pilu.


“Mudah sekali kamu minta dan mau mengurus perceraian. Setelah sekian lama pergi meninggalkan suami, tanpa pamit,” suara pria itu awalnya datar, sekarang terdengar agak meninggi.


Alya menghela napas panjang, agar tidak terbawa emosi.


“Tidak perlu marah, Pak Erick,” pinta Alya sambil mengulas senyum tipis.

__ADS_1


“Saya kembali datang, karena ingin mengurus sesuatu yang salah. Saya ingin mengembalikan ke tempat semula. Berbahagialah berumah tangga dengan Agnes istri Pak Erick, saya juga akan bahagia dengan cara saya sendiri. Dan Pak Erick kelak tetap bisa menengok anak-anak,” tutur Alya.


“Saya sudah bercerai dengan Agnes,” jawab Erick dengan suara meninggi, agar terdengar jelas di telinga wanita itu.


Alya langsung terdiam, mendengar ucapan Erick, hati wanita itu mulai merasa bersalah, kemudian berpikir jangan-jangan perceraian terjadi karena dirinya. Wanita itu tertunduk menyesal, menyalahkan dirinya sendiri.


“Apakah Pak Erick dan Bu Agnes bercerai karena saya? Kalau benar....saya tetap minta berpisah,” ujar lirih Alya dalam tunduknya.


Hati Erick mulai memanas, pria itu menyugarkan rambutnya, langsung cepat berpikir. ”Baik saya akan menuruti permintaan kamu jika tetap ingin berpisah, tapi ada syaratnya dan harus dipenuhi terlebih dahulu!!” seru Erick, pria itu beranjak dari duduknya, dan terlihat gusar.


Alya mengangkat kepalanya dan memandang pria itu yang sudah berdiri tegap,”persyaratan apa yang harus di penuhi?”


“Mulai hari ini, detik ini juga kita hidup bersama tinggal satu rumah, satu kamar, tidur seranjang layaknya suami istri sampai anak kita lahir. Jika kamu tidak mau, maka tidak ada perpisahan antara kita,” Erick mengajukan persyaratan yang tidak di duga oleh Alya.


“APA... TINGGAL SATU RUMAH!” seru Alya, wajah wanita itu sangat terlihat terkejut...jantung rasanya mau copot.


“Semua keputusan di tangan kamu, jika kamu ingin berpisah dengan saya. Maka penuhi persyaratan itu sampai anak kita lahir,” ujar Erick tersenyum smirk.


Sungguh persyaratan  yang berat buat Alya, minta cerai tapi harus tinggal seatap layaknya suami istri.


“Bisakah di rubah persyaratannya, Pak Erick, persyaratannya sangat berat,” mohon Alya dengan menunjukkan pupy eyesnya.


“Tidak...tidak bisa di rubah. Kalau kamu tidak bisa memenuhi, maka tidak ada kata perpisahan,” jawab tegas Erick dengan memasang tampang garangnya.


Aduh nak...ini daddy kalian kenapa kasih persyaratan  sangat berat...batin Alya, menatap perutnya.


“Saya kasih waktu untuk kamu berpikir selama sepuluh menit untuk memilih, jadi berpikirlah sebaik-baiknya!” ujar Erick, kemudian pria itu keluar dari ruangan Papa Bayu.


“Pak...Pak Erick,” panggil Alya, namun sayang Erick menghiraukan panggilan Alya.


Di luar ruangan Papa Bayu, terbitlah senyuman di bibir Erick, pria itu mengepalkan kedua tangannya ke udara, kemudian menariknya ke bawah.


“Yess......yess, semoga berhasil. Alya akan memilih tinggal bersama,” gumam Erick sendiri. Jika Alya memilih bercerai, maka Erick ada kesempatan untuk hidup bersama Alya, dan memperbaiki rumah tangga mereka dari awal.


“Pak Arif kerahkan semua pelayan, tolong rapikan kamar saya, dan semua isi mansion. Dan suruh chef masak makanan sehat untuk ibu hamil. Malam ini Nyonya akan datang dan tinggal di mansion saya,” perintah Erick melalui sambungan handphonenya.

__ADS_1


“Baik Tuan, siap di laksanakan,” jawab Pak Arif.


Segera mengerahkan seluruh pelayan mansion Erick.


Akhirnya istri yang di cari sudah kembali, semiga Tuan tidak uring-uringan lagi....batin Pak Arif.


Pria itu kemudian mencari Papa Bayu, untuk menceritakan rencananya.


Sedangkan Alya yang masih berada di dalam ruangan Papa Bayu, terlihat kebingungan untuk memutuskan pilihannya.


Jika wanita itu bersikukuh ingin berpisah dengan Erick, maka harus menerima persyaratan yang di ajukan oleh pria itu. Kalau tidak menerima, maka tidak akan bisa berpisah. Dilema!


“Nak, bantu mommy.....mommy harus pilih yang mana?” tanya Alya, sembari mengusap perut bulatnya.


“Mommy bingung nak, apa kalian berdua ingin dekat dengan daddy kalian?” tanya kembali pada si jabang baby twin.


Tiba-tiba saja perut yang di elusnya, terasa ada yang bergerak pelan, seakan ingin ikutan menjawab pertanyaan mommynya.


Alya tersentak terkejut untuk pertama kalinya, merasakan ada yang bergerak di dalam perutnya.” Nak, kalian bergerak.......sayang,” ujar terharu Alya, merasakan sesuatu yang hidup di dalam perutnya bergerak pelan.


Kebahagiaan pertama untuk calon ibu, ketika bertanya, ada yang meresponnya.


“Semoga ini keputusan yang terbaik,” ujar lirih Alya, sambil menatap bingkai foto keluarga Papa Bayu yang terpajang di dinding, terlihat sosok pria ganteng berdiri tegap dia antara Papa Bayu dan Mama Danish.


bersambung......kira-kira apa yang diputuskan oleh Alya 🤔


 


"Kamu akan menjadi istri seutuhnya, dan saya juga akan menjadi suami seutuhnya untukmu seorang. Tidak ada wanita yang lain, hanya kamu Alya istri satu-satunya."



"Bantu mommy nak, mommy harus bagaimana?"


__ADS_1


__ADS_2