Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Memutuskan pilihan


__ADS_3

Ruang Wakil CEO


“Jadi kamu yakin Alya akan menerima persyaratan kamu, untuk tinggal bersama?” tanya Papa Bayu menyelidik.


“Alya sekukuh untuk berpisah, jadi Erick kasih persyaratan seperti itu,” jawab Erick.


“Ya...semoga saja Alya mau menerimanya, jika dia benar-benar ingin berpisah sama kamu.”


“Erick berharap seperti itu, karena itu kesempatan buat memperbaiki rumah tangga Erick dengan Alya, Pah. Untuk kali ini Erick berharap Papa mendukungnya, dan jangan menyembunyikan Alya lagi.”


“Papa tidak menyembunyikan Alya, tapi Alya yang tidak memberitahukan keberadaannya sama Papa. Hari ini Papa baru saja ketemu Alya setelah sekian lama,” tutur Papa Bayu.


“Kali aja Papa mau menyembunyikan dan menjauhkan Erick sama Alya,” terdengar nada Erick sedikit kesal.


“Tapi Papa ingatkan Erick, jika Alya menerima persyaratan kamu. Kamu harus lebih meningkatkan kewaspadaan, Pak Cokro masih belum di temukan!” kata Papa Bayu.


“Sudah Erick pikirkan, justru itu jika Alya ada di samping Erick, akan memudahkan untuk menjaganya.”


“Agnes, bagaimana kabarnya?” tanya Papa Bayu.


“Agnes masih dalam penjagaan ketat Pah, selama masih belum ketemu Pak Cokro, Erick masih tetap menahannya.”


“Anak buah Papa akan tetap membantu kamu mencari keberadaan Pak Cokro.”


Setelah kejadian terbongkar niat buruk Agnes, tiba-tiba Pak Cokro menghilang tanpa jejak. Tapi Erick tidak langsung menghentikan pencarian Pak Cokro, sedangkan akses Agnes untuk menghubungi Pak Cokro atau orang lain sudah tidak bisa lagi. Karena gerak Agnes sudah di batasi dan di awasi di sebuah rumah di pinggiran Jakarta.


“Terima kasih Pah, kalau begitu Erick kembali ke ruangan Papa, menemui Alya,” pamit Erick.


“YA......semoga terwujud keinginan kamu, Nak,” sahut Papa Bayu.


🌹🌹


Ruang CEO


Ceklek.....


Sesuai waktu yang diberikan oleh Erick, pria itu kembali ke ruangan Papa Bayu. Wajah Alya terlihat tegang ketika pria ganteng itu masuk kembali ke ruangan.


Erick memasang wajah sangarnya ketika ditatap oleh Alya, kemudian pria itu duduk di hadapan Alya.


“Jadi sudah kamu putuskan pilihanmu?” Langsung bertanya Erick.


Sesaat Alya menatap teduh pria yang baru saja duduk di hadapannya, sedangkan hatinya mencoba memantapkan kembali pilihannya.

__ADS_1


Di tatap dengan mata indah Alya, hati Erick sebenarnya sudah ke blingsatan, ingin jungkir balik rasanya. Akan tetapi tidak terlalu terlihat oleh Alya.


“Pak Erick, saya memilih tetap berpisah. Jadi saya akan memenuhi persyaratan Pak Erick, tinggal bersama sampai saya melahirkan,” ujar tegas Alya, tanpa ekspresi.


Hore.......yess...yess...batin Erick bersorak gembira, keinginannya terkabulkan juga, untuk bisa delat demgan Alya.


Wajah pria itu masih terlihat datar, padahal dia sedang menahan diri ingin tersenyum lebar, menahan untuk tidak loncat kegirangan dari tempat duduknya.


“Bagus, jika kamu tetap ingin berpisah. Penuhi persyaratan dari saya, kalau begitu sekarang kita pulang ke mansion saya,” ucap Erick.


“A-apa sekarang! tidak bisa besok saja. Saya belum mengambil barang-barang saya,” tolak Alya, tidak siap hari ini ke mansion Erick.


“Minta alamat kamu, bisa pelayan yang ambil barang kamu. Untuk keperluan hari ini kita beli di mall,” ujar Erick dingin.


“Gak perlu, saya aja yang ambil sendiri,” kembali Alya menolak, dan tidak mau memberikan alamatnya.


“Mau pisah atau tidak pisah!!” ancam Erick dengan memasang wajah galaknya.


“Pisah.....,” jawab Alya dengan mudahnya.


“Kalau mau pisah, nurut apa kata suami,” ujar Erick.


Alya mendengus kesal dengan pria yang katanya suaminya, dia meraih tasnya kemudian beranjak dari duduknya. Erick ikutan beranjak, lalu meraih lengan Alya.


