
Agnes terlihat membuka matanya sedikit, melihat keadaan di sekeliling kamar. Tertangkap suaminya berada di dalam kamar, duduk di sofa, lalu ada Delila yang tak jauh duduk dari Erick.
Syukurlah mas Erick ada di kamar.......batin Agnes.
“Agh....,” lenguhan Agnes yang di buat-buat, membuat Erick beranjak dari duduknya.
“Syukurlah, kamu sudah sadar,” ujar Erick, melihat kedua kelopak mata Agnes sudah terbuka.
“Mas.......,” suara Agnes terdengar lemah. “Aduh kepalaku pusing sekali mas, aku habis kenapa mas, kok bisa ada di sini?” pura-pura tidak tahu.
“Tadi kamu pingsan di ballroom, kata dokter kamu hanya kelelahan saja,” ujar Erick.
“Iya mbak, tadi mbak tiba-tiba pingsan. Mas Erick mengendong mbak Agnes ,langsung membawa mbak ke kamar,” sambung Delila.
“Makasih ya Mas.......,” ujar lembut Agnes, wanita cantik itu tahu jika suaminya yang membopong dirinya.
“Mbak Agnes, ini ada teh manis hangat di minum dulu,” pinta Delila, dengan menyodorkan secangkir teh hangat. Erick langsung membantu Agnes bangkit dari pembaringannya, kemudian menyandarkan di head board ranjang.
“Makasih Deli,” Agnes mulai menyesap teh manis hangatnya.
Erick sedikit tenang istrinya Agnes sudah siuman, lantas pria ganteng itu bangkit dari duduknya, dan mengambil handphonenya yang sempat di taruhnya di atas meja dekat sofa yang dia duduki.
Ditatapnya nomor handphone Alya yang ada di layar handphone pria itu, antara mau menelepon atau mengirim pesan. Hari ini sekalinya bertemu, hanya beberapa kalimat yang diucapkan. Tidak ada percakapan lagi.
“Agnes, Delila......saya mau ke turun ke bawah dulu,” pamit Erick.
“Mau ngapain Mas ke bawah?” selidik Agnes. “Aku habis pingsan dan baru saja siuman, Mas,” Agnes tak rela di tinggalkan begitu saja oleh suaminya.
“Ada Delila di sini yang menemani kamu, lagi pula tidak ada penyakit yang serius. Sekarang kamu istirahat di sini. Saya harus menemui mama dan papa,” jawab tegas Erick.
“Mas Erick, saya boleh ikut ke bawah?” tanya Delila.
“Kamu temanin Agnes di kamar, kalau ada apa-apa, telepon saya,” tolak tegas Erick.
__ADS_1
“B-baik Mas,” jawab Delila lemas atas tolakan Erick.
Erick segera keluar dari kamarnya, langkah kakinya sangat cepat.
“Rio, kamar Alya nomor berapa?” tanya Erick melalui sambungan teleponnya.
“Waduh Pak Bos, saya tidak tahu nomor kamar Alya. Karena yang mengurus kamar Alya, nyonya Agnes. Mungkin Pak Bos bisa langsung tanya ke istri Pak Bos. Tapi tunggu coba saya tanyakan ke nyonya besar, mungkin saja tahu. Kebetulan saya di samping Nyonya Besar,” jawab Rio.
“Tolong kasih handphone kamu ke mama,” pinta Erick.
“Baik Pak Bos,” Rio segera memberikan handphonenya ke Mama Danish.
“Ada apa Erick? istri tercinta kamu sudah siuman dari pingsannya, sakit apa Agnes?” cecar Mama Danish, setelah menerima handphone milik Rio.
“Sudah siuman mah, kata dokter hanya kelelahan saja.”
“Bagaimana tidak kelelahan, istri kamu mengacaukan semua yang sudah mama kerjakan. Didiklah istri kamu lagi, menjadi istri yang lebih baik. Jika Agnes memang benar-benar istri yang sangat berarti buat kamu!” tegur Mama Danish.
“Baik mah, terima kasih atas nasehatnya.”
“Tunggu Mah, ada yang ingin Erick tanyakan?” hampir saja pria itu lupa akan maksudnya.
“Ada apa lagi?”
“Kamar Alya nomor berapa mah?”
“Kamar Alya nomor 507, lantai 5. Tapi Alya sudah pamit pulang sama mama dan adiknya,” jawab santai mama Danish.
“A-apa.....maksud mama, Alya sudah pulang, tidak menginap di hotel kita, lalu tidak pamit dengan saya suaminya,” geram rasanya Erick dapat kabar yang mengejutkan, sungguh tak menyangka istri ketiganya sangat tidak mengorangkan dirinya sebagai suami.
