
Ketika menunggu kedatangan Agnes, Fatur dan Erick sama-sama terdiam, tidak ada yang bicara.
Derrt..........Derrt........Dertt
Ajudan Rocky calling
Tanpa banyak berpikir, Erick langsung menerima telepon dari ajudan yang menjaga Alya di rumah sakit.
“Halo Rocky, ada perkembangan apa?” tanya Erick.
“Halo Tuan, saya mau lapor....ada tamu pria yang berkunjung di ruang rawat Nyonya Alya,” ujar lapor Rocky.
“Siapa nama tamunya, kamu tadi tanyakan dulu tidak?” hati Erick mulai dag dig dug, siapa pria yang mengunjungi istrinya.
“Nama pria itu kalau gak salah Andri, Tuan,” jawab Rocky.
“APA.....ANDRI!!” oooh terkejutnya pria itu, pikiran Erick langsung terbayang ketika pertemuannya di mall, pria yang tampan begitu ramahnya menyapa Alya, dan menawarkan membeli handphone baru. Di kala itu juga Erick terbakar sesuatu melihat keakraban Alya dan Andri, entah gejolak apa yang di rasa saat itu, yang jelas pria itu menunjukkan rasa tidak sukanya.
“Ganti video call, saya mau lihat pria yang bernama Andri!” perintah Erick dengan nada kesalnya bercampur bumbu percikan cemburu.
“Baik Tuan,” Rocky langsung merubah panggilan telepon, menjadi video call, lalu menyorot Andri yang sedang duduk di samping ranjang Alya. Terlihat mereka berdua sedang berbincang hangat.
Hati Erick meradang melihat Alya yang selalu tersenyum hangat dengan Andri, ya pria yang sempat di kenal oleh Erick.
Andaikan tidak ada masalah saat ini di kantor, rasanya ingin kedua kaki pria itu berlari dan bergegas kembali ke rumah sakit, dan menarik Andri agar keluar dari kamar Alya serta mengancam pria itu agar tidak mendekati Alya karena wanita itu istrinya.
“Mas Erick.......” sapa Agnes, yang baru datang. Erick menolehkan wajahnya. ”Nanti saya telepon kembali, awasi pria itu, jika ada hal di lakukan pria itu......laporkan segera ke saya!!” titah Erick melalui sambungan video callnya, kemudian Erick memutuskan sambungan video callnya. Dan membetulkan posisi duduknya kembali.
“Loh ada Fatur juga, ngapain kamu di sini?” tegur Agnes, wanita itu mendekati suaminya, kemudian mencondongkan wajahnya untuk mengecup pipi Erick, akan tetapi Erick segera menarik wajahnya agar wanita itu tidak mengecup pipinya seperti biasa.
Agnes jadi kikuk, ketika gerak tubuh Erick terlihat menolaknya.
“Agnes, duduklah,” pinta Erick, sambil menunjuk bangku kosong di samping Fatur.
__ADS_1
“Mmm.......,” Agnes bergumam, sembari mendaratkan bokongnya di bangku yang di tunjuk Erick.
“Agnes, saya tidak mau basa basi lagi. Saya sengaja memanggil kamu, karena ada yang ingin saya klarifikasi kebenarannya,” ujar Erick.
“Kebenaran apa ya Mas Erick?” tanya Agnes dengan nada lembutnya.
“Lihat dan baca yang ada di hadapan kamu,” perintah Erick.
Agnes terlihat tenang ketika melihat dan membaca memo yang dia buat tadi pagi.
“Sudah aku baca, Mas,” ujar Agnes tetap lemah lembut suaranya, dan tanpa perubahan di wajahnya, terlihat biasa saja.
“Kamu tidak menyadari sesuatu?” tanya Erick.
“Menyadari apa Mas, ini hanya memo untuk penarikan uang, yang di tanda tangani oleh Mas Erick sendiri. Itu saja yang aku tangkap dari memo tersebut,” balas Agnes, tanpa menoleh ke samping, yaa tidak menoleh ke Fatur!
“Ck.......saya belum membuat dan menanda tangani memo ini. Dan kata Fatur, kamulah yang membuatnya!!” lidah Erick berdecak kesal.
Layaknya air yang mengalir tenang tiba-tiba mulai ada arus yang datang. “Ini fitnah Mas Erick, mana mungkin aku melakukan hal seperti ini, apalagi sampai memalsukan tanda tangan Mas Erick!”