“Mau kemana?” tanya Erick.


Wajah Erick mulai terlihat emosi.


“Kata Pak Erick, kita harus pulang.....ya udah ayo pulang. Tapi sebelumnya mampir ke mall dulu. Belikan saya beberapa baju buat ganti !!” sambung Alya dengan nada kesalnya.


Awalnya pria itu ingin marah, tapi mendengar sambungan kata pulang, pria itu mengulum senyum tipisnya.


“Baiklah...mommynya anak-anak kita ke mall beli baju ya,” jawab Erick pelan, kemudian meraih tangan Alya agar bisa di genggamnya.


“Gak usah pakai gandengan tangan segala,” celetuk Alya, langsung menepis tangan Erick.


“Iya mommy.... jangan galak-galak dong,” ujar Erick sambil mengikuti langkah Alya dari belakang.


“Sini biar daddy yang bawa tasnya,” Erick mengambil tas jinjing Alya agar dia yang membawanya.  


Alya berdecih.“Iih......apa-apan sih panggil mommy, daddy....geli dengarnya,” roman bulu halus wanita itu terasa geli. Erick hanya bisa tersenyum puas mendengarnya.


Wajah Erick sangat berseri-seri ketika turun ke lantai lobby, perasaan bahagia yang menyelimuti hati pria ganteng itu terpancar. Berbalik dengan Alya, wajah wanita itu terlihat masam, jengkel dengan pria yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Yang satu ganteng tapi sudah berumur, yang satu cantik dan masih muda. Para karyawan yang berpapasan dengan mereka berdua, terlihat mengaguminya.


“Silahkan masuk mommy,” ujar Erick, ketika membukakan pintu mobil.


“Mommy.....momny aja!!” gerutu Alya kesal.


“Hati-hati masuknya, ingat sedang hamil,” Erick mengingatkannya.


“Ck......iya tahu, gak usah di kasih tahu, juga kelihatan ini perutnya,” lidah Alya berdecak kesal, kemudian bibirnya kembali mengerucut.


Pria itu turut masuk ke dalam mobil, setelah Alya masuk terlebih dahulu. “Saya senang kalau melihat kamu marah-marah seperti ini,” ujar Erick, sambil menatap wanita cantik yang duduk di sampingnya.


Kesan pertama buat pria itu ketika pertama bertemu dengan Alya, adalah celetukan emosi wanita itu, ternyata sangat membekas di hati pria ganteng itu.


Mobil mewah yang membawa Alya dan Erick sudah meninggalkan perusahaan Genta Prakarsa, menuju mall.


Pria itu kini mencoba meraih tangan Alya yang ada di atas tas jinjingnya, kemudian mengecupnya. “Saya mencintaimu, Alya,” ucap Erick.


Wanita itu segera melepaskan tangan dari kecupan Erick, lalu memaling wajahnya ke jendela, entahlah rasanya aneh ketika mendengar kata cinta dari Erick.


 Sabar.......batin Erick.


“Alya, besok kita ke rumah sakit ya, saya ingin lihat kondisi anak-anak kita di kandungan kamu,” pinta Erick.


“Mmm........,” gumam Alya, tanpa menoleh ke arah Erick.


Erick mencondongkan dirinya ke depan perut Alya.“Anak daddy besok kita ke rumah sakit ya, daddy pengen lihat kalian berdua. Bilang sama mommy ya nak,” kata Alya.


Jedug...


“Aw.........,” rintih Alya, merasa ada yang bergerak dalam perutnya.


“Kamu kenapa? ada yang sakit.....kita gak usah ke mall, kita ke rumah sakit aja ya sekarang, kalau perut kamu sakit,” raut wajah Erick mulai panik.


Melihat wajah panik Erick, ingin rasanya Alya tertawa, akan tetapi di tahannya.


“Gak...enggak ada yang sakit Pak Erick, mereka tadi berdua bergerak sebentar,” jawab Alya.


“A-apa...b-benarkah mereka bergerak. Me-mereka berarti mendengar saya bicarakah?” rasa terkejut dan rasa haru datang.


Alya menganggukkan kepalanya, wanita itu melihat kedua netra pria itu mulai berbinar-binar, karena rasa terharunya.


Inilah yang ingin dirasakan oleh pria itu, merasakan moment mendampingi istri yang sedang hamil. Sungguh penantian panjang selama sepuluh tahun, belum di karunia itu keturunan. Sekarang akhirnya pria itu merasakannya, diawali dari sebuah kesepakatan.

__ADS_1


Bersambung........apa rasanya ya sekamar berduaan 🤭


 


__ADS_2