“Alya sudah pamit dengan mama dan papa, kami mengizinkan Alya untuk beristirahat di rumahnya. Dan Alya juga berpesan, esok hari dia akan langsung datang ke rumah sakit bunda.”
Mama Danish mengambil napas pelan-pelan untuk melanjutkan pembicaraannya.
__ADS_1
“Erick, mama kasih tahu jangan pernah kamu salahkan sikap Alya, dia wanita yang baik. Dia tahu posisi yang sebenarnya, kamu ingatkan istri tercinta kamu sudah mengingatkan kita semua tadi siang, Agnes berani berucap di depan mama, jika Alya hanyalah ibu pengganti yang akan memberikan anak untuk kalian berdua. Dan kamu juga sudah berapa kali merendahkan Alya, jadi mama minta bijaksanalah kamu dalam bersikap. Walau antara kamu dan Alya terpaksa menikah karena sebuah alasan dan permintaan Agnes, tanpa ada rasa suka dan cinta. Tetap jaga perasaan Alya, dia calon ibu dari anakmu kelak. Jujur kalau mama jadi Alya, pernikahan ini sangat menyayat hatinya Erick. Dia tak menangis, dia tegar melewatinya, sadarkah hal itu Erick. Ini ada pernikahan pertama buat Alya tapi sungguh kelamnya.” Tak kuasa Mama Danish matanya mulai berkaca-kaca.
“Apa pun alasan kamu dengan kedua istri kamu, memasuki Alya ke rumah tangga kalian bertiga, sebagai ibu pengganti, demi seorang anak. Alya tetap menantu mama dan papa. Cukup dan hentikanlah kalian bertiga menyebut dan menekan Alya sebagai ibu pengganti, dia sudah cukup menyadarinya, dia sangat tahu posisinya. Cukup Erick jangan kamu menekan perasaan Alya,” pilu rasanya mama Danish, mama Danish sangat yakin mereka sering menekan perasaan Alya, padahal Agnes yang memilih Alya.
Tak sengaja juga Rio mendengar ucapan Mama Danish, tangannya mulai terkepal......hatinya ikut pilu dan sakit mendengarnya.
Tangan kanan Erick masih memegang handphonenya dan mendengar semua ucapan mama Danish, tertegun, mulutnya terkunci, hati seorang wanita sedang berbicara melalui suara mamanya.
Tiba-tiba pria itu menyandarkan dirinya ke tembok, kemudian dirinya melorot terduduk di lantai dengan kedua kakinya tertekuk.
“Erick.....kamu masih dengarkan omongan mama?”
“Ya mah,” jawab pelan Erick, tak bertenaga. Kemudian pria itu mematikan sambungan teleponnya.
“Ini kah maksudmu Alya, selalu menghindari saya selama dua hari ini, dan hingga hari ini juga!!” gumam Erick bermonolog, pria itu mendongakkan wajahnya ke langit-langit, baru kali ini dilema menghampiri dirinya sendiri. Atas wanita yang selalu dia rendahkan, atas wanita yang sempat di tolaknya, dan sekarang sudah resmi menjadi istri ketiganya demi permintaan istri pertamanya. Yang mengatas namakan demi keutuhan rumah tangga yang sudah di bina selama sepuluh tahun.
Pria ganteng itu meraup wajahnya dengan kasar, sesekali menyugar rambut tebalnya. Wajah ganteng itu tiba-tiba tersenyum kecut, dari awal ketika Agnes memperkenalnya Alya sebagai ibu pengganti, dirinya sudah menolaknya, lalu kembali menerimanya demi keinginan istri pertama agar mereka segera memiliki seorang anak.
Lantas kenapa dirinya harus kesal dan marah terhadap Alya, jika wanita berkacamata itu mengacuhkan dan menghiraukannya, memang sudah semestinya seperti itu, mereka hanyalah sebatas atasan dan bawahan, walau sekarang di antara mereka sudah terikat dalam pernikahan yang sah.
Sesaat dalam duduknya di lantai, pria ganteng itu memejamkan matanya, bayangan Agnes, Delila pun muncul di pelupuk matanya. Tapi seketika itu juga hadir si mata cantik Alya seperti menatap dirinya dengan tatapan tajam, membuat pria itu segera membuka kedua kelopak matanya, jantungnya mulai berdegup tak karuan.
“Aargh.........,” pekik kesal Erick dengan dirinya sendiri.
*bersambung......
Hai kakak readers yang cantik dan ganteng jangan lupa tinggalin jejaknya ya 😊😊😊, biar tambah semangat lanjutinnya. Makasih....
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹*
__ADS_1