Fatur jadi bergejolak emosinya, di katai telah memfitnah Agnes di depan Erick, sedangkan pria itu sudah berkata jujur kepada suami saudaranya. Akan tetapi saudaranya bersilat lidah, membalikkan fakta.
“Jangan-jangan kamu ada niat mau korupsi uang di perusahaan suami aku ya, dengan membuat memo palsu kemudian menuduh aku yang telah memalsukan semuanya!” Agnes menunjukkan amarahnya ke Fatur, di depan Erick, wow sungguh malang sekali nasib Fatur menjadi kambing hitam saudaranya sendiri.
“EEh dasar saudara yang gak bermoral, pintar sekali kamu memutar balikkan fakta. Kamu sendiri yang meminta saya mengeluarkan uang dua milyar dari perusahaan suami kamu!! Kamu juga yang buat memo ini, kamu juga yang membuat tanda tangan palsu. Sekarang kamu seenaknya menuding saya!!” terpancing emosi Fatur, tidak terima dirinya di tuduh.
Erick membiarkan kedua saudara tersebut beradu mulut untuk sementara, kemudian pria itu memberi kode ke Rio agar mendekat, lalu membisikkan sesuatu. Selanjutnya sang asisten keluar dari ruangan CEO, melaksanakan perintah Pak Bos.
Pria ganteng itu segera ke layar komputernya, seperti sedang menunggu sambungan koneksi.
“Jadi kamu, benar benar tidak tahu masalah memo ini?”
“Iya Mas Erick, aku aja baru lihat dan baca memo ini. Masa Mas Erick gak percaya dengan istri kamu sendiri,” jawab Agnes.
__ADS_1
“Dan kamu, Fatur ternyata sudah membohongi saya. Kata kamu, Agnes yang membuat, tapi Agnes saja baru tahu dan tidak mengetahuinya."
“Demi Allah Pak Erick, berani sumpah. Kalau yang buat Agnes, saya lihat sendiri dengan kedua mata saya.”
“Jangan percaya dengan yang di ucapkan Fatur, Mas Erick. Sudah jelas dia mau ambil uang perusahaan kita diam-diam, untung Mas langsung tahu. Sebaiknya Fatur di pecat saja sekarang juga,”
Sambil mendengar, Erick melihat layar komputernya.
“Seenaknya saja kamu menyuruh Pak Erick memecat saya!!” bentak Fatur.
“Ya bisa dong aku menyuruh Mas Erick memecat kamu, ini perusahaan aku dan suamiku. Jadi aku berhak memecat siapa pun!!” sombongnya keluar lagi.
“Tutup mulut kalian berdua!!” bentak Erick kepada kedua orang di hadapannya. Agnes dan Fatur langsung terdiam.
“Tindakan penyelewengan uang, membuat tanda tangan palsu CEO, merupakan hal tidak bisa di toleransi lagi di perusahaan mana pun, termasuk perusahaan saya!!” tukas Erick.
“Mulai detik ini Agnes dan Fatur, kalian berdua saya pecat dari perusahaan Pratama!!” ujar Erick dengan tegasnya.
“APA...!!”Teriak terkejut Agnes dan Fatur.
“Saya tidak terima di pecat Pak Erick, ini semua atas dasar perbuatan Agnes, bukan saya. Saya hanya menurutinya saja,” pungkas Fatur.
“Jika kamu bekerja benar, seharusnya kamu menolak permintaan Agnes. Seharusnya sebagai manager finance kamu bisa bertindak tegas, atau melaporkannya ke saya selaku CEO sebelum bertindak!!” balas Erick.
“Mas Erick, semuanya ini fitnah. Apa buktinya kalau aku mau mengambil uang perusahaan dan membuat memo palsu ini!! Aku tidak terima pemecatan ini, seharusnya aku tidak ikut di pecat, cukup Fatur saja yang di pecat.......,” kedua netra Agnes mulai berkaca-kaca.
“Kalian berdua lihatlah ini!!” Erick mengarahkan layar monitor komputer, ke arah Agnes dan Fatur, terpampang dengan nyata kegiatan di ruang kerja Agnes.
Salah satu tangan wanita itu membungkam mulutnya, ketika melihat rekaman CCTV.
Erick hanya bisa tersenyum sinis ketika melihat reaksi Agnes dan Fatur.
*bersambung.......ayo Agnes mau berdalih apa lagi??
__ADS_1
Andri Cavill, kakak senior Alya. Saingan Erick*